CHAPTER 4

2072 Words
HAI GUYS SEBELUM BACA, AKU MAU INFOIN SESUATU. DI BACA YUK CERITA TERBARU AKU BERJUDUL "UNWANTED MARRIAGE" CERITA ITU SEBENARNYA CERITA PERTAMA DARI NIKAH MUDA YANG AKU UDAH UPLOAD TAPI KARENA WAKTU ITU SALAH UPLOAD JADI YANG DI POST LEBIH DULU YANG NIKAH MUDA, TAPI CERITA ' UNWANTED MARRIAGE ' GAK KALAH SERU KOK . DIBACA YA ! KARENA UNTUK CERITA ' YOU ARE MY PUDING GIRL ' SLOW UPDATE JADI SAMBIL NUNGGU UPDETAN CERITA INI KALIAN BISA BACA CERITA ' UNWANTED MARRIAGE ' KARENA ITU FAST UPDATE. THANKYOU :) SELAMAT MEMBACA !! **** Ngantuk berat! Sepertinya itu yang saat ini Casilda rasakan, mungkin ia terlalu lelah karena semalam mengerjakan banyak PR. Tubuh nya di guncang hebat oleh Mina, ibu nya yang sejak tadi membangunkannya tetapi gadis itu masih belum membuka kedua bola matanya. " Casie... bangun!! kamu kok kebo banget sih! " teriak Mina entah sudah yang keberapa kalinya tapi Casilda hanya berdehem saja. " BANGUN SUDAH JAM SETENGAH TUJUH! KAMU MAU SEKOLAH GAK SIH! " Teriak Mina lagi agar anaknya itu segera bangun. Mendengar kata " SEKOLAH " , seketika Casilda segera terbangun. Kedua bola matanya yang tadi tertutup rapat langsung terbuka sempurna. Casilda segera beranjak dari kasur, bergegas menuju kamar mandi dan mempersiapkan diri. Tentu saja Casilda tidak akan bolos sekolah, karena hanya di sekolah ia bisa melihat Bian si lelaki tampan yang sangat ia kagumi itu. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Bian adalah semangatnya agar datang ke sekolah, tapi ada satu hal yang terlupakan oleh Casilda hari ini. " Ya ampun! gue lupa bikin puding hari ini! " Casilda menepuk jidatnya, karena terlalu banyak tugas sejak tadi malam, ia jadi tidak sempat mempersiapkan bahan. " Aduh gimana ya? " ia melirik jam dinding sudah menunjukkan pukul 07.00 WIB.  Itu artinya sudah tidak ada waktu lagi untuk membuat puding, bahkan dirinya saja saat ini sudah terlambat. Setelah rapih, Casilda pamit dengan ibu nya setelah itu ia bergegas berangkat sekolah dengan terburu - buru, sampai tidak ada waktu untuknya sarapan terlebih dahulu. Untung saja ibu nya itu sudah menyiapkan bekal untuk anak gadisnya yang sedang terburu - buru. " Hati - hati, nak! " teriak Mina melihat putrinya lari keluar rumah terburu - buru dan segera naik ojol yang telah di pesan.     **     Seperti biasa, di jam istirahat Bian dan teman - temannya nongkrong di kantin tempat biasa mereka berkumpul. Bian mengedarkan pandangannya mencari -cari sesuatu. " Lo lagi nyariin siapa? " tanya Adrian yang sejak tadi memperhatikan Bian seperti mencari sesuatu. " Enggak. " Bian berusaha menyembunyikan itu. " Kemana nih si Casilda, katanya mau bawain gue puding. kemaren dia udah janji. Parah sih gue di kasih harapan palsu. " Boma bertanya kepada Bian, padahal lelaki itu juga tidak tahu kemana Casilda saat ini. Biasanya ketika bel istirahat berbunyi, Casilda segera menuju kantin memberikan Bian sekotak puding, tetapi kali ini tidak . Seharusnya Bian merasa senang karena sebelumnya ia sering meminta Casilda berhenti memberinya puding, tapi entah kenapa ia merasakan sesuatu yang berbeda. " Apa dia marah karena kemarin gak gue kasih nomor w******p ya? " fikir Bian, ia melamun membuat Delon menatapnya aneh.      " Lo kenapa? " tanya Delon membuyarkan lamunan Bian. " Ah, enggak. " Bian menggeleng seraya bangun dari duduknya. " Gue pergi sebentar, ada urusan. " Ucap Bian setelah itu dia berjalan keluar kantin. " Kenapa tuh dia? " tanya Nugi keheranan di jawab gelengan kepala oleh teman - temannya. Casilda bersama mira dan alisa sedang berbincang di dalam kelas sambil melahap bekal yang mereka bawa masing - masing. " Tumben lo gak minta anterin ke kantin? " tanya Mira, ia tahu betul biasanya gadis itu selalu saja minta antar ke kantin di jam istirahat untuk memberikan puding kepada Bian. " Gue… lupa bikin puding hari ini. " Jawab Casilda menampilkan kesedihan di wajahnya. " Semalam gue fokus kerjain PR banyak banget! terus tadi pagi juga gue kesiangan. Jadi, gak sempet bikinin Bian puding. " Lanjut Casilda matanya mulai berkaca - kaca, ia merasa sangat menyesal tidak membuatkan puding untuk Bian hari ini. Padahal seharusnya ia tidak perlu bersedih berlebihan seperti itu. " Ya ampun Casilda! gak usah nangis juga kali. Kan, besok lo bisa bikin lagi! " Mira memutar kedua bola matanya menatap Casilda yang menurutnya sangat berlebihan itu. " Btw, kemarin gue liat story nya Nugi. Kalian makan bakso bareng ya? itu artinya kemarin Bian anterin lo pulang, kan? " Mira mengalihkan pembicaraan agar Casilda tidak bersedih. " Berarti lo punya peluang lebih deket lagi sama Bian. Buktinya, dia mau antar pulang dan lo di ajak makan bareng sama temen – temennya. " Ucap Mira. " Keren loh, Casie. Berarti, rencana lo berhasil! " Alisa mengacungkan jempolnya. " Udah jangan sedih lagi. Lebih baik fikirin apa tahap selanjutnya! " " Apa nya yang berhasil? " casilda menghentikan aktivitas makan nya, ia mulai terlihat tidak nafsu makan. " Gue minta no WA dia, tapi malah di tinggal pulang! " Casilda menghela nafas kasar. " SAD GIRL! " " Yaudah, jangan nyerah. Semangatt!!! " Mira menepuk pelan lengan Casilda. " Eh, liat tuh siapa yang datang. " Ucap Alisa membuat Casilda dan Mira menoreh ke arah yang Alisa maksud. " Ngapain sih dia kemari. " Casilda bangkit dari duduknya, menarik nafasnya dalam - dalam dan menguatkan dirinya untuk menghadapi para wanita pencari masalah yang kini berjalan mendekati meja nya. Siapa lagi kalau bukan 3M. " Tumben banget lo gak kasih makanan sampah buatan lo itu ke Bian? " ucap mery dengan kasar di hadapan casilda, ia bertelak pinggang dan memasang wajah jutek. " Tapi bagus deh, itu artinya lo nurut sama perintah gue agar lo berhenti mendekati Bian. " Lanjutnya. " Mery, bisa gak sih sehari aja gitu lo gak gangguin gue? " tanya Casilda menatapnya dengan sinis, ia sudah sangat geram sekali hampir setiap hari mery selalu mencari masalah dengannya. " Hmm...Gak bisa! " Mery menggelengkan kepalanya. " Kemarin gue liat snapgram nugi dan ternyata ada lo juga di sana! " " Terus masalah nya apa? " Casilda bertanya. " MASALAH NYA LO ITU GAK PANTES ADA DI ANTARA MEREKA! " Mery mendorong tubung Casilda kasar. " YANG PANTES ITU GUE! " tegas Mery. " Mery, lo gak usah kasar gitu dong sama Casilda! " Mira angkat bicara merasa tidak senang temannya di perlakukan seperti itu. Para murid yang ada di kelas saat ini hanya bisa diam melihat Mery dan temannya membuat masalah karena mereka tidak ingin ikut campur dan mendapat masalah besar kepada 3M. " Heh! lo gak usah ikut campur ya kalo mau hidup lo tenang! " Meicha menunjuk ke arah Mira. " Jangan sampe gue konciin lo di kamar mandi! " ancam Meicha. " Lo juga! " kemudian ia menunjuk ke arah alisa yang sejak tadi menunduk ketakutan. Kini mira memilih diam karena ia tidak ingin mendapat masalah, meskipun sebenarnya ingin menolong Casilda. " Terserah lo ya Mery, gue gak mau cari masalah. " Casilda memilih mengalah saja, ia tidak ingin membuat hal sepeleh ini menjadi masalah besar. " Kalo gue mau cari masalah gimana? " Mery menoreh ke arah meja Casilda, di sana terdapat sebotol air minum. Tanpa berfikir panjang, Mery segera membuka tutup botol itu dan menumpahkan seluruh air ke wajah hingga baju seragam casilda. Mulut casilda terbuka lebar melihat seragamnya kini basah akibat ulah Mery yang kini tersenyum puas melihatnya seperti itu. Mira dan Alisa juga ikut terkejut namun mereka tidak bisa melakukan apa - apa. " Gue ingatkan sekali lagi ya, cewek s****n! " Mery menepuk - nepuk pelan pipi Casilda. " Berhenti deketin Bian! " ucapnya setelah itu beranjak pergi keluar kelas di ikuti kedua temannya itu. " Inget tuh ucapan Mery! " tegas Mela, tangannya mendorong pelan tubuh Casilda.   Mata Casilda berkaca - kaca, ia berusaha mendongakan kepalanya agar air matanya tidak jatuh, ia tidak ingin menangis di depan banyak orang. Tangan Casilda meremas rok nya, bibirnya gemetar dan lututnya terasa lemas. Rasanya ia ingin berteriak sambil menangis saat itu juga, tapi tidak mungkin.            " Casilda, lo gak apa - apa? " tanya Alisa, ia berusaha merangkul Casilda. " Gak apa - apa gimana sih, Alisa! Udah jelas kalo Casilda habis di siram! " ucap Mira, ia mengambil tissue dan memberikan kepada Casilda. " Nih, bersihin muka lo, Casie !" " Makasih. " Casilda mengambil tissue itu. " Gue mau ke toilet dulu. " Ucapnya, setelah itu ia segera pergi keluar kelas. " Gue mau temenin Casilda. " Melihat Casilda keluar kelas, Alisa berniat mengikuti gadis itu, ia tidak ingin membiarkan Casilda sendirian. "Jangan! " Mira menarik tangan Alisa hingga membuat langkahnya terhenti. " Kenapa, Mir? " Tanya Alisa tak mengerti. " Dia butuh waktu untuk sendiri. " Kata Mira dan akhirnya Alisa mengangguk setuju. Dalam perjalanan menuju toilet, Casilda terus saja menunduk sambil menahan tangisnya. Beberapa pasang mata melihatnya dengan heran karena seragamnya basah. Casilda mempercepat jalannya sampai akhirnya langkahnya terhenti saat dirinya menabrak seseorang.   BUKK ...   Hampir saja casilda terjatuh namun seseorang di hadapannya berusaha menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. " Lo gak apa - apa? " suara lelaki yang tidak asing baginya itu membuat Casilda mendongakan kepalanya menatap pria yang sedikit lebih tinggi darinya itu. " Bian? " mata Casilda membulat ketika melihat siapa yang berada di hadapannya saat ini. Bian memperhatikan wajah dan seragam Casilda yang terlihat basah kuyup, ia mengerutkan keningnya pertanda bingung apa yang terjadi dengan gadis itu " Lo kenapa? " tanya Bian. " Gak apa – apa. " ucap Casilda, setelah itu ia segera berlari menjauh dari Bian. Casilda tidak ingin Bian melihat keadannya yang seperti ini. Casilda segera masuk kedalam toilet yang tidak jauh dari posisinya saat ini. Melihat Casilda menghindar dari nya, Bian semakin yakin kalau gadis itu marah dengannya karena tidak memberikannya nomor w******p, tetapi kini ada hal lain di fikiran Bian yaitu ada apa dengan Casilda hingga terlihat seperti itu. " Dia kenapa ya? " fikir Bian kemudian ia kembali berjalan.   Casilda sudah tidak bisa menahan dirinya lagi, ia menangis sejadi - jadinya di dalam toilet yang kini terlihat sepi. Air matanya mengalir begitu deras, nafas nya terengah - engah dan dadanya terasa begitu sesak. Selama ini Casilda selalu sabar menghadapi Mery yang terkadang bersikap kasar kepadanya. Sebenarnya, ada cara untuk menghentikan Mery berlaku seperti itu kepadanya, yaitu berhenti untuk mengejar Bian, tetapi itu tidak mungkin Casilda lakukan. Merasa sudah puas meluapkan kesedihannya dengan menangis, Casilda mengelap wajah dan seragamnya dengan tissue setelah itu segera keluar toilet, ia berjalan dengan lesuh. Ternyata sejak tadi, Bian menunggu Casilda di depan toilet membuat gadis itu terkejut melihat keberadaan Bian saat ini yang berdiri di depan pintu masuk toilet perempuan. " Bian? kamu ngapain? " Casilda menoreh ke atas melihat palang bacaan toilet untuk memastikan apakah dirinya salah masuk toilet atau tidak, tetapi ternyata benar di situ tertulis toilet wanita. " Ini kan kamar mandi perempuan? kamu mau masuk? " tanya Casilda keheranan. Bian menggelengkan kepalanya. " Gue di sini nungguin lo. " kata Bian, mendengar itu Casilda tidak bisa menahan senyumnya, jantungnya berdetak lebih cepat, apalagi kini lelaki itu tengah menatapnya dengan intens. " Kamu ngapain nungguin aku? " Mendapati pertanyaan itu Bian terdiam sambil berfikir sejenak. Ia sendiri tidak tahu apa yang membawanya untuk menunggu Casilda di sini. " Gue..." Bian mencari - cari alasan, ia tidak ingin Casilda berfikir aneh - aneh tentangnya. " Gue di suruh Boma buat tanyain sesuatu ke lo. " Ucapnya asal. " Masa, sih? Mau tanya apa? " Casilda merasa tidak yakin. " Itu ... kemarin kan, lo janji kasih dia puding. Jadi, dia nanyain kok hari ini lo gak bawain dia puding. " Jawab Bian berusaha meyakinkan agar gadis itu percaya, padahal bisa jadi itu yang ingin ia tanyakan kenapa Casilda tidak membawakannya puding tetapi karena merasa gengsi Bian mengatas namakan BOMA teman nya sendiri! dasar Bian!   " Oh iya aku lupa! " Casilda menepuk jidatnya. " Bilangin Boma ya. Aku minta maaf, soalnya hari ini aku kesiangan. " Ucap Casilda. " Oke, nanti gue bilangin. " Bian mengangguk faham, entah kenapa ia sedikit bernafas lega karena tahu penyebab Casilda tidak membawaknnya puding hari ini bukan karena dirinya tidak memberikan nomor w******p. " Aku juga minta maaf sama kamu. " Ucap Casilda, ia menundukan kepalanya. " Minta maaf untuk? " Bian menatap Casilda yang perlahan mendongakan kepalanya. " Karena gak bikinin kamu puding juga hari ini. " Lanjut Casilda. " Gak apa – apa. " Balas Bian. " Yaudah kalo gitu, aku balik ke kelas dulu ya. " Casilda permisi menuju kelas, namun langkahnya terhenti ketika Bian memanggilnya. " Casie... . " Panggil Bian. Gadis itu segera membalikan badannya menatap Bian. " Kenapa, Bian? " Casilda bertanya. " Bareng aja, gue juga mau ke arah sana. " Ucap Bian. Casilda diam sebentar sebelum akhirnya mengangguk, ia sedikit bingung. Padahal, kelas Bian tidak satu arah dengannya, tetapi ia tidak ingin banyak bertanya. Mungkin saja, Bian mau ke kelas lain karena ada suatu urusan. ** JANGAN LUPA KLIK TOMBOL LOVE NYA UNTUK MENSUPORT :) NEXT ---->
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD