Tiga Puluh Lima

1029 Words

Berdiam diri, hanya menatap langit di taman rumah sakit ternyata membosankan juga. Pandangan Lucy ke arah Tian, pria itu masih bersila menatapnya. Risih sih, ditatap begitu terus. Di larang pun percuma. "Aku lapar." "Mau apa? Ngidam lagi? Ayo kita cari." "Ngomongnya satu-satu." "Tidak bisa, aku lagi antusias ini." Lucy meraup wajah Tian, gerakan spontan, yang ia sendiri tidak bisa kendalikan. Sesaat keduanya saling diam. "Aku suka." Lucy tidak menanggapi. Hatinya sedang ketar-ketir sekarang. Apapun itu, ia tidak ingin menyimpulkan dengan cepat. Ia tidak mau salah menilai hatinya. Ya, salah. Selama memandang awan tadi. Ia sekalian berpikir akan nasib cintanya yang selalu gagal. Itu bukan salah cintanya. Tapi salah dirinya. Kagum tidak termasuk dalam cinta. Ia mengagumi tapi sebenar

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD