6

1374 Words
Mark sengaja tidak langsung pergi ke kamar mandi mengejar wanita itu karena dia ingin menenangkan dirinya sesaat sebelum mengejar wanita itu. Saat dia merasa jika dirinya sudah tenang, dia menuju kamar mandi dan berusaha membukanya tapi sesuatu menahan pintu itu. Dengan sekuat tenaga dia mencoba mendorong pintu itu dan saat terbuka sedikit maka akan kembali di dorong tertutup. Oh...jadi dia ingin bermain rupanya. Dengan perlahan tapi kuat dan tanpa henti dia kembali mendorong pintu itu hingga semakin terbuka karena dia tidak mau wanita itu terluka jika dia langsung mendorongnya dengan keras. "Tidak, tidak!" teriak Alisa saat pintu terbuka semakin lebar hingga akhirnya terbuka sepenuhnya. Ia mundur ketakutan saat melihat wajah Mark yang tampak menahan marah. Dengan panik ia terus mundur hingga tubuhnya menyentuh dinding kamar mandi. Ia berjongkok di bawah dan menutup kepalanya dengan kedua tangannya bersiap-siap menerima pukulan yang akan Mark berikan padanya. Alisa tersentak kaget saat Mark malah menarik tubuhnya ke atas kemudian mengangkat kedua lengannya di atas kepalanya, memerangkapnya di sana dan dia merapatkan tubuhnya pada Alisa menindihnya di dinding kamar mandi. Ia menatap Mark terbelalak dan merasa sedikit takut karena tidak tahu apa yang akan laki-laki itu lakukan jika tidak memukulnya. Mungkinkah dia akan menenggelamkanku? pikir Alisa sebab Thomas kadang melakukan itu. Merendam kepalanya di dalam air jika dia tidak mau memberikan gajinya. "Tidak!" jerit Alisa saat Mark menarik handuknya hingga terlepas dari tubuhnya dan akhirnya dia sadar apa yang akan dia lakukan padanya tidak berubah dari saat pertama dia datang tadi. Ia berusaha melepaskan tangannya yang di jepit oleh salah satu tangan Mark. Saat salah satu tangannya lepas dengan marah ia mencoba mencakar Mark dan memukul laki-laki itu hingga dia kembali menangkap tangan Alisa dan menekannya di dinding sedangkan kakinya menyelinap masuk di antara kaki Alisa. Dia kemudian memagut bibir Alisa dengan b*******h, menghisapnya dan memasukkan lidahnya saat ia berusaha berteriak sedangkan satu tangannya menyelinap di milik Alisa yang berada di antara pahanya dan dia membelai Alisa di sana, mempermainkannya dan mencoba memasukkan jarinya di sana. Dengan marah dan air mata yang kembali mengalir di pipinya, Alisa berusaha menghindari ciuman dari Mark dengan memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri serta berusaha menutup kakinya meski pun tidak mungkin bisa dengan adanya kaki Mark di antara kakinya. Dengan kesal dia membatalkan niatnya untuk memasukkan jarinya ke dalam milik Alisa dan berpindah memegang dagu Alisa agar tidak berpaling dari ciumannya. Dia kemudian menghentikan ciumannya dan mengusap kasar bibir Alisa dengan ibu jarinya. Baru kemudian kembali mencium Alisa dengan ganas dan memasukkan lidahnya kembali di dalam mulut Alisa. "Menjijikan! Jangan masukkan lidahmu ke dalam mulutku!" teriak Alisa benci dengan air mata yang terus mengalir di pipinya saat Mark melepaskan ciumannya kembali. Ia merasa begitu terhina karena kembali di lecehkan oleh Mark. "Tapi aku suka menjelajahi rongga mulutmu," bisik Mark serak di telinga Alisa dan kemudian kembali memagut bibirnya, menekan pipinya hingga ia membuka bibirnya jadi Mark bisa terus menelusuri bagian dalam mulut Alisa dengan lidahnya sampai ia mengigit lidah Mark karena merasa begitu kesal. "Awh!" teriak Mark saat merasakan rasa sakit di lidahnya. Dengan kesal dia menatap Alisa dengan tajam. Jika tidak merasa begitu b*******h akan wanita ini, mungkin aku sudah membuangnya ke laut, pikir Mark kesal. "Baiklah, jika kamu ingin bermain secara kasar," ucap Mark dan kembali menangkap Alisa dan membalik tubuhnya paksa hingga ia menghadap dinding dan dia menindihnya di sana. Dia melebarkan kaki Alisa dengan kakinya hingga paha Alisa terbuka. Dengan panik Alisa berusaha memberontak dan mencoba berbalik. Dia menahan tubuh Alisa dan kemudian memasukkan kejantanannya di dalam kehangatan Alisa dengan sekali dorong. "Sakit!" jerit Alisa dan kembali terisak karena dia kembali diperkosa dan merasakan rasa sakit lagi pada area intimnya. Dia tahu jika Alisa belum terangsang karena itulah ia kembali merasa kesakitan tapi dirinya sudah habis kesabaran apalagi sejak semalam dia begitu menginginkan wanita ini. Dia terdiam sebentar hingga Alisa mulai tenang dan hanya menangis sedikit, baru dia mulai bergerak perlahan masuk keluar tubuh Alisa. Dia bisa melihat jari-jari Alisa yang mengenggam dengan erat pertanda jika mungkin wanita itu merasakan rasa tidak nyaman akibat penetrasi yang dilakukannya. "Rilekskan tubuhmu maka kamu tidak akan kesakitan atau merasa tidak nyaman lagi dengan milikku yang berada di dalammu." Alisa hanya terdiam. Bagaimana dirinya bisa rileks jika dia merasa begitu membenci Mark saat ini. "Aku membencimu!" ucap Alisa datar. Tapi dia tidak menggubrisnya dan terus bergerak di dalam tubuh Alisa hingga dia mendapatkan pelepasannya dan dia menggeram saat merasakan rasa nikmat menjalari tubuhnya. Setelah itu dia membalikkan tubuh Alisa yang terdiam kaku dan memagut bibirnya yang juga terdiam tidak merespon apa pun yang dia lakukan padanya. Hanya air mata yang terus mengalir di pipinya yang memperlihatkan emosinya saat ini. "Kamu terasa begitu nikmat," ujar Mark di bibir Alisa dan memagutnya pelan kemudian meninggalkan Alisa di sana untuk kembali meratapi nasibnya. Dia berbaring di ranjang menunggu dengan sabar wanita itu untuk keluar saat sudah selesai menangis. Dia tidak habis pikir apa yang terjadi padanya. Dua kali bercinta dengan wanita itu tanpa dia memberikan kenikmatan padanya hanya karena tidak bisa menahan diri. Dengan gontai Alisa keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menutupi tubuhnya. Dirinya berhenti seketika saat melihat Mark masih berada di kamarnya sedang berbaring di ranjang menunggunya. Dengan panik ia menatap sekeliling ruangan dan saat melihat pisau buah di meja yang tadi dibawa Dila. Ia mengambilnya dengan cepat dan mengarahkannya didadanya saat melihat dia mendekatinya. "Jangan mendekat atau aku akan menusuk uang 100 jutamu dengan pisau ini," ancam Alisa. Ia kemudian tertawa sedih saat ancamannya berhasil dan dia berhenti mendekati. "Kamu mau apa? Bunuh diri? " tanya Mark dingin. "Jika kamu ingin mati, maka matilah dan aku akan membuat keluargamu membayarnya mungkin dengan memotong-motong tubuh mereka," sambung Mark. "Apa kamu pikir aku masih peduli dengan mereka yang sudah menjualku pada b******n sepertimu?!" tanya Alisa sambil tertawa pelan. "Jadi? Lakukanlah! Tusuk tubuhmu dengan pisau itu tapi pastikan dirimu memang benar-benar mati karena jika tidak maka aku akan membuatmu melayani semua tamuku di kasino ini dengan tubuhmu tapi jika kamu membuang pisau itu dan memutuskan melayaniku dengan suka rela, maka kamu hanya akan melayaniku dan aku akan memberikan apa pun yang kamu inginkan." "Termasuk melepaskanku setelah aku melayanimu?" "Tidak sekarang, mungkin nanti saat aku sudah puas menikmatimu." "Berapa lama?" tanya Alisa. Dia tidak merasa takut mati atau pun takut tidak mati dan dipaksa menjadi p*****r tapi Alisa ingat akan pesan Alderick dan Nora agar jangan lupa jika dirinya masih memiliki mereka yang benar-benar mencintainya dan mereka yang akan selalu menerima dan menyayanginya apa pun yang terjadi. Ia juga ingin menepati janjinya untuk menjadi anak mereka jika keluarganya kembali menyakitinya, jadi ia belum ingin mati sekarang ini. "Berapa lama aku harus melayanimu agar terbebas dari kewajiban melunasi utang orang tuaku padamu dan kamu baru akan melepaskanku setelah itu." "Tiga bulan," ucap Mark karena dia rasa waktu tiga bulan sudah cukup untuk memuaskan gairahnya. Bahkan dia merasa itu pun sudah terlalu lama karena biasanya dia akan bosan hanya dalam waktu dua minggu saja. "Baiklah, aku akan melunasi hutang orang tuaku dengan tubuhku setelah itu kamu harus melepaskanku, aku ingin semua itu kamu tulis dan tanda tangani." "Dirimu tidak memiliki hak untuk memerintahku dalam hal itu, Nona!" ucap Mark pelan dengan suara sedingin es dan tatapan setajam Elang. "Baiklah jika kamu tidak mau," ujar Alisa mulai menekan pisau itu didadanya hingga darahnya mulai mengalir keluar dan ia meringis saat merasakan rasa sakit itu tapi tidak seberapa dengan rasa sakit yang sudah diberikan keluarganya padanya. "Aku akan menikmati tubuhmu pagi, siang dan malam untuk membalas pemberontakanmu ini," timpal Mark dan mulai mengeluarkan kertas dan pulpen dari laci dan menuliskan semua permintaan Alisa kemudian menanda tanganinya. Ia berhenti menusuk dirinya saat dia mulai menulis dan ia mengambil surat yang dia sodorkan padanya dengan tanda tangannya di sana. Setelah itu ia membacanya dan merasa puas dengan isinya yang sesuai keinginannya walau pun di sana juga berisi syarat dari Mark yang mengatakan dirinya harus melayani kapan pun laki-laki itu menginginkannya, di sana juga tertulis kalau ia harus menuruti semua perintah laki-laki itu selama bersamanya dan dirinya juga tidak boleh mencoba kabur atau dia akan memberikannya kepada pemilik rumah bordil di daerah ini. "Sekarang berikan pisau itu!" perintah Mark dingin. Alisa menjauhkan pisau itu dari dadanya dan memberikannya pada Mark. Sepertinya mulai hari ini dia akan berubah profesi menjadi jalang laki-laki itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD