Meeting With "Kapal Perusak"

1672 Words
Hari ini rapat rutin bulanan akan kembali dilaksanakan. Anggotanya gabungan dari semua anggota divisi Marketing dan divisi Sales. Fyi, divisi Marketing dan divisi Sales itu berbeda. Dari definisinya sendiri sudah beda. Divisi Sales merupakan bagian perusahaan yang memiliki tujuan utama menjual produk dan aset baik yang terlihat ataupun tidak dengan harga yang pas. Pas dari sisi perusahaan dan tentu saja pas bagi konsumen. Sementara marketing merupakan suatu kegiatan penerapan strategi yang kemudian dijalankan secara sistematis. Artinya seorang Marketing harus mampu membuat sistem yang rapi sehingga penjual maupun pembeli bisa menemukan satu titik temu yang baik. Dari cara kerja pun divisi Marketing dan divisi Sales sangat berbeda. Divisi Sales memiliki tugas dengan cara berhadapan secara langsung dengan konsumen. Apapun caranya baik bertemu muka, menghubungi lewat telepon, hingga menghubungi via media sosial. Di sisi lain, tim Marketing memiliki tugas menganalisis pasar, mengetahui kebutuhan konsumen, eksperimen UI dan UX, serta mengolah hasil analisis tersebut menjadi strategi bagi perusahaan. Tujuannya agar perusahaan mampu membuat produk yang dicari-cari oleh target pasar mereka. Boleh dibilang divisi marketing merupakan separuh nyawa dari ujung tombak penjualan produk di suatu perusahaan, tidak peduli jenis dan skala penjualan produk tersebut. Tak peduli pula besar kecilnya perusahaan, divisi Marketing dibutuhkan secara mutlak! Terlepas dari itu pula, peranku juga tak terlalu penting di tim. Paling jadi yang sibuk mondar-mandir photo copy berkas, strapless berkas dan tugas-tugas receh lainnya. Pelengkap sih. Tanpa aku juga sistem bakalan terus jalan kok. "Aden!" Bibirku terangkat paksa ketika melihat siapa orang yang memanggil namaku heboh. Sialan. Suasana hatiku lagi tak enak begini, dia mau apa? "Duduk sini sama saya" dia Nando. Si f*ckboy dari divisi Penjualan. Kudengar-dengar dari gosip yang beredar sih pacar pria ini ada di setiap divisi. Aku jadi sanksi kalau pria ini mendekatiku karena ingin menjadikanku next pacarnya. Ogah banget! Oleh karena itu aku harus lebih galak padanya guna mencegah ia menyukaiku. Ku tegaskan disini bahwa aku tidak suka dicintai dan mencintai seorang pria. "Gue udah PeWe disini" sahutku malas. "Yaudah gue aja kesana" "Mana bisa!" Jawabku cepat. Enak saja dia mulai berani unjuk sisi fuckboy-nya secara terang-terangan. Jujur saja, hal ini membuatku sedikit merasa ketakutan hingga tubuhku bergetar. "Santai aja kali, Den. Galak banget" aku hanya melirik Nando kesal, kemudian kembali berkutat dengan ponselku tanpa memperdulikannya. Terserah dia mau apa, aku sedang malas berdebat. Ruangan yang tadinya riuh akan gelak tawa dan obrolan random yang terdengar bising ini tiba-tiba berangsur hening. Suasana menjadi kondusif saat Pak Gaharu dan Pak Rega memasuki ruang rapat ini. Si manager dari divisi Marketing dan divisi Sales. "Kita mulai rapatnya" Pak Rega berdiri, siap membuka jalannya rapat. Disisi pria itu ada Pak Gaharu yang sedang duduk membolak-balikan map berisi berkas penting yang akan dibahas. "Daren. Hasil analisis kita kemarin, mana?" Keheningan ruangan saat ini membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian. Semua anggota rapat memperhatikan Pak Gaharu dan Mas Daren saat ini. Namun, betapa terkejutnya aku ketika Mas Daren malah balik menatapku. Alisku terangkat ketika melihat Mas Daren yang terus menatap kearahku, seolah bertanya pada pria itu 'ada apa?' "Mana?" Mas Daren sedikit memelankan suaranya. Mana? Mana apanya? Hasil analisis yang ma-? Aku membelalakkan mataku ketika ingat satu hal. Mampus Aden! Selamat! Lagi-lagi kamu mempermalukan diri sendiri lagi. Kulirik kesekitarku yang ternyata saat ini semua orang sedang memperhatikanku. Menunggu jawaban yang akan keluar dari mulutku. Dengan kembali menundukkan kepala, aku menjawab pertanyaan Mas Daren dengan sepelan mungkin. Nyaris berbisik. "Saya lupa, Pak" "Lupa?! Kamu pikir kamu ini anak SD yang lupa akan tanggung jawab?!" Aku menatap Pak Gaharu dengan pandangan terkejut. Hampir menangis rasanya ketika Pak Gaharu membentakku di depan seluruh tim divisi Pemasaran dan divisi Penjualan. Kalau di depan teman-teman se-timku saja aku tidak masalah. Tapi ini didepan divisi lain juga. Malu sekali rasanya. "Saya minta maaf, Pak. Tapi sesegera mungkin akan saya selesaikan" aku menundukkan kepalaku. Bukan karena takut, tapi cenderung lebih ke malu. Gaharu Kastara kutandai untuk hari ini ya! *** Rapat ditunda. Membuat rasa bersalahku makin bertambah. Aku masih menunduk ketika sampai dikubikel. Mendengar ceramah dari Mas Daren yang sudah sangat ku hapal apa isinya. Dimulai dari depan pintu ruang meeting sampai ruangan divisi Marketing, Mas Daren tak henti-hentinya mengomeliku. Rasa malu-ku semakin berlapis-lapis ketika disepanjang koridor kantor, para karyawan lainnya memperhatikanku yang tengah menunduk berjalan dibelakang Mas Daren yang meluap-luap. "Sebenernya ini bukan hak saya marah-marah sama kamu ya, Den. Tapi kamu benar-benar keterlaluan banget" "Kamu cuma disuruh cari conclusion yang udah kita bahas kemarin, terus print out dan siapin soft file-nya buat ditampilkan pake proyektor. Kamu serius gitu aja lalai? Kemarin aja saya kasih bagian tugas strapless-strapless doang protes. Sekarang disuruh cari conclusion sama nyiapin print out dan soft file-nya aja lalai!" "Saya ga tahu pihak HRD merekrut kamu ini karena apa! Atau jangan-jangan kamu memalsukan CV kamu buat kerja disini?! Ini ga bisa, itu ga bisa. Jadi kamu maunya apa?! "Udah lah Ren, ini udah selesai kok. Marah-marah ga bakal nyelesain masalah. Mending kamu bilangin ke divisi Sales, sepuluh menit lagi semua anggota udah harus kumpul lagi diruang rapat." Dari arah kubikelnya, Mbak Ika ikut bersuara, bicara dengan Mas Daren yang ada didepanku. Mas Daren akhirnya pergi dari hadapanku. Pria anak dua itu lalu beranjak ke kubikelnya, meraih telepon kantor miliknya dan memberitahu perwakilan dari divisi Sales untuk bersiap-siap memulai meeting lagi. Selepas Mas Daren pergi, aku hanya menundukkan kepalaku, menatap kubikel untuk menyembunyikan rasa sedih. Malu sekali rasanya. Nyaliku serasa tak terkumpul lagi untuk kembali menginjakkan kaki di ruang meeting. Lama aku terus menunduk, merenungi kesalahanku pagi ini. Hingga akhirnya Miko datang menghampiri untuk mengajakku kembali ke ruang rapat. Kulihat ruangan kami sudah sepi, semua anggota sudah berangkat lebih dulu menuju ruang rapat. Hanya ada aku dan Miko saat ini. "Yuk ke ruang meeting. Ga apa-apa kok. Ga usah sedih" aku tersenyum mendengar ucapan Miko. Setidaknya untuk kali ini ia tahu diri untuk tak bersikap menyebalkan. "Kayaknya emang kerja kantoran bukan passion gue deh, Ko. Gue mau resign tapi kasihan Ibu gue" aku berdiri dari dudukku, lalu berjalan mengikuti Miko keluar dari ruangan ini. Disepanjang perjalanan menuju ruang rapat kami terus berbincang. "Jangan gitu lah, lo bisa sebenernya. Cuma kurang cekatan aja" Miko menanggapi ucapanku dengan kata-kata penyemangat yang sudah sangat basi sekali. Namun walau begitu aku tetap menghargai ucapannya. "Gue lihat sampai akhir tahun deh. Kalau beneran gue ga ada perubahan disini, gue bakal ngundurin diri" jawabku lesu. "Eh-" tanpa sengaja ponsel milikku yang sedang kugenggam ini terjatuh. Aku langsung menghentikan langkahku dan berjongkok guna mengambil ponsel tersebut. Lantas langsung mengecek ada kerusakan apa saja setelah tak sengaja menjatuhkan ponsel ini. "Lemas banget lo. Mau gue gendong ga?" Guyon Miko. "Ga sarapan gue" jawabku asal. Padahal mah makan mie dua bungkus plus telor setengah mateng satu. Aku lantas berdiri sesaat setelah mengecek kondisi ponselku. Namun saat aku berdiri, tak sengaja dari ekor mataku nampak sesosok pria yang berdiri dibelakangku. Langsung saja kepalaku menoleh cepat guna melihat dengan jelas siapa orang tersebut. Senyumku langsung terangkat paksa kala melihat siapa sosok yang tengah berdiri memperhatikan interaksi antara aku dan Miko ini. Dia adalah Pak Gaharu. Si manusia sok keras yang membentakku di depan semua orang tadi. Badanku langsung berbalik setelah melempar senyum seadanya pada Bos-ku itu. Tanpa ada niat bicara basa-basi lebih lanjut. Ku teruskan saja langkahku. Malas rasanya melihat wajah menyebalkan itu. "Mari, Pak" masih bisa kudengar Miko yang tengah berbasa-basi pada Pak Gaharu dibelakang sana. Namun tak lama kemudian langkah kaki pria itu sudah terdengar ada dibelakangku. Dan tak butuh waktu lama pula untuk Miko mensejajarkan langkah kami berdua. Pria itu lalu merangkul bahuku secara tiba-tiba dari samping. "Selow aja kali. Lo kok jadi marah gitu sama Pak Gaharu sih" bisik Miko ditelingaku. Kubiarkan saja tangan Miko yang masih bertengger manis di bahuku tanpa menepisnya. Malas sekali jika harus bertengkar. "Emang kelihatan ya?" Tanyaku. "Banget sih. Lo kelihatan banget lagi ngambek sama doi" Miko terkekeh geli diakhir kalimatnya. "Bodo amat sih. Lo tahu sendiri 'kan gue paling benci di bentak" jawabku kesal. "Lagian lo sih. Kalau udah tahu bakal lupa, ya tinggal minta bantuan gue atuh" Miko menarik kursi untukku, lalu pria itu mengambil tempat tepat disampingku juga. "Kalau gue tahu bakal lupa, ya gue kerjain lah, Ko" Miko tertawa mendengar ucapanku. Matanya yang sipit semakin mengecil kala tertawa keras. Membuat raut wajahnya terlihat begitu menggemaskan. Miko ini berdarah campuran Jawa-China. Makanya kulitnya sawo mateng tetapi matanya sipit. Perpaduan yang unik sekali bukan? "Den, gue duduk sini ya?" "Apaan sih, duduk aja kali" ucapku acuh. Kulirik Nando sekilas lantas meraih ponselku untuk mengalihkan pandangan. Demi apapun aku sangat tidak nyaman sekali berada disekitar Nando. "Lo ngapain sih mau duduk di situ banget? Lo ga lihat tempat lain masih banyak yang kosong?" Kulirik Miko ketika pria itu bicara pada Nando yang sudah mendudukkan bokongnya di sampingku. Posisinya sekarang aku duduk diapit antara Nando dan Miko. "Apa sih? Aden aja santai gitu, kok lo yang sewot?" Jawab Nando santai. "Santai apaan? Lo ga bisa bedain yang mana gestur santai sama ga nyaman?" Aku tersenyum mendengar ucapan Miko. Benar-benar orang yang paling mengerti aku disini adalah Miko. Walaupun pria ini lebih banyak buat kesalnya. "Udah Den, lo pindah duduk disini aja, biar gue yang duduk di kursi lo" tanpa basa-basi lagi aku beranjak dari dudukku, lalu berpindah tempat ke kursi yang tadi diduduki Miko. Namun saat aku akan menduduki kursi Miko, mataku tak sengaja melihat Pak Gaharu yang telah duduk di kursinya, menatap kearah kami bertiga dengan wajah datar. "Lo ada masalah apa sih?" Tanya Nando pada Miko. Aku mulai panik kala melihat situasi ruang meeting yang semakin ramai dan Pak Gaharu yang terus menatap kearah kami. Buru-buru aku menenangkan dua pria beda divisi ini agar tak memancing atensi yang lainnya. "Udah, Nan. Udah rame orang. Lo tenangin diri lo. Lo juga, Ko. Gue mohon jangan buat keributan. Pak Gaharu ngelihat kesini mulu dari tadi woi serem banget!" aku berbisik sepelan mungkin kearah dua pria ini. Membuat Miko dan Nando kompak melihat kearah tempat dimana Pak Gaharu duduk, lantas membenahi posisi menjadi pura-pura tak terjadi apapun. *** Haii jangan bosan-bosan yaa. Siapa nih yang suka genre kayak gini, ngaucung hehehe. Visa Ranico Prabumulih, Sumatera Selatan
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD