INDIRA'S BUCKET LIST - 08
“Itu ada apa sih?”
“Apaan sih ribut-ribut?!”
“Siapa yang berantem?”
Beberapa penghuni indekos lantai dua tampak berhamburan keluar dari kamar mereka. Karena suara ribut-ribut yang berasal dari lantai bawah, benar-benar berhasil menarik perhatian mereka semua.
Sementara Indira yang baru saja pulang kerja—mungkin belum ada 5 menit setelah ia tengkurap di atas ranjang, terlihat bangkit dari atas tempat tidurnya dengan malas-malasan.
“Ada apa sih?” tanya Indira yang baru saja keluat dari kamar sembari membenarkan ikatan rambutnya yang sudah cukup berantakan. Lalu, ia pun segera mencepol rambutnya hingga tidak ada lagi rambut yang terurai sembarangan.
“Gak tahu tuh ada apa. Gak ngerti juga.”
Indira lantas mendekati terali besi pembatas yang ada di depan kamar indekos miliknya, dan segera mengintip ke arah lantai bawah. Tetapi, hal itu percuma saja dilakukan oleh Indira. Karena keributan tadi terjadi tepat di bawah balkon teras kamar mereka semua.
Berhubung Indira sedang malas untuk mencari tahu sekarang, jadi ia pun memilih untuk segera kembali masuk ke dalam kamar. Well, ia memang malas ikut campur dengan urusan orang. Lebih baik ia kembali beristirahat sebentar, lalu mandi, dan melakukan aktivitasnya sendiri di dalam kamar.
Tepat sekitar pukul setengah tujuh kurang beberapa menit-an, Indira terlihat mulai sibuk memilih menu makan malam yang sebentar lagi akan dipesan oleh dirinya. Mumpung ada promo yang sedang berhamburan, sehingga ia pun tidak akan melewatkan kesempatan ini untuk segera memesan menu makan malam. Sampai akhirnya, Indira pun meringis sendiri begitu melihat apa saja yang telah dipesan oleh dirinya beberapa saat tadi. Karena ia telah khilaf sampai memesan satu porsi ayam geprek, mie tumis, serta sate taichan yang diinginkan oleh dirinya sejak kemarin. Ia lantas keluar dari kamar indekosnya, dan langsung duduk di salah satu kursi yang tersedia di depan kamarnya. Ia sengaja menunggu di sana sembari berselancar di social media. Sesekali ia akan menanggapi chat absurd dari Mika, karena Mika adalah satu-satunya saudara yang paling sering chatting -an dengan dirinya.
Begitu mendapatkan kabar kalau ojek online yang mengantarkan pesanan untuk dirinya sudah sampai, Indira pun tampak segera bergegas dari sana dan langsung berjalan menuju ke arah anak tangga.
Selesai membayar sambil menenteng menu makan malamnya, Indira tak sengaja melihat Daniar yang baru saja keluar dari arah dapur Indekos Mahira.
Entah apa yang sebenarnya terjadi dengan Daniar, tapi saat Indira tersenyum sembari menyapanya seperti biasa, anak itu hanya melemparkan senyum tipis yang terlihat cukup dipaksakan dan langsung berlalu begitu saja tanpa membalas sapaan yang diberikan oleh dirinya.
Berhubung Indira sudah tidak sabar lagi untuk menikmati Mie Tumis miliknya, jadi ia pun segera masuk ke dalam dapur dan sama sekali tidak penasaran dengan sosok Daniar yang tiba-tiba saja bertingkah laku cukup aneh seperti barusan.
Indira tampak mengambil beberapa peralatan makan yang tersimpan di dapur sebelum benar-benar naik kembali ke lantai atas. Ia melewati semua kamar indekos sambil sesekali melempar senyum dan membalas sapaan dari beberapa orang yang sedang duduk-duduk di teras kamar.
Tak lama setelah itu, Indira pun mulai menikmati mie tumis miliknya sambil berpikir kalau besok sore ia akan benar-benar pulang ke rumah. Karena besok sudah hari jumat—hari terakhirnya bekerja sebelum kembali bekerja di hari senin seperti biasa. Sementara Mika tadi sudah sempat memberitahunya jika anaknya Tante Utami masih belum muncul lagi ke rumah mereka. Sehingga Indira pun merasa aman untuk kembali lagi ke rumah seperti biasa.
Selesai menikmati mie tumis, ayam geprek, serta beberapa tusuk sate taichan yang saat ini masih tersisa lima tusuk lagi di atas meja, Indira tampak mengambil tas punggungnya yang tergantung di dekat lemari pakaian. Karena besok sore ia akan langsung bergegas menuju ke rumah kedua orang tuanya tanpa mampir ke indekos ini lagi. Sehingga ia pun harus membawa beberapa keperluannya di dalam tas punggung seperti saat ini.
***
Dena yang saat ini sedang berdiri di dekat mobilnya yang sudah terparkir manis di parkiran khusus pegawai, tampak sedikit menyipitkan kelopak matanya begitu ia melihat Indira yang pagi ini membawa tas di bagian punggungnya. Karena biasanya, Indira lebih sering memakai sling bag jika sedang ingin bekerja. Dan ... well, ia sudah bisa menebaknya sekarang. Pasti nanti sore Indira akan langsung bertolak pulang ke rumah kedua orang tuanya seperti biasa.
“Hari ini kamu jadi pulang ke rumah ya, Ind?” tanya Dena saat Indira sudah selesai memarkirkan motornya, lalu berjalan menghampiri dirinya.
Indira lantas menganggukkan kepalanya dengan gerakan pelan sambil mengatakan, “Iya, Na. Jadi. Ibu juga udah sempet telepon aku sampe berkali-kali cuma buat mastiin kalau aku beneran pulang hari ini.”
Dena langsung tertawa begitu mendengar keluhan dari Indira barusan. “Tapi, hati-hati, Ind. Bisa aja Ibu kamu udah kongkalikong sama si Javier.”
Indira sempat tertegun beberapa saat, karena ucapan Dena barusan memang ada benarnya juga. Apa lagi ibunya sangat ngebet sekali dan terus mewanti-wanti, supaya dirinya mau pulang ke rumah sore nanti.
Namun, jika ia terus bermain kucing-kucingan dan terus berada di Indekos Mahira, kedua orang tuanya pasti akan merasa curiga kalau sesungguhnya ia sengaja tidak pulang ke rumah bukan karena adanya pekerjaan yang tidak bisa ditinggal, tapi karena ia ingin menghindari sosok Javier yang pernah berkunjung ke kediaman keluarga mereka.
Duh. Indira jadi merasa serba salah.
Meskipun begitu, Indira tidak akan membatalkan niatnya yang akan pulang ke rumah. Karena sekarang ia sudah benar-benar pasrah.
Kalaupun memang benar ibunya sedang bersekongkol dengan Javier, maka ia harus mempersiapkan diri sebelum benar-benar bertemu dengan lelaki itu nanti. Karena sebuah masalah memang harus dihadapi, bukannya main kucing-kucingan dan merasa tidak tenang sendiri.
***
Sekitar pukul setengah delapan malam, Indira tampak sudah berhasil memarkirkan motornya dengan selamat dan segera mencium punggung tangan ibunya. Karena ibunya itu memang langsung keluar dari rumah begitu ia menghentikan laju kendaraannya di pekarangan rumah mereka.
“Akhirnya, kamu pulang juga.”
Dan Indira hanya tersenyum tipis begitu mendengarnya. Karena ia tahu kalau dirinya memang bersalah, lantaran sudah melewatkan weekend sebanyak dua kali demi bisa menghindari sosok Javier.
“Ibu udah sempet ngajak Bapak buat ngecek langsung ke kosan kamu—kalau sampai hari ini kamu enggak pulang juga. Soalnya Ibu takut kalau kamu sampe kenapa-napa, dan sengaja enggak mau cerita.”
Indira lantas meminta maaf kepada ibunya, dan mengatakan kalau sesungguhnya ia baik-baik saja serta tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Ia sempat mengobrol sebentar bersama sang ayah serta kedua adiknya yang sedang bersantai di ruang tengah.
Beberapa saat kemudian, Indira pun sudah berada di dalam kamar dan bersiap-siap untuk segera mandi sekaligus mengganti pakaian. Karena tubuhnya sudah terasa lengket dan gerah.
Setelah melihat Indira keluar dari dalam kamar dengan tubuh serta wajah yang terlihat jauh lebih segar, Ira tampak mengajak putri sulungnya itu untuk segera makan malam di atas meja makan. Dan meskipun Indira tadi sudah sempat makan di salah satu tempat makan pinggir jalan, tapi ia sama sekali tidak menolak saat ibunya itu menyuruh dirinya untuk segera mengisi perutnya sekarang juga. Karena sesungguhnya ia sudah sangat merindukan masakan ibunya, lantaran ia sudah cukup lama tidak makan di rumah seperti sekarang.
*****
BERSAMBUNG ....
Jangan lupa follow akun IG @_ruangbicara_
Terima kasih sebelumnya :)