INDIRA'S BUCKET LIST - 04
Seorang wanita paruh baya tampak turun dari sebuah mobil, dan menatap jalanan lebar di depannya sembari memerhatikan setiap rumah yang bisa dijangkau oleh jarak pandangan matanya.
Wanita itu lantas berjalan pelan sambil mengingat-ingat sebuah rumah kayu bergaya minimalis yang dulunya berwarna putih.
Namun, sudah ada begitu banyak perubahan di desa ini. Sampai-sampai Utami—wanita yang baru saja turun dari sebuah mobil tadi—nyaris tidak mengenali tempat ini lagi.
Untungnya, masih ada beberapa penduduk lama yang masih mengenali wajah tuanya sekarang. Sehingga Utami pun bisa bertanya kepada mereka di mana letak rumahnya Ira—teman lamanya. Ia berharap, semoga saja Ira memang belum pindah ke mana-mana. Karena kabar terakhir yang ia dengar, temannya itu masih tinggal di sini bersama suami serta keempat orang anaknya.
Tak lama setelah itu, Utami sudah diantarkan oleh seorang anak remaja laki-laki yang merupakan cucu dari salah satu wanita tua yang tadi sempat menyapa dirinya. Rupanya rumahnya Ira pun sudah terlihat sangat berubah. Karena rumah minimalis itu sudah direnovasi menjadi sebuah bangunan yang terbuat dari semen dan batu bata.
Utami lantas mengucapkan terima kasih kepada anak remaja yang tadi sudah mengantarkan dirinya sampai di depan rumahnya Ira saat ini, dan tak lupa ia juga memberikan anak itu sedikit rezeki.
Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Utami tampak mulai menaiki beberapa anak tangga yang akan langsung membawa dirinya ke bagian teras depan rumah teman lamanya. Lalu, ia pun segera mengetuk pintu ganda yang tertutup rapat di hadapan dirinya.
Semoga saja Ira sedang ada di rumah, karena ada hal penting yang ingin disampaikan oleh dirinya.
“Ibu ini ... siapa ya?”
Seorang anak remaja berjenis kelamin perempuan yang membukakan pintu rumah untuk Utami, tampak sedang memiringkan kepalanya sembari melemparkan pertanyaan bernada pelan barusan.
Utami langsung melebarkan senyum di bibirnya, dan mulai memperkenalkan dirinya. Ia tahu, anak itu pasti salah satu anaknya Ira. Karena wajah mereka berdua hampir serupa. “Saya Utami, teman lama ibu kamu. Ibu kamu ... ada di rumah?”
Anak remaja itu segera menganggukkan kepalanya. “Oh ... temannya Ibu. Ibu ada kok, Tante.”
Setelah itu, dia pun mulai mempersilakan Utami untuk masuk terlebih dahulu ke dalam rumah. Lalu meminta kepada Utami agar menunggu sebentar di atas sofa. Selagi anak itu memanggil sang ibu ke dalam dan menghilang dari ruang tamu sekarang, Utami tampak mengamati berbagai macam bingkai foto yang terpajang di dinding ruangan.
Beberapa saat berselang, orang yang sejak tadi dicari oleh Utami sudah mulai muncul di ruang tamu, dan kedua pupil matanya tampak langsung membesar saat dia melihat sosok Utami di tempat itu.
Kedua teman lama itu tampak saling berpelukan sembari saling menyapa setelah sekian lama tidak berjumpa.
“Kamu apa kabar, Mi? Udah berapa tahun coba kamu enggak balik-balik ke sini?” tanya Ira setelah mengajak Utami untuk kembali duduk di sofa ruang tamunya saat ini.
“Aku baik, dan aku sengaja enggak pulang ke sini semenjak Ibu aku udah enggak ada lagi. Kamu tahu kan kalau aku ....”
Ira tampak segera menganggukkan kepalanya, karena ia langsung mengerti meskipun Utami tidak mampu menyelesaikan ucapannya.
“Oh iya, kamu ke sini sama siapa?” Ira kembali bertanya, dan sengaja mengubah topik pembicaraan di antara mereka berdua.
“Aku tadi ke sini sama sopir pribadiku, terus dianterin sama salah satu cucunya Ibu Kus.”
Ira tampak kembali mengangguk. Tepat setelah itu, Mika—anak remaja yang tadi sempat membukakan pintu untuk Utami—tampak kembali lagi ke ruang tamu, dan mulai menghidangkan minuman serta beberapa jenis kudapan dari atas sebuah nampan.
Anak itu terlihat tersenyum sopan saat sedang menata minuman dan juga kudapan yang tadi dibawa olehnya ke atas meja.
Utami lantas mengulas senyum lembut di bibirnya. Ia tahu kalau orang seperti Ira dan suaminya pasti tidak akan pernah gagal dalam hal mengurus anak-anak mereka berdua.
Selanjutnya, Ira pun mulai memperkenalkan Mika dengan Utami sembari mengatakan kepada sang putri kalau dirinya dan wanita itu pernah menghabiskan waktu bersama di desa ini. Bahkan saat putra sulungnya Utami masih sangat kecil, dan saat itu Ira masih belum menikah—alias masih gadis.
Cukup lama kedua wanita itu asyik bernostalgia, sampai akhirnya sosok Denis mulai muncul di ambang pintu rumah, dan menginterupsi percakapan mereka berdua.
Ira lantas menyambut kedatangannya Denis, dan mengingatkan suaminya itu tentang sosok Utami. Karena mereka semua memang sudah pernah saling mengenal jauh sebelum hari ini.
Tak lama kemudian, Utami pun mulai mengutarakan niatnya yang sengaja datang ke sini.
“Jadi, aku tuh ke sini karena aku inget kalau kalian punya tiga orang anak perempuan. Siapa tahu salah satunya mau kalau dijodohin sama anak sulungku. Soalnya dia itu terlalu sibuk kerja, terus udah lama juga kami pisah rumah. Katanya, mau mandiri, tapi ... hidupnya kayak orang yang gak keurus sama sekali.”
Ira dan Denis tampak langsung saling berpandangan. Karena ucapan Utami barusan sudah seperti sebuah angin segar yang mampu menyelamatkan mereka dari sebuah kesumpekan.
Setelah itu, keduanya pun kompak menyodorkan nama Indira. Karena mereka berdua tidak mungkin membiarkan Mika dijodohkan dengan putra sulungnya Utami yang sudah dewasa. Selain itu, Mika juga masih harus bersekolah, dan dia juga tidak boleh melangkahi Indira begitu saja.
Sementara Siera—putri sulungnya Denis yang hampir seumuran dengan putra sulungnya Utami—sudah menikah dan bukan wanita single lagi. Jadi, satu-satunya orang yang pas untuk dijodohkan dengan putranya Utami adalah sosok Indira yang kebetulan sudah ada di rumah ini sejak tadi pagi. Tetapi, gadis itu sempat pamit pergi sebelum kedatangan Utami ke rumah mereka saat ini. Sehingga Denis pun meminta kepada Mika agar segera menghubungi kakaknya, dan menyuruhnya untuk pulang ke rumah mereka secepatnya. Karena ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh mereka semua.
***
Indira yang sudah pulang ke rumah dan sempat berkenalan dengan Utami, bahkan mengobrol sebentar dengannya, tampak langsung terdiam begitu sang ayah mengatakan kalau mereka semua berniat untuk menjodohkan dirinya dengan putra sulungnya Utami yang—katanya—bernama Javier.
Sebenarnya Indira ingin sekali menolak perjodohan itu sekarang juga, tapi ia merasa sedikit tidak enak dengan sosok Utami yang masih berada di sana. Sehingga ia pun meminta waktu untuk memikirkan tentang rencana perjodohan dari mereka saat itu.
Namun, Ira yang seolah-olah bisa membaca isi pikirannya Indira, tampak langsung tersenyum kecut secara diam-diam. Sama seperti beberapa tahun silam, hari ini pun ia masih bisa membaca pikiran putrinya itu dengan cukup gamblang. Karena ia tahu kalau saat ini Indira pasti ingin melayangkan sebuah penolakan, tapi putrinya itu sedang merasa sungkan. Apa lagi sosok Utami masih belum pamit pulang.
“Aku enggak mau dijodohin sama orang yang enggak aku kenal, Pak.”
Itu adalah kalimat yang langsung dilayangkan oleh Indira saat Utami sudah benar-benar pergi dari rumah mereka, dan Ira sengaja ikut mengantarkan Utami sampai ke tempat di mana mobil milik temannya itu berada.
Denis yang masih berada di teras rumah bersama Indira, terlihat langsung menghela napas pelan, dan mulai bertanya kepada putrinya.
“Kenapa kamu enggak mau, Nak? Kan kamu bisa kenalan dulu sama si Javier-Javier itu.”
Indira segera menggelengkan kepalanya, tanda bahwa ia tidak setuju. “Aku enggak mau dijodohin sama orang sembarangan, Pak.”
“Anaknya Tante Utami tadi bukan orang sembarangan, Nak.”
“Bapak tahu dari mana?”
Denis langsung terdiam begitu mendengarnya.
“Memangnya Bapak udah pernah ketemu secara langsung sama orang yang bernama Javier itu? Kalaupun udah pernah ketemu, pasti itu udah bertahun-tahun yang lalu. Terus ... Bapak juga enggak ngerasa curiga gitu? Kok tiba-tiba Tante Utami bisa dateng ke sini, dan langsung berniat buat bikin perjodohan kayak tadi.
“Bukannya ... ini agak aneh ya, Pak?” tanya Indira dengan bertubi-tubi. Sedangkan Denis masih belum bisa memberikan jawaban sama sekali. Karena ia pun baru memikirkan tentang hal ini.
*****
BERSAMBUNG ....
By the way, happy new yearrr!