Anika segera memakai kaos kaki dan sepatunya, sebentar lagi temannya Rini akan segera datang menjemputnya.
"Jangan lupa sarapan dulu," tegur Dewi sang nenek.
"Kayaknya nggak sempat, Nek," jawab Anika seraya menaruh tas ranselnya.
"Nggak boleh gitu, itu mubazir dong … yang udah Nenek masak," ujar sang nenek seraya menyendok nasi serta lauk pauk.
Anika sebetulnya juga merasa lapar, apalagi lauk pauknya adalah makanan kesukaannya. Sekali lagi ia mendongak pada jam dinding rumahnya masih pukul enam pagi. Waktu seolah bergerak, tetapi rasa antusias untuk merasakan suasana baru di tempat yang berbeda membuatnya ingin segera meninggalkan rumah ini.
“Makan dulu Nak,” kata Dewi seraya mengulurkan piring berisi sarapan pada Anika yang duduk di kursi ruang tamu.
“Rini juga pasti sedang sarapan. Ingat Nak, perjalananmu jauh nanti apalagi memakai bus. Nenek sudah menyiapkan bekal selama di jalan biar kamu nggak usah beli-beli lagi. Nanti saja kalau sudah di sana kamu belanja kebutuhan pokokmu ya.”
Anika hanya mengangguk dan membiarkan sang nenek berlalu mengambilkan satu tas jinjing berukuran sedang berisi bahan makanan dan minuman. Anika mengulum senyum seraya mengunyah sarapannya. Ia yang sudah berusia 23 tahun masih diperlakukan oleh neneknya seperti bocah kecil. Segala keperluannya masih juga sang nenek yang menyiapkan.
“Mbah, beneran nggak apa ini Ika tinggal?” Anika menjadi merasa tidak tega meninggalkan neneknya tersebut.
“Iya, nggak apa. Dua bulan lagi ibumu akan kembali. Ibumu akan membantu Simbah. Itu kiosnya juga sudah hampir jadi. Baiknya ya, orang yang mau membantu kita ini.”
“Iya loh, Ika juga baru sadar ini. Kok ada ya, orang mau bagi-bagi rejeki. Masa benar bantuan dari pemerintah, ya Mbah? Ini kios loh, Mbah bukan cuma uang beberapa ratus perak.”
“Simbah, sempat tanya sama pak Lurah. Katanya ada bantuan dari orang baik dan hanya sepuluh kepala keluarga beruntung yang dapat. Udah deh, Mbah nggak tanya lagi gimana-gimananya.”
Anika kemudian kembali berkonsentrasi pada makanannya, ia tak lagi memperdulikan hal itu. Ia merasa kembali bersemangat untuk mengejar cita-citanya sekarang.
Satu jam berlalu dan baru terdengar suara kendaraan berhenti di halam rumah Anika. Bukan suara motor yang biasa dipakai bapaknya Rini tetapi suara mobil. Anika melirik dari kaca jendela dan tampaklah Hendra beserta Rini turun dari mobil tersebut.
Anika segera membuka pintu rumah dan menyambut keduanya.
“Loh, kok bisa bareng Mas Hendra, Rin?”
“Iya, Mas Hendra bilang kita bareng dia aja.”
Anika yang merasa tidak enak hati hanya menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Pasalnya barang bawaan lumayan banyak dan pasti akan memenuhi bagasi mobil Hendra.
“Bawaanku banyak, loh,” ujarnya seraya tersipu malu.
“Tidak apa-apa kamu bisa taruh di jok depan. Jadi bisa lebih leluasa duduk di belakang bersama dengan Rini nantinya.”
“Iya, pokoknya kamu tenang saja. Ada sopir tebengan gratis ini. Toh kita belum beli tiket ya ‘kan? Udahlah nggak usah pikir yang nggak perlu,” ujar Rini sembari meraih bahu Anika dan memutarnya menghela memasuki rumah kembali.
“Aku mau minta bekal simbah untuk dijalan. Jajanan buatan simbah nomor satu enaknya,” timpal Hendra.
Dewi yang mendengarkan percakapan ketiganya hanya tersenyum simpul.
“Ayo sini masuk dulu, Simbah buat lemet dan semar mendem untuk bekal kalian di jalan nanti.”
Dewi mengantar kepergian Anika sampai punggung mobil Hendra tak tampak dari pandangannya. Ia tentu saja berharap dengan suasana baru akan menghadirkan semangat baru untuk cucunya menjalani hari-harinya. Sudah cukup kesukaran dan kesedihan yang mendera. Anggap saja Dewi jahat kali ini, namun ia ingin menebus segala dosanya dan juga sang suami Kuntarto. Dewi sejujurnya tahu ada yang tidak beres sedari dulu namun ia yang merasa tidak bisa berbuat apapun untuk melindungi sang putri dan cucunya saat mendiang sang suami saat masih hidup. Kini di akhir usianya ia ingin menebus semuanya. Semoga saja Tuhan mengijinkan pintanya terkabulkan.
♥
Citra sedang menghabiskan waktu liburnya bersama teman-teman setanah air di taman yang biasa menjadi tempat para TKW melepas penat dan rindu. Banyak dari teman-temannya berjualan makanan khas daerah masing-masing sampai juga berjualan busana dan lain sebagainya.
Beberapa kali ia menatap pada layar ponselnya, sejak Anika mengirimkan pesan bahwa gadisnya itu sudah berangkat bersama dengan Rini dan Hendra. Sedikit rasa lega menelusup hati Citra, terus terang melepas anak semata wayangnya untuk pergi dengan menggunakan kendaraan umum tanpa pengawasan sangat membuatnya kepikiran terlebih putrinya baru saja pulih. Terlebih saat ini sang putri berada dalam satu kota yang sama dengan papa kandungnya. Citra tidak berharap banyak juga, semoga saja mereka tidak pernah bertemu. Toh, kota itu sangat besar walau kemungkinan itu pasti ada, masih ada waktu sampai menunggu kedatangannya, ia tidak ingin Anika menghadapi semuanya sendirian, kini putrinya akan memiliki dirinya untuk mendampingi. Bagaimanapun segala sesuatu yang tersembunyi suatu saat akan terungkap. Ia tak sabar menunggu saat itu dan juga menyiapkan diri.
Apalagi kabar dari Veli bahwa madunya sudah berpulang. Bukan ingin Citra untuk kembali, namun ia ingin agar pria itu bisa memberikan keadilan untuk putrinya. Citra sudah menyiapkan diri untuk menerima segala konsekuensinya, dulu ia terlalu larut akan luka hati hingga menyembunyikan keberadaan sang putri dari pria itu. Tak patut bagi seorang istri untuk meminta cerai dari suaminya dalam keadaan mengandung tetapi semua di luar kuasanya, kehendak bapak tidak bisa terbantahkan. Namun bapaknya kini sudah berpulang dan sang ibu tidak akan bisa lagi menyetir keinginan hatinya maka dari itu Citra tidak akan memperpanjang masa kontrak kerjanya. Ia akan membawa ibunya untuk ke kota menyusul anak perempuannya.
“Halo Jono, bagaimana kamu sudah dapat rumahnya?”
“Belum, tapi jika kamu mau. Kamu bisa tinggal di salah satu rumah yang dikontrakkan. Tidak usah membayar, cukup kamu merawatnya saja sampai kamu dapatkan rumah yang kamu inginkan. Oh ya, waktu ini dia ke sini. Sepertinya dia merindukanmu.” Jono hanya memancing reaksi Citra, tanpa memberitahu jika Noah datang ke rumah sakit tempat Anika sempat di rawat.
“Ah, itu tidak mungkin. Jika dia rindu, sudah pasti dia tidak akan pernah pergi dan mencariku. Aku sebetulnya sungkan, tapi semua demi Anika. Aku nggak bisa biarkan anakku berlarut-larut dalam kesedihannya. Aku pinginnya dia fokus sama kuliahnya, tapi anak itu pasti juga ingin bekerja. Gatal memang kalau sudah biasa pegang uang sendiri terusnya diem. Kalau diam terus di desa, aku takutnya dia semakin terpuruk.”
“Ha ha ha, tidak perlu sungkan.Iya, pasti semakin kepikiran. Biasa kerja terus diem itu sama nggak enaknya. Kita masih berteman bukan? Sekarang giliranku yang akan membantumu.”
“Terima kasih Jono, jika bukan karenamu. Jelas aku tidak berani mengambil langkah ini. Orang-orang yang sudah menyakiti anakku harus mendapatkan ganjarannya.”
“Aku paham, semoga semua sesuai dengan apa yang kamu mau. Tapi ingat Citra, tidak ada dendam yang menghasilkan kebaikan. Cukup kamu mencarikan keadilan untuk Anika.”
“Aku tahu apa yang aku lakukan. Makasih udah memperingatkan, tapi aku juga nggak bisa diem anakku diperlakukan seperti itu. Mereka sudah sangat terlalu hinggal Anika sebelumnya susah mendapatkan pekerjaan. Oh ya … hari ini, Anika ke sana bersama dengan Hendra.”
“Baiklah aku akan meminta istriku menemuinya di tempat kerjanya. Tolong kirim aku alamat kerjanya?”
Citra lantas menyelesaikan panggilan dan segera memberikan alamat tempat kerja dan kos Anika.
♥
Anika merasa bahagia dan tidak canggung bersama dengan Rini dan Hendra, saling bersenda gurau serta bernyanyi bersama.
“Suaramu bagus Ika. Gimana kalau kamu gabung sama band punya temanku?” tanya Hendra.
“Oh, tidak bisa. Nanti dia akan bergabung denganku dan Juna sama Yanto. Kami sekarang kumpul semua,” balas Rini dengan sangat antusias.
“Bagus kalau begitu, temanku ada yang punya usaha kafe juga mungkin jika kalian punya waktu luang bisa manggung di sana.”
“Pasti seru tuh, maunya sih kami manggung di tempat-tempat acara juga gitu. Kenalkan kami dong, Mas,” kata Rini lagi.
“Tentu saja, gampang itu mudah diatur yang terpenting tidak mengganggu jam kerja kalian.”
Anika yang sejak tadi hanya menyimak pembicaraan kedua orang itu seraya tersenyum tipis akhirnya angkat bicara, “Aku rasa bisa kok nanti kita nyanyi dulu. Sebelum aku lanjut kuliah malam. Ibu akan pulang dan menyusul katanya.” Sudah bisa bekerja lagi dan tidak tertolak saja, ia sangat bersyukur.
“Wah, pas banget itu deh. Juna sudah punya jadwal kita manggung juga. Semua lagu pasti dengan mudah kamu kuasai nanti. Ika ‘kan pintar, cepat menghafal lirik,” tukas Rini.
“Memangnya kapan kuliahmu dimulai?” tanya Hendra.