Pukul setengah enam pagi, dan aku kembali berbaring diatas tempat tidurku yang hangat setelah menyelesaikan ibadah subuh. Hari ini weekend. Jadi aku tidak perlu mandi pagi-pagi sekali dan memasak sarapan. Apalagi suasana pagi ini sangat dingin karena hujan deras yang tengah mengguyur kota Jakarta. Lebih baik melanjutkan tidur, bukan?
Baru saja mataku akan kembali terpejam, tiba-tiba dering pesan masuk dari ponselku terus berbunyi. Oh s**t! Bisa-bisanya Aku lupa mute notifications group kantor.
Dengan malas aku meraih ponselku kembali lalu menekan tombol mute untuk 8 Jam kedepan. Tak lupa nomor w******p-nya Mas Daren dan Pak Gaharu ku block untuk sementara. Juga aku menonaktifkan tanda laporan pesan dibaca untuk w******p-ku. Done! Dengan begini barulah suasana weekend terasa.
Hal ini sudah lama kulakukan. Dan bersyukur semuanya berjalan dengan lancar tanpa mereka sadari. Setiap hari Sabtu dan Minggu akan ku blockir w******p-nya Mas Daren dan Pak Gaharu. Yang benar saja membicarakan masalah pekerjaan di hari weekend.
Btw, aku heran dengan orang-orang yang sering marah jika tanda 'laporan pesan telah dibaca' orang lain tak aktif. Mereka belum pernah merasa kerja kantoran saja makanya begitu. Atau mungkin belum pernah jadi admin online shop? Jadi jangan suka marah-marah kepada mereka yang tanda centang biru w******p-nya dimatikan yaa. Karena kalau dibaca saja namun dibalasnya kemudian, itu jauh lebih menyebalkan daripada terlihat belum dibaca sama sekali. Ya 'kan?
Kulempar ponselku ke sebelah space kosong kasur yang ada disampingku, lalu memejamkan mataku kembali. Merapatkan selimutku dan memeluk guling berwarna maroon kesayanganku dengan erat. Dinginnya udara ditambah hangatnya selimut serta memeluk guling empuk, membuat mataku enggan membuka.
Ahhh.. Inilah vibes weekend yang sesungguhnya. Katakan tidak untuk pembicaraan kerjaan dihari weekend.
Aku dibayar perusahaan saat bekerja saja. Yaitu Senin sampai Jumat. Jadi untuk weekend tolong jalan diganggu ya para bos yang terhormat.
Tok.. tok.. tok..
Selang sepuluh menit dari mataku terpejam, tiba-tiba pintu kamarku diketuk dengan tergesa disertai suara teriakan dari luar sana yang memanggil-manggil namaku panik.
Aku membuka selimutku, lantas beranjak dengan malas menuju pintu kamarku. Tidak bisakah aku tidur dengan nyenyak sebentar saja? Ini weekend! Sekali lagi kutekankan, ini weekend!
"Apa?" Kutatap gadis didepanku ini datar. Aku yakin mataku sekarang terlihat merah karena tidur yang sangat sebentar.
Ya. Sepuluh menit tadi aku sempat jatuh tertidur. Namun karena gedoran pintu yang sangat bar-bar diluar sana membuatku sontak terbangun dalam keadaan kaget dan kebingungan.
"Mbak, kamar Rina kebanjiran!" Rasa kantuk tiba-tiba menguap begitu saja ketika mendengar ucapan Rina. Mataku yang tadinya sayu kini telah melotot karena kaget. Aku buru-buru mengenakkan sandal rumahan kesayanganku, lantas menutup pintu kamar dan berlari menuju kamar gadis ini.
Kamar Rina ini terletak paling ujung dilantai dua. Makanya perlu sedikit effort untuk sampai kesana. Dan sesampainya disana pemandangan yang pertama kali kulihat adalah para penghuni kos lainnya yang tengah sibuk kesana kemari membantu mengeluarkan barang-barang Rina dari kamar gadis ini. Ada juga yang sibuk menalangi air hujan dengan beberapa ember agar tidak membasahi lantai lebih banyak lagi. Sesaat hatiku tersenyum ketika melihat bentuk kepedulian mereka satu sama lain.
Aku semakin mendekat masuk kedalam kamar Rina, guna melihat lebih jelas apa yang menjadi penyebab bocor deras begini.
"Kok bisa jebol begini?" Mulutku menganga lebar ketika melihat pemandangan yang ada didalam kamar Rina. Air yang mengalir deras dari dua genteng yang terbuka diatas sana dan plafon yang sudah jebol lumayan besar.
"Iya plafonnya jebol gara-gara Rina ga sengaja kekencangan nendang bola buat latihan, terus-"
"Yaudah, yaudah. kita bantuin temen-temen kamu yang lain dulu beresin baju sama barang-barang kamu. Nanti aja jelasinnya" buru-buru ku interupsi penjelasan Rina sesaat menyadari jika suasana tengah urgent. Mungkin saat ini yang dibutukan adalah membereskan kekacauan, bukan menanyai alasan masalah yang telah terjadi.
Aku menghela napas berat melihat kekacauan yang terjadi di pagi hari nan dingin ini. Oke say goodbye to Week day! Ayo kembali 'bekerja'.
***
"Taruh disana aja keranjangnya, Rin" aku menunjuk sudut kamarku guna memberi tahu Rina dimana ia harus menyimpan baju-bajunya yang masih kering.
"Keranjang buku kamu taruh sana juga ya. Nanti kalau mau belajar pake aja meja kerja Mbak"
"Iya, Mbak" Rina mulai menyusun barang-barangnya yang masih bisa diselamatkan dari dinginnya air hujan. Sedangkan sebagian lagi barang milik gadis ini di simpan di gudang.
Untuk sekarang Rina menginap dikamarku sementara kamarnya direnovasi. Mungkin akan memakan waktu sekitar tiga sampai empat hari. Mulai dari mengganti genteng, plafon, sampai dengan membersihkan kamarnya.
Aku melemparkan diriku keatas tempat tidur. Helaan napas panjang keluar begitu saja ketika aku kembali merasakan kenyamanan dikasur hangatku ini. Wah. Bisa-bisanya dibawah pukul dua belas dan week day begini aku sudah mandi pagi. Rekor sih ini.
"Mbak maaf banget yaa. Plafonnya jebol gara-gara Rina ga sengaja kekencangan nendang bola buat latihan, terus belum bilang sama Mbak karena takut. Eh malah hujan deras. Kalo masalah gentengnya beneran ga tahu"
Fyi. Rina ini adalah seorang mahasiswi Pendidikan Olahraga disalah satu Perguruan Tinggi Negeri di Jakarta.
"Lagian kenapa ga latihan diluar sih, Rin? Lapangan depan lumayan gede padahal" aku melirik Rina yang tengah melipat baju-bajunya.
"Jadi Rina waktu itu lagi nonton tutorial di YouTube. Terus iseng aja pengen ngikutin juga, tapi males keluar buat nyari ruangan yang space-nya lebar. Awalnya sih ga expect bakal kuat nendangnya. Eh ga taunya kekencangan. Maaf ya Mbak"
Wajah memelas Rina membuatku menjadi iba. Walaupun sebenarnya aku ingin sekali marah-marah. Tapi it's okey. Selama dia tinggal disini tidak pernah membuat onar dan selalu bayar iuran tepat waktu. Rina juga baik padaku dan sesama anak kos lainnya, tidak pelit dan gemar membantu. Tidak mungkin aku harus marah dengan meluap-luap hanya karena kesalahan yang pertama kali ia lakukan.
'Karena nila setitik, rusak s**u sebelanga'. Sungguh aku tidak akan pernah menerapkan kutipan peribahasa tersebut. Jika orang tersebut berbuat salah, selalu kuingat lagi kebaikan-kebaikan yang ia dulunya lakukan. Alhasil rasa marah tiba-tiba saja menguap.
"Yaudahlah, udah kejadian juga. Lain kali kalau udah keliatan bakal ada masalah cepat-cepat lapor ya. Sampaikan ke yang lain juga, kalau Mbak lupa ngomong nanti." Aku berdiri dari posisi berbaring lantas meraih ponselku yang sedang di charge diatas nakas samping tempat tidur
"Iya Mbak, iya"
"Mau ikut pesen makanan ga? Laper nih" tanyaku pada Rina seraya terus fokus meng-scroll layar ponselku, melihat aneka macam makanan dan minuman disebuah aplikasi pesan antar.
"Biar Rina aja yang pesen Kak. Kebetulan saldo dompet digital Rina masih banyak. Sekalian pesenin buat anak-anak kos yang tadi udah pada bantuin"
Seketika senyumku terangkat kala mendengar kalimat tersebut. Ada dua hal yang membuat aku tersenyum ketika mendengar ucapan Rina ini. Pertama, aku salut dengan cara baik balas budi anak ini. Kedua, aku tidak perlu melakukan effort apapun untuk makan siang kali ini.
***
Pagi ini aku datang pagi-pagi sekali dan berencana untuk tidur sebentar sebelum jam kantor dimulai. Semalam aku tidak bisa tidur dengan nyenyak karena Rina yang terus mendengkur keras disampingku. Padahal sudah kusenggol puluhan kali, namun hanya mampu berhenti sebentar lalu dengkurannya kembali mengeras.
Aku tersenyum saat melihat ruangan divisi Marketing ini belum ada satu orangpun yang datang. Suasana sepi ini kurasa sangat pas untuk kembali tidur sebentar, membuang kantuk. Dengan hati senang, aku mulai menyusun tumpukan buku yang ada di atas kubikelku, membuatnya menjadi tinggi guna menumpu kepalaku. Sempurna.
"kamu ngeblock w******p saya?"
Baru saja kepalaku menempel pada tunpukan buku yang tadi kususun, kini refleks kembali menegak kala mendengar suara seorang pria yang ada dibelakangku.
"Enggak kok, Pak" aku berdiri dari dudukku dengan malas dan menatap Gaharu dengan senyuman yang amat sangat kupaksakan.
Ohh tidak! Jangan ngajak berantem dulu. Badanku pegal-pegal karena habis bantu membereskan kamar kos Rina.
"Ini, Foto profil kamu menghilang" mataku yang tadinya mengantuk berat, kini membelalak lebar ketika mendengar ucapan Gaharu.
MAMPUS! aku lupa un-block kontaknya beliau. Ini kelupaan gara-gara sibuk dan capek ngurusin kamar Rina, pasti.
"Saya emang hapus profil saya!"
Aku menatap was-was Gaharu yang tengah mengetikkan sesuatu di ponselnya. Tiba-tiba saja pria itu kembali menatap tepat kearah mataku. Membuatku kelabakan karena tertangkap basah sedang gelisah.
"Kamu ada masalah apa sama saya?" Aku meneguk ludahku susah payah ketika Gaharu menunjukkan layar ponselnya yang tengah menampilkan room chat antara aku dan dirinya. Dan benar saja, pesan yang baru saja ia kirimkan itu masih menunjukkan tanda centang satu.
"Kalau kamu ada masalah sama saya, saya bisa ajuin mutasi kamu ke cabang Sulawesi. Biar masalah kita clear. Muak liat muka saya 'kan? Makanya gini?"
"Ga, Pak! Ga gitu maksudnya.. aduh-" aku menggaruk kepalaku kebingungan. Bingung akan bagaimana nasib kosanku jika aku di mutasi. Juga bingung kenapa Gaharu bisa bicara dengan blak-blakan begitu kepadaku. Walaupun ucapannya barusan ada benarnya juga sih. Eh-
"Saya.. saya minta maaf, Pak. Tapi saya ga benci Bapak kok walaupun Bapak nyebelin- MAKSUD SAYA walaupun Bapak suka marah-marah EH- Enggak ga pake 'walaupun'! Pak Gaharu baik banget serius" aku merutuki mulut lancangku ini yang bisa-bisanya bicara hal yang salah sampai berulang kali didepan Bos-ku. Sialan!
"Sini," Aku menatap Gaharu bingung ketika tangan pria itu terulur seolah meminta sesuatu. Apa?
"Ponsel kamu"
Bak terhipnotis. Aku menyerahkan ponselku tanpa protes dan perlawanan apapun.
"Jangan diubah"
"Huh?" Kebingunganku buyar ketika Pak Gaharu menarik tangan kananku lalu menaruh ponsel milikku tersebut ditelapak tanganku. Dan tanpa menjelaskan apapun lagi, Gaharu justru berlalu begitu saja menuju ruangannya. Meninggalkan aku sendirian dengan sejuta kebingungan.
Apanya yang jangan diubah? Akhlak anda sih harusnya diubah, Pak Bos!
***
Haii! Gimana? Gemess kan couple ini WKWK.
Visa Ranico
Prabumulih, Sumatera Selatan.