"Kau yakin, dia akan baik-baik saja." Cia masih saja ragu, ia khawatir akan kondisi Lucy. Meski berulang kali bertanya, dirinya belum puas. Hatinya belum lega. Gery mengangkat hati-hati tubuh Cia. Tidak sampai membuat infus di tangan wanitanya lepas atau mengalirkan darah. "Tidak perlu khawatir." Gery menyembunyikan wajahnya di lekukan leher Cia. "Temanmu ada bersamanya," sambungnya lagi. "Tian?" "Ya." "Kalau belum lupa, dia adik kamu juga, suami." "Hmm, dia adik ipar mu. Jangan perhatian lebih." Tangan Cia ke belakang, mengacak Surai suaminya. "Aku ingin hanya kita. Aku tidak apa kau tidak memiliki apapun. Asal kita bisa bahagia." "Aku sudah meminta asistenku untuk menyelesaikan semuanya. Setelah itu, kita akan pergi jauh dari sini. Aku sudah menyiapkan satu tempat untuk kita sam

