Jangan Nyinyir

1481 Words
Sudah sangat larut saat Gafi sampai kediamannya, mendapati Aryo dalam gendongan pengasuh dan masih terjaga. Gafi dengan wajah lelah dan mengantuk, mendekati putranya tersebut. Mengulurkan tangan mengusap puncak kepalanya dengan sayang. Bingkai wajah Aryo sangat mirip dengan Anika, satu-satunya wanita yang sangat ia rindukan dan membuat penyesalan serta rasa bersalah semakin menggelayuti hatinya, sesak rasanya hingga ia menunduk dan menyematkan kecupan di kening sang putra. Rasa lelah, lahir batin searian ini terasa sedikit terobati melihat waja tampan dan polos sang putra. “Kok, bangun anak Papa? Masih gelap ini, Nak?” “Aryo kangen, Papa,” jawab anak itu lirih. “Mau bobo, sama Papa?” “Mau banget.” Gafi mengulurkan tangan dan mengambil alih Aryo dari gendongan Warti. “Istirahat Mbak. Biar saya yang urus Aryo.” “Makasih, Pak. Mbak, tinggal dulu ya ganteng,” pamit Warti seraya melambaikan tangan. Aryo membalas lambaian tangan Warti dan kemudian menyurukkan wajahnya pada ceruk leher papanya. Gafi mendongak menatap pintu kamar yang ditempatinya bersama sang istri yang tertutup rapat seraya mengusap punggung Aryo dengan sayang. Kamar Aryo terletak di lantai dasar hingga memudahkan bocah kecil itu untuk melakukan aktifitas, tanpa harus naik turun tangga menguras tenaga. Gafi masih sangat protektif kepada anaknya walaupun jantung baru sudah tersemat pada d**a anaknya itu. Aryo sudah kembali terlelap seraya memeluk sang papa, tetapi tidak begitu dengan Gafi walau sejatinya tubuhnya juga terasa sangat lelah tak karuan. Bayangan wajah penuh tawa Anika tak kunjung teralihkan dari benaknya. Ia mencoba memejamkan matanya tetapi bayangan itu semakin nyata. Ia jelas harus melakukan sesuatu dan mendapatkan maaf dari wanita itu tentu saja. Ia akan kembali ke kota itu nanti, ah tidak. Sesegera mungkin akan ia lakukan. “Papa akan perjuangkan kembali mamamu untuk bersama dengan kita. Bagaimanapun caranya.” Janji Gafi tepat di puncak kepala Aryo. Melihat keberadaan Hendra membuat gafi iri dan cemburu, walau sisi batinnya seakan mencemooh dirinya. Mengingatkan kembali bahwa antara dirinya dan Anika sudah tidak ada ikatan apapun. Mereka menikah siri dan sudah berpisah selama lima tahun, Gafi sama sekali tidak memiliki hak untuk mengusik wanita muda itu, tidak ada. ♥ Hendra membuka pintu mobil bersamaan dengan pintu depan yang terbuka, nampak ibunya berdiri di teras menyambut. “Lho kok, balik lagi?” “Tadi, Hendra ketemu sama Anika dan Dini. Hendra balik besok saja dengan mereka.” Diah menghela napas panjang. “Ibu sudah berusaha memberikan mereka kesibukan, agar Anika tidak kembali ke kota. Tapi Citra, bersikeras untuk tetap ingin anaknya melanjutkan pendidikan. Semoga aja itu anak nggak kumat-kumatan di sana.” “Itu juga bagus Bu, paling tidak Anika menjadi ada kegiatan dan tidak berlarut-larut dengan depresinya. Lagian Dokter juga sudah bilang kalau dia sudah sembuh.” “Kasihan dia. Terjebak dengan keluarga kaya yang sombong dan tamak. Andai saja orangtua kandungnya masih ada dan lengkap,” kata Diah seraya duduk berhadapan dengan sang putra. “Maksud Ibu apa? Hendra nggak paham?” Hendra terkejut dan berpikir jika mungkin Anika bukan anak kandung Citra Larasati karena ciri khas wajahnya tidak seperti orang pribumi. “Ya itu, bapak kandungnya Anika.” “Ibu tahu?” “Tahu dong. Ibumu ini, dulu kerja di rumah sakit.” Hendra menjadi tertarik mendengar penuturan ibunya. Bagaimanapun ia yang dulu membawa Anika dan sang nenek pindah ke desa tempat mereka saat ini tinggal. Ia ingin membantu dan tak ingin setengah-setengah pastinya. “Siapa bapak kandung, Anika?” “Seorang Dokter koas dulu. Ibu yakin banget, dia orangnya. Sempat nggak percaya juga kalau itu Dokter bisa dekat sama Citra, soalnya terlihat orang kaya banget. Kulitnya bersih, gagah, mirip bule gitu. Anika jika diperhatikan lebih jelas. Mirip kok, dengan bapaknya itu. Lihat saja postur tubuhnya yang tinggi semampai, kulit putih rambut kek rambut jagung. Sungguh berbeda dengan kita, sama ibu dan neneknya juga beda.” “Ah … iya juga ya. Kira-kira, Ibu masih ingat tidak siapa nama bapaknya?” tanya Hendra seraya meraih gelas berisi air putih dan meneguknya, lantas tersedak saat mendengar nama yang terucapkan oleh sang ibu. “Dokter Berto. Ibu ingat betul itu namanya.” Diah menjeda seraya mengingat-ingat supaya tidak salah sebut kemudian setelah yakin dirinya pun kembali berkata, “Iya deh itu namanya, beneran itu. Dokter bule itu ganteng banget, ramah dan namanya beda.” Hendra tersedak saat sang ibu menyebutkan nama Berto. Satu-satunya orang yang berprofesi sebagai Dokter laki-laki dalam keluarga itu adalah Noah Berto. Hendra sungguh tidak menyangka jika nama itu yang disebut meski memang anak pertanya Dokter Noah mirip juga dengan Anika. “Kamu kenapa? Pelan dong minumnya!” Diah lantas bangkit dan mengusap punggung atas Hendra. “Ibu yakin?” tanyanya ulang. “Yakin beneran. Emang kamu kenal?” Hendra menatap sang ibu dan mempertimbangkan fakta yang ia ketahui. Hendra lantas berkata, “Hendra akan mencari tahu. Ibu tahu ‘kan apa pekerjaan Hendra.” “Tentu Nak. Tapi kita harus pelan-pelan. Membantu Anika tidak mudah. Neneknya yang kaku ditambah lagi keluarga bapaknya yang pasti kaya raya. Ibu nggak mau, Ika malah kembali terluka berurusan dengan keluarga kaya seperti mereka. Sudah cukup perbuatan mereka membuatnya depresi dan frustasi. Kalau itu yang terjadi sama ibu, dah pasti nggak akan sekuat dia. Dipisahkan dari anak sejak bayi merah. Memang teganya mereka itu, kejam!” “Hendra akan pastikan dulu, Bu. Tadi juga Ika menanyakan tentang anaknya.” “Kamu bilang apa?” “Hendra cuma bilang kalau anaknya sudah bersekolah sekarang. Ibu tahu, Hendra bekerja di salah satu perusahaan milik keluarga Berto.” “Masa?” Diah menatap pada putranya dengan terkejut. “Iya, maka dari itu kita harus ekstra hati-hati. Rahasia ini milik kita berdua saja. Mengorek informasi tentang keluarga Berto, lebih sulit dan berbahaya. Mengingat musuh bisnis mereka ada di mana-mana.” Diah mengangguk paham. “Tapi kamu tahu, kalau di keluarga itu ada yang berprofesi sebagai Dokter?” “Ada. Tetapi setahu Hendra, istri Dokter Noah belum lama ini meninggal karena kanker dan beliau tidak memiliki istri yang lain.” “Citra itu, memang tidak pernah menikah dengan bapaknya Ika.” “Oh … pantas saja kalau begitu.” Lega, paling tidak kecurigaan yang sempat terbersit tadi tidak benar adanya. “Gimana-gimana?” Diah yang bingung dengan pernyataan Hendra. “Iya … dulu majikan lama Hendra, ngatain Ika anak haram. Jangan-jangan, dia tahu siapa Ika, ya?” “Bisa jadi, mereka memang mencari tahu siapa istri muda anaknya. Apalagi menyangkut bibit, bobot, bebet. Anika pun sudah jelas anak diluar nikah, malu pastinya orang tua Gafi dapat menantu yang nggak jelas asal usulnya begitu. Tapi ya namanya orang kaya, mah bebas ya ‘kan?” “Nggak gitu juga sih, Bu. Tapi ya, kalau dipikir-pikir mungkin juga sih. Mereka mungkin loh ini ya, tebkan Hendra doang ini sih. Mereka tidak ingin, keluarga mereka malu memiliki menantu yang berasal dari silsilah yang tidak jelas, seperti yang Ibu bilang itu. Tapi kalau sampai keluarga Berto adalah keluarga Anika. Duh, Hendra nggak bisa bayangkan gimana keluarga mereka bersikap nanti.” “Berarti kita sepemikiran deh. Ngomong-ngomong, emang mereka kaya banget, ya keluarga Pak Dokter itu?” tanya Diah dengan penasaran. “Keluarga Berto?” Diah mengangguk seraya mencomot ubi rebus. “Bukan masalah kayanya. Mereka pasti membalas jika ada anggota keluarga yang tersakiti dan biasanya anti mainstream balasannya.” “Anti apa? Ah … ibu nggak paham bahasamu. Yang ibu tahu namanya orang kaya pasti ‘kan, harga dirinya tinggi, sundul langit. Pastilah nggak akan tinggal diam dia. Tapi, selama ini juga Ika nggak pernah dicari sama bapaknya. Kali aja tuh, lakiknya Citra emang nggak mau dari dulu. Malu punya anak sama Gadis Desa! Pantas Citra milih jadi TKW, lakiknya b******k … gitu!” “Ih Ibu jangan nyinyir gitu, lah. Dokter Noah itu termasuk bosnya Hendra. Pokoknya seremlah Bu. Pokoknya … mereka tega balas dendam.” “Baguslah biar kapok itu lelaki banci, eh! Tapi ‘kan, mereka sama brengseknya. Kalau dah punya istri ngapain ngelonin Citra dulu? Lagian si Gafi itu, badan aja besar tapi bisanya sembunyi di ketek istri. Emang harta benda dibawa mati.” “Nggak gitu juga kali, Bu.” “Ini ‘kan, tebakan itu aja. Kali aja ya, tahu yang dikandung Citra bayi perempuan. Makanya si Noah itu nggak mau mengakui atau mungkin aja ada masalah lain sama si Itu.” “Itu siapa? Itu temannya dulu. Ada satu cowok dari kota juga dulu suka sama Citra. Kek, rebutan deh dulu. Secara Citra sama ibu dulu kembang desa. Untung bapakmu tergile-gile sama ibu. Masa iya, ibu nggak kebagian cowok cakep ye, ‘kan?” Hendra termenung, dalam benaknya merasa yakin sekali, jika keluarga Berto mengetahui memiliki cucu yang selama ini tidak diketahui oleh mereka seperti Anika. Hendra berharap apa yang dipikirkan sang ibu tidak benar. Mereka pasti tidak akan tinggal diam dan akan mengambil Anika dari sang nenek. Hendra harus lebih hati-hati lagi. Hendra sangat paham dengan sifat nenek Anika dan keluarga Berto. Namun sebelumnya ia benar-benar harus mencari tahu dahulu biar tidak salah langkah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD