Ternyata Pak Sadewa, atasan Maria yang menjabat CFO PT.ABC melangkah masuk. Saat melihat Ivan, Pak Sadewa menunjukkan sikap ramahnya dengan tersenyum sambil melirik pada Bella seakan mempertanyakan Bella mengapa ada orang asing di dalam lift ini.
“Sore Pak. Masih di sini? Saya pikir sudah pulang. Tadi ke ruangan saya saja, Pak. Biar nyaman. Pak Wira sudah pulang setahu saya, betul kan, Bella?”
Bola mata Bella membuat saat melihat Pak Sadewa menyapa Ivan dan terlihat sudah saling mengenal. “Iy-iya, Pak Dewa.”
Bella lekas menjawab dengan cemas, takut Pak Dewa curiga dengan keberadaan mereka berdua di dalam lift.
Kemudian Bella melirik Ivan, wajah datarnya kambuh lagi, kontras sekali saat mereka berdua saja barusan sebelum Pak Sadewa masuk.
Ivan hanya diam sesekali melihat ke layar ponselnya atau membalas singkat setiap percakapan dari Pak Dewa, dengan bonus senyuman tipis saja. Dan anehnya, Pak Dewa seperti tidak kaget dengan sikap dingin Ivan. Biasanya Pak Dewa tipe bos yang akan langsung menegur siapapun meskipun itu rekan bisnis perusahaan.
'Huf, itu muka kenapa bisa berubah sendiri yah? Datar banget, suombong banget jawabin Pak Dewa kayak gitu, ngak salah kan gua julukin muka dia sedatar papan gilesan.'
Bella menyentuh kecil bahu Ivan tanpa sepengetahuan Pak Dewa. Ivan menengok, alisnya terangkat seperti tanda bertanya maksud dari sentuhan Bella.
Dengan gerakan bibirnya, Bella berbicara dengan Ivan tanpa suara sambil menunjuk dengan jarinya di bawah ke arah Pak Dewa.
“Senyum di depan orang!”
Di tengah peraduan Bella dan Ivan yang sedang berdebat tanpa suara, tiba-tiba Pak Dewa berteriak kecil membuat Bella terkejut.
“Aduh! Saya ketinggalan kunci mobil. Mesti naik lagi deh.” Pak Dewa menepuk dahinya karena lupa.
Merasa tidak enak hati karena tidak ada yang menanggapinya, Bella akhirnya berbasa-basi.
“Namanya juga manusia, Pak Dewa. Kadang bisa lupa.”
Pak Dewa hanya terkekeh saja dengan tanggapan Bella.
Sesampainya di basement, Ivan keluar dulu diikuti Bella.
“Saya duluan, Pak Dewa.” Sapa Ivan sedikit mengangguk.
“Saya juga duluan, Pak Dewa.” Ucap Bella berpamitan.
“Iya. Silahkan. Saya mesti naik lagi. Sampai jumpa lagi Pak Ivan.”
Pak Dewa tidak menaruh curiga sedikitpun melihat mereka berduaan di dalam lift. Sedangkan Bella masih memikirkan apa tanggapan Pak Dewa besok setelah kejadian ini, namun rasa penasaran bagaimana Pak Dewa mengenali Ivan juga terbesit di pikirannya.
Ivan berjalan dengan santainya menuju mobil, sedangkan Bella masih jalan di belakangnya. Wajahnya terlihat kesal tanpa senyuman.
Di dalam mobil, senyum Ivan muncul kembali, namun senyum itu semakin melebar saat melihat Bella memajukan bibirnya.
“Kamu kenapa? Kalau kaya begitu terus, nanti aku cium nih. Kamu sedang menggoda aku dengan bibir kamu. Ayo ngaku.”
Spontan Ivan dihadiahi tatapan sinis membola dari Bella.
“Aku kaya jalan sama majikan tadi, enggak ditemenin, kamunya malah lenggang kangkung jalan duluan ke mobil.”
Ivan tertawa geli mendengar alasan Bella cemberut.
“Hun, tadi kan, kamu yang minta jangan sampai orang lain tahu dulu. Kalau aku jalan di samping kamu terus di lihat sama satpam atau direksi lain, gimana? Atau tadi kamu kesal karena aku ngak gandeng tangan kamu di depan Pak Dewa?”
‘Betul juga yang di bilang Ivan. Lagian kenapa aku jadi marajuk sih. Aneh.’
“Kamu belum jawab pertanyaan aku tadi. Dapat kartu akses darimana?”
“Oke, aku nyalain mobil dulu, terus aku jawab yah. Nanti kesorean kalau ngobrol di sini. Malah dicurigain lagi sama satpam. Trus kita digerebek langsung disuruh nikah. Apa sengajain aja yah biar langsung nikah.” Ucap Ivan tertawa geli sendiri.
“Ihh, Kamu yah.”
Mereka keluar dari gedung kantor PT.ABC. Walaupun sudah sore, tapi terik matahari terbenam masih menyilaukan mata. Ivan mengambil kacamata di laci sebelah setir mobilnya, kemudian memakainya. Tidak lupa ia menurunkan sun shield di depan Bella. Kemudian batinnya merasa bersalah.
“Nanti kita beli sun glasses buat kamu, kalau silau tinggal pakai biar mata kamu enggak rusak.”
Bella menoleh menatap Ivan dengan kacamata hitamnya sedang tersenyum kepadanya.
‘Ganteng juga, keren banget. Plus senyum begini tambah demen di lihat. Ih! Apaan sih Ella. Kenapa jadi muji-muji segala sih. Tapi beneran ganteng sih. Demen banget liat hidung mancungnya itu.’
“Atau kamu mau pakai kacamata aku aja? Ehm, tadi kamu mau nanya apa, Hun?”
Tidak mendengar jawaban, Ivan melihat Bella sedang melamun sambil menatap dirinya. Tangan Ivan mengusap lembut pipi Bella, membuyarkan lamunan Bella.
“Egh, Kenapa?”
“Kamu kalau terpesona sama aku bilang, mata kamu sampai enggak berkedip gitu. Kamu mau pakai kacamata aku saja?”
Pipi Bella merona merah karena tertangkap basah menatap Ivan terang-terangan. Betapa malu dirinya saat ini. Ingin rasanya lenyap seketika dari hadapan Ivan. Ia menggelengkan kepalanya untuk menjawab ucapan terakhir Ivan.
“Tapi aku suka dilihat sama kamu. Artinya hubungan kita semakin baik. Tadi kamu tanya kenapa aku punya kartu akses lift di kantor kamu kan?”
“Ih, Udah tahu tapi nanya lagi. Iyah, kenapa bisa punya? Terus kenapa Pak Dewa ramah banget ke kamu, terus tadi bilang kalau bos ku sudah pulang duluan ke kamu. Memang kamu kenal sama mereka semua sejak kapan?”
“Jadi yang harus aku jawab yang mana dulu nih? Soal kartu akses, soal Pak Dewa atau soal bos kamu?”
“Ihh, yah semuanya lah.” Tanpa sadar suara Bella merajuk lagi membuat Ivan tertawa.
“Tadi bos kamu meeting sama siapa?”
“Sama PT.Danayaksa, soalnya dia suruh aku rapihin SOP buat project mendatang. Terus apa hubungannya sama kamu?”
“Kamu sudah tahu belum nama lengkapku? Masa udah mau nikah enggak tahu nama lengkap calon suami kamu.”
Bella yang terpancing mulai menggeser sedikit duduknya menghadap ke Ivan, malah bertanya balik menutupi rasa malunya karena belum mengetahui nama lengkap calon suaminya..
“Memangnya kamu tahu nama lengkap aku apa?”
Ivan mengangguk. “Bella Kinanti Kurniawan. Tahu dong aku, sekarang nama lengkap aku siapa? Masa nanti pas janji suci di depan altar kamu enggak tahu nama aku.”
“Ehm.. Hehe.. Aku beneran enggak tahu. Mami pernah sebut sih, tapi aku lupa. Yah, di kasih tahu dong. Kok, jadi main tebak-tebakkan sih.” Lagi-lagi suara Bella merajuk.
“Namaku Rivano Putra Danayaksa. Mohon diingat calon istriku.”
Bella mengangguk-angguk beberapa kali, mulutnya berkomat-kamit seperti sedang menghafal nama Ivan. Tiba-tiba kedua bola matanya membulat lebar, mulutnya menganga karena menyadari sesuatu.
“Maksudnya, kamu tadi yang meeting sama bosku. Jangan bilang kalau kamu CEO PT.Danayaksa?”
“Yap. Sesuai nama keluarga Papi. Perusahaan ini di bangun Papi benar-benar dari bawah dan merupakan perusahaan utama kebanggaan Papiku.”
“Pantesan tadi Pak Dewa hormat banget, biasanya dia juga kaya kamu datar dingin, beda sama Pak Wira, lebih luwes dan enggak judes.”
“Loh loh loh.. Kok jadi muji-muji Wira sih. Dia itu sudah punya tunangan. Jangan lirik-lirik kepunyaan orang lain.”
“Eh eh.eh.. Pak bos, belum jadi suami, sudah main perintah-perintah saja. Kayaknya aku mesti mikir ulang soal perjodohan ini. Mulai kelihatan kan belangnya kamu. Aku ngak mau yah dilarang-larang berteman sama siapapun setelah kita nikah.”
Bukannya menanggapi, Ivan malah menggoda Bella dan sepertinya akan menjadi hobi barunya sekarang. “Aku bukan kucing belang, Ella.”
“Kamu memang bukan kucing, tapi serigala berbulu musang.”
“Berbulu domba yang betul, Ella.”
Ivan senang sekali menggoda Bella sampai kesal. Semakin merengut bibirnya ke depan, semakin gemas Ivan dibuatnya.
“Ihh.. Cape ngomong sama kamu.”
“Kalau cape, sampai rumah aku pijitin yah. Bibir kamu sampai lunglai ke depan tuh, gara-gara kamu cape sama aku.”
Rasanya Bella ingin sekali memukul wajah tampan di sampingnya ini, wajah yang begitu datar dan dingin di depan orang lain, namun bisa berubah menjadi jahil dan menyebalkan bila berduaan dengannya. Bahkan Jackson saja tidak seusil ini jika mereka sedang berduaan dulu.
Ini pertama kalinya Bella dijemput pulang kerja oleh Ivan. Hanya saja sebenarnya Ivan tidak perlu merepotkan diri untuk menjemputnya pulang seperti sekarang. Selama ini dirinya sudah terbiasa pulang ke rumah menggunakan angkot. Ia hanya tidak ingin membebani Ivan dengan hal-hal yang menambah kerepotan orang lain.
“Ehm, Van.”
“Hem, kenapa?”
“Kamu bakalan jemput aku setiap hari kaya sekarang?”
“Kenapa? Keberatan? Sekalian aku ketemu Josh dan Jess sesuai janji aku ke mereka. Aku juga ingin kenal lebih dekat sama mereka, nantinya mereka akan jadi anak aku juga kan.”
Bella memikirkan tentang rencana hangout yang akhirnya dibatalkan dan diundur 2 minggu lagi. Hatinya mengatakan ia harus memberitahu Ivan.
“Ngak, bukan gitu. Kalau kamu sibuk ngak perlu setiap hari. Aku bisa pulang sendiri, sebelum ini juga sudah terbiasa sendiri.”
“Sekarang kamu harus terbiasa aku yang jemput, kalau sudah nikah pulang pergi sama aku. Kecuali kepepet baru sama supir.”
“Tapi hari Jumat bulan depan, kamu enggak perlu jemput aku yah. Aku ngak langsung pulang.”
Ivan mengernyitkan dahinya merasa penasaran. “Kenapa? Kamu ada janji sama orang lain?”
Bella mengangguk, baru saja ingin menjawab, Ivan sudah memberondongnya dengan beberapa pertanyaan interogasi.
“Sama siapa? Cewek apa cowok? Perginya ke mana? Kalau dari sore berarti kamu pergi malam hari dong. Ada yang ulang tahun? Atau ada yang nikah?”
Pusing dengan pertanyaan Ivan, Bella segera memotongnya.
“Stop!”
Menyadari keposesifannya kambuh, Ivan memasang wajah cengengesan. “Sori, sori.”
“Besok aku mau pergi sama teman-teman kantorku. Kita biasa hangout ke klub HolyHoly, sebulan sekali atau dua bulan sekali. Harusnya minggu lalu, tapi karena aku harus kenalan sama kamu, diundur jadi Jumar dua minggu lagi.”
“Oh.. Perginya sama teman cewek apa cowok?”
“Ck.. Mulai deh interogasinya lagi. Kebanyakan cewek, ada cowoknya buat jagain kita. Sekedar buat nyenangin telinga kamu, aku ikut mereka karena suka sama live music nya. Minum palingan segelas.”
“Kalau gitu aku ikutan saja.”