Menangis dalam ruang rindu, berteriak dalam siksa cinta tanpa pasti sang pujangga hati... Duri menggores kulit ari, hari lahir pangeran menjadi mentari terakhir sang darah suci... Hana saat ini sedang bersandar di bawah pohon rindang di taman istana Dramiki, matanya tertutup dan dia bernapas dengan tenang. Detak jantungnya masih terdengar normal dan teratur. Dia sudah terbiasa dengan nyanyian dari para peri, dia tak memusingkan maksud dan tujuan dari nyanyian mengerikan itu. Tangan sebelah kanan berada di atas perut buncitnya, dia tersenyum dalam tidurnya. Dia bermimpi begitu indah bahkan tak bersedia bangun dengan cepat. Sepoi membelai dan semakin membuat dia terbuai di alam mimpi, nyanyian peri bagai pengantar tidur bagi dirinya. Dedaunan berjatuhan dan kelopak bunga mekar lalu yan

