INDIRA'S BUCKET LIST - 09
Sejak pukul empat pagi, air hujan terus membasahi bumi. Durasinya sangat awet sekali. Hingga membuat Indira serta Mika jadi malas untuk segera mandi. Bahkan keduanya masih betah menggunakan piama di jam sembilan seperti sekarang ini. Padahal hujan sudah mulai reda sejak pukul delapan tadi.
Berhubung ini sudah weekend, jadi pagi ini mereka tidak perlu mandi lebih awal seperti saat weekdays kemarin.
“Ini kalian berdua beneran enggak mau mandi?” tanya Ira yang saat itu sedang bersiap untuk menggusur Indira dan Mika yang sedang bermain ponsel dengan televisi yang dibiarkan menyala, dan sedang menayangkan FTV pagi dari salah satu stasiun televisi ternama. Karena saat ini ia ingin segera membersihkan bagian ruang tengah yang sedang ditempati oleh kedua putrinya.
“Masa kalian berdua kalah sama Genta? Dia aja udah mandi, bahkan sebelum azan subuh tadi.”
Indira dan Mika terlihat tidak heran dengan informasi yang diberikan oleh ibu mereka saat ini. Karena Genta memang selalu rutin mandi sebelum pergi salat subuh di masjid.
Well, adiknya Indira yang satu itu memang paling rajin menjaga tubuhnya agar tetap bersih dan wangi. Katanya, hal itu sengaja dia lakukan demi bisa menggaet cewek cantik.
Entah Genta benar-benar serius atau tidak saat mengatakan hal itu di depan anggota keluarganya, tapi yang jelas semenjak masuk SMA dia memang selalu digandrungi oleh para kaum hawa. Karena hal itulah, Genta jadi sering membawa Mika ke mana-mana. Lantaran adik bungsu mereka itu bisa menjadi tameng bagi dirinya, agar beberapa teman perempuannya bisa sedikit menjaga jarak dari dirinya saat mereka tak sengaja bertemu di luar area pendidikan. Bahkan kadang-kadang, Genta juga akan membawa Indira—atau ikut menemani Indira untuk jalan-jalan, ataupun sekadar menemaninya membeli makanan di luar—dan ia pernah mengakui kalau perempuan itu adalah pacarnya.
Jika sudah seperti itu, Indira hanya mampu menjitak kepalanya Genta dan mulai menggerutu kalau laki-laki itu harus segera mencari pacar betulan.
“Assalamualaikum ....”
Mika yang baru saja beranjak dari atas sofa, langsung menoleh ke arah sang kakak dengan kedua bola matanya yang terlihat sudah membesar.
Sementara Indira yang melihat reaksi dari Mika barusan, tampak menatap adiknya itu dengan pandangan horor yang sangat kentara. Jangan bilang ....
“Nah! Itu pasti Nak Javier.”
Ira segera menaruh kemoceng di tangannya ke atas meja TV, dan langsung berlalu dari sana tanpa memerhatikan kedua putrinya lagi—terutama Indira yang merasa campur aduk di tempatnya berdiri saat ini.
Bukannya Indi terlalu percaya diri, tapi ... kedatangan Javier ke sini pasti untuk bertemu dengan dirinya, ‘kan? Tidak mungkin laki-laki itu datang ke sini tanpa tujuan. Apa lagi sengaja datang hanya untuk mengobrol ataupun mengakrabkan diri bersama ibunya.
Indira lantas berlalu dari ruang tengah, dan segera masuk ke dalam kamar tidurnya. Tidak mungkin ia menampakkan diri di depan tamu dengan memakai setelan piama bergambar telur mata sapi serta rambut yang dicepol asal-asalan seperti saat ini. Ditambah lagi tamu itu adalah Javier, putra sulungnya Tante Utami yang belum pernah ia temui.
Lagi pula, Indira juga tidak akan membiarkan first impression mengenai dirinya tercoreng di hadapan Javier. Tetapi, kalau dipikir-pikir, kenapa pula ia harus merasa peduli? Seharusnya ia tidak perlu merasa sepeduli ini tentang pandangan lelaki itu terhadap dirinya yang saat ini masih belum mandi.
Indira tampak mendaratkan bokongnya di pinggir ranjang sambil tetap memegangi ponselnya menggunakan sebelah telapak tangan.
Tak lama kemudian, pintu kamarnya pun dibuka secara tiba-tiba. Tentu saja hal itu langsung membuat Indira terkesiap dan refleks menoleh cepat ke arah sana.
“Kak! Dipanggil Ibu tuh, disuruh ke depan.”
Indira kembali memasang raut wajah ngeri ke arah sang adik. “Enggak ah, aku belum mandi. Males juga kalau harus ketemu sama orang asing.”
Mika terlihat cemberut sedikit. “Jangan gitu ih, nanti Ibu marah lho kalau kakak sembunyi-sembunyi terus kayak begini.”
Namun, Indira sama sekali tidak mau peduli. Karena ia memang tidak berminat untuk segera bertemu dengan Javier saat ini. Apa lagi dengan kondisi dirinya yang belum sempat membersihkan diri.
“Oh iya, Bapak tadi ke mana sih?” tanya Indira yang merasa kalau hanya ayahnya lah satu-satunya orang yang bisa membantu dirinya saat ini, karena sepertinya sang ibu sudah mulai terpincut oleh sosok Javier. Sehingga ibunya pun tega mengundang lelaki itu ke sini, bahkan tanpa memberitahu dirinya lagi.
“Enggak tahu tuh, paling lagi jalan-jalan pagi sama Bri.”
“Bapak bawa hp gak ya?” Indira tampak bergumam lirih sembari men- dial nomor ponsel sang ayah. Tetapi, panggilan darinya tak kunjung mendapatkan respon apa-apa. Dan sudah bisa dipastikan kalau saat ini ayahnya sama sekali mengantongi ponsel di dalam saku celana.
Di tengah perasaan campur aduk yang sedang menghinggapi hatinya Indira sekarang, sosok Ira malah datang ke kamar putri sulungnya itu tanpa diundang.
Wanita paruh baya itu tampak menampilkan raut wajah setengah kesal. Mungkin karena Mika terlalu lama memanggil Indira, hingga putri sulungnya itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya di depan Javier yang sudah menunggu kehadiran dirinya.
“Ind, ayo, ke depan. Javier udah nungguin kamu tuh, sekalian kamu buatin minuman dulu.”
“Enggak ah, Bu. Aku beneran enggak mau ketemu sama si Javier-Javier itu.”
“Lhooo? Kenapa?” tanya Ira dengan nada bingungnya yang sangat kentara. Karena menurut dirinya, Javier adalah pemuda yang baik dan sangat sopan.
“Kak Indi malu kali, Bu. Kan dia belom mandi, trus dia juga—”
Mika langsung menutup mulutnya sambil menahan tawa begitu sang kakak menoleh ke arah dirinya, dan memberikan tatapan seolah-olah kakaknya itu sedang menyuruh dirinya untuk segera berhenti berbicara.
“Kamu sih ... kenapa enggak mandi dari tadi.”
“Ya ... kan hari ini aku enggak ada agenda ke mana-mana, Bu.”
“Justru itu. Kamu enggak ada agenda ke mana-mana, jadi harus tetep siap kalau seandainya kamu diajak jalan secara mendadak.” Selanjutnya, Ira pun tampak sibuk mengamati penampilan putri sulungnya saat ini. “Tapi, kamu enggak kucel-kucel banget kok, Ind. Anak Ibu tetep cantik meskipun belum mandi.”
Dan Indira hanya mampu menekuk wajahnya saja saat ini. Karena ucapan ibunya itu terdengar sangat percaya diri sekali.
“Yuk, ikut Ibu keluar sekarang—temuin Javier,” ajak Ira sembari menarik pergelangan tangannya Indira secara tiba-tiba.
“Tapi, Bu ....”
“Udah, enggak usah tapi-tapian.”
Sementara itu, Mika hanya cekikikan, lalu mulai mengekor dari arah belakang.
“Bu, bentar deh, Bu. Aku cuci muka dulu. Terus biar Mika aja yang buatin minum. Biar cepet.”
“Kok aku?” tanya Mika yang terlihat kurang setuju, tapi ucapannya hanya dianggap sebagai angin lalu. Karena baik sang kakak ataupun sang ibu, tampak tidak terlalu peduli dengan nada protesnya saat itu.
“Ya udah, tapi kamu beneran ke depan ya, Ind? Biar Ibu dulu yang temenin Javier.”
“Iya, Bu.”
Tepat setelah itu, Ira sudah benar-benar berlalu. Sedangkan Indi segera bergegas ke kamar mandi, dan membersihkan wajahnya sekali lagi. Padahal, sebelum sarapan tadi, ia sudah sempat melakukan hal ini.
Namun, sebelum itu, ia sudah kembali berpesan kepada Mika supaya adiknya itu cepat-cepat membuatkan minuman untuk Javier yang sedang menunggu dirinya di atas sofa ruang tamu sana.
Meskipun saat ini Mika sedang menggerutu pelan, tapi anak itu tetap melaksanakan tugasnya dengan sangat benar.
Begitu selesai mencuci wajahnya di dalam kamar mandi yang terletak di sudut dapur rumah mereka, Indira pun segera masuk ke dalam kamar, dan langsung mengaplikasikan bedak tipis di seluruh area permukaan wajahnya. Ia sempat memakai lip balm serta membenarkan tatanan rambutnya sebentar sebelum benar-benar keluar dari dalam kamar. Karena ia merasa kalau hal itu juga perlu dilakukan untuk menunjang penampilannya sekarang.
Mika lantas menyerahkan nampan berisi tiga cangkir teh hangat serta dua stoples camilan kepada sang kakak.
“Gimana penampilan aku sekarang?” tanya Indira sembari menerima nampan dari tangannya Mika.
“Perfect. Pasti Kak Javier langsung kelepek-kelepek, terus pernikahan kalian—”
“Ssstttt ... gak ada yang mau nikah. Apa lagi aku sama dia,” jelas Indira.
Namun, saat ini Mika jadi merasa tidak habis pikir dengan perbuatan kakaknya. Well, untuk apa kakaknya itu berdandan seperti sekarang jika bukan untuk membuat Javier merasa berkesan?
Kadang-kadang Mika tidak mengerti bagaimana jalan pikiran orang dewasa.
***
Begitu Indira muncul di dekat tembok pemisah antara ruang tamu dengan ruang tengah, ia langsung mundur selangkah dan bersandar di depan tembok yang ada di dekat sana.
“Eh, Mika. Sini dulu,” bisik Indira kepada adik bungsunya yang sudah kembali duduk santai di atas sofa ruang tengah.
“Kenapa lagi sih, Kak?” tanya Mika sembari menggeret kedua kakinya untuk mendekati sang kakak.
“Hussstt ... pelan-pelan aja ngomongnya.”
“Emang ada apa sih?” Sekarang, Mika jadi ikut berbisik.
“Jadi, itu yang namanya Javier?” tanya Indira dengan suaranya yang terdengar sangat pelan. Ia tadi sudah sempat melihat sosok Javier sekilas. Karena hanya ada satu orang laki-laki yang sedang berbicara dengan ibunya di atas sofa ruang tamu sekarang.
Mika langsung mengintip sedikit ke arah sofa di mana tempat ibu mereka sedang mengobrol dengan gesture santai. “Iya.”
“Astaga ....”
“Kenapa? Kakak udah kenal ya sama dia?”
Indira segera menggelengkan kepalanya, yang langsung membuat Mika jadi bertambah bingung sekarang.
“Terus kenapa?” Mika kembali bertanya.
“Enggak, enggak apa-apa.”
Setelah itu, Indira pun langsung bergegas menuju ke arah sofa ruang tamu. Tetapi, ia berusaha mati-matian agar terlihat tetap santai dan tidak kaget sedikit pun. Karena ternyata ... Javier itu ....
Sudahlah, lupakan saja. Karena saat ini Indira akan menghadapi Javier di ruang tamu rumahnya, bukan di tempat umum ataupun di sebuah medan perang. Jadi, tidak ada hal yang perlu ditakutkan oleh dirinya sekarang.
*****
Hayooo kira-kira Javier itu siapa? wkwkwk
By the way, jangan lupa follow akun dreame aku dan follow juga akun IG aku @_ruangbicara_