Tepuk tangan masih menggema saat Elvano dan Lavinia meninggalkan panggung, diantar oleh panitia dengan setelan jas yang terlalu sempit dan senyum profesional yang mulai menipis. Satu per satu para tamu penting berdiri memberi salam, menyalami, memuji pidato singkat yang katanya "penuh visi dan kesatuan". Tapi bagi Lavinia, semua kata-kata itu hanya suara latar. Bagai gema dari lorong kosong yang tak perlu dijawab. Ia tahu tujuan mereka sekarang, ruang VIP. Tempat para pemegang saham inti, keluarga korporat, dan orang-orang dengan kuasa dalam jumlah yang tidak bisa dihitung dengan satu tangan menunggu. Elvano menggenggam pinggangnya sepanjang jalan keluar dari ballroom, jemarinya masih menancap kuat seperti ingin memastikan Lavinia tidak pergi ke mana pun. Atau seperti ingin menunjukkan pa

