Elvano berdiri di depan pintu kamar Lavinia. Tak menyentuh gagangnya. Tak berani. Hanya berdiri diam, seperti bayangan yang bahkan tak diinginkan keberadaannya. Tidak malam ini. Tidak di kamar itu. Kamar yang sama, yang dulu pernah menjadi kamar mereka bersama. Tapi sejak lama, sejak Lavinia memutuskan untuk memindahkan lemari pakaiannya, buku-buku, dan seluruh dunianya ke sisi rumah yang berbeda. Elvano tahu kamar itu bukan lagi tempat yang bisa ia masuki sesuka hati. Sekalipun mereka masih menikah di atas kertas, nama ‘suami’ tidak lagi memberinya akses. Tapi Seth bisa masuk. Seth, si pria dingin yang selalu terlihat seperti patung hidup. Selalu berdiri di latar belakang. Diam. Tapi lambat laun, justru karena diam itulah, Lavinia mulai membuka celah untuknya. Elvano melihatnya. D

