#FlashBack On#
"Mas Iki, kita ga jadi ke pamerannya?" Aku menatap Mas Rizky bingung ketika rute tempat tujuan awal kami berbeda dari petunjuk yang ada di digital map.
"Astaga! Iya Mas lupa, Den. Maaf banget yaa, Mas jadi bawa kamu ikut kesini"
"Tadi Mas mau nganterin kamu padahal" Wajah Mas Rizky linglung. Sesekali ia terus menoleh kearahku saat sedang sibuk memperhatikan jalanan yang lumayan ramai.
"Terus kita ngapain sekarang?"
"Mau jenguk Tante dulu. Kata Ibunya Mas, kondisinya kritis"
"Bentar aja yaa, Den. Sepuluh menit lagi kita ke lokasi pameran deh"
Aku membelalakkan mataku mendengar penjelasan Mas Rizky yang terkesan 'menggampangkan' acara ini. Ini acara penting sekali untuk pria itu padahal.
"Tapi tugas Aden kan bawa Mas ke pameran. Anak-anak pasti kecewa berat" aku terus mendesak Mas Rizky untuk putar balik kembali ke rute seharusnya. Tak bisa kubiarkan. Ada banyak orang yang akan kecewa jika pria ini tak datang sekarang.
"Bentar aja, Den"
"Kita udah telat tiga puluh menit loh, Mas"desakku
"Mereka ga bisa nunggu sedikit lebih lama lagi?"
"Mas ga lihat? Diluar udah mendung?" Pertengkaran tak terelakkan dan amarahku mulai memuncak. Ini kali pertama aku tak suka dengan apa yang Mas Rizky putuskan.
"Kamu kok ga simpati dikit aja sih sama keluarga saya?"
"Mereka udah bikin surprise buat, Mas Rizky asal Mas Rizky tau!"
Mas Rizky diam. Ia mengusap wajahnya kasar dan menarik rambutnya kuat.
"Kamu tau ga, Den? Tanteku yang lagi kritis didalam sana punya anak yang seumuran denganku. Dia anak satu-satunya dan udah yatim. Dia minta tolong buat jagain Mamanya. Aku cuma mau ngelihat Tanteku aja dan ngasih tau perkembangannya sama sepupuku."
"Sepupuku masih di Malaysia, dan baru sampai besok pagi. Entah akan bertemu lagi dengan ibunya atau tidak."
"Beliau juga lagi butuh dua kantung darah, kata Ibu Mas. Dan kami harus bantu cari."
"Mas enggak menyepelekan surprise kalian. Mas ga bisa milih"
"Kamu boleh pergi Den. Maaf mas ga bisa hadir di acara itu. Mas bakal minta maaf sama anak-anak. Mas pesenin taksi online sekarang, ya"
Aku terdiam mendengar ucapan Mas Rizky. Pria itu terlihat sangat emosional sekali sekarang. Kesedihan dan kegusaran yang pria itu rasakan, terpantul jelas diwajahnya. Membuatku jadi sedikit melunak melihatnya yang sudah pasrah begini.
"Gapapa, Mas. Adena mampir bentar aja nemenin Mas Iki. Nanti Adena pulang sendiri"
Mas Rizky adalah seniorku di kampus. Sekarang ia sudah ditahun terakhir masa kuliahnya dan sedang menyusun skripsi.
Sebenarnya hari ini adalah hari terakhir ia menjabat sebagai ketua salah satu UKM yang ada dikampus. Dan hari ini juga adalah kata sambutan terakhir yang akan Mas Rizky berikan di pameran yang sedang UKM kami gelar.
Kukeluarkan ponselku dan mulai mengetikkan sesuatu di grup UKM. Mencoba memberitahu semua anggota agar tidak perlu menunggu kami.
***
Mas Rizky dan seorang wanita paruh baya keluar dari ICU. Wajah keduanya sangat muram dan kalut kala pertama melihatnya. Ku simpan ponsel yang tadi sedang kumainkan kedalam tas lalu berdiri menghampiri mereka.
"Ga ada masalah, Mas?"
"Tante Nova butuh pendonor, dan stock darah di rumah sakit ini lagi kosong." Ucap Mas Rizky pelan. Terdengar nada putus asa yang sangat jelas ketika ia mengucapkannya.
"Golongan darahnya apa?" Tanyaku.
" Golongan darahnya O"
"Kebetulan aku O. Tapi aku belum pernah donor darah sih. Tapi insyaallah sehat kok, Mas."
Entah pikiran darimana aku bisa bicara begitu. Yang jelas kalimat tersebut keluar begitu saja dari mulutku ketika ingat jika si pemilik golongan darah O punya karakteristik yang sedikit unik.
orang bergolongan darah O bisa mendonorkan darahnya ke semua orang, tapi si golongan darah O hanya bisa menerima donor dari golongan darah O itu sendiri. Sedih sekali bukan?
"Kamu yakin?"
"Sedapatnya berapa aja, Mas. Ga apa-apa. Ini urgent 'kan?"
"Kita kasih tau dokter dulu ya, Den"
Sinar harapan dimata Mas Rizky terlihat jelas. Aku tersenyum ketika mampu membuat pria ini menaruh harapan padaku. Setidaknya ia tak kebingungan sekali saat ini.
#FlashBack Off#
.
.
"Melamun teross!"
"Sialan!"
Aku tersentak kaget ketika wajah Miko yang tiba-tiba muncul dihadapanku. Lengkap dengan suara cempreng pria itu yang memekikkan telinga. Membuyarkan lamunan panjangku.
"Ga ada adab banget lo sesama manusia" sungutku kesal.
"Ga baik tau. Nanti kesambet hantu penunggu kantor"
"Elo hantunya!" Tawa Miko menggema diseluruh penjuru ruangan. Membuatku makin kesal dan menendang dinding kubikelnya yang ada didepanku. Bosan juga sebenarnya melihat wajah Miko setiap hari begini. Apalagi posisi kubikel kami yang saling berhadapan satu sama lain begini makin membuat muak saja.
Dulu aku pernah mengusulkan pada Mas Daren selaku ketua Tim untuk memindahkan mejaku, namun tak digubris oleh beliau. Sebab tidak ada yang mau berada hadap-hadapan dengan Miko.
"Aden, tolong bantu strapless-in ini." Aku menoleh pada Mas Daren yang baru saja menaruh setumpuk berkas di atas meja panjang yang biasa kami gunakan untuk rapat internal dadakan.
"Mas Daren kayak ga ada tugas lain aja buat Aden" keluhku.
"Yaudah, tuker sama punya Miko aja."
"Nih, bikin rekap enam bulan kebelakang" Miko mengangkat tumpukan kertas yang menyatu dengan klip kertas kearahku.
Selalu saja begini. Tugasku pasti hanyalah hal-hal sepele semacam ini. Aku ingin belajar juga walau lamban. Hanya saja semua rekan se-timku tidak sabar mengajariku. Mereka terlalu cepat dan cekatan. Jadinya aku tertinggal jauh sekali. Posisiku disini tak lebih dari sekedar pelengkap. Bak daun bawang yang ada di mie ayam. Ada atau tidaknya tak terlalu mengganggu komposisi.
"Seenggaknya ajarin kek, Mas Daren. Ga guna banget dikasih tugas ginian" ucapku asal.
"Kamu ga suka sama pembagian tugas?"
"Bukan gitu-"
"Kalo ga mau, kamu tinggal tanya Pak Gaharu aja. Minta tugas yang lain."
Aku mengalihkan pandanganku. Menarik napas dalam, dan menghembuskannya pelan. Kuambil strapless bergambar Doraemon yang ada di stationery stand milikku dan berjalan kearah meja meeting divisi.
Tempat ini jarang kami gunakan karena tak begitu sering meeting dadakan. Oleh karen itu terdapat banyak sekali tumpukan berkas yang belum sempat dibawa ke ruang arsip. Biasanya meja ini bersih ketika kami hanya akan mengadakan rapat.
Aku mulai melakukan 'pekerjaanku'. Menumpuk kertas satu dengan kertas lainnya, kemudian menyatukannya dengan strapless.
Sambil melakukan pekerjaan santai tersebut, pikiranku kembali melayang kepada Mas Rizky. Senior yang sangat kuhormati ketika dikampus. Ia orang yang pintar, keren dan juga tampan. Selain itu ia populer. Banyak sekali mahasiswi yang tertarik dan jatuh hati padanya.
Dulu aku sempat naksir dengan Mas Iki, Namun entah dipelet atau bagaimana, aku malah berpacaran dengan Rio, si pria b******k itu. Efek psikologis yang mantanku itu berikan juga tak main-main. Aku sampai harus pergi ke psikolog guna memperbaiki mental ku.
Dan untuk saat ini, sulit untukku bisa membuka hati pada siapapun. Termasuk Mas Iki yang dulunya sempat ku taksir.
"Den, minta satu yang udah di strapless" Suara Mas Daren memecah lamunanku.
"Oh ini, Mas"
Aku kembali duduk dan melanjutkan pekerjaanku setelah memberikan yang Mas Daren minta. Namun tak sampai satu menit aku duduk, ucapan Mas Daren mulai kembali mengganggu.
"Aden, kamu serius kerja ga sih?!" Nada suara Mas Daren terdengar tegas ditelingaku. Tanda ia sedang marah.
"Kenapa Mas?"
"Ini kamu disuruh tugas ginian aja meleng. Halamannya kebalik. Harusnya Kamu susun dulu baru di strapless" Mendengar omelan Mas Daren aku langsung buru-buru mengecek hasil kerjaku.
Oh astaga! Kenapa bisa begini?
"Makanya kerja tuh jangan sambil melamun, Aden! Astagaa.." Mas Daren kembali melontarkan kata-kata andalannya yang sudah sangat kuhapal diluar kepala, ketika ia mengomeliku. Seperti biasa juga, hanya kata maaf dan cengiran malu yang bisa ku ekspresikan untuk membalas ucapan Mas Daren yang sangat terdengar stres itu.
Aku menatap tumpukan kertas yang telah distrapless. Cukup banyak dan aku harus melepasnya satu persatu, kemudian men-straplessnya lagi satu persatu.
"Udah banyak ya?"
Aku mendongak, menatap Mbak Ika yang sedang mendekat dan mengambil tempat disampingku.
"Iya, Mbak. Gapapa deh ulang lagi" aku tertawa renyah diakhir ucapanku, seraya membuka kertas yang telah lekat menggunakan ujung strapless.
"Yaudah, Mbak bantuin"
"Ga usah, Mbak. Ini gampang kok" Aku merasa tak enak ketika Mbak Ika ikut turun tangan pada pekerjaan receh begini.
"Udah Ika, ga usah dibantuin. Kerjaan lo selesain dulu"
"Udah selesai kok. Cek aja surel lo," Mbak Ika menjawab santai seraya membantuku melepas kertas yang telah distrapless.
"Daren sensi banget sih, heran" aku tertawa mendengar Mbak Ika berbisik kepadaku. Seraya men-strapless tumpukan kertas ini, aku dan Mbak Ika juga ngobrol ngalur ngidul. Bicara santai diluar konteks pekerjaan dan beberapa kali juga tertawa bersama.
Namun ditengah-tengah pekerjaan kami berdua, dering telepon Mbak Ika berbunyi. Membuat Wanita beranak satu itu menghentikan kegiatannya sejenak.
"Iya Assalamualaikum, sayang"
"Iya, bentar lagi kok. Abang mau nitip apa?"
"Dimsum yang deket PTC?"
"Oiya, iya. Iya Mama pulang sekarang ya sayang. Dah~ waalaikumsalam"
Sederet kalimat yang terlontar dari mulut Mbak Ika ketika menjawab telepon tersebut membuatku mengerti alurnya. Wanita ini sudah harus pergi dari sini untuk menemui anaknya.
Jam pulang kantor memang telah usai sejak lima menit yang lalu. Hanya saja Mbak Ika masih setia menemaniku disini.
"Den, gapapa Mbak tinggal ya?"
"Gapapa, Mbak. Ini udah tinggal dikit kok. Makasih banget Mbak udah dibantuin"
"Sama-sama. Mbak berangkat sekarang yaa. Boss kecil udah nunggu dirumah" Mbak Ika tertawa diakhir kalimatnya dan segera membereskan barangnya.
***
.
.
Lima belas tumpukan kertas yang berbeda ini sudah tinggal beberapa lembar saja. Ini adalah laporan pemasaran beberapa bulan terakhir yang telah di-sahkan. Dan akan dibagikan pada semua tim divisi Pemasaran dan divisi Penjualan ketika rapat rutin bulanan besok.
Sial. Memangnya divisi Penjualan bertambah lagi anggotanya? Kenapa semakin banyak saja rangkap berkas yang harus distrapless? Perasaan pekerjaanku tidak kunjung kelar juga dari tadi. Padahal sudah dibantu oleh Mbak Ika.
Bunyi pintu terbuka membuatku mengalihkan pandangan keasal suara. Disana Pak Gaharu yang baru saja keluar dari ruangannya juga menatapku.
"Belum pulang?"
"Belum Pak, bentar lagi, eh" Aku kaget ketika Pak Gaharu tiba-tiba duduk disebelahku dan langsung mengambil strapless yang tadi digunakan Mbak Ika.
"Jangan, Pak!" Cegahku.
"Saya bisa sendiri kok. Bapak pulang aja" aku panik ketika Pak Gaharu juga akan membantu tugas receh semacam ini.
"Ini sesuai urutan halamannya 'kan?"
Loh! Loh! Pak! Kenapa begini?
"Pak, jangan Pak. Saya bisa sendiri"
"Kamu lanjut aja. Kalo ngomel terus ga kelar-kelar"
Waktu berjalan terasa sangaaat lama ketika duduk disamping Pak Gaharu dalam keadaan begini. Saat rapat juga biasanya aku duduk jauh sekali dari beliau. Itu pun aura menegangkannya masih sangat terasa. Apalagi sedekat ini. Bisa dibayangkan?
Ya semua terasa berbeda setelah kami satu mobil saat perjalanan meeting kemarin. Setelah tingkah Pak Gaharu yang semakin aneh. Membuatku semakin ngeri berada disekitar pria itu. Aku harap aku tidak akan pernah satu mobil lagi dengannya. Juga berada terlalu dekat begini. Sebisa mungkin untuk menghindari pria ini-
"Selesai. Ayo pulang sama saya"
Gimana?!
***
Visa Ranico
Prabumulih, Sumatera Selatan.