Bian berjalan sejajar di samping Casilda, pandangannya lurus ke depan. Berbeda dengan Casilda yang sejak tadi terus menatapnya. Perlahan kesedihan yang tadi ia rasakan menghilang begitu saja, baginya menatap Bian merupakan suatu kedamaian.
' AH GANTENG BANGET! ' Batin Casilda sambil senyam - senyum sendiri.
" Baju lo kenapa basah? " tanya Bian melirik Casilda, gadis itu terkejut hingga menahan senyumnya yang sejak tadi terukir di wajahnya.
" Um… " Casilda terlihat gugup mendapati pertanyaan itu. " gak apa – apa kok, tadi gak sengaja ketumpahan air minum. " Bohong nya.
" Lo yakin? " tanya Bian yang tidak percaya dengan jawaban Casilda.
" terus kenapa lo nangis? " tanya Bian lagi, ia dapat melihat kedua bola mata Casilda sejak keluar dari kamar mandi terlihat sedikit bengkak dan memerah. Ini pertama kalinya Bian banyak bicara kepadanya.
" Enggak… kok, tadi abis kelilipan. Di kamar mandi banyak debu HE HE. " Casilda terkekeh tetapi Bian menatapnya dengan heran karena menurutnya tidak masuk akal.
" Jadi, lo gak mau jujur nih sama gue? " Pertanyaan bian kali ini membuatnya menyerah, jujur ia tidak dapat membohongi Bian.
Casilda mengehentikan langkahnya karena sudah berada di depan kelasnya, sebelum masuk ia ingin menjawab pertanyaan Bian terlebih dahulu.
" Sebenarnya, tadi itu aku di siram sama mery. " Mendengar itu, Bian terkejut. Namun, sedetik kemudian Bian berusaha menampilkan wajahnya dengan ekspresi datar, ia tidak ingin menunjukkan dirinya terkejut.
" kok bisa? kenapa? " Bian bertanya, namun tetap menampilkan ekspresi datarnya agar tidak terlihat bahwa dia sebenarnya sangat penasaran.
" Karena... " Casilda berfikir sejenak, apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak. Dia merasa malu jika memberi tahu Bian penyebab mery marah kepadanya karena dirinya yang terus mengejar Bian.
Bel berbunyi tanda jam istirahat berakhir telah terdengar, seluruh murid kembali masuk ke dalam kelasnya masing – masing, tetapi mereka berdua masih tetap berada di luar.
" Karena apa? " tanya Bian agar Casilda segera menjawab karena sudah terdengar bel berbunyi yang artinya ia harus segera masuk kedalam kelas.
" Karena kamu. " Jawab Casilda secepat kilat karena ia merasa sangat gugup.
Bian mengerutkan keningnya. " Karena lo deketin gue? " Bian berfikir seperti itu karena teringat ucapan Adrian kemarin, kalau Casilda sering dibully Mery dan teman - temannya karena terus mendekati Bian.
" Iya. " Casilda mengangguk, ia memasang wajah sendu. " Karena aku gak mau berhenti untuk deketin kamu. Aku gak akan berhenti sebelum mendapatkan kamu. " Entah mendapat keberanian dari mana Casilda berani mengungkapkan hal itu dengan lancang kepada Bian.
" Kenapa gak mau berhenti? " mata Bian menatap Casilda dalam - dalam sedangkan yang di tatap tersipu malu. Mereka tidak perduli sama sekali sudah waktunya jam pelajaran tetapi masih berada di lorong sekolah.
" Karena aku mau kamu. " Jawab Casilda dengan serius, ia memberanikan menatap Bian yang kini juga sedang menatapnya. " Maaf kalo aku gak bisa berhenti untuk mengejar kamu. " Lanjut Casilda, perlahan Bian tersenyum ke arahnya entah maksudnya apa, tetapi membuat Casilda ikut tersenyum.
DEG ! . . .
Entah kenapa jantung Bian berdegup kencang mendengar Casilda bicara seperti itu, tanpa di sadari ia juga tersenyum ke arah Casilda seolah menunjukkan bahwa ia senang Casilda berkata seperti itu. Ada rasa bahagia yang Bian rasakan entah dari mana, tapi Casilda mampu menggugah sedikit hatinya.
Benar kata Adrian, kalau Casilda benar - benar tulus dengannya dan Bian dapat melihat semua itu dengan mata sendiri apa yang terjadi hari ini kepada Casilda, ia mendapat masalah karena terus berjuang mendekatinya.
" Yaudah, masuk kelas sanah. " Perintah Bian. " Nanti keburu guru dateng. "
" Oke, bye. " Baru saja Casilda ingin berjalan masuk, langkahnya terhenti ketika Bian memanggilnya lagi.
" Casie... " Panggil Bian.
" Iya, Bian? " Casilda kembali membalikan badannya.
" Lo bawa Hp gak? " tanya Bian dan Casilda mengangguk.
" Mana? " Bian menadahkan tangannya ke arah Casilda. Meskipun tak mengerti maksud Bian meminta ponselnya, tetapi casilda menurut saja. Dia segera mengeluarkan ponselnya yang berada di saku rok setelah itu menyodorkan ke arah Bian.
" Buka sandinya. " Perintah Bian dan Casilda menuruti, setelah itu kembali menyerahkan ponselnya kepada Bian.
Casilda penasaran apa yang akan di lakukan lelaki itu terhadap ponselnya, di lihatnya Bian sedang mengetik sesuatu, entah apa itu Casilda hanya bisa menunggu.
" Nih. " Bian mengembalikan ponsel itu kepada miliknya.
Casilda mengambil poselnya dan segera mengecek apa yang baru saja Bian lakukan. Ia di buat terkejut setelah melihat layar ponselnya tertera nomor lengkap dengan nama yang sudah di simpan atas nama ' BIAN '.
Mata casilda beralih dari layar ponsel ke arah Bian. " Ini serius nomor kamu? " tanyanya dengan wajah yang masih terlihat terkejut tetapi Bian hanya menjawabnya dengan senyuman.
Itu adalah Senyuman Bian yang kesekian kalinya hari ini casilda liat. Biasanya Bian hanya menatapnya datar. Hal itu membuat Casilda semakin yakin akan peluang dirinya mendapatkan Bian.
" Itu nomor terhubung dengan w******p. " Jelas Bian, terlihat Casilda mengangguk senang.
" Nanti pulang sekolah, gue tunggu di parkiran ya. " Ucap Bian setelah itu meninggalkan Casilda yang diam mematung. Meskipun Casilda sendiri tidak mengerti kenapa Bian menunggunya di parkiran.
" INI GUE GAK LAGI MIMPIKAN? " Ucapnya yang masih terkejut, ia menatap punggu Bian yang semakin menjauh. " Ah, ya ampun! " kemudian Casilda loncat - loncat tidak jelas, ia merasa sangat bahagia mendapati nomor ponsel Bian, di tambah lagi lelaki itu ingin bertemunya kembali setelah pulang sekolah.
Casilda memeluk tiang penyangga yang berada di dekatnya, senyumnya masih merekah di wajahnya. " Bian, kamu ganteng banget sih! Jadi gak sabar nanti pulang sekolah ketemu kamu lagi. " Ia bicara sendiri membayangkan tiang yang ia peluk adalah Bian. GILA ! Casilda benar - benar sangat tergila -gila kepada Bian.
Ah, rasanya Casilda ingin guling - gulingan di lantai karena saat ini merasa begitu bahagia! Habis sedih, terbitlah bahagia. Begitulah yang ia rasakan! baru saja tadi ia merasa sangat sedih akibat ulah mery, kini dirinya di buat bahagia oleh lelaki yang sangat ia sukai! Kali ini nasib baik berpihak kepadanya.
" Casilda! masuk! " teriak Mira dari celah jendela kelas, ternyata sejak tadi ia memperhatikan Casilda dan Bian yang berbicara di depan kelas.
" MIRA GUE SENENG BANGET! " teriaknya di depan kelas.
" Iya gue tau. Udah buruan masuk! "
" Iya – iya. " Terlalu bahagia, Casilda sampai lupa masuk ke dalam kelas.
••••••••••••••
Bingung ! mungkin itu yang saat ini ada di fikiran Bian. Lelaki itu tidak mengerti kenapa dirinya bisa memberikan nomor nya kepada Casilda dan mengajak gadis itu bertemu kembali di saat jam pulang sekolah. Rasanya, itu bukan seperti Bian yang biasanya.
" Akhirnya, setelah sekian lama Bian mau juga deketin cewek! " sahut Boma yang kini berjalan di samping Bian menuju parkiran karena sudah jam pulang.
" Siapa yang deketin cewek? " Bian melirik boma sekilas.
" Lah itu yang tadi lo ceritain ke kita semua, kalo lo kasih nomor ke Casilda? “ ucap boma Heboh. “ Terus sekarang lo ajak dia ketemuan? apa itu namanya kalo bukan lagi ngedeketin? " Lanjut Boma.
" gue lagi bingung nih! " mendengar Bian bicara seperti itu Delon melangkah maju berjalan sejajar di samping Bian.
" Bingung kenapa, sih? sini cerita sama abang Delon yang faham tentang perempuan! " Ucap Delon si playboy.
" bukan soal itu. gue bingung kenapa bisa bersikap kayak gitu ke Casilda! " Bian menghentikan langkahnya di ikuti yang lainnya juga berhenti.
" Mungkin lo suka sama Casilda. " celetuk Nugi asal tetapi mendapat anggukan setuju dari yang lainnya, kecuali Bian.
" Ah, gak mungkin. gue gak ada rasa kok sama dia! " bantah Bian.
" Terus, kenapa lo ajakin dia ketemuan pulang sekolah? " tanya Delon.
Bian mengangkat bahunya. " Gak tau! " ia menghela nafasnya pelan.
" Dih, gak jelas sumpah. Lo kenapa sih, Bian? " Boma menggelengkan kepalanya tak percaya, menatap temannya itu dengan heran. Mengapa ia bisa punya teman sebodoh itu. " Lo gila ya? terus ngapain lo ajak dia ketemu? "
" Kan, tadi udah di bilang gue sendiri aja gak tau. Lo semua bukan kasih solusi malah bikin gue tambah pusing! " Bian mengerutkan keningnya, ia diam sejenak berfikir apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
" Padahal simple banget. tinggal lo ajak dia jalan. " Sahut Adrian yang sejak tadi terdiam kini membuat semua pasang mata menoreh kearahnya.
" Nah, ini baru temen gua. Otaknya encer, gak kayak Bian. GAK ADA OTAK! " Boma berjalan mendekati Adrian dan memeluk temannya itu.
" Ajak jalan? " alis Bian terangkat satu, tangannya menggaruk hidungnya yang tak gatal. ia masih terlihat bingung .
" Iyalah, Bian. anak orang udah di suruh nemuin lo di parkiran masa gak di ajak jalan? ya minimal ajak pulang bareng lah! "
" Bener tuh Bian, sekalian lo luangin waktu berdua. " Delon berbisik ke telinga Bian. " biar saling deket. Siapa tau cocok! "
" Gua denger! gua denger! " sahut Boma yang mendengar bisikan Delon, ia tertawa. " Lu kalo bisikin orang, suaranya jangan keras – keras, kan gua jadi tau HA HA. "
" Gila lo BOM! Emang dasarnya aja kuping lo CAPLANG! " Delon menjitak kepala botak milik Boma.
" Tapi bener tuh Bian, anggap aja PDKT-an gitu. kalo cocok jadian deh. Biar lo gak jomblo lagi! Langsung tembak aja jangan kasih kendor! " ledek Boma.
" Jadi, gue ajak dia jalan nih? " tanya Bian lagi dengan polos mendapat tatapan tajam dari teman - temannya.
" Bodo amat, Bian! bodo! " ucap teman - temannya serentak setelah itu kembali berjalan karena sejak tadi berdiam di lorong sekolah. Mereka meninggalkan Bian yang masih terdiam.
" Ah, pusing gue! lagian ngapain coba gua harus ajak Casilda ketemuan! " Bian menyesal atas apa yang telah ia lakukan tadi di jam istirahat.
Bian segera berlari mengejar teman - temannya. Sampainya di parkiran, di sana sudah terlihat Casilda sedang berdiri. sudah pasti ia sedang menunggu kedatangan Bian.
Bian menghela nafasnya kasar, padahal ia berharap kalau gadis itu lupa atau tidak datang menemuinya di parkiran. Sebenarnya itu bukanlah hal baru bertemu Casilda di parkiran karena sebelumnya dia sudah biasa bertemu tetapi ada alasannya yaitu untuk memberikan kotak makan milik Casilda, tetapi kali ini dengan alasan berbeda yang Bian sendiri tidak tahu mengapa bisa menyuruh Casilda bertemu dengannya.
" tuh Casilda udah nungguin, samperin sanah! " perintah Delon, sepertinya untuk mendekatkan Bian dengan perempuan harus di beritahu dulu langkah -langkah nya. Mungkin saja Bian seperti itu karena kelamaan menyendiri alias jomblo membuat bian canggung.
" iya – iya. udah kalian pulang duluan sana. " Kata Bian dan yang lainnya mengangguk setuju.
" kita balik duluan ya, Bye. " Ucap yang lainnya bergantian seraya naik keatas motor masing – masing.
" Good Luck, Bian! semoga berhasil! " teriak Boma penuh semangat, sepertinya ia sangat senang karena Bian akan jalan dengan perempuan lain. Setidaknya untuk memastikan bahwa temannya itu tidak HOMO .
Setelah melihat teman - temannya pergi berlalu, perlahan Bian melangkahkan kakinya mendekati Casilda yang sejak tadi belum melihat keberadaan Bian.
" Casie... " panggil Bian saat sudah berada di dekatnya, Casilda menoreh dengan senyumannya yang paling manis. Ia sangat senang bertemu dengan Bian, melihat wajahnya bagaikan embun pagi yang terasa sejuk.
" Hai, Bian? " sapa Casilda. " Oh iya, kamu kenapa nyuruh aku kesini? Hari ini kan aku lagi gak kasih kamu puding? Jadi, gak perlu balikin kotak makan dong? " Ujar Casilda.
Bian diam sebentar sebelum akhirnya bicara. " Jalan yuk? " ajak Bian.
" HAH? " Casilda melongo, mulutnya terbuka lebar menatap lelaki di depannya itu yang terlihat gugup.
Jantung Casilda mulai berdebar seperti ada dentuman yang hebat di dalam sana. " Kamu ... serius? " tanya Casilda yang masih tak percaya.
" Emang muka gue keliatan bercanda ya? " tanya nya kali ini dengan ekspresi datarnya.
" Enggak kok! " Casilda menggeleng cepat. " Oke, ayo aku siap jalan sama kamu! " sahut Casilda dengan semangat 45 yang berkobar di dalam dirinya.
Bian hanya tersenyum tipis melihat tingkah gadis itu yang terus saja tersenyum ke arahnya meskipun jarang di balas senyuman oleh nya. Bian segera berjalan menuju motornya di ikuti Casilda yang berjalan di belakangnya.
" Yes, akhirnya gue jalan juga sama pangeran tampan! TERIMA KASIH YA ALLAH TELAH MENJAWAB DOA KU YANG SELAMA INI BELUM TERKABUL! " batin Casilda, senyumnya terus saja terukir di wajahnya.
Di sepanjang perjalanan, mereka berdua hanya terdiam. Casilda di buat bingung harus melakukan apa agar suasana saat ini tidak tegang. Ia ingin mengajak bicara lelaki itu, tetapi takut tidak di respon. Namun, Casilda juga tidak bisa jika harus berdiam diri saja seperti ini.
" Bian, kita mau kemana? " akhirnya Casilda buka suara.
" Gak tau. " Jawab Bian asal membuat Casilda merasa benar mengambil langkah untuk bertanya kepada lelaki itu . Jika tidak, ia tak akan tahu akan kemana karena sejak tadi bian terus saja melajukan motornya tanpa arah dan tujuan.
" Loh, kok kamu gak tau? " Casilda jadi kebingungan.
" Menurut lo enaknya kemana? " Bian malah balik bertanya.
" terserah , Bian. " Balas Casilda.
" Lo laper gak? " Tanya Bian.
" Laper sih. " Casilda terkekeh.
" Terus mau makan apa? " tanya Bian lagi.
" Terserah, sih. " Jawaban Casilda seperti perempuan pada umumnya kalau ditanya selalu jawab kata itu.
Tidak ada jawaban lagi dari Bian, lelaki itu memilih diam dan tetap fokus melajukan motornya entah mau kemana dari pada terus bertanya dan jawaban Casilda tetap sama yaitu ‘ TERSERAH ‘.
**
JANGAN LUPA BACA ' UNWANTED MARRIAGE '
tunggu kelanjutannya ya :) ( SLOW UPDATE )