HANYA BISA MELIHAT DARI JAUH

1311 Words
Aryo, bocah kecil yang tadi mencuri pandang pada sang papa dengan takut-takut karena menyadari jika pria dewasa yang sedang mengendarai kendaraan tersebut sedang dalam amarah, sejak masuk ke dalam mobil. Bocah kecil yang setiap hari selalu mendapatkan tatapan penuh amarah kebencian dari sang nenek menjadi hafal akan hal itu. Hingga ia memilih memeluk sang pengasuh dan menyembunyikan wajahnya di d**a, Tati. “Sialan enak betul mereka memperlakukan anakku seperti itu?!” Gafi sungguh seram sampai memukulkan kepalan tangannya pada stang mobil. Mereka kini sedang berhenti di lampu merah. Ia tak habis pikir jika tidak melihat dan mengalami sendiri hari ini, bagaimana perlakuan sang mama terhadap buah hati semata wayangnya. Penyesalan Gafi semakin dalam. Gafi kemudian menoleh ke belakang pada Tati dan Aryo. “Kenapa kamu nggak pernah cerita, Tati?” “Mas Aryo yang melarang Pak. Katanya takut Bapak sedih.” “Apakah sebelum hari ini tangan Aryo sempat terluka?” Tati menggeleng. “Tidak, sebelumnya baik-baik saja. Dan soal mobil yang hancur itu. Sebetulnya nyonya Eltara yang menyuruh Banu untuk merebut dari Mas Aryo. Maaf sekali Pak, tapi begitulah apa yang saya dengar sendiri karena saya tepat berada di belakang Nyonya tadi.” Tati sudah tidak tahan untuk menyembunyikan fakta. Toh, sudah ketahuan semuanya, biar saja basah sekalian. Tati mengusap rambut Aryo yang tampak berkeringat. Aryo sudah tertidur berbantal pangkuan Tati. Bocah itu kelelahan dalam perjalanan ke acara ulang tahun temannya. “Kasihan anakku sampai seperti itu,” gumam Gafi dan kembali memusatkan perhatian ke jalan. Dua puluh menit kemudian, Gafi segera mengambil alih Aryo setelah membangunkan putranya tersebut. Kini mereka telah tiba di mall, beruntung Gafi mendapatkan tempat parkir tak jauh dari pintu lobby samping. Sementara itu Anika bersama dengan Rini kini juga sudah berada di sebuah lobby mall, mereka menunggu kedatangan Juna dan Yandi. Setelah tadi sempat beristirahat selama dua jam. Citra menghubungi Anika untuk bertemu dengan Veli di mall ini juga. Anika tersenyum dengan tangannya melambai saat melihat Veli memasuki lobby mall. “Tante, Ika di sini.” “Hai Sayang.” Mereka lantas berpelukan dan Anika mencium punggung tangan Veli. “Cepat sekali kamu besar ya. Kita cari tempat makan dulu yuk? Tante udah lapar banget.” “Tapi Tante?” Anika berusaha menolak karena rasa sungkan tetapi tarikan tangan Veli dan dorongan bahu dari Rini tak urung membuatnya mengikuti kedua wanita itu. “Jangan khawatir kalau makanmu banyak nanti Tante minta ganti sama ibumu. Hi hi hi,” goda Veli. Mereka bertiga menyusuri sepanjang deretan toko-toko itu yang awalnya acara akan makan terlebih dahulu tertunda karena Veli tertarik dengan melihat-lihat koleksi sepatu terbaru di sebuah brand ternama. Anika memilih tidak ikut dengan Veli serta Rini ke dalam toko, ia memilih untuk berjalan santai. Pandangan Anika berhenti pada riuhnya suara tawa anak-anak pada sebuah restoran cepat saji. Ia mengulum senyum melihat kegembiraan para bocah tersebut. Tepatnya pada acara ulang tahun, ia teringat dengan sang buah hati yang sebentar lagi juga akan berulang tahun. Andaikan mereka bertemu ingin rasanya Anika juga merayakan ulang tahun anaknya seperti anak itu, tentu saja jika ia sudah bisa mengumpulkan banyak uang. Anika kemudian menoleh pada sumber suara yang sangat ia kenali. “Pokoknya Aryo bebas mau ngapain sore ini ya. Nanti malam kita tinggal di apartemen.” “Aryo mau mobil merah Pa.” “Iya nanti Papa belikan mobil warna merah ya. Aryo bisa main dulu sama teman-teman di pesta ya, Nak.” Reflek Anika mundur dan sedikit bersembunyi di balik pilar besar saat Gafi bersama dengan bocah kecil yang Anika duga sebagai Aryo dan satu wanita muda yang sampai saat ini masih Anika ingat sebagai pengasuh Aryo berjalan melintas di depan pilar tempatnya bersembunyi. Tak kuasa ia membekap mulutnya yang sedikit menganga menahan isak tangis yang tak kuasa ingin mendobrak keluar dari rongga tenggorokan. “Anakku,” gumam Anika lirih. “Udah besar kamu, dek. Gantengnya anak Ibu. Sehat selalu ya nak. Maaf Ibu nggak ada buat adek,” gumam Anika pada dirinya sendiri. Tak kuasa setitik air mata mengalir membasahi pipinya dan segera ia tepis dengan punggung tangan. Ia tidak mau mereka melihat bahwa kehancurannya semakin menjadi saat ini. Hatinya kembali terinjak seperti saat dulu si jabang bayi direnggut paksa dari pelukannya. Dengan diam-diam Anika membuntuti ketiganya dan berdiri pada balik pilar menatap interaksi Aryo dengan temannya. Putranya tampak tersenyum lebar seraya memberikan sebuah bingkisan kado. Anika juga melihat bagaimana Gafi sangat memperhatikan Aryo dengan berjongkok di belakang tubuh Aryo mengjaga putranya. Anika menekan adanya yang berdebar penuh kerinduan dan cinta mendalam pada putra semata wayangnya itu. Rahimnya terasa berdenyut ikut merasakan kerinduan pada si pemilik tempat peraduan, tempat ia bergelung manja berproses menjadi bocah kecil dengan kepribadian yang ramah seperti yang dilihat oleh Anika saat ini. Tidak ada orang yang akan menyangka jika Aryo kecilnya pernah memiliki kelainan pada organ dalamnya. Putranya tumbuh sangat sempurna begitu juga pria di sebelahnya. Walaupun Gafi tidak pernah menalaknya tetapi juga Anika merasa tidak pantas menyebutnya suami karena saat Anika berbalik pergi meninggalkan pria itu dan bayi kecilnya saat itu juga Gafi sudah berhenti menafkahi lahir dan batinnya. Anika kembali tersenyum mendengar gelak tawa sang putra saat makanan untuknya sudah tersaji. Gafi sendiri sudah tidak tampak di dekat putranya dan Anika tidak ambil pusing dengan hal itu. Ia bahkan sudah sibuk mengeluarkan ponselnya mengabadikan gambar putranya dari tempatnya berdiri dengan asyiknya sampai tidak menyadari ada seseorang mendekat ke arahnya dari belakang. “Apa yang kamu lakukan di sini?” Anika lantas berbalik dengan tergesa-gesa hingga layar ponselnya menghadap ke arah sosok tersebut, yang tidak lain adalah Gafi. Gafi berdiri menjulang di depan Anika dengan gagahnya sama gagahnya dengan dahulu kala hanya terlihat sedikit lebih kurus dan letih. “Apa yang kamu lakukan di sini?” ulang Gafi dengan pertanyaan yang sama. “Tidak ada.” “Kamu mengambil beberapa gambar anakku dan kamu bilang tidak ada yang kamu lakukan,” kata Gafi lagi seraya menunjuk layar ponsel yang masih menyala ke arah Gafi. “A … ku hanya mengambil beberapa fotonya sebagai kenangan,” jawab Anika lirih dengan d**a yang berdebar penuh antisipasi atas reaksi Gafi berikutnya. “Apa kamu tidak mau menanyakan kabarnya?” tanya gafi seraya menatap wajah cantik Anika lekat-lekat. Anika tidak menyangka dengan reaksi gafi sehingga ia menekan salivanya kasar dan dengan bola mata yang membulat beradu pandang dengan Gafi. “Bolehkah? Masih pantaskah aku untuk tahu keadaannya?” Sementara itu, Rini baru saja memasukkan ponselnya dan menegakkan kepala serta menyadari jika Anika tidak lagi ada di toko bersama dengan dirinya dan Veli. “Heh?! Di mana ibu Curut itu sih? Duh! Kalau hilang bisa repot ini. Anak perawan mencari janda judulnya.” “Siapa yang ibu Curut?” tanya Veli dari belakang tubuh Rini. “Itu si Ika. Kok, bisa ilang sih? Kan nggak mungkin yak jam segini digondol Wewe.” ‘Hush … mulutmu itu. Mana ada seperti itu,” tegur Veli. “Mungkin kamu lupa dia pamit ke mana gitu?” tambah Veli. “Nggak Tante. Rini pasti ingat itu. Dia itu … aduh, gimana ini bisa dicincang Bu Citra kalau dia hilang. Kan dia janda cantik kalau diculik brondong gimana atau diculik trus dijual organ tubuhnya?” kata Rini panik. “Jangan ngawur, ah! Ayo cari dulu.” “Good idea,” balas Rini dengan lebih dulu melangkahkan kaki keluar toko. “Good idea, Rini. Kamu ke kiri, Tante ke kanan. Kalau udah ketemu kita ketemu di restoran jepang di lantai 3 ya.” “Siap bos.” Akhirnya mereka berpencar mencari keberadaan Anika. Selang sepuluh menit kemudian langkah Rini terhenti saat melihat penampakan Anika dan pria yang dirinya tahu pasti sebagai mantan suaminya dahulu. Secepat ini mereka bertemu kembali, akankah takdir mereka akan bersatu kembali. Rini memelankan langkah dan mendekat ke arah keduanya. Melihat raut wajah Anika yang mulai keruh dan hendak menangis Rini tahu keberadaannya sangat dibutuhkan oleh sahabatnya tersebut. Rini bergerak semakin mendekat saat derai air mata membasahi wajah Anika.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD