Part 1
Aku kira semua ini hanya mimpi..
Mencintaimu tidak pernah sejelas ini..
Kamu hanya seseorang yang seperti tokoh fiksi yang aku kagumi..
Tapi takdir mempertemukan kita pada titik yang sama..
Walau kamu tidak mencintaiku..
Aku tahu jelas kamu menjauhiku..
Aku tahu perhatian dan senyummu itu palsu..
Pernikahan ini hanya karena ibu memintamu menjagaku..
Dalam hatimu paling dalam kamu membenciku.
Cinta akan membuat matamu terbuka..
Cintaku tulus bukan karena kamu aktor dan terkenal..
Aku akan merubahmu, dan menjadikan diriku satu-satu orang yang pantas untuk dirimu.
Arjuna Mahardian.. Hanya aku.
Hujan deras membuatku tidak bisa melangkah keluar rumah, aku berada di rumah dan tetap menunggunya pulang. Walau aku tahu ia hanya akan datang mengunjungiku 1 bulan sekali karena kesibukannya. Tapi.. tetap saja aku menunggunya pulang berharap keajaiban akan berpihak padaku.
Aku ingin memasang televisi, namun aku takut karena suara petir di luar sana menggelegar. Padahal aku ingin melihat wajahnya. Aku ingin melihat matanya yang menatap lawan mainnya dengan sorotan yang tegas, dan aku ingin menatap punggungnya.
Drrrt...Drrrrtt..
Aku meraih ponselku cepat dan membaca pesan yang masuk.
“Jangan pergi ke luar, hujan deras.”
Mengetik...
“Jangan membuat dirimu terluka, aku tidak ingin ibu nanti memarahiku..”
Aku tersenyum senang membaca pesan penuh perhatian dari dirinya. Bisakah pesan sesingkat itu disebut pesan penuh perhatian? Arjuna hanya mengirimkan pesan kadang-kadang saja. Sudah 4 tahun kami menikah, sebenarnya karena desakan serta paksaan. Dan selama 4 tahun ini juga dia tidak pernah mengucapkan kata-kata manis padaku sekali pun. Rumah besar ini terasa sepi karena hanya aku yang menempatinya sehari-hari, Arjuna jarang pulang dan sibuk syuting. Rasanya aku ingin memiliki anak agar menemaniku dalam kesepian ini.
Pernikahan terjadi karena ibu yang meminta. Ia tidak ingin ibu meninggal dengan rasa bersalah di hatinya. Ia menuruti permintaan ibu walau ia memang tidak mencintaiku.
Kenyataan pahit ketika aku tahu ia tidak menyukai perempuan. Aku tahu itu semua saat dia mengatakannya padaku dengan sorotan mata yang lurus dan tegas.
“Aku tidak menyukai perempuan, percuma kamu menikahiku. Aku tidak akan menyentuhmu Aline..”
Aku menitikan air mata mendengar penjelasannya, dan membiarkannya pergi dari kamar pengantin kami yang susah payah aku bersama ibunya hias.
"Aline, Arjuna kalau lagi kelelahan tidurnya mendengkur keras loh, jangan kaget ya nanti." aku tersenyum malu, membayangkan wajah itu tertidur di sampingku dan saat ku membuka mata wajahnya lah yang pertama aku lihat setiap harinya.
tapi, kenyataan menampar aku. Ia juga menyembunyikan pernikahan kami dari semua orang. Ia tidak ingin karirnya rusak karena pernikahan kami. Tapi, dengan sabar aku menghadapinya karena perlahan-lahan dari pernikahan ini aku belajar arti hidup, arti cinta darinya yang tidak pernah mencintaiku.
Bagaimana pun aku bersolek dia tidak pernah memujiku, masakanku yang banyak orang bilang lezat dia juga tidak menyukainya. Dia tidak pernah memuji hal-hal yang sering aku lakukan untuknya. Dia seperti membenciku, padahal aku selalu memberikan tatapan cinta untuknya. Aku bahkan merelakan untuk tidak mengajar anak-anak lagi di kampong ini untuk mengabdi pada Arjuna. Aku ingin menjadi tempatnya menangis, berbagi kebahagiaan, bahkan bisa menghabiskan waktu tua bersamanya. Tapi, apakah aku akan kuat menghadapinya? Ini membutuhkan semua kesabaran di seluruh dunia. Dia lebih suka makanan di luar sana yang bisa membuatnya sakit dibandingkan masakanku. Ia mengirimiku pesan singkat itu pun karena ia menjaga pesan ibu.
“Jaga Aline untuk ibu...”
Itu adalah pesan terakhir dari ibunya setelah satu bulan kami menikah dan dia hanya menganggukan kepalanya tanpa membalas satu kata pun.
Ibu Rafah, satu-satunya keluarga yang ia miliki. Saat pernikahan berlangsung aku tahu ia berusaha mengelak dari kenyataan. Tapi, ia juga tidak ingin membuat ibu sedih.
Aku jadi mengingat hari pernikahan kami 24 November 2012..
Mama yang mendandaniku terus melebarkan senyumnya kala itu, ia merapihkan rambutku berkali-kali.
“Ndo.. beruntung lho kamu dapetin si Arjuna Mahardian jadi suami kamu, udah ganteng, mapan, aduh sempurna banget deh ndoo.. mamamu ini aja sampe iri lho! Kamu kalau punya anak sama Arjuna pasti cantik atau ganteng pisan ya. Buru-buru punya momongan. ”sahut mamaku. Aku hanya tersipu malu mendengar ucapannya. Aku juga ingin segera menimang anak. Apalagi setelah pernikahan ini aku akan di bawanya ke ibu kota karena pekerjaan Arjuna di sana tidak bisa ditinggalkan. Arjuna sudah menyiapkan rumah untuk tinggal.
“Ehem!”
Suara dehaman dari bapak membuat mamaku buru-buru menutup mulutnya dan merapihkan rambutku lagi.
“Jadi bapak gak ganteng lagi toh ma?”sahut bapakku, terlihat pura-pura kesal.
Mamaku tertawa melihat bapak yang sedang mengangkat kerah kemejanya, agar terlihat gagah didepan kami berdua.
“Yah bapak tetap ganteng di mata mama, ya kan Aline?”sahutnya, menatapku seolah meminta dukungan, aku hanya tersenyum menatap mama yang memegang pundakku lalu mengangguk pelan.
“Aline, ayo kita ke depan suami kamu sudah menunggu nak..”sahut ibu Rafah sambil menyingkap tirai yang terpasang di ruang make up, aku melangkah pelan karena kain yang membelit dipinggangku membuatku sulit berjalan.
Arjuna Mahardian..
Yang biasanya aku melihatnya dari televisi dan sekarang dia akan menjadi suamiku, teman hidupku selamanya? Seperti mimpi..
Tampannya..
Langkahku terhenti ketika melihatnya, ia memakai baju pengantin khas jawa. Blangkon di atas kepalanya membuatnya lebih tampan. Rambut halus yang tumbuh di sekitar wajahnya tercukur rapi, membuatnya jauh lebih tampan dibandingkan dengan yang sering kulihat di televisi.
Ia terduduk dan menatapku, senyumnya membuatku terpaku.
“Ndo.. ayo cepat jangan melamun disitu” ujar Ibu Rafah menegurku. Ibu terlihat menahan air mata karena anak gadisnya dipinang. Tentu saja akan menjadi pembicaraan saudara karena aku menikahi laki-laki terbaik.
Aku duduk di samping Arjuna dengan anggun, ia mengucap ijab kabul dengan tegas dan cepat. Semua mengucap Sah! Aku melihat Arjuna mengembuskan nafas lega.
Aku menitikan air mataku mengingat moment itu. Mama, bapak, dan ibu Rafah tersenyum senang sambil mengucap syukur. Aku kira itulah awal kebahagiaanku. Aku pikir aku adalah wanita terbahagia di dunia karena mendapatkan pria pujaan wanita.
Ternyata aku salah.. semua itu adalah awal dari kesabaran dan cinta yang sebenarnya sedang diuji. Aku sudah berjanji kepada Tuhan, aku akan menjaga cinta ini sepenuh hati, menghadapi semua badai dengan kuat. Karena pernikahan hanya sekali, untuk seumur hidup.
Namun bila hari ini adalah yang terakhir
Namun ku tetap bahagia
Selalu kusyukuri
Begitulah adanya
Namun bila kau ingin sendiri
Cepat cepatlah sampaikan kepadaku
Agar ku tak berharap
Dan buat kau bersedih
Bila nanti saatnya telah tiba
Kuingin kau menjadi istriku
Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan
Berlarian kesana-kemari dan tertawa
Namun bila saat berpisah telah tiba
Izinkanku menjaga dirimu
Berdua menikmati pelukan di ujung waktu
Sudilah kau temani diriku
Namun bila kau ingin sendiri
Cepat cepatlah sampaikan kepadaku
Agar ku tak berharap
Dan buat kau bersedih
Payung Teduh - Akad