INDIRA'S BUCKET LIST - 03
“Dadah, Bri! Onty Di pergi dulu ya.” Indira tampak mengulas senyum dari atas motornya kepada Sabrina yang saat ini sedang digendong oleh Mahanta yang sedang berdiri di teras rumah. Karena rumah keluarganya Indira dan keluarganya Mahanta memang terletak bersebelahan. Sedangkan Mahanta tidak diperbolehkan untuk pindah ke mana-mana semenjak menikah, dan punya anak.
Untungnya, Siera sama sekali tidak merasa keberatan. Malah sebaliknya, hidup perempuan itu jadi terasa lebih mudah. Karena sebagian besar pekerjaan rumah tangganya masih dikerjakan oleh Hilda semua.
Indira lantas mengangguk singkat ke arah Mahanta setelah melihat Sabrina melambaikan tangannya sembari berpesan kepada dirinya agar hati-hati di jalan, sedangkan Mahanta hanya membalas hal itu dengan anggukan kecil di kepalanya juga.
Tepat setelah itu, Indira tampak menutup kaca helm-nya, lalu segera menjalankan motornya untuk segera berlalu dari sana.
Butuh waktu hampir satu setengah jam-an sebelum Indira benar-benar sampai di Indekos Mahira, alias Mami Zahira—panggilan untuk si ibu pemilik indekos yang disewa oleh Indira.
Sebenarnya nama wanita paruh baya pemilik indekos itu adalah Yulia, dan Zahira itu adalah nama anak semata wayangnya yang sudah menikah. Tetapi, sejak dulu Yulia memang lebih dikenal dengan sebutan Mami-nya Zahira. Sehingga wanita paruh baya itu pun akhirnya terbiasa dipanggil seperti itu ketimbang nama aslinya.
Begitu Indira sudah sampai di sana, salah seorang penghuni Indekos Mahira tampak sedang membuka pagar indekos mereka untuk mengeluarkan motornya. Sehingga Indira pun tidak perlu turun terlebih dahulu dari atas motornya, dan langsung memarkirkan motornya di bagian carport yang tersedia. Karena semua motor milik penghuni indekos memang ditaruh di sana.
Setelah selesai memarkirkan sekaligus mengunci motornya, Indira pun langsung berlalu dari sana dengan tas di punggungnya, serta sebuah tas kain berukuran cukup besar di tangan kanannya. Karena tadi ibunya sempat membawakan beberapa macam frozen food untuk dirinya, dan Siera juga sempat memberinya dua buah wadah tupperware berisi aneka cookies buatannya.
Indira lantas berjalan menuju ke arah Yulia yang kebetulan sedang ada di lantai bawah indekos mereka. Karena rupanya mereka sedang kedatangan penghuni baru yang masih duduk di bangku kuliah.
“Oh iya, Mi. Nih ada sedikit oleh-oleh,” ujar Indira sembari mengambil salah satu wadah tupperware dari dalam tas kainnya, dan langsung memberikannya kepada Yulia. Sedangkan Yulia terlihat sudah mengintip isi tas kain yang dibawa oleh Indira sembari menerima oleh-oleh dari gadis itu untuk dirinya.
“Itu cookies buatan kakak saya sendiri.”
“Wah, makasiiih.” Yulia tampak mengintip isi wadah tupperware yang sedang dipegang olehnya saat ini. “Nanti tupperware-nya saya balikin kalo isinya udah habis,” sambung Yulia sambil menampilkan raut wajah usil. Membuat Indira langsung tertawa geli, kemudian segera pamit pergi. Karena masih ada pekerjaan yang harus dikerjakan oleh dirinya saat ini.
***
Kamar kos milik Indira berada di bagian paling ujung lantai dua dengan tambahan sebuah kulkas mini di dalamnya. Ia sengaja membeli kulkas mini itu untuk kebutuhan pribadinya, dan ia hanya perlu membayar biaya tambahan untuk listrik yang tersedot oleh kulkasnya. Karena ia sering dibawakan ataupun dikirimkan frozen food oleh ibunya. Kalau ia nekat menaruh frozen food itu di dalam kulkas yang tersedia di dapur indekos mereka, sudah dipastikan kalau frozen food itu akan cepat habis, atau berkurang secara tiba-tiba.
Bukannya Indira tidak mau berbagi makanan dengan penghuni kos lainnya, tapi ... kalau sudah terlalu keseringan sepertinya tidak terlalu bagus juga.
Selain itu, biar lebih praktis juga. Karena kulkas yang tersedia di indekos mereka letaknya berada di lantai bawah.
Begitu sudah sampai di dalam kamar kosnya, Indira pun langsung menaruh tas punggungnya di dekat kaki ranjang, dan segera bergegas untuk menyusun semua frozen food miliknya ke dalam kulkas. Ibunya sengaja menyiapkan beberapa jenis frozen food untuk camilannya di tengah malam, ataupun sebagai menu sarapan paginya.
Setelah selesai menyusun tiga wadah bening berukuran sedang ke dalam kulkas mininya, kini Indira pun mulai terlihat sibuk membongkar isi tas punggungnya yang terletak di dekat kaki ranjang. Ia mengeluarkan tas laptopnya dari sana, lalu peralatan mandinya, dompet, handphone, power bank, kabel charger, earphone, dan barang-barang kecil lain yang sering dibawa olehnya setiap kali ia sedang pergi. Bahkan kunci lemari yang ada di dalam kamar kosnya saat ini.
Akhirnya, Indira baru bisa merebahkan diri saat semua barang-barangnya itu sudah tersusun rapi ke tempat seharusnya.
Ia sempat tertidur sebentar sebelum suara azan berkumandang, dan membuatnya segera bergegas dari atas ranjang.
Setelah menyelesaikan kewajibannya, Indira pun mulai menggoreng sosis solo yang tadi sempat dibawanya dari rumah. Karena perutnya terasa lapar secara tiba-tiba.
“Hai, Mbak.”
Sapaan itu kontan saja membuat Indira menolehkan kepalanya ke asal suara. Ternyata sosok Daniar lah yang baru saja menyapa dirinya.
Indira lantas membalas sapaan dari penghuni kos baru itu sekilas, dan kembali fokus pada sosis solo yang saat ini sedang digoreng oleh dirinya.
“Lagi masak apa?” Daniar yang sudah berdiri tepat di samping Indira, tampak melongok ke arah wajan.
“Cuma goreng sosis solo kok, Dan.”
“Lho? Kapan Mbak buatnya? Kan tadi baru pulang ke sini pas aku mindahin barang-barang.”
“Ini tadi frozen food yang udah aku bawa dari rumah. Kamu mau coba?”
Daniar tampak menganggukkan kepalanya dengan sangat antusias.
“Ya udah, kamu tunggu aja di meja makan,” ucap Indira sembari memberi isyarat supaya Daniar menunggunya di atas meja makan yang terletak tak jauh dari sana.
Namun, Daniar malah tidak menggubris permintaan Indira barusan. Karena anak itu tetap berdiri di tempatnya sekarang, dan tidak segera bergegas ke arah meja makan.
“Oh iya, kata penghuni kos yang lain, Mbak Indi itu udah kerja. Apa iya?” tanya Daniar tak lama kemudian.
“Oh ... iya, saya memang udah kerja.”
“Kenapa malah ngekos, Mbak?”
“Karena rumah saya jauh, Dan. Kurang efisien aja kalo berangkat kerja dari rumah. Berhubung di deket kantor saya ada kos-an ini, ya udah, saya nyoba ngekos di sini. Eh ternyata betah,” jelas Indira sembari tertawa.
Tepat setelah itu, Indira pun langsung mematikan kompornya, dan segera membawa piring berisi delapan buah sosis solonya ke atas meja. Tak lupa, sisa sosis solo miliknya yang masih berada di dalam wadah plastik pun turut dipindahkannya ke sana juga. Sedangkan Daniar tampak mengikutinya dari arah belakang.
“Banyak banget ya botol sausnya,” celetuk Daniar saat ia sudah menggeser salah satu kursi makan dan duduk di atasnya.
“Iya, yang punya juga beda-beda.” Sebelum benar-benar duduk di atas kursinya, Indira tampak mengambil salah satu botol saus yang terletak di tengah-tengah meja. Ia memilih botol yang ada label kertas bertuliskan nama ‘Indira’, dan mendekatkan botol itu ke arah sepiring sosis solo miliknya.
Berhubung sosis solo itu masih panas, jadi mereka mendiamkannya terlebih dahulu di atas meja.
***