Bab 20

1522 Words

Seth. Setir mobil terasa dingin di telapak tangannya, meski udara di dalam kabin justru menghangat. Napasnya masih belum stabil, d**a masih terasa mengencang seperti baru saja menyelesaikan perkelahian yang tak seimbang, bukan dengan orang lain, tapi dengan dirinya sendiri. Seth menatap lurus ke jalan. Asfalt malam Jakarta membentang gelap, hanya diterangi lampu jalan yang sayu. Tapi matanya tak fokus. Ada bayangan Lavinia di setiap sisi pandangannya, bibirnya yang hangat, aroma kulitnya yang lembut, gerakan kecil lehernya saat menunduk, dan bisikan tajam itu. “Berhenti.” Bukan kemarahan yang membuat Seth berjarak. Tapi tatapan kosong Lavinia setelahnya. Seolah ia tidak pernah benar-benar hadir. Seolah Seth hanyalah alat penghapus jejak, pembersih dari segala laki-laki yang lebih punya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD