BERLAKU TIDAK ADIL

1540 Words
Setengah jam kemudian nampak sebuah mobil sedan memasuki halaman dan segera keluarlah Gafi dari balik kemudi. Pria itu tersenyum saat mendapati sang putra berada di teras dengan mendekap botol minuman di dadanya. Mainannya sudah dirapikan dalam sebuah box berukuran tanggung tak jauh dari kursi besi yang didudukinya. “Anak Papa sudah siap?” “Sudah Pa,” jawab Aryo dengan antusias. “Jadi pergi ‘kan, Pa?” “Jadi dong. Tuh kado untuk Jason sudah ada di mobil. Papa istirahat sebentar lalu siap-siap dan kita pergi ya?” “Iya, Papa. Aryo tunggu di sini ya.” “Kenapa Aryo nggak masuk saja, sama Papa?” “Nggak mau Pa, ada Banu di dalam. Mainan Aryo direbut terus. Ini lihat, tangan Aryo sampai terluka, perih Pa,” adu Aryo seraya menunjukkan lengan kirinya yang terdapat segores lecet dan sudah diobati. Gafi mendesah panjang matanya mencari penampakan mobil sepupunya Nindy yang tadi tidak sempat ia perhatikan. “Sabar ya, Aryo ‘kan lebih besar. Harus lebih mengalah dengan Banu,” kata Gafi seraya mengusap puncak kepala anaknya. “Sudah dikasih obat tangannya ‘kan. Ayo masuk, sama Papa,” ajak Gafi, dan kali ini Aryo tidak bisa menolak. Aryo menuruti perintah papanya dan bergandengan tangan mereka ke dalam rumah. “Nah itu dia. Gafi kamu harus ajari anakmu untuk tidak gampang merajuk. Baru dipinjam sebentar mainannya sama sepupunya kok, langsung pergi begitu saja,” tegur Eltara begitu melihat batang hidung anaknya. “Mama tidak lihat tangan Aryo lecet ini, kata Aryo tangannya terluka saat Banu merebut mainannya,” balas Gafi yang melihat mobil kesayangan Aryo ada pada Banu. Bahkan bocah yang hanya berselisih satu tahun dengan Aryo tersebut sudah melepasi semua ban mobil dan membenturkan badan mobil mainan itu di permukaan lantai. Gafi yang awalnya tidak ingin memperpanjang masalah jadi tersulut emosi. Apalagi dalam keadaan baru saja kembali setelah bekerja seharian. Tentu saja dirinya merasa penat dan sedih melihat keadaan putranya. “Halah … alasan anakmu tukang mengadu saja itu. Mana ada, pasti tangannya luka karena tergores mainan lego itu. Sudah Mama bilang, jangan kasih dia mainan seperti itu nggak ada untungnya. Mending anakmu suruh belajar sambil bermain calistung.” Aryo mendongak menatap Gafi dengan matanya yang berkaca-kaca seraya menunjuk pada Banu. “Pa lihat, mainan Aryo dirusakin Pa,” rengek Aryo. “Tuh ‘kan, lihat dia pengadu. Anak cowok kok, cengeng sekali. Tukang merajuk dan pengadu,” tambah Eltara, lebih membela cucu sepupu daripada cucu kandungnya. “Ma, Aryo ini masih empat tahun. Masih waktunya dia untuk bermain bukan belajar matematika. Aryo juga sudah mulai belajar mengenal huruf kok, pasti Mama tidak tahu ‘kan? Anakku bahkan paling cerdas di sekolahnya. Jangan bilang, jika Mama akan meragukan pilihan tempat pendidikan anakku. Mama tahu sendiri jika sekolah favorit itu pilihan Mama. Gafi sudah cukup menuruti kemauan Mama. Dan soal aduan, apa Mama tidak lihat, itu mainannya diperetelin begitu." Gafi menunjuk dengan dagunya pada mainan Aryo di tangan Banu. Eltara mendengkus dan membuang muka sekilas melarikan tatapan tajamnya yang merasa ditelanjangi oleh anaknya. Terlihat sekali jika dirinya tak pernah peduli dengan apa yang terjadi kepada cucu semata wayangnya ini. Dalam hatinya membenarkan semua ucapan Gafi tetapi ia terlalu gengsi untuk mengakui. “Papa … mobil-mobilan Aryo, Pa!” rengek Aryo seraya mengguncang tangan Gafi yang masih menatap mamanya yang duduk santai. “Lihat itu, Banu merusak mobil mainan Aryo saja Mama diam saja. Mereka ini masih kanak-kanak, Ma. Bertengkar itu wajar, tetapi jika salah satu dari mereka memang berbuat curang seharusnya ditegur, dong. Nindy lihat kelakuan anakmu itu, apakah kamu tidak ingin menegurnya? Ajari bagaimana menjaga milik orang lain yang dia pinjam," tegur Gafi dan kali ini, ia tidak menahan amarah yang tercetak jelas di wajahnya. “Mas Gafi, anakku masih kecil. Mana mengerti dia," bela Nindy, dengan raut wajah tampak tersinggung. “Apa bedanya dengan Aryo? Mereka hanya selisih satu tahun. Budi pekerti itu ditanamkan dari semenjak kecil. Jangan terlalu memanjakan anak jika kamu tidak ingin dia kelak menjadi pembangkang.” Nindy kini dengan sorot matanya menahan amarah terhadap Gafi dan melirik tajam ke arah Aryo, sebelum langsung merampas mobil mainan yang berada pada genggaman Banu dan melemparkan ke arah Gafi dan Aryo. Hampir saja serpihan pintu mobil yang pecah mengenai kaki Aryo jika saja Gafi tidak langsung merengkuh tubuh sang anak dan menggendongnya erat. Gafi menyorot tidak percaya ke arah Nindy. “Pantas saja anakmu tidak tahu aturan. Ibunya saja tidak pernah berubah sedari dulu, KASAR.” “Pa, mobil Aryo Pa,” rengek Aryo lagi menatap sedih pada mobil mainan kesayangan yang kini hancur. “Jangan cengeng Aryo! Papamu bisa belikan lagi nanti!” herdik Eltara. “Mainan murahan begitu aja ditangisin. Bikin malu kamu, jangan lembek sama tamu!” Gafi mengangguk-angguk dengan wajah penuh pemahaman baru. “Gafi baru tahu sekarang. Ternyata begini cara Mama membagi kasih sayang? Gafi pikir, selama ini hanya aduan tidak berdasar dari Aryo yang merasa dibedakan. Ternyata semuanya benar,” kata Gafi dengan sorot kecewa pada Eltara yang sepertinya tersadar dan kemudian menatap Gafi dengan wajahnya yang memucat. Selama ini Eltara selalu menutupi sikap tidak suka terhadap cucunya itu jika ada Gafi di rumah tapi kini semua kedoknya terbuka. Eltara punya alasan yang sangat besar untuk membenci Aryo sejak Gafi membawa bayi Aryo ke rumah ini bersama dengan ibu kandungnya yang kini entah berada di mana. “Mbak Tati tolong kemasi semua pakaian dan mainan Aryo, juga dengan pakaianmu. Sebentar lagi aku suruh orang untuk mengangkut semuanya. Kita pindah. Bisa rusak mental anakku lama-lama tinggal di sini. Dan Ma, Banu dan Nindy itu bukan tamu, tapi masih keluarga kita. Mainan meski murah juga sesuatu yang harus dijaga, jangan menggampangkan karena pasti ada nilai bagi yang memiliki.” Eltara bangkit dari duduknya dengan tubuh yang menegang, menetap dengan raut tidak percaya kepada anaknya itu. “Apa maksudmu dengan pindah?” tanya Eltara mendekat ke arah Gafi yang reflek mundur menjauhi sang mama. “Pindah ya pindah. Gafi tidak mau pertumbuhan mental Aryo terganggu di rumah ini," ujar Gafi dengan nada jengkel yang belum juga surut. “Kamu juga pindah?” Gafi menatap keheranan pada sang mama. Bagaimana mungkin dirinya tetap bertahan jika tidak ada sang putra? Konyol! "Gafi rasa pertanyaan itu tidak perlu dijawab bukan? Semuanya sudah jelas, Aryo pindah begitu juga dengan Gafi. Masa Aryo pindah sendiri, Mama ini semakin aneh saja.” Gafi lantas berbalik dan langkahnya terhenti di depan kamar tidur, saat sang mama sudah menyusulnya dan berdiri tidak jauh darinya. “Bagaimana dengan Shalia, sejak kemarin dia belum kembali? Apakah dia akan ikut pindah denganmu?” “Terserah dia. Gafi bahkan tidak tahu, dia berada di mana sekarang.” “Dasar kamu, suami tidak becus! Kamu seharusnya memantau di mana istrimu. Kamu tahukan syarat dari Vincent. Anaknya tidak boleh keluar dari rumah ini.” Eltara mengingatkan dengan menggebu-gebu, raut kecemasan terukir jelas di wajahnya. Gafi menghela napas panjang, mengumpulkan kesabaran yang sedikit demi sedikit mulai terkikis. “Ma. Jika dia masih menganggap diri sebagai istriku, dia pasti akan mengikuti kemanapun aku pergi. Tapi jika dia tidak mau seperti yang sudah-sudah. Gafi tidak memaksa, toh selama ini. Dia lebih seperti anak kandung Mama daripada Gafi sendiri. Gafi sudah cukup bersabar, Ma. Semua orang punya batas kesabaran masing-masing dan masa depan Aryo lebih penting dari apapun juga. Seharusnya Mama lebih mengkhawatirkan Aryo daripada Shalia.” “Kamu tidak bisa melakukan hal ini kepada Mama, Gafi!” herdik Eltara dengan penuh emosi, bahkan kedua tangannya sudah mengepal di sisi tubuhnya. “Bisa Ma. Maaf, Gafi ingin bahagia kali ini. Umur, kita nggak akan pernah tahu. Harta, juga tidak akan dibawa mati, apalagi kedudukan, karena roda kehidupan ini berputar dan Tuhan bisa sewaktu-waktu akan membalikkannya.” “Sejak kapan kamu mulai pintar berbicara dengan mama?” dengkus Eltara dengan wajah menatap muak. “Sejak Mama berlaku tidak adil dan lebih mengagungkan materi.” “Kamu lupa … dengan materi itu juga, Mama dan Papa menyekolahkanmu supaya menjadi penerus Papa.” “Betul. Tapi Mama lupa satu hal, itu adalah kewajiban orang tua terhadap anaknya. Salah satunya adalah mencukupi pendidikannya. Bukan keinginan Gafi untuk lahir dalam keluarga yang seperti ini.” Gafi mengedikkan bahu lantas membuka pintu kamar dan masuk bersama dengan aryo. Tak lupa Gafi menguncinya mengantisipasi sang mama akan menerobos masuk dan meneruskan perdebatan yang selama hampir enam tahun ini selalu mereka ributkan. Lima belas menit kemudian Gafi keluar dengan menggendong Aryo di satu tangannya dan membawa tas jinjing di tangan yang lain. “Kita bawa secukupnya dulu, Tati," kata Gafi begitu melihat Tati menenteng dua tas besar dan satu koper milik Aryo. Mendengar suara Gafi, Eltara yang masih membantu Nindy untuk menenangkan Banu yang rewel karena mobil yang telah ia hancurkan itu. Mendekati Gafi dengan wajah memerah marah. “Lihat, Mama jadi pusing karena Banu tidak juga diam sedari tadi. Rewel terus, semua karena Aryo yang mengadu kepadamu.” “Jangan konyol Ma, Gafi melihat dengan mata kepala sendiri. Berhenti menyalahkan Aryo.” “Nindy, aku peringatkan kepadamu jauhkan anakmu dari anakku. Selama kamu belum berhasil mendidiknya dengan benar.” “Mereka bersaudara, Mas.” “Lantas kalau bersaudara, kamu bebas membiarkan anakmu menindas anakku, begitu? Jangan mimpi!” Gafi keluar rumah bersama dengan Aryo dan Tati meninggalkan dua orang dewasa dan satu anak kecil itu terpaku di ruang tamu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD