INDIRA'S BUCKET LIST - 05
Sebenarnya Utami sudah mendapatkan kabar dari Ira kalau Indira memutuskan untuk menolak perjodohan yang waktu itu sempat mereka bicarakan bersama.
Namun, Utami tetap terlihat tak mau patah arang. Sehingga ia pun menyuruh putra sulungnya agar datang ke kediamannya Denis dan Ira untuk segera bertemu secara langsung dengan sosok Indira. Siapa tahu pertemuan itu bisa mengubah segalanya, dan bisa menjadi awal yang baik bagi mereka berdua.
Tadinya Javier—putra sulungnya Utami—sempat menolak. Tetapi, pada akhirnya laki-laki itu tetap menuruti apa permintaan ibunya. Karena katanya, ibunya itu sudah sangat menyukai sosok Indira. Dan hal itu kontan saja membuat Javier merasa penasaran. Sebenarnya seperti apa sosok Indira itu, hingga berhasil menawan hati ibunya?
Lalu, saat Javier bertanya tentang foto gadis itu kepada sang ibu, ibunya itu hanya mengatakan kalau Indira adalah sosok perempuan yang sangat cantik. Kulitnya bersih, dan tubuhnya juga lumayan ramping. Sehingga Javier pun mulai menyimpulkan kalau Indira adalah sosok seorang gadis yang pastinya pandai merawat diri. Tetapi, apa iya sosok Indira memang sama persis seperti gambaran dari ibunya saat ini?
Javier jadi sedikit meragukan ucapan ibunya tentang sosok Indira beberapa saat tadi, tapi ia memilih untuk tetap terlihat percaya di depan ibunya saat ini. Karena nanti ia sendirilah yang akan membuktikannya sendiri.
“Kamu pasti enggak akan kecewa,” ucap Utami yang kembali mengompori putra sulungnya. Sementara Javier masih belum sepenuhnya percaya pada semua gambaran yang diberikan oleh ibunya barusan. Karena bisa saja ibunya itu hanya melebih-lebihkan, agar ia mau menemui Indira secepatnya. Dan ya, beberapa hari setelah percakapan Javier dan ibunya mengenai sosok Indira, laki-laki itu pun akhirnya pergi ke sebuah desa di mana rumahnya Indira berada.
Javier tidak terlalu merasa kesulitan untuk mencari rumah itu, karena ibunya sempat mengatakan kalau ia hanya perlu meminta bantuan kepada beberapa anak remaja atau orang-orang yang terlihat di sekitar pendopo dekat sopir ibunya memarkirkan mobil mereka. Karena sore itu Javier memang datang ke sana dengan diantar oleh sopir pribadi ibunya.
Namun, ia tetap berjalan sendirian menuju ke arah rumahnya Pak Denis yang sempat ditunjukkan oleh salah seorang warga.
Javier lantas melangkahkan kedua kakinya untuk segera naik ke atas lantai teras. Ia langsung mengetuk pintunya, dan tetap berdiri menunggu di sana. Karena sesungguhnya ia sedang tidak ingin berlama-lama, apa lagi membuang-buang waktunya untuk hal yang percuma. Ia bahkan tidak memikirkan lagi percakapan apa yang akan dilakukannya nanti bersama Indira. Karena yang ada di dalam pikirannya ... ia hanya perlu bertemu dengan perempuan itu dan melaksanakan tugas dari ibunya. Supaya ibunya itu berhenti merecoki dirinya, dan tidak lagi—
Javier langsung terpaku begitu melihat seorang perempuan berwajah jutek yang baru saja membukakan pintu. Mungkinkah perempuan ini adalah sosok Indira yang dimaksud oleh sang ibu?
Kalau memang dia orangnya, maka gambaran yang diberikan oleh ibunya waktu itu memang benar adanya. Karena perempuan yang berdiri di hadapan Javier sekarang terlihat sangat cantik dengan tinggi badannya yang terlihat sangat pas—setidaknya bagi Javier yang tidak terlalu menyukai perempuan berbadan mungil.
“Siapa?” tanya perempuan itu dengan nada suaranya yang terdengar cukup ketus.
Namun, Javier terlihat tidak terlalu peduli pada nada suara milik perempuan itu. Ia bahkan segera mengulurkan tangan, dan refleks mengucapkan nama. Tetapi, uluran tangan itu tidak mendapatkan sambutan, melainkan aksi menaikkan sebelah alis yang berhasil membuat Javier jadi semakin tergila-gila di awal pertemuan mereka berdua.
Sial. Javier mengumpat dari dalam hatinya. Baru kali inilah ia dibuat jatuh hati oleh seorang gadis saat di pertemuan pertama mereka. Karena biasanya ia tidak ‘semurah’ ini terhadap seorang wanita.
Lalu, tanpa mengatakan apa-apa, perempuan itu tampak kembali masuk ke dalam rumah, tapi dia membiarkan pintu rumahnya terbuka begitu saja.
Hal itu kontan saja membuat Javier jadi merasa kebingungan di tempatnya berdiri sekarang. Haruskah ia masuk ke dalam dan duduk di atas sofa yang tersedia? Atau tetap berdiri di muka pintu seperti seorang maling yang sedang mengintai keadaan di dalam rumah?
Di tengah kebingungan yang sedang dirasakan oleh Javier di dekat pintu rumah, akhirnya ia pun melihat kedatangan seorang pria paruh baya yang menghampiri dirinya dari arah dalam rumah. Javier tebak, pasti orang itulah yang dimaksud oleh ibunya sebagai ayahnya Indira. Kalau tidak salah, namanya Denis, dan dia adalah suami dari teman lama ibunya.
Javier lantas bergegas untuk menghampiri pria paruh baya itu sembari memperkenalkan dirinya. Tak lupa, ia juga menyebutkan nama ibunya, karena ia datang ke sini atas permintaan dari Beliau.
Setelah itu, Denis pun mulai mempersilakan Javier untuk duduk di atas sofa. Tepat beberapa saat setelah mereka berdua berbincang-bincang santai di sana, Javier pun akhirnya mulai merasa kebingungan. Karena Denis baru saja meminta maaf sekaligus mengatakan kalau Indira sedang tidak ada di rumah.
“Terus yang tadi itu ....”
Ucapan Javier barusan langsung berhenti begitu saja, lantaran ada seorang laki-laki yang—sepertinya seusia dengan dirinya—masuk ke dalam rumah sembari mengucapkan salam dari mulutnya.
Laki-laki itu terlihat sudah sangat akrab dengan Denis, dan dia pun memperkenalkan dirinya sebagai Mahanta.
“Mahanta ini menantu saya.” Denis terlihat sedang memperjelas statusnya Mahanta dengan senyum bangga di bibirnya.
Hal itu kontan saja membuat Javier jadi semakin bertanya-tanya.
“Oh iya, sampai di mana tadi pembahasan kita?” tanya Denis tak lama kemudian. Sedangkan sosok Mahanta sudah lebih dulu pamit dari sana dengan bahasa tubuhnya yang terlihat sangat sopan. Kemudian laki-laki itu pun langsung menghilang ke arah dalam rumahnya Denis yang terlihat cukup sepi seperti tidak orang lain selain mereka berdua di ruang tamu saat ini.
“Sampai di Indira yang ....” Javier terlihat cukup sungkan saat mengatakan kalimatnya barusan. Untungnya, Denis bisa langsung mengerti begitu saja, dan Javier pun jadi bisa sedikit bernapas lega.
“Jadi, Indira itu cuma ada di rumah pas hari Sabtu dan Minggu aja, Nak. Karena dia udah lumayan lama ngekos, biar gampang berangkat kerjanya.”
“Terus ... yang bukain pintu buat saya tadi ... siapa, Om?” tanya Javier dengan sangat hati-hati.
“Oh, itu ... itu Siera. Istrinya Mahanta—menantu saya yang tadi.”
Entah kenapa Javier seolah bisa merasakan sebuah keretakan di dalam hatinya saat ini. Ternyata ia tadi sudah salah mengira. Untungnya, kesalahannya tadi tidak berlangsung terlalu lama. Tetapi, tetap saja, rasa sakitnya tetap terasa.
Lalu, mengalirlah sebuah cerita singkat. Kalau Siera adalah putri semata wayangnya Denis dari mantan istrinya. Sedangkan Indira adalah putri sulungnya Denis dari istrinya yang sekarang.
Perasaan Javier jadi campur aduk seketika, dan rasanya ia ingin segera pamit pergi dari sana. Lagi pula, gadis yang ingin ditemui oleh dirinya sedang tidak ada di rumah.
Namun, hal itu langsung diurungkannya saat ia kembali melihat sosok Siera yang sedang membawa sebuah nampan berisi kudapan serta minuman di tangannya.
Dan Javier semakin menyadari jika Siera memang memiliki daya tarik yang sangat kuat. Karena perempuan itu terlihat sangat menarik di kedua bola matanya, hingga ia ingin terus menatap perempuan itu dalam waktu yang sangat lama. Tetapi, Javier tahu kalau dirinya harus segera memalingkan wajah. Karena sosok Mahanta kembali muncul di sana, lalu berpamitan pada Denis—juga dirinya—bahwa laki-laki itu harus segera mengajak Siera untuk pulang ke rumah, lantaran putri mereka sudah menanyakan tentang keberadaan ibunya di sana.
Damn. Ternyata Siera juga sudah punya anak. Sedangkan perasaan Javier jadi semakin tidak keruan. Dan ia pun kembali merasakan keretakan dari dalam hatinya, karena ia baru saja melihat Siera yang tersenyum ke arah Mahanta sambil membiarkan laki-laki itu merangkul bahunya. Bahkan Siera juga jadi ikut merangkul pinggangnya Mahanta, hingga keduanya pun terlihat sangat mesra. Selanjutnya, kedua orang itu tampak berjalan ke luar rumah tanpa melepaskan rangkulan tangan mereka berdua.
Keduanya terlihat sangat serasi di kedua bola matanya Javier, dan ia pun jadi merasa—sedikit—iri. Omong-omong, sampai kapan ia harus tetap berada di tempat ini? Padahal orang yang sedang dicarinya sedang tidak ada di rumah ini. Dan dari penuturan Denis tadi, sepertinya Indira baru akan kembali dua hari lagi.
Javier lantas pamit pergi, tapi ia sempat berkata kalau dirinya akan datang lagi ke sini, yang membuat Denis segera mengangguk—tampak sangat menyetujui.
*****
BERSAMBUNG ....
Insyaallah cerita ini bakalan up tiap hari di bulan ini. Makasih :)