Empat jam kemudian setelah Hendra mengantarkan kedua gadis itu ke tempat kos mereka. Hendra segera menuju kantor Angkasa Gemilang setelah atasannya Yanto menghubunginya beberapa saat yang lalu. Sebagai bagian dari team investigasi dan pemantau lapangan, jam kerja Hendra tidak tentu dan harus bisa siap kapan saja tugas memanggil.
“Ada apa, Pak?” tanya Hendra begitu menutup pintu ruang kerja Yanto.
“Tuh, kamu dicari putri favorit,” jawab Yanto seraya terkikik.
Hendra mendesah lega. “Saya kira ada apaan,” ujarnya pada seorang gadis berpakaian seragam duduk setengah berbaring seolah perusahaan itu rumahnya sendiri.
“Kamu baru saja sampai, ya? Udah, istirahat belum?”
“Belumlah. Baru aja sampai ini.”
“Ajak dia jalan gih, sekalian refreshing. Udah seperti tempat karaoke aja di sini kalau ada dia sama Yasinta. Tiga hari ini dia cariin kamu terus. Katanya mau beli baju dan persiapan untuk ultah. Papinya sibuk, jadi nggak bisa antar.”
Mata Hendra membulat sempurna menatap ke arah Yanto dengan antusias. Hendra memiliki ide untuk membantu Anika kali ini.
“Kamu kenapa?”
“Pak. Bapak ‘kan, udah lama banget tuh ikut dengan bos besar. Hendra boleh tanya sesuatu nggak. Tapi Bapak janji dulu nggak boleh marah nih,” ujar Hendra.
Hendra tahu sekali bagaimana loyalitas dan pengabdian Yanto terhadap keluarga Berto.
“Ada apa nih? Kok, pakai begituan.”
“Janji dulu, dong.”
“Ya elah, pake janji segala kek sama cewek.”
“Serius ini, Pak.”
“Iya deh, janji. Ada apa?”
“Bapak tahu nggak, tentang masa lalu Dokter Noah?”
“Dokter Noah?” ulang Yanto menatap keheranan ke arah Hendra, ia menjadi ikut dibuat penasaran.
“Iya, Dokter Noah. Maksudnya hubungan percintaan dia sebelum dengan almarhum Bu Shella.”
“Nggak begitu tahu, sih. Dulu dia waktu aku join di sini sudah menjadi Dokter dan dekat dengan almarhum istrinya. Dokter Noah itu sama dengan bos besar. Sekali jatuh cinta sebetulnya. Kamu tahukan bagaimana setianya Dokter Noah dengan almarhum. Bahkan dari saat koma sampai tidak ada Dokter Noah semua yang mengurusi istrinya.”
“Kirain, Bapak tahu.”
“Emangnya ada apa kamu tanya begitu? Seandainya ada yang tahu pasti si bos. Mereka tidak hanya kembar tetapi sangat dekat, nggak ada rahasia di antara mereka.”
“Saya rasa. Saya tahu sesuatu tentang masa lalu Dokter Noah, tapi nih ya. Keluarganya tidak tahu atau mungkin dia juga nggak tahu.”
“Waduh, bisa panjang urusannya ini kalau sampai apa yang kamu katakan ini benar. Sebaiknya pelan-pelan mengorek informasi ini. Jangan sampai gegabah, bisa saja orang mengaku-ngaku. Apalagi dulu anggota keluarganya sempat hilang dan ada beberapa yang mencoba mencari peruntungan dan kamu tahu kan ceritanya bagaimana mereka berakhir. Siapapun yang berani bermain api dengan keluarga Berto tidak akan bisa menang melawan Edgar Berto. Pastikan dulu informasimu itu valid dan kumpulkan bukti seakurat mungkin. Bukannya aku meragukanmu, kamu adalah salah satu bawahanku yang paling jujur dan teliti. Aku masih percaya akan hal itu padamu.”
“Tentu Pak. Saya akan tanyakan pada ibu saya dulu semuanya. Kalau perlu saya akan tanyakan pada sumbernya.”
“Siapa, Dokter Noah?”
“Bukan, saya akan tanyakan dulu dengan mantan pacar Dokter Noah.”
Yanto terkekeh geli. “Kamu yakin, Dokter Noah memiliki kekasih selain almarhum?”
Hendra mengangguk tanpa berpikir. “Sangat yakin, kalau Bapak ketemu orang yang saya maksud pasti Bapak akan mengatakan hal yang sama. Mirip dikit Pak.”
“Kamu ini, apa nggak tahu di dunia ini ada tujuh wajah yang mirip paling tidak.”
“Bukan begitu Pak. Ibu saya bisa jadi saksinya. Beliau dulu pernah bekerja di rumah sakit yang sama tempat Dokter Boah menyelesaikan praktek koasnya. Bahkan saya salah satu anak yang beliau sempat rawat dulu.”
“Memangnya kamu sakit apa?”
“Dulu pernah usus buntu waktu bayi, Pak. Nanti deh, Bapak ikut saya ke kafe tempat dia bekerja.”
Yanto mengangguk-anguk menimbang usul Hendra.
“Mau ya Pak, bantu saya. Kasian anak itu Pak.”
“Boleh juga, aku dukung kamu asal buktinya valid.”
Hendra hanya mengangguk, ia tahu semua harus dilakukan secara baik dan tidak boleh sembarangan.”
♥
Hendra tersenyum simpul mendengar gelak tawa dua remaja yang bahkan masih memakai pakaian seragam seraya menyanyi lagu berbahasa korea seraya berjoget mengikuti gerakan para artis sangat lincah seperti yang aslinya.
Tawa itu berhenti sejenak saat ia membuka pintu dan berdiri bersandar pada sofa seraya bersedekap.
“Mas Hendra, kapan datang?” tanya Mandy.
“Baru saja. Kenapa berhenti?” tanya Hendra yang melihat Yasinta mematikan televisi dan semua peralatan canggih di ruang santai yang memang didesain sedemikian rupa agar para anak-anak keluarga Berto bisa bersantai.
“Mandy lapar, Yas juga. Jadi sekarang Mas Hendra temani kami makan. Papi bilang, Mas Hendra baru datang hari ini dari kampung ‘kan?”
“Iya, baru saja,” jawab Hendra seraya menatap kedua remaja cantik yang sangat berseri-seri itu. Tidak tampak wajah-wajah kelaparan.
“Mas akan antar kalian jika sudah berganti pakaian. Kalian tahu kan, peraturan sekolah tidak boleh memakai seragam diluar kegiatan yang diadakan oleh sekolah.”
“Tentu saja. Kami ganti pakaian dulu. Mungkin sekalian mandi ya biar segar,” kata Mandy.
“Mas tunggu di kantin ya.” Hendra butuh kopinya saat ini seraya memikirkan langkah apa yang harus ia lakukan berikutnya.
❤️
Aryo bermain di teras depan dengan ditemani oleh pengasuhnya.
“Mama belum pulang ya? Pasti masih lama.”
“Belum tuh. Mas Aryo kangen mama?” tanya Tati, seraya mengucap puncak kepala bocah kecil itu yang asik bermain lego.
“Kangen, tapi mama sibuk terus. Mama nggak pernah temani Aryo.”
“Mama ‘kan kerja.”
“Mama teman-teman Aryo juga kerja. Tapi selalu bisa jemput, beda sama Aryo. Aryo nggak pernah dijemput mama. Kalau ketemu mama pasti Aryo sudah ngantuk, mama juga capek.”
“Makanya Mas Aryo sama Mbak Tati aja ya?” Hati tati terasa ikut sedih dan simpati terhadap anak asuhnya ini.
“Mbak Tati bukan Mama Aryo. Mbak Tati pasti nanti juga menikah terus nggak urusin Aryo lagi.”
Aryo melirik wanita berumur 25 tahun yang sudah mengasuhnya sedari bayi itu. Sosok ibu yang anak itu tahu adalah dari kasih sayang pengasuhnya itu. Mama dan nenek yang dirinya kenal tak satupun tampak peduli dengannya. Keberadaannya di rumah ini saja seperti hanya sebagai pelengkap. Setiap sarapan hanya sang papa saja yang sering mengajaknya mengobrol dan juga Tati.
Mamanya yang pendiam hanya mengamati dirinya dalam diam. Semua kebutuhannya disiapkan oleh Tati.
“Mbak Tati, kalau menikah bawa Aryo ya? Aryo mau tinggal sama Mbak Tati saja. Aryo janji, nggak akan pernah nakal dan selalu menurut dengan Mbak Tati. Aryo sudah sehat sekarang, ‘kan?”
Tati menelan salivanya kasar menghalau gumpalan yang terasa mencekek tenggorokannya. Hatinya terenyuh menatap pada mata polos yang menunggu jawabannya dengan penuh pengharapan. Sungguh bocah yang malang, terpisah dari ibu kandung di depan mata Tati yang menjadi saksi malam naas tersebut. Tati juga ikut terguncang pada malam kelam itu. Ia yang dibesarkan dalam kasih sayang kedua orang tua melihat kekejaman di depan mata saat itu dengan berlandaskan kekuasaan memisahkan seorang anak dari ibunya. Kini dirinya yang menggantikan sosok itu, ia tidak ingin membayangkan jika dirinya yang berada pada posisi itu. Sungguh akan menorehkan luka batin yang dalam. Ia tak akan sanggup, Tati sudah menganggap Aryo juga seperti anaknya sendiri. Ingin ia mengungkapkan kebenaran pada bocah kecil itu. Andai saja Tati punya keberanian untuk membawa Aryo pergi mencari ibu kandungnya. Namun logikanya masih bisa berpikir dengan jernih menimbang segala konsekuensinya, tidak hanya dirinya yang akan celaka namun juga bisa jadi ibu kandung Aryo. Bisa juga ada kemungkinan jika ibu Aryo tidak mau lagi menerima buah hatinya. Mengingat kecantikan ibu Aryo, bisa jadi wanita yang lebih muda darinya itu sudah memiliki pendamping hidup saat ini dan berbahagia dengan kehidupannya.
“Maaf Mas Aryo. Mbak, bukannya nggak mau. Tapi kasihan papanya nanti sedih kalau Mas Aryo nggak ada. Mama juga pasti sedih.”
“Kalau papa mungkin sedih tapi kalau Mama sepertinya nggak akan sedih,” kata Aryo seraya menunduk dan menggaruk-garuk salah satu atas mobil-mobilan dengan ibu jarinya.
“Ah … nggak gitu kok. Di mana-mana seorang Mama pasti sedih kalau anaknya nggak ada.”
“Tapi nyatanya, Aryo sakit aja Mbak Tati yang ada buat Aryo. Aryo nangis mau Mama. Tapi Mama selalu marah, Aryo cengeng, bandel. Gitu katanya.”
“Mama nggak pernah sayang sama Aryo, Mama pernah bilang gitu sambil nangis,” tambah Aryo dengan airmata yang sudah menetes pada punggung tangannya.
Tati menggeser duduknya mendekat dan merengkuh tubuh kurus itu ke dalam buaiannya.
“Anak pintar nggak boleh cengeng. Mas Aryo nggak bandel kok. Nyatanya selalu nurut kata Mbak Tati. Udah jangan sedih lagi, sebentar lagi papa pulang, katanya mau pergi dengan papa ke ulang tahun Jason?”
Aryo lantas menghapus air matanya dengan punggung tangan. “Oh iya, papa bisa sedih lihat Aryo nangis.”