Pandhu merasakan jantungnya berdebar kencang apalagi wajah gadis di hadapannya itu mulai memerah. Walau tidak ada jawaban yang keluar dari bibir gadis itu, selain raut wajahnya yang tegang yang gerakannya yang menggulung ujung kemejanya. Pandhu tahu pertanyaannya tadi sedikit gila, apalagi untuk orang yang baru ditemuinya 2 kali secara langsung. Pandhu menggenggam tangannya, menahan keinginannya untuk segera melahap bibir merah yang lembut milik gadis di hadapannya kini. Adera akhirnya menundukkan kepalanya, gadis itu merasa malu dengan tatapan tajam yang di berikan Pandhu untuk dirinya.
“Tidak usah dipikirkan, Savannah. Aku hanya bercanda, masuklah aku akan melihatmu dari sini.” Pandhu mengucapkannya dengan suara yang berat. Adera menurut tanpa mengatakan apapun, gadis itu segera membuka pintu mobil dan berjalan keluar. Adera yakin Pandhu tidak bercanda dengan kata-katanya beberapa menit yang lalu. Sudahlah itu bukan urusanku, bisiknya dalam hati. Setelah mendekati pintu rumahnya, Adera menoleh sebentar ke belakang. Gadis itu segera membuang pandangannya ketika mengetahui Pandhu masih mengawasinya. Adera memang tidak melihat dengan jelas Pandhu mengawasinya, tapi pria itu masih bisa melihat dirinya dengan jelas dari dalam mobilnya. Adera segera masuk ke dalam rumahnya, gadis itu memejamkan matanya dan bersandar di daun pintu.
Hufffttt, kenapa rasanya mulai berbeda. Apa karena aku baru saja putus dari Wilson ya? Setelah merasa baikkan Adera mengintip dari pintu yang sengaja dibuka tidak begitu lebar tapi cukup untuk melihat keadaan di luar rumahnya. Mobil Pandhu baru saja meninggalkan rumahnya, Adera lalu menutup pintunya. Ada apa dengan dirinya? Kenapa aku harus dipertemukan dengan pria yang seperti itu? Adera mengembuskan napasnya kasar.
Sepanjang jalan Pandhu melamun, pria itu menggelengkan kepalanya. Kenapa gadis itu membuatnya selalu menginginkan hal yang lebih dari apa yang bisa dilakukannya? Pandhu tidak ingin mengikat Adera, tapi dirinya juga jelas tidak mungkin untuk menjauh dari gadis itu. Pandhu meraba dashboard mengambil pigura kecil yang ada di situ. Pandhu menatap pigura kecil itu, seorang gadis yang tersenyum manis. Pandhu sudah tidak ingat kapan foto ini diambil, foto ini sudah sangat usang. Tapi foto ini sangat berarti dalam hidupnya beberapa tahun yang kalau atau mungkin sampai sekarang.
Pandhu menggelengkan kepalanya dan segera menyetir ke rumah sahabatnya, Radit. Ini momen yang tepat apalagi istri Radit sedang ada agenda di luar negeri. Pandhu ingin menceritakan semua kegelisahannya, pada pria itu. Siapa tahu ada solusi yang akan didapatnya. Pandhu butuh seseorang untuk mengutarakan kegundahan hati dan pikirannya akhir-akhir ini.
Sampai di rumah Radit, Pandhu segera menekan bel dengan tenang. Radit yang mendengar bel berbunyi segera berjalan dengan malas-malasan membukakan pintu. Siapa yang datang bertamu di pertengahan malam ini?
“Silahkan masuk, bro,” Pandhu mengangguk dan masuk ke dalam rumah Radit . Radit segera menutup pintunya dan mengikuti Pandhu yang sudah duduk di sofa.
“Jadi ada masalah apa bro? Masih tentang cewek itu, atau masalah lainnya?” Pandhu menganggukkan kepalanya. Radit menggelengkan kepalanya lalu tersenyum manis sambil mengedipkan matanya.
“Sepertinya ini tanda-tanda gue akan dapat ponakan dari lo. Congratulation bro,” Pandhu menggelengkan kepalanya. Radit berpikir terlalu jauh, Pandhu tidak mungkin akan melangkah sejauh itu hanya karena Savannah memiliki kemiripan dengan Adelia.
“Tidak sejauh itu bro, mungkin gue nyaman dengan gadis itu karena dia mirip dengan Adelia. Kan lo tahu sendiri, kenapa gue masih sendiri. Gue tidak ingin kehilangan lagi,” Radit menganggukkan kepala, pria itu lalu mengisyaratkan Asih untuk memberikan minuman di depan Pandhu. Untung bi asih Tidak cepat tidur malam ini.
“Tapi mau sampai kapan bro, coba deh lo berdoa pada Tuhan buat dapat jawaban yang pas. Lo juga makin hari makin tua, dan kasihan kalau lo gak punya pewaris.” Pandhu menggelengkan kepalanya, pria itu tidak begitu memikirkan pewaris. Lagi pula sudah ada Xello yang menjadi penerus di keluarganya.
“Tapi itu cewek bukannya sedang terjerat masalah karena foto-foto yang tersebar di sosial media itu?” Pandhu mengangguk, Radit berdecak kecil dan menatap Pandhu sambil menatapnya serius. Itu hak Pandhu sih mau memilih gadis yang mana, cuma bagaimana dengan keluarga pria itu?
“Gila lo, apa oma akan terima kalau lo dekat dengan gadis itu? Walaupun gue juga gak tahu yang benarnya seperti apa tapi yang pasti oma akan bisa drop kalau lo dekat dengan cewek yang punya skandal foto-foto tersebar seperti itu.” Pandhu menggelengkan kepalanya. Oma yang dikenalnya tidak sepeti itu dalam menilai orang lain, wanita itu sangat bijaksana menyikapi sesuatu termaksud menilai orang lain. Buktinya Arianna saja tidak dipermasalahkan padahal wanita itu juga playgirl pada zamannya.
“Oma bisa paham sih, lagi pula sekedar dekat doang kok.” Radit mengangkat bahunya dan mulai menyesap minumannya. Semoga benar sepeti apa yang Lo katakan bro bisiknya dalam hati. Karena beberapa hari terakhir Radit merasa Pandhu bukan lagi Pandhu beberapa tahun terakhir yang tertutup pada wanita. Bahkan sampai terang-terangan mengusir semua wanita yang coba untuk mendekatinya. Radit memilih untuk mengalihkan topik, daripada membahas gadis itu. Takutnya dirinya malah akan melarang Pandhu untuk mendekati gadis itu karena menurutnya gadis itu kurang tepat untuk Pandhu.
“Ngomong-ngomong, bagaimana proyek lo yang roti kaya serat itu?” Pandhu tersenyum mendengar pertanyaan dari Radit. Wajah pria itu berbinar-binar.
“Untuk saat ini, itu sangat lancar sih karena banyak yang cari.” Pandhu berjeda sedikit. Pria itu menghela napas dan kembali melanjutkan.
“Terus untuk masalah peluncuran produk baru kita, coba hubungi Marcel untuk kerja sama. Pakai artis dia untuk jadi model di produk kita.” Radit mengangguk, tapi pria itu mengerutkan alisnya. Matanya menatap tajam Pandhu. Ada apa dengan Pandhu, itu bukan produk main-main. Kenapa harus modelnya artis dari Marcel.
“Kamu sedang tidak bercanda 'kan? Walau aku kurang update, tapi aku tahu artisnya Adera Savannah itu 'kan? Orang yang sama? Jangan bercanda Pandhu!” Pandhu tersenyum menyeringai dan menatap Radit dengan mata menyipit. Dirinya tidak bercanda, dia juga sudah memperhitungkan itu semua.
“Aku benar tidak sedang bercanda dan aku pikir tidak ada salahnya menggunakan dia. Dia sedang dicari sekarang, walau banyak yang menolaknya bukan berarti dia tidak akan dicari oleh orang-orang yang haus akan gosip.” Radit menggelengkan kepalanya. Itu benar, tapi kalau seperti ini apakah itu berarti Pandhu diam-diam sudah punya rasa untuk gadis itu.
"Ini bukan karena lo tertarik pada gadis itu kan? Masih ada yang lebih baik dari dia." Pandhu memegang dagunya dan tersenyum tipis.
"Aku pikir dia model yang cocok, lagi pula aku juga punya banyak pertimbangan dalam memilih model. Selain itu hitung-hitung agar gadis itu tidak bunuh diri, dia sangat terpukul karena hal ini. Dia sebatang kara, ibunya meninggal setahun yang lalu sedangkan ayahnya meninggal sejak gadis itu masih kecil." Radit menggelengkan kepala, berarti dia benar-benar kecolongan. Pandhu sudah melangkah begitu jauh.
“Baiklah, akan aku sampaikan tapi aku tidak janji, dirinya akan setuju dengan penawaran ini. Hati-hati Pandhu, lo sudah bergerak terlalu jauh untuk gadis itu." Pandhu menganggukkan kepalanya. Pria itu memejamkan matanya, Radit menggelengkan kepalanya. Radit tidak habis pikir apa yang membuat Pandhu sampai seperti ini.
Adera yang sudah akan tidur kembali berguling-guling mencari posisi yang nyaman untuk dirinya. Apa yang dipikirkan Pandhu, bukannya dia sudah memiliki orang yang penting dalam hidupnya? Adera menggelengkan kepalanya untuk mengenyahkan pikiran yang mengganggunya. Gadis itu mulai memejamkan matanya sampai terlelap bersama kesunyian malam.
Pagi hari Adera bangun lebih awal gadis itu ingin melakukan work out sebelum memulai semua aktivitasnya. Tidak ada aktivitas yang berarti yang ingin dilakukannya, mungkin bertemu Fenola sebentar dan juga bertemu dengan Myana yang baru pulang dari luar negeri. Adera masih tidak membuka media sosialnya, masih banyak ketakutan yang ada di benaknya.
Saat sedang mengelap keringat yang meluncur di seluruh wajahnya ponselnya berdering. Adera melemparkan handuknya dan berlari untuk mengangkat panggilan telepon di ponselnya.
“Pagi mas, aku baru habis work out sih. Jam 9, ada apa?” Adera menggaruk-garuk kepalanya. Dirinya kurang tertarik dengan tawaran dari Maxel, pasti nanti juga gue di bully lagi. Tapi gak mungkin juga gue mau berdiam diri terus, udah seminggu berlalu juga sih.
“Iya, iya aku akan datang kok. Iya,” Adera mematikan ponselnya DNA berjalan menuju dapurnya untuk membuat sarapan pagi sepeti biasa. Kira-kira apa yang membuat Marcel antusias untuk memanggilnya? Gadis itu langsung menghubungi Fedora untuk mengatakan jika dirinya belum bisa datang berkunjung karena harus menemui Marcel setelah ini.
“Itu dari Adera?” Fedora yang menjauhkan ponselnya dari telinganya menganggukkan kepalanya.
“Iya dari dia, tadi aku ajak gabung kesini. Tapi dia mau ketemu Marcel jadi tidak bisa datang ke sini.” Myana menganggukkan kepalanya. Gadis itu kalau menyedot minumannya dan memainkan pipetnya.
“Bukannya Adera terjerat skandal ya? Memang dia dapat pekerjaan? Bisanya orang yang terkena skandal sepeti dia akan kehilangan pekerjaannya ‘kan?” Fedora mengerutkan alisnya dan menatap Myana dengan tatapan penuh selidik.
“Lo kok gitu, harus lo bersyukur dia masih dapat pekerjaan. Lagi pula itu belum tentu dia. Kita sahabatan sudah lama, pasti tahu lah sahabat kita gimana orangnya.” Myana memutar kedua bola matanya, kalau menarik napasnya dan menatap Fedora datar.
“Gue cuma nanya, lagi pula karena sudah sahabatan lama banget, gue tahu kalau itu benar-benar dia. Tapi itu bukan masalah sih, jangan sensitif deh.” Fedora menghela napasnya, mungkin benar dirinya yang sangat sensitif. Tapi nantilah dia akan menanyakan hal itu pada Adera secara lebih jelas. Mungkin Adera bisa menjelaskan segera gamblang apa yang telah terjadi.
“Oke, maaf kalau gue sensitif. Cuma gue gak ingin lo mengatakan hal seperti tadi pada Adera. Adera gak punya siapa-siapa lagi selain kita.” Myana tersenyum datar, dan memajukan wajahnya menatap fedora dengan senyum kecilnya.
“Bukannya dia masih punya tunangan?” Fedora menggelengkan kepala, gadis itu menarik napas.
“Tidak, Wilson sudah memutuskan pertunangan mereka.” Myana mengulum senyum dan menghembuskan napas lega.
“Baguslah kalau seperti itu,” Alis fedora terangkat. Apa dia tidak salah dengar? Apanya yang bagus? Itukan musibah harusnya Myana juga merasa sedih dong.
“Kamau gak salah ngomong? Kok bagus?” Myana tersenyum kecil dan berdehem sebentar. Fedora menatap gadis itu dengan alis bertaut.
“Tidak kok, iya bagus menurutku aku. Itu kan sudah menjadi bukti Wilson tidak bisa menjadi suami yang baik bagi Adera. Buktinya dengan adanya masalah itu dia malah melepaskan Adera bukan bantu mencari tahu lebih jauh kan.” Fedora menganggukkan kepalanya, iya juga sih. Tapi kenapa bukan mereka sebagai sahabat juga membantu untuk mencari tahu?
“Kalau gitu kita saja yang bantu mencari tahu, gimana?” Myana hanya tertawa kecil.
“Gue sibuk, banyak pemotretan. Maaf ya gue gak ikutan.” Fedora menganggukkan kepalanya. Iya sih Myana sangat sibuk-sibuknya sekarang. Fedora akhirnya tidak bersuara lagi gadis itu menyibukkan dirinya dengan minuman yang ada di hadapannya.