BUCKET LIST - 07

1169 Words
INDIRA'S BUCKET LIST - 07 Terhitung sudah dua minggu ini Indira memutuskan untuk tidak pulang ke rumahnya sendiri, dan ia tidak tahu sampai kapan dirinya harus terus bermain kucing-kucingan seperti saat ini. Karena sejujurnya ia pun sudah mulai merasa lelah sendiri. Lantaran ia sudah sangat merindukan masakan rumahan yang selalu dibuat oleh ibunya, dan ia juga sangat merindukan beberapa keributan kecil yang sering dilakukan oleh para saudaranya. Karena meskipun Siera sudah cukup lama menikah, tapi ada saja kelakuan Genta yang kadang berhasil menyulut emosi kakak mereka. Keadaan di rumah tentu saja sangat berbanding terbalik dengan keadaan kamar indekos yang selama ini sudah ditempati oleh dirinya. Dan hal itulah yang membuat Indira jadi kangen sekaligus ingin pulang secepatnya. Tetapi, ia masih harus menunggu sampai hari jumat benar-benar tiba. Karena ia baru bisa pulang ke rumah kalau job desc -nya sudah selesai semua. Tidak mungkin juga kan kalau ia mengambil cuti dadakan? Indira lantas membereskan barang-barangnya dan segera memakai sling bag di bahunya. Hari ini ia tidak perlu lembur seperti kemarin, sehingga ia pun bisa pulang di jam normal seperti saat ini. Tetapi, sebelum benar-benar pulang ke Indekos Mahira sore ini, ia memutuskan untuk mampir terlebih dahulu ke salah satu warung tenda pecel lele. Meskipun ia tidak menyukai ikan lele, tapi ayam bumbu serta sambal yang dijual di warung tenda itu terasa sangat enak sekali. Apa lagi warung tenda yang satu ini sudah cukup terkenal dan biasanya kalau datang kemalaman maka ayam bumbunya akan kehabisan. Untungnya Indira datang di waktu yang sangat tepat. Karena saat ini ayam bumbu yang ingin dipesan olehnya masih tersedia cukup banyak. Sehingga tak lama kemudian, ia pun sudah duduk di salah satu bangku plastik dengan seporsi nasi ayam, sambal, tahu dan tempe goreng, serta lalapan yang sudah terhidang di atas meja. Sebelum mencuil ayamnya menggunakan telapak tangan, Indira tampak mencelupkan tangannya ke dalam mangkuk berisi air dengan potongan jeruk nipis. Meskipun begitu, ia tetap menggunakan sendok untuk menyuapkan nasi. Di saat Indira sedang asyik dengan hidangan makan malamnya saat ini, tiba-tiba saja ada seseorang yang datang menghampiri. Awalnya Indira bersikap cuek saja. Karena tempat kosong di samping kanannya memang masih bisa diisi oleh tiga orang lagi. Namun, saat ia tak sengaja tersedak sambal dan mendapati es tehnya sudah habis, seseorang di sampingnya malah menyodorkan segelas es teh yang sepertinya belum disentuh sama sekali. Indira lantas menerima gelas itu dan langsung meredakan tenggorokannya yang terasa sakit, lalu setelah itu ia pun mengucapkan terima kasih. Saat Indira berniat untuk mengganti segelas es teh milik orang itu dengan es teh yang baru, orang itu malah menolaknya dan mengatakan kalau dia ingin minum air putih saja. Karena orang itu baru saja menunjukkan sebotol air mineral yang masih tersegel di atas meja. Melihat mereknya yang berbeda dari beberapa botol air mineral yang tersedia di tengah-tengah meja, Indira jadi bisa menyimpulkan kalau orang itu memang sengaja membawa air mineral ke mana-mana. Setelah itu, Indira pun kembali berterima kasih untuk yang kesekian kalinya. Lalu melanjutkan kembali acara makannya yang sempat tertunda. Semoga saja ia tidak kembali tersedak, dan tidak kembali merepotkan orang asing yang saat ini masih duduk sekaligus makan di sampingnya. Karena ia benar-benar merasa tidak enak, tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali mengucapkan rasa terima kasihnya serta memberikan seuntai senyum tipis untuk orang asing yang telah sudi membantu dirinya. Begitu makan malamnya sudah selesai, Indira pun segera membayar dan langsung bergegas pulang. Tetapi, sebelum itu, ia juga menyempatkan diri untuk mengucapkan kalimat basa-basi kalau ia harus pulang duluan saat ini. Karena bagaimanapun juga, orang itu tadi sudah menolongnya, bahkan mereka juga sempat terlibat dalam percakapan bersama. Sebelum Indira benar-benar menghampiri motornya yang terparkir di pinggir jalan, ponselnya yang belum sempat ia masukkan ke dalam tas tampak menyala sekaligus bergetar di dalam genggaman tangannya. Ternyata Mika yang saat ini sedang menelepon dirinya. Indira lantas menerima panggilan itu begitu saja. Karena bisa jadi adik bungsunya itu sedang ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting kepada dirinya. Lantaran mereka berdua cukup jarang saling berbicara melalui panggilan telepon seperti sekarang. “Halo?” Indira tampak segera melipir ke dekat penjual aneka es yang sedang membuatkan pesanan dari para pembeli. Karena kebanyakan pembeli di gerobak es itu berasal dari warung tenda pecel lele yang sempat dikunjungi oleh dirinya tadi. Sehingga di dekat situ pun terlihat lumayan sepi. “Assalamualaikum, Mik.” Ada jeda sebentar sebelum Mika menjawab, “Waalaikumsalam, Kak!” Indira kontan mengerutkan keningnya saat itu juga. Tetapi, sebelum ia sempat bertanya, Mika sudah lebih dulu kembali berbicara dari seberang telepon sana. “Ini, Kak. Ibu mau ngomong katanya.” Tepat setelah itu, Indira pun mendengar suara percakapan kecil yang dilakukan oleh Mika dengan sang Ibu. Indira tahu, saat ini dirinya harus sabar menunggu. Ia lantas memesan satu cup es alpukat. Karena merasa tidak enak jika harus berdiri di dekat situ tanpa membeli apa-apa. Hingga akhirnya, suara ibunya pun mulai terdengar dari ujung sana. “Jumat nanti kamu pulang ke rumah kan, Ind?” tanya sang Ibu yang langsung to the point. “Engggg ...,” Indira tampak sibuk berpikir. “ ... Enggak tahu deh, Bu. Aku enggak bisa janji. Soalnya—” Ibunya langsung menghela napas kasar dari seberang telepon sana. “Dua minggu kemarin kamu udah enggak pulang-pulang lho, Ind. Memangnya kamu enggak kangen sama Bapak-Ibu lagi? “Bri lhooo, dia sering nyariin Onty Di. Katanya, kenapa Onty gak balik-balik?” Hal itu kontan saja membuat Indira jadi tertawa kecil. Karena kemarin ia memang sempat melakukan video call bersama Genta, tapi yang muncul di layar adalah wajah cantiknya Sabrina. Dan ya, keponakannya itu memang sempat bertanya, kenapa dirinya tidak pulang-pulang ke rumah. Lalu ia pun mengatakan kalau pekerjaannya sedang sangat banyak dan tidak bisa ditinggal. Namun, saat itu Sabrina bisa langsung mengerti, dan tidak menuntut apa-apa lagi. Karena ayahnya pun kadang mengatakan kalimat yang hampir sama kalau sang ayah sedang tidak bisa diajak bermain ataupun menemani Sabrina seharian di dalam rumah. Lalu, sekarang, Ira malah menjadikan Sabrina sebagai s*****a supaya Indira mau pulang ke rumah seperti biasanya. Tentu saja hal itu langsung membuat Indira tertawa, tapi akhirnya ia mengatakan kalau jumat nanti dirinya akan berusaha agar bisa pulang ke rumah. Ia sengaja memberikan jawaban yang cukup ambigu kepada ibunya. Karena bisa saja kalau nanti ia mendapatkan kabar terbaru dari Mika, bahwa ternyata weekend ini Javier akan main ke rumah mereka. Dengan begitu, ia bisa kembali membatalkan kepulangan dirinya secara tiba-tiba. Karena ia benar-benar tidak ingin bertemu dengan Javier, apa lagi menerima perjodohan yang sudah sempat ditolak oleh dirinya tempo hari. Lantaran ia benar-benar tidak tertarik dengan ide konyol tentang perjodohan di zaman modern seperti sekarang ini. Tetapi, jika ia dijodohkan dengan lelaki yang disukai oleh dirinya selama ini, maka perjodohan itu akan langsung diterima oleh dirinya tanpa berpikir dua kali. Tolong, garis bawahi kata ‘disukai oleh dirinya selama ini’. Karena kalau ia tidak suka, maka ia tidak akan mau dijodohkan begitu saja. ***** BERSAMBUNG .... Sampai ketemu lagi di bab selanjutnya, tapi coba komen emoji hati dulu supaya aku tahu siapa aja yang baca cerita ini di sini. Terima kasih :)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD