Bab 7. Gara-Gara Kartu Akses

1569 Words
Interaksi kedua anak Bella dengan Ivan mulai meruntuhkan sedikit kegigihan dalam dirinya. Memang awalnya ia menerima pernikahan ini demi anak-anak, menegaskan pada hatinya tidak akan ada yang namanya jatuh cinta untuk kedua kalinya. Bagi Bella, mendiang suaminya adalah pelabuhan cinta terakhirnya. Di kantor, saat istirahat, Bella makan siang bersama dengan Tika sang manager HRD dan para sekretaris direksi lainnya. Ada Jordan, Lusi dan Maria. Mereka membahas rencana hang out hari Jumat nanti bertepatan dengan pernikahan Bella yang tidak mereka ketahui. Siang ini ia lebih banyak diam, sesekali tersenyum menanggapi celotehan teman-temannya. “Bel, kenapa si loe selalu menghindar dari para cowok yang mendekat. Coba aja berteman, ngedate formal gitu. Siapa tau cocok. Gua punya kandidatnya nih, kebetulan dia memang udah suka sama loe dari dulu.“ Jordan mencoba menjodohkan Bella dengan partnernya Riko. Partnernya menyukai Bella sejak pertama kali melihatnya, namun setelah berkenalan dan Riko mencoba melangkah untuk mendekat, Bella justru semakin menjauh karena merasa tidak nyaman dengan sikap terang-terangan Riko kepadanya. Maria memukul bahu Jordan, mereka jelas tahu siapa yang dimaksud Jordan. “Eh, Jordan, loe kan udah liat, Pak Wira bos dia yang sempurna aja dia enggak mau, apalagi temen loe si Riko. Udah deh, jangan maksain Bella. Dari sifat aja mereka udah ngak cocok. Yang satu napsuan, yang satu kelembutan. Atuh serem lah Bella sama Riko, pacaran aja belom matanya udah kayak singa mau nerjang mangsa.“ Lusi ikut menimpali ucapan Maria, lebih tepatnya menggoda Jordan yang belum menunjukkan keseriusannya menjalin hubungan dengan dirinya. Lusi dan Jordan memang dekat beberapa bulan ini, hanya saja setiap kali Lusi menanyakan hubungan mereka Jordan akan selalu menanggapinya dengan candaan. “Bener itu, lagian loe ngebet banget sih jodohin Bella, gua juga lah dicariin jodoh biar cepet kawin.“ Hati Jordan serasa dibakar mendengar perkataan gadis incarannya. “Lusi, loe itu udah distempel, pu-nya Jor-dan.“ Sengaja menekan namanya agar gadis itu mengerti. Lusi memukul lengan Jordan dengan kencang sambil cemberut. “Aduh sakit, Lus.“ “Becanda itu yang lucu.“ Berusaha membalikkan apa yang Jordan lakukan kepadanya. Semua tertawa melihat keduanya. Mereka bisa melihat kalau Jordan dan Lusi saling menyukai, namun masih menahan harga diri masing-masing. “Oh iya, Riko Jumat ini mau ikut kita, enggak apa-apa kan yah?“ Ucap Jordan sambil menggaruk rambutnya. Semua hening tidak menolak juga tidak menerima, sampai akhirnya Tika si ketua geng yang menjawab. “Yah, selama ngak rese no problem harusnya. The more the merrier, iya kan? Hahaha..“ “Betul juga, biar banyak cowok yang jagain kita kan. Apa Pak Wira juga kita ajak.“ Canda Maria yang memang mengagumi bos Bella itu. “Terus dia ngeliat kita semua ngelantur waktu mabok, gitu yah? Mar, pinter bener ide loe.“ Sahut Lusi. Bella diam tidak menjawab pertanyaan Jordan, di satu sisi ia risih dengan sikap Riko, tapi tidak mungkin bersikap egois. Dirinya terkekeh dengan candaan teman-teman sesama sekretaris, ceplas ceplos tapi dalam hati mereka perhatian satu sama lain, itu sebabnya Bella menyukai mereka. Pernah Bella menangis karena merindukan sang suami dulu, mereka memeluk Bella dan menyemangatinya, dan selalu menghibur dirinya kala itu. Pernah juga Maria di copet saat pergi ke kantor, mereka semua membuat uluran dana untuk membantu Maria. Jordan membantu membuat laporan ke kantor polisi untuk mengurus surat kehilangan. Keluarga kedua bagi Bella adalah teman-teman kantornya saat ini. Semenjak Jackson meninggal, Bella hanya bertemu dengan mama mertuanya selama beberapa kali, itupun karena Bella harus mengantar anak-anak menemui Lina. Biasanya Lina akan menjemput Josh dan Jess saat Bella bekerja, karena dirinya memang tidak mau melihat wajah menantunya lagi sejak putranya meninggal dunia. “Sori banget ya semua, bulan ini gua enggak ikutan. Bulan depan gua janji bakal sempetin waktu buat acara hangout kita nanti.” Seru Bella merasa tidak enak melewati acara hangout bulan ini bersama teman-temannya. Tika tersenyum menjawab rasa tidak enak Bella. "Sebenarnya ngak ada loe, ngak seru, Bell. Tapi yah sudahlah mau gimana lagi. Family comes first." Sepuluh menit sebelum jam makan siang berakhir, mereka kembali ke tempat masing-masing sebelum atasan mereka kembali. Bella sendiri harus menyiapkan beberapa dokumen untuk meeting dengan klien di luar kantor mewakili atasannya, karena Pak Wira sang CEO akan meeting dengan CEO PT.Danayaksa, perusahaan besar yang memegang saham terbesar di PT.ABC tempat Bella bekerja. Bella kembali pukul empat sore bersama dengan Maria yang menemani dan atasannya dari bagian Accounting. Ia menyandarkan bahunya di kursi kerjanya, mengistirahatkan tubuh dan otak yang lelah terkuras karena kesibukan hari ini sambil menunggu sejam lagi waktu pulang kantor. “Bella.” Mendengar suara atasannya, Bella langsung menegakkan posisi duduknya kembali. “Iya, Pak.” “Ke ruangan saya sekarang.” Wira memanggil Bella ke ruangannya melalui telepon PABX kantor.Wira tahu sekretarisnya sudah kembali dari kamera CCTV di dalam ruangannya. Bella mengetuk pintu kemudian masuk menghampiri bos nya. “Iyah, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” Seraya menyerahkan laporan kerja meeting tadi siang di atas meja Wira. “Buatkan draft SOP kerja untuk proyek terbaru kita dengan PT.Danayaksa. Pak Rivano sudah menyetujui proposal perusahaan. Terima kasih yah, karena cara kamu membuat proposal tersebut begitu mudah di pahami, membuat beliau suka sistem kerjanya dan langsung menyetujuinya juga. Bagaimanapun, dia salah satu pemegang saham di perusahaan ini, persetujuannya akan berpengaruh dengan proyek-proyek kita kedepannya.” “Sama-sama, Pak. Sudah tugas saya. Senang kalau proyek perusahaan kita berjalan lancar.” “Saya mau pulang lebih cepat hari ini, saya janji mau jemput Klarisa, tunangan saya.” Kemudian tersenyum canggung di hadapan Bella/ Bella juga tersenyum sambil mengangguk kemudian melangkah keluar. Bosnya juga dijodohkan dengan Klarisa. Awalnya Wira menolak, namun karena Bella sempat mengenal siapa Klarisa dan menceritakan bagaimana sosok Klarisa yang tidak diketahui oleh media membuat Wira kagum dan ingin mengenal lebih jauh tentang Klarisa. Dan berakhir Wira jatuh cinta dengan tunangannya. ‘Memang cara Tuhan untuk mempertemukan jodoh setiap orang berbeda-beda. Bu Klarisa yang dulunya selalu mengejar Pak Wira, sekarang berubah berbalik. Pak Wira bagai b***k cinta yang posesif. Lucu kalau di ingat-ingat lagi. Dan, sekarang giliranku dijodohkan oleh Ivan. Apa nanti aku akan mencintainya sama seperti aku mencintai Jackson? Huh, kayaknya ngak mungkin deh.’ Bella bermonolog dalam hatinya sambil menatap bosnya melangkah menuju lift sampai menghilang. Kemudian ia teringat kembali kejadian di rumah Ivan serta pernyataan cinta pria itu, sejujurnya Bella tidak memungkiri debaran jantungnya bertalu-talu saat berduaan dengan Ivan. Namun akal pikirannya masih memasang dinding pembatas untuk tidak membuka hatinya dulu. Menggelengkan kepalanya sendiri tersadar sedang memikirkan calon suaminya, Bella cepat-cepat menyelesaikan tugas dari Wira agar bisa pulang tepat waktu. Untung saja ia sudah menyiapkan draft yang diminta tinggal meneliti ulang poin-poin yang sudah disetujui. Pekerjaan Bella terganggu karena bunyi ponselnya. Tertera di layar nama Suamimu. Bella mendengus, ia lupa mengganti nama di kontak teleponnya. Bella mengacuhkan panggilan Ivan dan lebih memilih menyelesaikan pekerjaannya. 10 menit menjelang jam 5 sore, ponselnya berdering kembali. Dengan malas Bella mengangkatnya. “Halo.” “Hun, aku sudah di parkiran basement gedung kantormu. Mau aku samperin ke sana?” Ivan membiasakan diri memanggil Bella dengan panggilan sayangnya meskipun Bella tidak melakukan hal yang sama. “Eh, Jangan!” Mata Bella membulat, tanpa sadar ia berteriak karena ucapan Ivan. Ia menengok ke kiri dan ke kanan melihat situasi di sekelilingnya. Untung saja sedang tidak ada orang di sekelilingnya. “Maksud kamu?” “Maksud aku, nanti aku saja yang ke parkiran. Kamu lupa yah, syarat yang aku minta. Aku enggak mau orang lain tahu dulu. Atau kita batal nikah aja deh.” Ucap Bella berbicara sangat pelan takut ada yang mendengar. “Oh, iya. Maaf aku lupa. Yah sudah. Aku tunggu di bawah. Kalau turun lift, kasih tahu, biar aku menunggu langsung di depan lift. Mobilku Range Rover putih, yah. Kamu sudah selesai kan?” “Iya. Iyah, sudah selesai. Nanti aku telepon. Aku mau beresin sisa kerjaan dulu.” Pokoknya kamu jangan naik kemari, lagian kamu juga ngak bisa ke ruanganku. Pokoknya jangan.” Ujar Bella memastikan pria itu tidak nekat. “Oke, bye, Hun.” Tepat jam lima, Bella mengirim pesan ke Ivan. Bella terpaksa memakai lift direksi, karena lift umum karyawan tidak sampai ke basement. Saat pintu lift terbuka, mata Bella membesar dengan kehadiran Ivan di dalamnya sedang tersenyum usil. Bella melangkah masuk, mereka hanya berdua saat ini di dalam lift. Bola matanya menajam ke arah pria keras kepala itu. “Harusnya kamu tunggu di basement saja. Enggak usah naik ke sini. Lagian kok bisa sih kamu pake lift ini. Kamu pinjam kartu punya siapa?” Lift tersebut memang tidak bisa sembarangan orang yang memakainya, hanya direksi dan para sekretaris yang memiliki kartu aksesnya. “Kartu ini? Kebetulan temanku yang ngasih duplikatnya. Aku bosan menunggu di mobil.” “Hah! Mana boleh begitu, siapa yang ngasih ke kamu, itu melanggar tata tertib kantor. Lift ini hanya untuk top manajemen, aku saja terpaksa karena harus ke basement. Biasanya pakai lift karyawan.” Ivan terkekeh tidak mau banyak bicara mengenai dari mana ia mendapatkan kartu akses tersebut. Pintu lift terbuka, Bella menjauhkan dirinya dari Ivan agar tidak di curigai direksi lain. Namun wajah orang tersebut terkejut melihat kehadiran Bella dan pria yang sepertinya familiar. Melihat reaksi orang itu, jantung Bella berdebar takut terjadi kesalahpahaman karena melihat keberadaan Ivan di dalam lift yang seharusnya tidak boleh dipergunakan oleh tamu kantor. Setelah ini Bella pasti akan meneror Ivan soal kartu akses yang dimilikinya. Berbeda dengan Bella, Ivan malah mengulum senyuman melihat wanita itu salah tingkah. Kalau saja tidak ada pengganggu masuk sudah pasti ia akan menerjang bibir Bella kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD