Salah Kirim

1492 Words
Holaa ✨ *** Rasa kantuk sangat menyerang saat ini. Gara-gara dengkuran Rina jadi berefek pada pekerjaanku yang lambat selesainya karena menahan kantuk selama mengetik. Rasanya ingin sebentar saja tertidur guna membuang kantuk. "Den, makan siang ayo" "Nitip roti sama s**u aja. Gue ngantuk banget ga tahan" masih dengan kepala tertelungkup diatas kubikel, aku mengangkat tanganku yang berisi pecahan uang dua puluh ribu keatas. Seolah memberi kode pada Miko untuk segera mengambilnya. "Ga Dzuhur-an, lo?" "ARGGHHH!" Begitu ingat bahwa aku belum menunaikan kewajiban yang satu itu, mataku yang tadinya sangat mengantuk sontak saja kembali terbuka untuk yang kesekian kalinya. Aku mendorong kursiku kebelakang, lalu berdiri dari dudukku dengan malas, hendak berbalik keluar ruangan. Namun pergerakanku yang bar-bar tiba-tiba terhenti saat menyadari bahwa ruangan ini terasa hening. Semua orang yang ada diruangan ini sedang diam dengan tatapan yang tertuju padaku. Bak trend hits manequeen challenge pada tahun 2017. "Mbak Aden kesurupan?" Aku menggeleng seraya tersenyum paksa saat menjawab pertanyaan polos Atika. Kemudian mataku tak sengaja beralih melihat Pak Gaharu yang tengah berdiri didepan ruangannya, mengamatiku. Sepertinya pergerakan beliau yang hendak menutup pintu ruangannya tersebut juga terhenti karena teriakanku yang mirip Tarzan tadi. "Maaf.. maaf semua" setelah melontarkan permintaan maaf dan menundukkan kepala berkali-kali kepada semua orang, aku langsung saja membalikkan badanku dan berlari keluar dari ruangan divisi Marketing ini. Menyembunyikan wajahku untuk sementara waktu dari para rekan kerjaku. Ini memalukan! Saat aku sedang menunggu lift, tiba-tiba saja gelegar tawa terdengar sangat menjengkelkan ditelingaku. Aku menoleh dan mendapati Miko yang tengah terbahak seraya menunjuk-nunjuk diriku. Sialan! Kenapa wajah Miko terlihat puas sekali setelah melihat aku mempermalukan diriku sendiri dihadapan banyak orang. "Lo liat ga sih ekspresi Pak Gaharu tadi? Asli kaget banget dia liat ada Tarzan yang kerja sama dia!" "Ahh ga usah nyebelin, lo!" Aku merengek kesal karena Miko yang sedari tadi tak henti-hentinya mentertawakanku. Bahkan setelah sampai di Musholla kantor 'pun tawa pria keturunan Chinese-Jawa ini tak hilang juga. "Lo kayak kesurupan macan, Den. Aaauum.. aing macan!" Lagi-lagi Miko terbahak setelah melemparkan leluconnya yang sama sekali terdengar tidak lucu ditelingaku. "Diem!" Aku berjalan cepat menuju toilet wanita untuk segera menunaikan ibadah Dzuhur, meninggalkan Miko yang sedari tadi bak orang gila yang tak bisa mengontrol tawanya. *** Aku melipat mukena yang telah ku gunakan ini seraya menguap lebar. Ini tidak main-main sih ngantuknya! I need to sleep 5 minute only, please! Bisa mati karena tidak tidur aku. Setelah melipat dan mengembalikan mukena tersebut ketempatnya semula, aku segera keluar dari mushola dan mengambil sepatuku. Aku duduk di tangga musholla dengan lesu. Kupasang kaos kakiku kembali dengan malas. Tubuhku pasti akan tumbang jika aku masih memaksakan diri untuk tetap terjaga. "Yuk makan siang" Tak lama kemudian, Miko juga baru saja menyelesaikan ibadahnya. Pria itu ikut duduk di sampingku guna memasang kaos kaki dan sepatu kembali. "Lo ajakin yang lain aja deh. Gue ngantuk banget" lagi-lagi aku menguap setelah menjawab pertanyaan Miko "Mereka pasti udah makan siang duluan. Ga ada temen gue" "Lagian bukannya ibadah duluan yang diutamain, malah ngisi perut dulu para kecebong" sambung Miko. "Gue nitip roti sama s**u aja, nih" aku merogoh kantung celanaku, mengeluarkan uang pecahan dua puluh ribu rupiah yang tadi sempat ku keluarkan saat diruangan. "Makan sendirian dong gue?!" Miko berucap seolah mendramatisir keadaan. "Lo video call aja cewe lo, minta temenin makan sama ayang beb" ku tarik paksa tangan kanan Miko dan menggenggamkan uang tersebut pada pria itu, lantas segera beranjak menjauhinya. Teriakan-teriakan protes dari Miko sangat ku abaikan untuk saat ini. Energi tubuhku benar-benar dalam mode 'save energy'. "Tapi kan sekarang lagi malam disana! Mana bisa dia diganggu tidurnya. Woi! Jahat banget lo!" *** Aku kembali keruanganku. Disana masih belum ada rekanku yang kembali dari Ishoma. Melihat suasana begini aku tersenyum senang. Akhirnya.. bisa tidur sebentar dengan tenang. Hanya butuh waktu sebentar, kok. Namun sesampainya aku dikubikelku, alangkah terkejutnya aku ketika melihat dua roti isi dan satu kotak s**u full cream ukuran 250ml yang ada di atas kubikelku. Gercep juga si Miko beliin. Kalimat tersebut tiba-tiba saja terlintas di kepalaku. Pasalnya aku yakin sekali pria itu tadi masih tertinggal dibelakang aku. Tentunya kita tidak satu lift saat perjalananku ke mari. Apa pria itu punya kekuatan teleportasi? Mengabaikan fakta aneh tersebut, aku lebih memilih untuk langsung membuka roti isi yang ada dikubikelku lalu memakannya. Setelah dua roti dan sekotak s**u tersebut habis, aku lalu membuang sampahnya dan kembali bersiap melaksanakan tujuanku. Tidur. *** Tiga puluh menit kemudian. Sayup-sayup kudengar suara berisik dari mesin printer dan ketikan keyboard yang cepat. Beberapa suara orang yang tengah mengobrol juga ikut andil membangunkan tidurku kali ini. Ku tegakkan punggungku yang tadi melengkung kedepan karena tertidur. Meregangkan otot-ototku sebentar lantas mengucek mataku. "Good Morning, Nyonya" aku mendelik tajam kepada Miko yang tengah duduk di kubikelnya. Sialan sekali! Baru bangun tidur langsung melihat wajah orang ini. Terkutuk lah orang yang mengatur kubikel aku dan Miko saling berhadapan begini! "Itu sarapannya selamat menikmati," Ketika mendengar ucapan Miko, aku langsung merubah arah pandangku yang tadinya menatap Miko, kini ke arah kubikelku. Refleks mengernyitkan dahi bingung ketika melihat roti dan s**u yang ada dikubikelku. "Loh bukannya udah tadi, ya?" "Masa sih? Gue aja baru sampai ruangan ada kali sepuluh menit yang lalu" "Loh? Beneran kok ada roti sama s**u tadi diatas kubikel gue. Udah gue makan malahan. Siapa yang naruh ya kalau bukan lo?" Aku kebingungan ketika menatap roti dan s**u diatas kubikel dengan Miko secara bergantian. "Masa sih?" Tanya Miko dengan raut curiga. "Beneran!" Aku kembali meyakinkan. "Atau jangan-jangan..." "Apa?" Tanyaku cepat ketika mendengar ucapan Miko yang menggantung. "Sajen kali" Miko sialan! *** Room chat Vania-Aden Vania : assalamu'alaikum bebeb Aden.. Aden : Waalaikumsalam, Vania sayang Vania : Adeeeen.. gue di Jakarta nih. Banyak banget yang mau diceritain! Gue nginep dirumah lo ya beb? Aden : Maaf banget Vania sayang, kamar gue aja lagi ada anak kos yang ngungsi karena kamarnya lagi direnovasi. Mungkin next time yaa. Aku menyesap teh hangat yang ada didepanku dengan perlahan seraya menunggu balasan dari Vania. Perlahan senyumku mengembang ketika membaca chat antara aku dan Vania. Masih sama saja gaya chattingan-nya. Tak ada rasa canggung sedikitpun walaupun sudah lama tak chat dengan intens. Btw, Vania merupakan sahabat dekatku. Gadis cantik yang berprofesi sebagai profesional model tersebut benar-benar sangat sibuk dengan pekerjaannya. Sampai-sampai sudah tiga bulan lebih kami tak saling bertukar kabar. Ini saja gadis itu baru pulang dari Shanghai setelah ikut pagelaran fashion week disana. Benar-benar wanita hebat! Cukup lama aku menunggu balasan pesan dari gadis itu. Hingga akhirnya aku memilih pindah ke aplikasi i********: untuk melihat-lihat dan scroll news entertainment terkini. Tingg Vania : yaudah lo aja kerumah gue, beb. Kembali kubuka aplikasi w******p untuk membalas pesan Vania. Aden : Oke! Besok habis Maghrib yaa gue kesana. Masih di alamat lamakan sayangku? Aku berdiri dari dudukku setelah menandaskan secangkir teh yang sedari tadi menemaniku malam ini. Bersiap untuk bersih-bersih sebelum tidur. Beberapa menit kemudian setelah melakukan ritual bersih-bersih sebelum tidur, kulihat Rina duduk dipinggir kasur dengan raut wajah bingung ketika aku baru saja memasuki kamar. "Mbak, gapapa tidur satu ranjang sama Rina lagi? Rina pasti ngoroknya keras banget ya?" "Iya sih ngorok kamu gede banget. Ya mau gimana lagi? Gapapa tidur aja. Entar kalo Mbak beneran capek denger kamu ngorok, Mbak sumpel mulut kamu pake kaos kaki gapapa?" "Gapapa Mbak! Beneran gapapa. Senyaman Mbak Aden aja" Aku tertawa kecil mendengar respon Rina yang sangat diluar dugaan. Kukira gadis ini akan marah akan ucapanku. Aku membaringkan tubuhku disebelah Rina. Meraih ponselku hendak lanjut membuka sosial media kembali, guna menunggu kantuk. Tingg Kulihat notifikasi chat dari bar atas ponsel, dan ternyata chat dari Vania. Vania : Den? Gimana jadi ga? Loh kok Vania masih nanya? Bukannya sudah ku jawab? Buru-buru aku membuka aplikasi w******p-ku. Mengecek apakah pesanku tadi belum terkirim. Tiba-tiba saja aku tersentak. Refleks, aku terduduk paksa dengan mata yang terus tertuju pada layar ponselku. Mataku membelalak lebar ketika melihat apa yang terjadi. Syok berat rasanya. Salah kirim. Inilah situasi yang terjadi sekarang. Dan lebih parahnya lagi aku salah kirim pesan pada orang yang paling menyebalkan semuka bumi ini! Pak Gaharu sialan!! Buru-buru aku mengetikkan sederet kalimat permainan maaf karena telah salah kirim pada beliau. Aden : Pak, maaf. Saya salah kirim. Jadi ini yang pria itu lakukan ketika meminjam ponselku tadi pagi? Kenapa orang ini sangat semena-mena? Kenapa mem-pin up room chat-nya sesuka hati begini?! Aku kan jadi keliru! Apalagi ditambah kebiasaanku yang tidak melihat nama room chat ketika sedang chatting dengan orang. Siapapun yang sedang chat denganku, maka aku akan membalasnya tanpa melihat nama lagi. Karena aku yakin room chat-nya pasti terletak diatas sekali. Tingg Aku menutup mataku ketika menerima balasan dari Pak Gaharu. Menyiapkan diri sejenak jika nanti kena 'sembur' malam-malam begini. Sebelah mataku terbuka. Melihat layar ponselku yang masih menyala, menampilkan room chat antara aku dan Pak Gaharu. k****a pesan balasan tersebut perlahan masih dengan mata yang hanya terbuka satu. Namun tiba-tiba saja kedua mataku seketika terbuka lebar saat telah memahami kalimat yang k****a perlahan tadi. "Pak Gaharu : Emang kamu punya pacar?" *** Visa Ranico Prabumulih, Sumatera Selatan
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD