Bian menghentikan motornya di sebuah taman yang terbentang luas. Di sana terlihat beberapa tenda yang di dalamnya banyak orang menjual makanan di sana. Di dekat taman itu juga terdapat sebuah danau yang cukup luas menambah keindahan tempat tersebut.
" Wah, aku gak pernah tau kalo di sini ada tempat seperti ini! " seru Casilda seraya turun dari motor, ia melihat sekelilingnya yang saat ini cukup ramai.
" lo belum pernah kesini? " tanya Bian yang juga baru saja turun dari motornya, Casilda hanya menggeleng dan masih fokus melihat sekelilingnya.
" Lo laper, kan? mau makan apa? " tanya Bian.
" Yang enak apa? " Casilda balik bertanya.
" Semua makanan enak, yang gak enak itu kalo laper. " Balas Bian dengan ketus. setelah itu ia jalan menuju stand di mana banyak pedagang makanan di sana. Casilda ikut berjalan di belakang bian seperti buntut.
" Bian nyebelin. Kenapa sih gue di tinggalin, bukannya di gandeng gitu. " Batinnya melihat Bian yang berjalan di depannya tanpa menununggunya.
Bian menghentikan langkahnya di depan tukang Ikan Bakar yang saat ini tidak terlalu ramai. Ia menoreh ke arah Casilda yang kini berdiri di sampingnya.
" Suka ikan gak? " tanya nya kepada Casilda.
" Lumayan, sih. " Jawab Casilda malu - malu.
" Bang pesen Ikan Mas Bakar dua ya. " Pesan Bian kepada tukang ikan yang sedang sibuk memanggang beberapa ikan.
" Pakai nasi gak, dek? " tanya pedagang itu, Bian menoreh kembali kepada Casilda.
" Casie, pakai nasi gak? " tanya Bian lagi.
" Terserah kamu. " lagi - lagi kalimat itu yang terucap dari bibir Casilda, sebenarnya Casilda seperti itu karena tidak bisa menahan rasa gugupnya saat berada di dekat Bian. Jadi, ia tidak begitu konsentrasi jika tiba - tiba ditanya oleh Bian.
Biang menarik nafasnya dalam – dalam, sebelum akhirnya menghela dengan kasar. " Gak usah pakai nasi, ya. Minumnya es jeruk dua. Saya duduk di deket danau ya, mas. " Pesan Bian tanpa bertanya apa lagi yang Casilda inginkan, karena ia tahu gadis itu pasti akan bilang 'terserah' jadi lebih baik dia langsung pesan saja.
" Ok dek, nanti saya antar, ya. " Setelah mendapat anggukan dari pedagang itu, Bian kembali berjalan meninggalkan Casilda membuat gadis itu berlari kecil mengejarnya.
Bian memilih duduk di dekat danau, di sana sudah ada karpet yang memang di sediakan untuk para pengunjung yang tidak ingin duduk di stand dan memilih duduk lesehan sambil melihat pemandangan pepohonan dan danau yang terlihat cukup bersih.
Melihat Bian duduk di karpet itu, Casilda juga ikut duduk di sampingnya. Terlihat di sana tidak terlalu ramai seperti di dekat stand pedagang tadi.
Suasana canggung selalu saja menyelimuti keduanya. Mereka duduk terdiam menghadap danau tanpa ada pembicaraan dan membiarkan suara burung -burung berkicau yang memecahan keheningan di antaranya saat ini.
Casilda duduk seraya menekuk kedua lututnya, sesekali ia melirik Bian yang sibuk melemparkan batu ke arah danau hingga batu itu melambung jauh seperti memantul di atas air.
" Mau coba? " tanya Bian menoreh ke arah Casilda yang sejak tadi menatapnya sampai tak bekedip. Bian menyodorkan sebuah batu tidak terlalu besar kepada Casilda.
" HAH? " Casilda yang terkejut di ajak bicara segera menggelengkan kepalanya cepat. " Aku gak bisa, kamu aja. " Ucap Casilda menolak.
Bian menghentikan aktivitasnya itu, lalu membenarkan duduknya sedikit menghadap Casilda. " Sorry ya kalo lo ngerasa bete jalan sama gue. Gak tau kenapa tapi gue emang begini orangnya. " Ucap Bian, Casilda meluruskan kakinya yang sejak tadi ia tekuk.
" Aku gak bete kok. " Ucapnya ia melirik Bian. " Aku seneng bisa berdua sama kamu di sini. " Ucapnya membuat bian tersenyum tipis. " Mungkin kamu seperti ini karena kita baru pertama kali jalan aja. Nanti kalau kita udah sering jalan mugkin kamu gak kaku seperti ini. " Selesai bicara Casilda terkekeh pelan.
" Kadang gue suka bingung, kenapa lo bisa suka sama gue. " Ujar Bian, matanya menatap lurus ke depan.
" Aku juga bingung. " Jawab Casilda santai.
" Kenapa jadi lo yang bingung? " kali ini Bian tertawa kecil.
" Aku bingung Karena aku gak pernah bisa menemukan alasan kenapa aku bisa suka banget sama kamu. " Ucap gadis itu dengan lantang. Casilda membenarkan posisinya agar duduk bersilat menghadap Bian.
" Semuanya mengalir begitu saja, bahkan aku gak bisa berhenti untuk suka sama kamu. mungkin aku bukan Cuma sekedar suka. " Lanjut Casilda membuat Bian yang tadi tertawa menjadi terdiam mendengar Casilda bicara seperti itu.
" Tapi, aku juga cinta sama kamu, Bian. maaf kalau aku lancang ngomong kayak gitu. Setidaknya aku udah sedikit lega ungkapin apa yang selama ini aku pendam. " Jelas Casilda, ia merasa lega setelah bertahun - tahun berusaha menahan semua itu .
Bian merasa terhanyut dengan suasana, ia merasakan hatinya tersentuh melihat gadis di hadapannya itu terlihat begitu menyukainya meskipun selama ini ia tidak pernah merespon gadis itu. Bian juga tidak dapat menyembunyikan bahwa saat ini jantungnya sedikit berdebar ketika dirinya menatap Casilda.
Bian juga sadar, ia tidak dapat membohongi dirinya sendiri bahwa Casilda gadis yang cantik. Siapa Pun pasti ingin dengannya, tetapi bodohnya gadis itu masih saja terus mengejarnya. Tiba - tiba saja tangan Bian tergerak mengelus lengan Casilda. " Lo bisa dapetin laki - laki yang lebih baik dari gue, Casie. "
Tanpa di sadari, ucapan Bian tadi telah membuat Casilda kecewa.
" Gak bisa, Bian. Aku Cuma suka sama kamu, kok. " Katanya tidak setuju dengan ucapan Bian yang menyuruh nya mencari lelaki lain. Bagaimana bisa Bian berkata seperti itu, sedangkan lelaki yang Casilda mau saat ini ada di hadapannya.
" Kasih tau aku gimana caranya biar kamu suka sama aku, Bian? " tanya Casilda penuh antusias. " Aku akan lakuin apa aja buat kamu, janji. " Casilda memasang wajah merengut , ia mengerucutkan bibirnya menatap Bian dengan sendu tetapi malah membuat lelaki di hadapannya itu tertawa.
" Ternyata lo lucu juga. " Seru Bian di lanjuti tawa, sedangkan Casilda kini terdiam menatapnya heran, padahal tidak ada hal lucu yang bisa di tertawakan.
Pesanan pun datang, mereka mulai menyantap Ikan Bakar yang masih hangat itu. Bian sengaja tidak pesan nasi karena ikan nya cukup besar, jadi tanpa makan nasi ia sudah cukup merasa kenyang.
" Mau di pesenin nasi gak? " tawar Bian. " tadi di tanya terserah mulu, sih. "
" Gak usah Bian, makan ikannya aja udah kenyang ini. " Katanya yang sudah mulai menyantap Ikan Bakar dengan sambal kecap yang di racik sedemikian rupa.
Setelah makanan habis, mereka tidak langsung pulang karena masih merasa sedikit kekenyangan jadi butuh waktu sebentar agar makanan turun. Sambil menyeruput es jeruk yang nampak segar itu, Casilda mencari topik pembicaraan.
" Bian, apa yang paling berarti di hidup kamu? " tanya Casilda, Bian yang juga sedang menyeruput es jeruk itu berhenti berfikir sejenak.
" Gak tau. " Jawab Bian asal setelah berfikir tidak mendapatkan hasil. " Kalo lo? " Bian bertanya balik.
Merasa Casilda diam tak menjawab, Bian melirik Casilda untuk melihat kenapa gadis itu diam tak bergeming. " Kalo lo apa? " Bian bertanya ulang.
Casilda tersenyum menatap Bian sambil menunjuk d**a Bian dengan jari telunjuknya membuat Bian Terkesima, ia tak mengerti kenapa gadis itu sangat terobsesi kepadanya sampai menjadikan dirinya sosok yang paling penting di dalam hidupnya.
" Gue? " tanya Bian memperjelas maksud Casilda.
Casilda mengangguk malu. " Iya kamu salah satu hal yang paling berarti di hidup aku. "
" Bercanda. " Bian mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia tidak menganggap serius apa yang Casilda ucapkan.
" Bian, aku lagi serius kok di bilang bercanda. Kamu belum jawab apa yang yang berarti di hidup kamu, Bian. " Casilda menagih jawaban dari Bian.
" Keluarga, teman dan . . . " Bian mengira - ngira siapa lagi yang penting di hidupnya.
" Dan siapa? " Casilda penasaran.
" Gak tau. " Bian mengangkat bahunya membuat Casilda penasaran, tapi kemudian bian bangkit dari duduknya. " Udah sore ayo pulang. " Ucapnya setelah itu ia berjalan mendahului Casilda yang masih duduk.
" Bian, tunggu! Kamu ninggalin aku mulu, deh. " keluhnya seraya mengejar Bian.
*****
Mata casilda tak beralih sejak tadi menatap nomor yang terdapat di kontaknya saat ini yang bertuliskan nama 'BIAN' . Dia terus saja tersenyum membayangkan wajah lelaki itu sejak tadi setelah jalan bersama nya. Saat bersama Bian, Casilda merasa seperti mimpi karena itu terjadi begitu cepat.
Sejak tadi ia ingin sekali mengirim pesan kepada Bian, namun masih sedikit ragu karena takut menggangu Bian. Merasa tidak bisa menahan diri, akhirnya Casilda mulai mengirim pesan lewat Aplikasi w******p kepada Bian.
Hai Bian? ini nomer aku Casilda
-Casilda-
Casilda baru saja mengirim pesan itu, ia berharap segera di balas oleh Bian, tetapi rasanya mustahil karena saat ini Bian tidak aktif karena pesan yang baru saja di kirim oleh Casilda ceklis satu. Casilda melempar asal ponselnya itu di atas kasur kemudian beranjak turun dari ranjang menuju balkon di kamarnya.
Casilda menatap langit malam yang kini terlihat beberapa bintang di sana, ia menghirup udara malam yang terasa dingin sambil memejamkan matanya, sampai akhirnya ia membuka matanya dengan cepat setelah mendengar bunyi notif w******p nya beberapa kali.
TING .... TING.....TING...
Casilda berlari secapat kilat menuju kasurnya dan segera melihat notif di layar ponsel. ternyata itu bukan pesan dari bian yang sejak tadi ia tunggu melainkan dari grup yang terdiri dari Mira, Alisa dan dirinya.
Grup itu saat ini tengah ramai oleh Alisa dan Mira yang penasaran bagaimana perkembangan hubungan Casilda dan Bian saat ini setelah mereka jalan berdua sepulang sekolah tadi. merasa malas untuk menjelaskan lewat chat, Casilda memilih tidak merespon pertanyaan dari kedua temannya itu. Ia berniat akan menjelaskan besok di sekolah.
" Bian, kenapa kamu gak bales, sih? " Casilda menjatuhkan tubuhnya kasar di atas ranjang. " Apa jangan – jangan, itu bukan nomor Bian? " seketika Casilda kembali duduk. " Ah, tapi gak mungkin bian bohongi gue. " Casilda menggeleng cepat dan berusaha berfikir positif.
TING ...
Terdengar bunyi notif lagi, Casilda merasa malas melihatnya karena ia fikir itu dari temannya lagi. Namun, rasa penasarannya membuat dirinya tetap mengecek dari siapa pesan yang baru saja masuk. Seketika ia terpanjat kaget mengetahui siapa yang baru saja mengirim pesan.
Oke, Casilda.
-Bian-
" Ya ampun! Akhirnya, pangeran ku bales juga! AAA…. SENENG BANGET RASANYA KAYAK MAU MENINGGAL! " Walaupun hanya dua kata saja balasan dari Bian, tapi mampu membuat Casilda histeris sendirian seperti orang gila. kini gadis itu tengah melompat - lompat tidak jelas di atas kasurnya.
" Aduh, Gue harus bales apa ya? " Casilda berhenti melompat dan mulai berfikir. " Umm… bales apa, ya? gue gak mau dia nunggu lama. " fikirnya, padahal belum tentu yang di sana menunggu balasan darinya.
" Oke – oke, gue harus bales... " Casilda mulai mengetik untuk membalas pesan dari bian.
Makasih Bian , Good Night!
-Casilda-
Casilda menggigit kukunya tak sabar menunggu balasan dari Bian, ia berharap segera di balas cepat karena kebetulan saat ini Bian sedang ‘online’. Casilda turun dari kasur, kini ia berjalan mondar - mandir merasa gugup menunggu balasan lagi dari Bian.
TING ...
Iya. :)
-Bian-
" AAA... MAMAH..... PAPAH.... NENEK.... KAKEk...!!! CASILDA DI KASIH EMOT SENYUM SAMA MASA DEPAN CASILDA! " Lagi, Casilda kembali naik ke atas kasur sambil melompat - lompat layaknya anak kecil. Padahal, hanya sebuah emoticon senyum dari Bian, tetapi mampu membuatnya terlihat seperti orang gila yang berteriak histeris.
Aktivitas Casilda mendadak terhenti ketika pintu kamarnya terbuka, terlihat sosok wanita yang masih terlihat muda kini menatapnya dengan khawatir. Wanita itu masih berdiri di ambang pintu masuk. " Casilda kamu kenapa? tadi mamah denger kamu teriak? "
" Eh, mom. " Casilda terkekeh, ia turun dari kasur dan berjalan mendekati ibunya itu.
" Kamu gak apa - apa kan, sayang? " Mina terlihat khawatir melihat putrinya itu.
" Gak apa - apa kok. " Casilda memeluk Mina dengan erat. " Tadi itu Casilda teriak bahagia, mom! " seru Casilda. Ia biasa memanggil ibunya dengan sebutan 'MOMOM' katanya itu adalah panggilan kesayangan untuk ibunya.
Dia memang aneh, tapi ibunya sangat menyayanginya karena ia anak satu -satunya. Jadi, Casilda sangat dekat dengan ibunya dan sering curhat berbagai macam hal kepada Mina termasuk tentang Bian. Beruntungnya, Mina mendukung apa saja yang anak semata wayangnya itu lakukan asalkan masih di batas wajar.
" Teriak bahagia gimana maksud kamu? " Mina melepaskan pelukan anaknya itu.
" Momom tau kan cowo yang sering aku ceritain setiap hari? yang mukanya kayak pangeran tampan! " jelas Casilda, ibunya mengangguk.
" Iya tau, si... " Mina berfikir sejenak. " Si Puding itu, kan? " tanya nya.
" Ih mamah jangan di sebut puding juga kali! " Casilda mengerucutkan bibirnya." Namanya , Bian. Bukan si puding. " Terang Casilda.
" Oh iya, mamah lupa. " Mina terkekeh. " Kenapa dengan dia? kamu udah jadian? " Mina terlihat penasaran.
" Belum sih. " Casilda memasang wajah sedih, tapi sedetik kemudian ia menampilkan wajah ceria nya. " TAPI SEGERA !! " lanjutnya dengan percaya diri.
" Segera apanya? " tanya Mina tak mengerti.
" Segera jadian lah, momom. Doain anakmu ini, ya. " Casilda meraih tangan ibunya. " Doa ibu kan paling mujarab! "
" Mamah selalu doakan agar kamu selalu bahagia, Casilda. " Mina tersenyum lebar menatap anaknya itu.
“ Makasih momom. “
" Kamu gak mau bikin puding buat besok? " Mina mengingatkan anaknya itu karena biasanya Casilda selalu membuatkan puding untuk lelaki yang ia sukai itu.
" Oh iya, hampir aja lupa Mom. " Casilda menarik tangan ibunya keluar dari kamar. " Bantuin aku ya, mom. "
" Iya - iya, jangan berisik. Papah kamu sudah tidur. " Ucap Mina memperingati.
" SIAP MOMOM! " Teriak Casilda dengan keras penuh semangat.
" Tuh, kan. kamu malah berisik. Casilda…Casilda. " Gerutu Mina.
**
MAAF KALAU ADA TYPO :)
NEXT------------>