Anika sampai dirumah sakit di antar Kevin
" terimakasih lagi ya pak "
" saya ikut turun ya"
" nggak usah pak, maaf ya pak saya buru buru sampai jumpa besok di kantor. "
Anika langsung meninggalkan Kevin dan berjalan cepat melewati koridor rumah sakit. Kevin pun langsung pulang.
sampai di depan ruangan tempat mama di rawat Anika heran karena begitu ramai bahkan ibu, mas Rama, kak Yana juga ada disana. Saat Anika sampai Rama dan ibu langsung menarik tangan Anika mengajaknya bicara
" kenapa ramai sekali buk? " tanya Anika bingung
" keadaan tante Dewi sangat mengkhawatirkan, dan keinginan terakhir nya adalah melihat kamu dan Dewa menikah. mas disini untuk menikah kan kamu dengan Dewa disini saat ini juga" ucapan Rama yang membuat Anika terkejut
" mas Anika kan udah bilang Anika nggak mau, Anika nggak bisa mas, "
" ingat Anika keluarga om Haris banyak membantu kita dan juga kamu tidak ingin menjalankan keinginan ayah kita? Dewa lelaki yang baik dan tidak ada waktu Anika "
" mas sama ibuk nggak sayang Anika? Anika tidak bisa buk dan Anika sudah ada Arya pacar Anika. Anika nggak bisa nikah"
" kamu pacaran di belakang mas dan ibuk? "
" Anika, ibu Mohon nak, menikah dengan Dewa ini juga keinginan ayah kamu dan Dewi lihatlah keadaan nya. kalau kamu tidak mau menikah dengan Dewa ibuk tidak akan menganggap kamu anak ibuk lagi"
"ibuk!!!
baik Anika akan menikah dengan mas Dewa setelah ini mas Rama dan ibuk jangan ikut campur segala keputusan Anika dan Anika akan pergi dari rumah ibuk" ucap Anika sambil menangis
" mas dan ibuk lakukan ini untuk kebaikan kamu Anika percaya lah" kata Rama sambil memeluk Anika
Dewa pun keluar dan mendekati Anika
" Anika akan menikah dengan mas Dewa. puas!!!
mas Dewa jahat sama Anika mas Dewa tau Anika tidak menginginkan ini"
" mas janji akan bahagiain kamu Anika, "
" nggak! mas malah merebut semua yang Anika miliki saat ini"
Anika dan Dewa pun menikah dengan mas kawin cincin emas. pernikahan hanya menurut agama saja karena sangat terburu buru. Anika menangis dan menatap Dewa dengan amarah yang banyak yang ia tahan. bagaimanapun ia tidak ingin memperlihatkan penolakan nya ini pada papa Haris karena Anika sangat menghormati dan menyayangi mereka.
Anika dan Dewa mendekati mama Dewi dan mencium tangan mama Dewi yang tak tepat saat itu keadaannya langsung drop dan di bawa ke ruang ICU semua tampak panik begitu juga dengan Dewa
setelah 2 jam mama Dewi di pindahkan baru lah tampak tenang. Anika bahkan melupakan kemarahannya pada Dewa. sudah jam 1 malam Anika dan yang lainnya masih menunggu di depan ruang ICU. Dewa baru aja keluar dari melihat ibu nya. pertama kalinya Anika melihat wajah sedih dan hancurnya Dewa melihat keadaan ibunya. Anika tau yang Dewa rasakan, karena Anika pernah merasakannya saat kehilangan ayahnya dulu. dan dulu Dewa lah yang mendampingi Anika
Dewa berjalan menunduk tampak matanya yang merah karena menangis. Anika menghela napas nya dan berjalan mendekati Dewa yang berdiri bersandar di depan ruangan mama Dewi. Anika mendekati Dewa dan langsung memeluk Dewa menenangkan nya tanpa memikirkan orang lain yang melihat. Dewa pun melepaskan tangisnya dalam pelukan Anika yang saat ini sudah menjadi istrinya
" tenang mas.. mama pasti kuat" ucap Anika menenangkan
setelah cukup tenang Dewa pun menyuruh Anika m ikut pulang bersama ibu dan yang lainnya. Anika pun pulang
Anika hanya tertidur sebentar dan bersiap siap pergi kerja selesai mandi Anika duduk di depan meja riasnya menatap cincin nikah yang kini ia pakai di jari manisnya. lalu Anika melepasnya
" nggak ada yang boleh tau Anika udah menikah, lagian kan baru nikah sesuai agama aja, sebaiknya di rahasiakan dulu " gumam Anika
hari itu Anika tetap bekerja seperti biasanya. pak kevin memanggil Anika ke ruangannya
" gimana keadaan mama nya Dewa Anika "
" cukup mengkhawatirkan pak, semoga cepat membaik"
" kamu ada hubungan apa dengan Dewa? "
" sepertinya saya udah pernah bilang pak, mas Dewa itu teman saya sejak kecil sudah seperti kaka sendiri" jawab Anika yang mulai heran pak kevin sering sekali bertanya urusan peribadi di kantor
" oh baiklah, kamu bisa keluar"
" itu aja pak? "
"iya"
" baiklah saya permisi "
Anika merasa heran dengan sikap pak kevin yang selalu bertanya urusan pribadi Anika namun Anika memilih tidak menghiraukan nya karena masalah yang ia hadapi ini sudah cukup rumit dan sungguh membuat energinya habis. ingin berontak namun keadaan sekarang tidak tepat karena kondisi mama Dewi. anika lebih memilih melupakan dan berharap yang lain juga lupa tentang statusnya yang telah berubah menjadi istri dari seseorang. Anika juga tidak ada menghubungi Dewa sama sekali, dan Dewa juga tidak sempat menghubungi Anika karena pikiran nya hanya tertuju pada kondisi mama nya saat ini.
hari ini terasa berlalu sangat cepat, sudah waktunya pulang kerja dan Anika masih enggan meninggalkan kantor nya. bukan karena Anika karyawan yang baik tapi Anika sangat malas pulang ke rumah dan bertemu yang lainnya. Anika takut keluarganya membahas masalah pernikahan yang sudah terlanjur terjadi. walau hanya secara agama Anika cukup tau keadaan nya sudah tidak bebas seperti dulu.
hanya rasa kesal yang Anika rasakan jika teringat pernikahannya.
Anika membenamkan wajahnya diantara lipatan tangannya ia sangat tidak ingin pulang kerumah. berfikir untuk bertemu Arya namun Anika juga malas. hingga ketukan meja membuat Anika sadar dari lamunannya.
" ah pak Kevin, udah mau pulang pak? " tanya Anika asal
" tentu aja, kamu ngapain masih disini? biasanya kamu selalu menunggu jam pulang kerja... " sindir pak Kevin
" ah iya, ini saya mau pulang loh pak... "
Anika melihat jam ditangannya dan baru sadar sudah jam 9 keadaan kantor juga udah sepi sebagian lampu udah dimatikan. saat pak kevin mau pergi Anika dengan cepat menahan tangan Kevin
" maaf Pak, saya ikut saya takut turun sendiri "
" kamu baru sadar ini sudah malam? kamu tidur disini tadi? "
" hm... saya juga nggak tau pak saya tidur apa tidak tadi" ucap Anika polos
" ya sudah ayo"
" tungguin pak saya ambil tas dulu "
Kevin menunggu Anika, Anika memegang sedikit lengan baju Kevin agar memastikan Kevin tidak terlalu jauh darinya. Kevin menyadari itu dan memilih pura-pura tidak tau dan hal itu membuat Kevin tersenyum.
" kamu pulang sama saya aja, kita makan malam dulu "
" baik pak Terima kasih"
Anika dan Kevin pun makan malam bersama. Anika mulai nyaman bicara dengan pak Kevin.
" kamu kuliah semester berapa Anika? '
" saya baru semester 5 pak. saya akan cepat selesai kan kuliah saya, soalnya saya susah atur waktu kuliah saya karna bapak sering ada acara di luar kantor setelah selesai jam kerja" jawab Anika
" jadi saya ngerusak jadwal kamu? " tanya Kevin dengan satu alis dinaikkan
" bukan gitu pak, saya hanya akan menyelesaikan kuliah saya dengan cepat itu aja"
" cepatlah selesai kan saya juga mau seperti itu"
" maksud bapak? "tanya Anika bingung dengan ucapan Kevin yang ambigu
" apa tidak lelah kerja lalu kuliah? "tanya Kevin lagi
" nggak pak, ini memang yang Anika inginkan, bisa kuliah, dulu kehidupan keluarga Anika sangat sulit sejak ayah meninggal, sekarang sudah lebih baik jadi saya akan jalanin tanpa mengeluh " ucap Anika riang.
" bagus, saya suka"
" maksudnya pak? "
" kita bukan sedang di kantor dan bukan sedang dalam urusan kerja Anika, kamu bisa panggil nama saya aja, saya tidak cukup tua untuk kamu panggil bapak"
" terus saya panggil apa? '
" mas, saya mau kamu panggil saya mas Kevin "
" tapi pak, saya tidak nyaman dengan panggilan itu"
" saya mau kamu panggil saya gitu "
" iya baik mas Kevin "
" jauh lebih baik"