7

1133 Words
Mark merasa sangat marah, entah kenapa dirinya masih belum puas setelah menikmati wanita itu dua kali. Wanita yang bahkan belum dia ketahui namanya. Dia rasa jika wanita itu sudah menjerit dan berteriak nikmat memanggil namanya bahkan memohon padanya maka dirinya pasti akan langsung merasa sangat puas dan akan menjadi bosan dengan wanita itu. Dia memilih memberikan apa yang wanita itu inginkan, walau pun dirinya sangat tidak suka diancam tapi dia akan menghukum wanita itu nanti. Saat ini yang terpenting baginya adalah mulai sekarang wanita itu akan menuruti keinginannya dan melayaninya kapan pun dia ingin bercinta dengannya. "Aku akan datang kembali nanti malam dan pakaianmu ada di lemari," ujar Mark sambil meletakkan kunci di meja yang ada di dekatnya. "Jangan coba-coba mengingkari perjanjian kita atau kamu tahu akibatnya," sambung Mark kembali dengan nada dingin dan keluar dari kamar Alisa sambil membawa pergi pisau yang berada di tangannya. Setelah ditinggalkan Mark, ia pergi ke kamar mandi dan membasuh luka bekas tusukannya tadi. Ia meringis saat air menyentuh lukanya dan rasa perih dirasakannya. Ia keluar dari kamar mandi saat sudah selesai, menuju lemari yang Mark maksud dan membukanya dengan kunci yang Mark berikan padanya. Ia kemudian memakai pakaian yang sudah disediakan di dalam lemari itu. Saat selesai ia berbaring di ranjang dan memikirkan semuanya. Dirinya begitu merindukan Alderick dan Nora. Ia yakin andai mereka tahu apa yang terjadi padanya maka mereka pasti akan langsung datang menolongnya tapi ia merasa begitu malu karena keluarganya tega melakukan hal ini padanya, jadi ia memutuskan tidak akan menyusahkan Alderick dan Nora juga sepupunya Nic dengan masalahnya. Ia memutuskan akan melunasi hutang itu dan dia akan memulai hidup baru setelah itu. Untuk apa meratapi keperawanannya karena itu hanya simbol saja. Jika memang calon suaminya mencintainya setulus hati seperti sepupunya Nic yang mencintai istrinya maka Alisa yakin suaminya nanti juga tidak akan keberatan jika ia sudah tidak perawan lagi. Akhirnya ia merasa lega dan bisa mengikhlaskan semuanya walau pun tidak perbuatan keluarganya. Ia tidak akan pernah memaafkan mereka lagi karena membuatnya harus menjadi wanita jalang seperti ini. Ia sedikit bergidik saat memikirkan jika dia harus pasrah saja saat Mark bercinta dan menyentuhnya nanti. Aku hanya harus diam seperti patung saja dan menahan semua rasa ketidak nyamanan itu, pikir Alisa saat rasa kantuk menghampirinya. Saat baru akan tertidur, Alisa mendengar suara seseorang memanggil dan menyentuhnya. "Nona, apa Anda baik-baik saja?" Perlahan Alisa membuka matanya dan menemukan Dila sudah ada di sana. "Apa maumu?" tanya Alisa. "Tuan memintaku mengobati luka Anda." "Aku tidak butuh, pergilah." "Aku juga membawakan makan siang Anda." "Letakkan saja di meja," timpal Alisa. Kemudian Alisa turun dan duduk di kursi dan mulai makan. Dengan setia Dila masih menungguinya. "Apa kamu sudah makan?" "Sudah, Nona." "Temani aku makan." "Tapi aku sudah makan, Nona." Alisa menatap tajam Dila karena dia tahu gadis itu berbohong padanya. "Baiklah," ucap Dila pelan menuruti keinginan Alisa. "Maaf jika aku terkesan memaksamu tapi aku tahu rasanya merasa lapar tapi tidak ada makanan, jadi jika bisa aku tidak ingin orang lain merasakan apa yang aku rasakan. Jadi jangan berbohong jika kamu memang belum makan." "Baik, Nona. Terima kasih," ujar Dila merasa terharu. "Apa dia tidak memberimu makan?" Dila menatap Alisa dengan bingung karena tidak mengerti siapa yang di maksud "dia" oleh Alisa. "Laki-laki berengsek itu." "Tuan?" "Hmmm." "Oh...dia tidak pernah melarangku untuk makan tapi_" "Tapi?" tanya Alisa. "Maaf aku tidak bisa membicarakannya, Nona." "Tapi seseorang yang lebih berkuasa darimu sering menindasmu dengan tidak mengizinkanmu makan," timpal Alisa menyelesaikan kata-kata Dila. Dila terbelalak kaget menatap Alisa karena tidak menyangka jika tebakannya sangat tepat. Alisa bersikap biasa saja saat berhasil menebak apa yang terjadi pada Dila karena dia pernah mengalami hal itu. "Aku sudah selesai, jika kamu sudah selesai kamu bisa pergi." "Tapi Tuan dan para pengawalnya sedang keluar saat ini." "Aku tidak bertanya! Dia mati dan pergi ke neraka pun aku tidak peduli, malah akan sangat bersyukur karenanya," ujar Alisa dan bangun menuju kamar mandi. "Kenapa kamu masih di sini?" tanya Alisa saat keluar dari kamar mandi kembali menemukan Dila masih tidak beranjak dari kamarnya. Dila hanya diam dan tidak berani menatap Alisa. "Apa kamu takut hanya karena di tindas seseorang yang sama-sama wanita?" "Bukan, Nona." "Lalu?" Dila masih terus terdiam tidak berani menjawab Alisa. "Dia menyuruhmu kembali mengawasiku bukan?!" sergah Alisa marah. Sesaat tadi dia lupa jika Mark mungkin kembali menyuruh Dila untuk mengawasinya. Dila bingung apakah harus mengatakan yang sejujurnya pada wanita tuannya ini tapi jika dirinya tidak mengatakan yang sebenarnya, nanti wanita itu malah akan membencinya. Sejujurnya Dila mulai menyukai wanita tuannya yang ini karena wanita-wanita lainnya yang pernah di bawa tuannya tidak segan-segan menghinanya dan tanpa malu berdiri telanjang di hadapannya hingga membuat dirinya yang merasa jijik melihat mereka. Dila tahu jika wanita-wanita itu tampak berkelas dan bukan wanita jalanan karena itulah mereka memandang rendah dirinya. Dila juga tahu jika wanita tuannya yang ini masih perawan sebelumnya karena Dila menemukan darah di atas spreinya kemarin, selain itu dia juga begitu baik karena memperhatikan pelayan sepertinya dan malah menawarinya makan. Itu bahkan bukan hanya satu kali, melainkan dua kali. Dila semakin bergidik saat mengingat dulu bahkan ada beberapa wanita bayaran yang dibayar untuk melayani tamu khusus di kasino ini yang berniat mengajaknya bermain bersama. Dirinya memang hanya seorang pelayan dan saat itu diusianya yang menginjak umur 19 tahun, ia tahu jika dia wanita normal dan hanya mau bersama laki-laki bukan perempuan. Saat Dila berumur 17 tahun, Mark juga membelinya dari kedua orang tuanya tapi dia tidak pernah melakukan apa pun padanya dan hanya menjadikannya pelayan di kasino ini dan tidak pernah melecehkannya sedikit pun tapi kenapa dengan wanita ini tidak sama, Dila sedikit bingung karenanya. "Bukan seperti itu, Nona. Aku juga di minta melayani kebutuhan Nona sampai tuan kembali. Jadi tentu saja aku masih akan berada di sini sampai tuan kembali." "Pergilah aku sudah tidak membutuhkanmu, aku melakukan semuanya sendiri dan kamu tidak perlu mengawasiku, aku tidak akan ke mana-mana sampai terbebas sepenuhnya dari kewajiban hutang keluargaku dan aku hanya perlu bertahan 3 bulan." "Tapi, Nona_" "Kenapa?" "Sebenarnya Tuan tidak pernah memintaku untuk mengawasi, Nona. Aku hanya suka berada di sini dengan, Nona." "Benarkah? Kenapa aku seperti mendengar kebohongan di sana?" tanya Alisa sarkastis. Dila menundukkan tatapannya dan terus memandang lantai. Alisa menunggu dengan sabar berharap gadis itu akan jujur kepadanya karena dirinya sungguh sangat kesal jika seseorang berbohong padanya. "Terus terang aku takut berada di luar," lirih Dila mengakui ketakutannya selama ini. "Ada apa? Apa b******n itu memintamu melakukan hal yang di luar keinginanmu juga?" "Tidak, Nona. Tuan tidak pernah memaksaku untuk melakukan sesuatu yang tidak aku inginkan, hanya saja beberapa orang yang mabuk kadang sering melakukan sesuatu yang tidak mereka sadari, selama ini Tuan selalu melindungiku tapi saat ini Tuan sedang tidak ada dan juga beberapa pengawalnya ikut bersamanya jadi aku takut berada di luar." "Apa kamu juga merupakan tawanannya?" tanya Alisa saat melihat jika mata Dila berbinar-binar saat bercerita tadi. "Tidak, aku di sini hanya sebagai pelayan saja." "Apa salah satu pengawalnya kekasihmu?" "Iya," ucap Dila tersipu malu. "Jadi jika kekasihmu sudah pulang maka dia akan melindungimu?" "Iya," timpal Dila. "Baiklah, kamu boleh ke sini jika sedang tidak ada yang melindungimu." "Terima kasih, Nona!" jerit Dila senang. "Hmmm," timpal Alisa. Alisa kemudian duduk di jendela dan memandang keluar merenungi semuanya dan membiarkan Dila dengan pikirannya sendiri juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD