Selamat membaca. "Hai anak-anak. Ada papa bersama kita," lirih Parmi sangat pelan berbicara pada perut besarnya. Namun masih jelas ditangkap oleh indera pendengaran Anton. Lelaki itu hanya bisa menggenggam tangan istrinya, tanpa bisa berkata. Air matanya sudah mengalir deras, bahkan telinganya ikut berair, eh ... salah, maksudnya hidung Anton juga berair. Brangkar Parmi ditarik masuk ke dalam ruang operasi oleh seorang perawat. Tak banyak yang bisa Anton katakan, karena ia memang tak sanggup berkata apa-apa lagi. Begitu pun juga Parmi. "Aku menunggumu Parmi, lahirkan anak-anak kita dengan selamat," seru Anton pada istrinya, sebelum pintu ruang operasi itu benar-benar tertutup. Anton berjalan keluar ruangan, tampak disana masih ada Ali mahasiswanya, dokter Alan dan juga seorang wanita d

