KATANYA MAU SEMBUH

1539 Words
“Apa maksudmu? Apa kamu tidak lagi peduli dengan dia?” tanya Gafi dengan maju selangkah lebih dekat. Gafi tampak bingung dengan apa yang dihadapi saat ini. Anika tampak berbeda dari wanita yang ia cintai. Apa karena dipisahkan dengan anak mereka, membuat wanita cantik ini menjadi seperti sekarang. Tatapannya penuh kesedihan, keraguan tetapi juga kosong. Mereka berhadapan tetapi seolah pikiran Anika tertinggal jauh di masa lampau. Gafi maju selangkah guna mendekat untuk lebih memastikan, demi Tuhan dirinya sangat merindukan wanita ini. Melihat wajah wanita itu untuk kedua kalinya setelah enam tahun terpisah, bukan perkara mudah menahan hasrat untuk merengkuh tubuh yang tampak rapuh tersebut. Anika menunduk memutus pandangan dari Gafi, kedua tangannya yang bergetar mencengkram erat ponsel dalam genggaman. Seketika perasaan takut dan ragu akan penolakan dari Aryo menyergapnya dengan telak. Selama ini anak itu tidak mengenalnya. Lantas apa yang akan ia katakan pada anak itu? Anika takut jika dirinya tak bisa menahan diri untuk berhambur dan memeluk Aryo. Bisa jadi dirinya akan berbuat nekat seperti reka adegan yang selalu menghantui malam-malamnya. Seharusnya Anika tidak pasrah dan pergi, tetapi merebut bayi Aryo dari kekuasaan orang tua Gafi dan membawanya pergi. Penyesalan terbesar Anika lebih dalam dari palung mariana. Seharusnya ia berjuang demi sang buah hati, bukan lantas menyerah dan memilih pergi. Prediksinya salah, hatinya bukan membaik dengan memberikan bayinya untuk diobati namun semakin terluka karena perpisahan mereka. “Apa kamu tahu bagaimana anakmu selama ini?” tanya Gafi mencoba peruntungan, siapa tahu Anika selama ini sudah mencari tahu tentang putra mereka. Pertanyaan Gafi memutus lamunan Anika dan kembali mendongak bertatapan dengan pria itu. “Dia sehat,” jawab Anika meragu. Nampak jelas di nada suaranya, secara fisik memang aryo sehat tetapi insting seorang ibu tahu ada hal lain yang sedang dirasakan oleh putranya tersebut. “Secara lahir iya, dia amat sehat.” “Oh, syukurlah.” Hanya itu yang bisa diucapkan oleh Anika. Ia tidak berani menumpahkan semua apa yang dirinya pikirkan, terlalu cepat. Ia tidak menyangka aksinya saat ini saja bisa diketahui pria itu. Baru sehari menginjakkan kaki di kota ini dan ia sudah bertemu dengan mantan suaminya. “Kamu tidak sungguh peduli dengannya dan aku, iya ‘kan?” “Kamu tidak tahu apapun yang terjadi pada hidupku. Jadi kamu tidak berhak untuk menghakimiku. Pria lemah sepertimu tidak berhak,” balas Anika dengan air mata yang telah berderai. Sungguh ia ingin bertanya dengan maksud dari pria itu mengatakan 'secara fisik dia sehat', apa Aryo gila seperti dirinya? Anika tentu tidak akan percaya dengan hal itu. Pria itu tidak juga bisa menghakiminya. Apa pria itu lupa, Anika yang diusir dan direndahkan harga dirinya di hadapan seluruh keluarga Gafi dan Pria itu tidak sekalipun berusaha membelanya. Nasib menjadi istri kedua dan hanya dinikahi secara siri tentu saja lemah, sama sekali tidak ada harganya. Anika peduli, sangat peduli hanya saja kesenjangan sosial dan materi membuatnya harus mengalah. Anika bergeser dan berlalu meninggalkan Gafi di sana, langkahnya semakin lebar dengan berlari kecil ke arah Rini yang sudah merentangkan tangan menyambut dirinya ke dalam pelukan. “Dia bilang aku tidak peduli dengan anakku Rin,” adu Anika disela isak tangisnya. “Tidak, itu tidak benar. Jika kamu tidak peduli mana mungkin kamu mau berpisah dengan Aryo dulu, ya ‘kan?” “Ibu mana yang mau dipisahkan dari anaknya. Aku tidak sekejam itu Rin. Aku memang miskin tapi bukan berarti aku rela melepaskan anakku jika bukan demi kebaikannya. Aku juga benci dengan keadaanku tapi apa yang bisa aku lakukan. Dia yang seharusnya bisa melindungi aku dan Aryo, bukan malah mencampakkan aku.” Seketika Anika meremas rambutnya dengan kedua tangannya. “Gila aku bisa gila!” raung Anika hingga menimbulkan perhatian dari banyak orang. Gafi yang melihat dari jauh hendak mendekat ke arahnya namun urung dirinya lakukan saat ada seorang pria yang lebih dulu merengkuh Anika ke dalam pelukannya. Hati Gafi seolah diremas oleh tangan yang tak kasat mata, sakit dan sesak tak terhingga. Oksigen seolah dipaksa keluar dari rongga paru-parunya. Doanya selama ini agar Anika terbebas dari pria manapun sepertinya tidak terkabulkan. “Hendra, apa hubunganmu dengan Anika. Sebenarnya?” gumam Gafi. “Papa … kenapa di sini? Ayo Pa acaranya mau dimulai, “ seru Aryo yang berlari mendekat ke arahnya. Gafi tersenyum tipis menanggapi ajakan anaknya dan segera merengkuh Aryo kedalam pelukannya lantas kembali ke restoran cepat saji. “Aryo bahagia?” “Asal ada Papa. Aryo suka.” “Suka saja atau bahagia?” “Bahagia Papa.” “Anak Papa, pintar.” ♥ Hendra yang baru saja tiba bersama dengan Mandy dan Yasinta mengerutkan dahi mendapati Anika dengan keadaan yang tidak biasa dan juga Rini yang tampak resah dan gelisah karena mereka mulai menjadi bahan tontonan orang banyak. “Sebentar ya kalian tunggu di sini,” pinta Hendra kepada Mandy dan Yasinta. “Mau ke mana Mas?” “Sebentar Mas temui seseorang dulu.” Keduanya mengangguk dan menatap keheranan pada punggung Hendra yang menjauh dengan tergesa-gesa mendekat ke arah dua wanita yang berdiri tidak jauh dari sana. Keduanya kaget dan saling berpandangan saat Hendra kemudian memeluk salah satu di antaranya. “What the … siapa wanita itu. Wah, cantik juga mana warna rambutnya seperti aku,” kata Mandy yang lebih dahulu mengatasi keterkejutannya. “Pintar juga Mas Hendra ya. Tahu mana produk import, hi hi hi,” sahut Yasinta. “Kita juga setengah import,” balas Mandy. “Mungkin bule itu bingung nggak ngerti bahasa kita atau abis kecopetan. Duh, kasian banget, samperin yuk?” “Hayuklah.” Keduanya lantas menyusul Hendra. Mengurai beberapa orang yang mulai berkerumun menghalangi langkah keduanya. ♥ “Tolong jangan begini lagi Ika. Ingat kamu mau sembuh ‘kan? Biar bisa ketemu Aryo dengan pantas. Ibu curut cantik yang katanya mau jadi penyanyi,” bujuk Rini seraya memegangi kedua tangan Anika agar berhenti menyakiti dirinya dengan menjambak rambutnya sendiri. “Ada apa ini?” tanya Hendra seraya mengambil alih Anika dan membawanya kedalam pelukannya. “Ika tenang, Ika. Ingat kamu kuat dan apa tujuanmu ke sini.” “Ika bingung.” “Nggak perlu bingung, kita selesaikan masalahmu bersama-sama ya,” bujuk Hendra seraya mengusap punggung Anika dengan lembut sampai Anika kembali tenang dengan sisa isak tangis. “Ada apa ini?” tanya Hendra kepada Rini. “Ika ketemu mantannya.” “Astaga? Pak Gafi nggak marah ‘kan ya?” “Nggak tahu deh. Nggak kedengeran tadi. Tahu-tahu aja dia nangis,” terang Rini seraya menunjuk Anika dengan dagunya. Interaksi ketiganya dilihat oleh kedua remaja itu. Mandy memicingkan mata penasaran dengan paras wanita yang menyurukkan wajah penuh air mata pada d**a bidang Hendra. “Ternyata si bule namanya lebih Indonesia dibanding kita ya, Dy?” “Woy, yailah malah kepo,” tambah Yasinta seraya mencolek Mandy yang mulai mencondongkan tubuh mendekat ke arah Hendra. “Aku penasaran dengan wajah ceweknya.” “Kita deketin saja. Toh, mas Hendra datang bareng kita.” “Ayo kalau gitu.” “Mas Hen, temannya kenapa?” tanya Mandy. “Lagi sedih aja,” jawab Hendra seraya mengurai pelukan. “Dah ya, jangan sedih lagi yuk, isi dulu perutnya. Nggak lucu besok hari pertama kerja kamunya sakit,” bujuk Rini seraya mengusap punggung Anika dengan lembut. “Aku mau ketemu Aryo, Rin. Tapi aku takut,” adu Anika disela sisa isak tangisnya. “Iya, aku tahu. Kamu harus sabar dulu. Tadi udah sempat lihat ‘kan? Aryonya sehat tuh. Harusnya kamu seneng.” “Iya seneng. Tapi pingin peluk. Aku ibunya Rin. Ibunya hiks ….” “Iya Ibu curut. Masa Tante kece ini yang jadi ibunya. Mertuanya galak gitu, serem,” kata Rini seraya mengedikkan bahu. “Tuh aku aja merinding, ingat muka medusa itu. Dah ya, sini lap dulu mukanya. Malu nih dilihatin dua gadis cantik,” ujar Rini lagi yang kemudian menoleh pada dua gadis yang berdiri di sebelah Hendra dan berhenti agak lama menatap pada Mandy. “Aku tuh tahu ya, manusia itu dibilang banyak yang mirip. Tapi nggak tahu kalau bakalan sekebetulan ini miripnya,” kata Rini seraya menatap pada Mandy dan juga Anika bergantian. Anika sendiri masih memunggungi keempat orang tersebut dan sibuk membersihkan wajahnya dari sisa tangis jadi belum melihat pada gadis yang Rini maksud. Mandy yang diamati oleh Rini menjadi ikut penasaran dan mendekat ke arah Rini. “Saya Mbak?” tanyanya. “Eh iya Neng. Mirip kamu sama sahabat saya ini. Iya ‘kan, Mas Hen. Jadi kakak beradik cocok nih. Kek anak kembar loh.” “I … ya.” “Kenapa gugup sih? Kamu nggak perhatikan temanmu ini mirip sama Anika?” tanya Rini yang menduga jika kedua gadis itu datang bersama dengan Hendra. Hendra ikut mengamati Mandy dan juga Yasinta. “Iya juga loh, sedikit mirip juga dengan Yasinta. Wajar sih kan papi mereka kembar.” “Iya dong ‘kan papi Edgar dan papi Noah emang kembar. Kalau mbaknya ini ‘kan cuma mirip aja dibilang. Iya ‘kan?” kata Mandy. Anika yang kemudian menaruh perhatian pada pembicaraan di belakang tubuhnya seketika berbalik badan dan dengan selebar wajah yang memerah tanda habis menangis menatap kaget ke arah Mandy dan juga Yasinta. Begitu pun dengan gadis yang ada di depannya menatap dengan raut wajah yang tidak kalah kagetnya. “Mirip banget ‘kan, sama kamu jaman ABG?” bisik Rini mengusir kekagetan Anika.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD