Obedient

1626 Words
Kuletakkan mangkuk kosong bekas aku makan mie instan keatas wastafel. Membiarkannya tergeletak begitu saja disana tanpa mencucinya. Biasanya akan ada anak-anak kos yang dengan sukarela mencuci piringku. Hanya satu buah dan mereka tidak pernah keberatan. Itu 'pun atas inisiatif mereka sendiri. Bukan aku yang menyuruh. Disepanjang lorong dari dapur ke kamarku, total sudah tiga kali aku menghentikan langkahku lantaran anak-anak kos yang memanggilku ketika aku melewati kamar mereka. Hari ini beberapa dari mereka sudah mulai membayar iuran kos mereka. Padahal aku tidak pernah memaksa mereka untuk bayar tepat waktu, apalagi membayar lebih awal. Oleh sebab itu jika ada kerusakan dikamar mereka, ataupun keluhan tentang fasilitas kos maka aku cepat-cepat memperbaikinya demi kenyamanan bersama. "Mbak Aden, Nia cuma bisa bayar separuh dulu buat bulan ini, nanti kurangnya Nita bayar lagi ya Mbak" "Loh? Ini kan memang belum jatuh tempo pembayaran. Santai aja Nia. Mbak ga marah kok walaupun kamu telat bayar" aku tersenyum menanggapi ucapan Nia. Si karyawan platform orange belanja online di Indonesia. Ya. s****e. "Gapapa, Mbak. Pegang aja dulu. Nia orangnya boros soalnya. Nanti kalau kelupaan bayar Mbak 'kan bisa bahaya" Aku menghela napasku mendengarnya kemudian mengangguk. "Jangan boros-boros, Nia. Sisihin buat ditabung juga jangan kalap beli sepatu" Aku yang tahu benar hobi anak yang satu ini menasihatinya. Terserah dia mau dengar atau tidak, yang penting satu kebaikan sudah tersampaikan. Btw, saking gila mengkoleksi sepatu, Nia pernah sampai begadang untuk antre di depan store Adidas demi mendapatkan sepatu limited edition yang ia suka. Bersama puluhan orang lainnya yang memiliki hobi sefrekuensi dengan gadis itu. "Kan bisa jadi investasi Mbak Aden" ucap Nia dengan penuh percaya diri. "Kamu jual lagi? Yaudah sini Adidas limited edition bulan kemarin jual sama Mbak" "Gak dulu deh kayaknya" Nia tersenyum malu seraya cengengesan. "Yaudah Mbak mau siap-siap ke kantor. Kamu juga jangan telat dan hati-hati" Aku berlalu, kemudian melambaikan tanganku tanpa membalikkan badan kepada Nia. "Hati-hati juga Mbak Aden!" "Eh, Nia!" Aku tiba-tiba berbalik kembali saat teringat sesuatu. "Iya Mbak? Ada yang ketinggalan?" Kulihat kepala Nia melongo keluar kamar, hampir menutup pintunya. "Btw guest star s****e tahun ini siapa? Black Pink lagi ya?" "Denger-denger sih Stray Kids, Mbak" "Assa!! Tolong tiket buat Mbak sisihin dua ya. Temen Mbak suka banget soalnya sama salah satu membernya" "Oh aman itu Mbak. Mau sepuluh juga nanti Nia adain" "Thank you Nia. Have a nice day!" Aku kembali ke kamarku dengan riang. Bahkan langkahku tanpa sadar melompat kecil. Aku mulai menata penampilan. Mengikat rapi rambutku mode ponytails, dan mengoleskan lipstik lamaku yang ukurannya sudah super duper pendek. Bahkan ditengah-tengah proses pengaplikasian sempat ku cungkil saking pendeknya. But, wait. Aku meneguk ludahku ketika sadar akan satu hal. Kenapa aku jadi mengikuti perkataan Bosku itu? Gila. Bahkan aura perbudakannya sampai mempengaruhi alam bawah sadarku. Aku buru-buru keluar dari kamarku menuju teras seraya membawa flatshoes ditangan kiri, sedangkan disisi sebelah kanan Sling bag hitam polos tersampir dibahu kanan. Bokongku terhempas di salah satu undakan tangga yang ada di teras rumahku. Sambil menyapa dan berbincang singkat dengan anak kosku yang akan pergi beraktivitas, aku memasang sepatuku. "Mbak, bayar kos bulan ini mundur tanggal 16 ya? Ibu belum ngirim uang soalnya." "Gapapa, Yun. Kan belum jatuh tempo. Duit jajan, ada?" Seraya memasang kaos kaki, aku tersenyum membalas ucapan Yuni. Salah satu penghuni kamar kos disini. Lagi. Aku dicegat oleh salah satu anak kos guna membicarakan perihal pembayaran. "Masih kok, Mbak." Yuni tersenyum. "Yaudah buruan berangkat, nanti telat" "Iya Mbak. Assalamualaikum." Yuni mencium tangan kananku pamit pergi. "Waalaikumsalam" "By the way, makasih banget loh, Mbak" Aku hanya mengangkat jempol tanganku menjawab ucapan Yuni, dan kembali melanjutkan aktivitasku. Aku tidak pernah mendesak anak-anak kos untuk tepat waktu membayar. Aku tau rasanya merantau dan jauh dari orang tua. Dulu ketika kuliah aku juga jauh dari orang tua dan sanak saudara. Ibu dan Ayah kembali ke Padang ketika aku memasuki masa kuliah. Mereka berdua mengurusi kakakku yang terkena kecelakaan kerja, sehingga mengharuskan kakak sulungku itu berhenti bekerja. Dan butuh waktu bertahun-tahun untuk memulihkan fisik dan psikis pria itu. Fisiknya sakit karena sebelah kakinya patah. Namun psikis dan hatinya jauh lebih sakit. Ia kehilangan pekerjaan sekaligus istrinya. Saat melihat kondisi kakakku yang seperti itu membuat Kak Melisa meminta talak dari kakakku. Hal itulah yang melatari Ayah dan Ibu memilih mengurus kakakku dan kembali ke Padang. Di Jakarta kami juga merantau. Itulah mengapa aku tak punya sanak saudara disini. Almarhum ayahku memiliki rumah di daerah Jakarta Utara. Ukurannya lumayan besar dan memiliki banyak kamar. Total ada 6 kamar di rumah ini, termasuk kamarku. Dan ibu memutuskan untuk menyulapnya menjadi kamar kos yang lengkap akan fasilitas didalamnya. Semua kamar masing-masing ada penghuninya. Belum ada tanda-tanda mau pindah dari awal mereka menempatinya. Syukur. Setiap yang menempatinya akan merasa betah. Uang yang kudapat tiap bulan dari menyewakan kamar ini, sepenuhnya kuserahkan pada Ibu. Setiap bulannya juga tiga puluh persen dari gajiku, kuberikan kepada beliau. Walaupun setiap setelah ku kirim gajiku, Ibu selalu marah-marah meneleponku agar tidak mengirimkan gajiku pada beliau. Uang dari hasil kos lebih dari cukup katanya. Tapi 'kan berbeda. Itu uang hasil aku bekerja. Nikmat sekali rasanya setelah memberi Ibu uang. Walaupun harus di marahi setiap bulannya melalui telepon oleh beliau. "Pak, nanti panggil tukang servis kran ya. Kamar mandi Aden yang dikamar rusak." Setelah memasang sepatuku. Aku izin pamit dengan Pak Suripto. Satpam kos-kosan ini, sekaligus orang kepercayaanku dalam mengurus keluhan anak-anak. Sejauh ini Pak Suripto membantu sekali dalam memudahkan mengurus kos-kosan. Sikap beliau tidak menganggap bekerja hanya sewajarnya, melainkan Pak Suripto sangat mencintai pekerjaannya. Itulah mengapa aku selalu membayar gaji Pak Suripto tepat waktu. Memberinya makanan kesukaannya dan selalu menyediakan kebutuhannya. Pak Suripto ini sebatang kara di Jakarta. Sama sepertiku. Dulu ia mempunyai istri yang juga bekerja disini, namun tiga tahun yang lalu istrinya sudah lebih dulu dipanggil Yang Maha Kuasa. Dan untuk anak, sampai se-renta ini mereka belum juga dikaruniai keturunan. "Oh iya Neng. Nanti Bapak panggil," senyum ramah Pak Suripto terukir jelas. "Minta tolong nanti sore harus udah bisa dipake ya, Pak." "Siap, Neng." "Adena pamit dulu ya, Pak. Assalamu'alaikum" aku mencium tangan Pak Suripto pamit pergi. Hal ini sudah menjadi kebiasaan lama. Bagiku Pak Suripto bak pengganti Ayah yang selalu ada jika aku membutuhkannya. Oleh karena itu aku sangat menghormati beliau. "Ga mau Bapak antar neng?" "Adena sendiri aja Pak. Makasih" " Oh yaudah.. Waalaikumsalam. Hati-hati neng" Aku berjalan santai menuju halte bus Transjakarta. Jaraknya tidak terlalu jauh dari kediamanku, itulah mengapa kos-kosan milikku sangat strategis letaknya. Namun ditengah perjalanan, dering ponselku berbunyi. Membuatku harus menghentikan langkah dan memeriksanya. Mas Daren? Tumben banget pagi gini udah ngehubungin. "Halo, Mas? Lagi di jalan ini?" 'Belum sampe kantor 'kan ya?' aku mengerutkan dahiku mendengar pertanyaan Mas Daren. "Iya, Mas. Kenapa?" 'Balik lagi kerumah kamu aja. Kamu ga usah masuk pagi ini. Jam setengah sepuluh entar Pak Gaharu jemput kamu buat meeting di luar' Ekspresi kebingungan yang ada diwajahku seketika berubah. "Yaelah bisa lebih pagi ga sih ngasih taunya, Mas. 'Kan Aden bisa rebahan dulu abis bangun, ga langsung mandi" protesku. 'Bos-Mu juga ngasih taunya lima menit yang lalu, kok' "Bosnya Mas Daren juga itu!!" aku tertawa mendengar ucapan Mas Daren. Seraya mengakhiri pembicaraan dengan Mas Daren, aku berbalik kembali memasuki pekarangan rumahku. *** "Maaf, tapi.. Bapak kenapa ya?" Aku tak tahan untuk tidak bertanya kepada Pak Gaharu. Sedari tadi pria itu hanya senyum-senyum sendiri semenjak aku masuk ke mobil dan duduk disampingnya. Ngeri saja. Entah dia ketempelan hantu kos atau bagaimana 'kan? Sedikit banyak aku juga bisa kena imbasnya. "Mampir bentar ya kerumah Tante saya, ada yang mau dianter" alih-alih menjawab pertanyaanku, Pak Gaharu malah mengalihkan topik. Wewenangnya sudah merambah keluar kantor ini? Guna meminimalisir kejengkelan yang bisa saja terjadi, kuanggakukan kepalaku dan kembali pada mode silent. Di sepanjang perjalanan kami hanya diam. *** . . "Mama kamu sehat?" "Alhamdulillah Tante. Mas Rizky kapan pulangnya?" Aku berdiri disamping mobil Pak Gaharu persis orang bodoh. Menonton Tante dan keponakan itu bicara yang topiknya sangat tak kupahami. "Aru duluan ya, Tante. Masih jam kerja soalnya ini" Aru? Hampir saja tawaku meledak ketika Pak Gaharu menyebut namanya sendiri seperti itu. Ughh tipikal pria manja? "Duluan ya, Tante" aku bersuara sekedar basa-basi. "Loh? Ini siapa?" "Temen kantor Tante. Soalnya mau meeting diluar tiga puluh menit lagi," Pak Gaharu menyela aku yang hendak menjawab. "Bentar. Ini temen anak saya yang waktu di rumah sakit itu, ya?" "Tante siapa ya?" Aku mengerutkan kening ketika mendengar orang asing yang menyebut namaku dengan sok akrab. "Kamu waktu itu pernah donorin darah ya?" "dirumah sakit buat Kakak saya. Temennya Iki 'kan?" Aku mengedipkan mataku beberapa kali saat tengah mengingat. Seingatku aku hanya satu kali mendonorkan darah selama aku hidup. But.. wait.. Seriously?! *** Jam makan siang telah selesai dan kami memutuskan untuk kembali kekantor. "Mau bareng, Pak?" Aku basa-basi menawari Gaharu untuk masuk ke kantor bersama atau tidak. Saat ini kami sudah berada di basement kantor. "Ga, saya nganter kamu aja. Masih ada urusan." "Ohh yaudah saya turun ya, Pak" "Itu jangan lupa hasil meeting kita tadi kamu kasih tau sama tim. Diskusikan dulu bagusnya kalian seperti apa. Nanti saya tinjau ulang" "Hasilnya print out ga, Pak? Atau Bapak mau soft file-nya aja?" Tanyaku. "Soft file-nya aja. Kirim email saya aja nanti" "Oke, Pak" aku mengangguk mendengar setiap kalimat imperatif yang keluar dari mulutnya. Ketika dirasa sudah cukup, dan tak ada lagi yang dibicarakan, aku pamit untuk masuk kekantor dan kembali bekerja. "Adena?" "Iya, Pak?" Dengan keadaan pintu mobil yang sudah terbuka, kakiku berhenti bergerak saat hendak turun. "Kamu penurut juga ya ternyata" Iyalah namanya aja kacung. Yakali ga nurut. "Iya, Pak. Ini 'kan masalah kerjaan. Masa saya ga nurut" aku memaksakan tawa diakhir kalimatku. "Bukan itu" tawaku terhenti ketika Pak Gaharu menjawab dengan nada suara datar. Mati! Salah timing jokes ga nih? "Maksud saya lipstik kamu," "Ya?" Tanyaku bingung. "Stay terus sama warna itu ya" *** Visa Ranico Prabumulih, Sumatera Selatan
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD