Tawaran Jadi Model

1670 Words
Adera datang ke kantor Marcel dengan tergesa-gesa. Gadis itu menarik napas panjang, Adera merasa agak sesak karena masker yang dipakainya. Gadis itu masih belum siap untuk bertemu dengan orang banyak entahlah mungkin itu hanya perasaan takutnya saja. Karena mungkin orang-orang pun tidak akan mengenalinya kalau berpenampiln biasa. Gadis itu segera bmenuju ruangan Marcel untuk bertemu dengan pria itu. “Mbak sudah ditunggu di dalam oleh pak Marcel.” Adera menganggukkan kepalanya pada Lili yang tersenyum manis pada dirinya. Sekedar informasi Lili itu asisten Marcel, Adera segera ke ruangan marcel. Adera segera masuk setelah mengetuk pintu dan pria itu menyuruhnya masuk. Marcel tersenyum melihat Adera yang kini sudah berdiri di depannya. Dari tadi sudah ditungguin, sepertinya Adera terlambat karena dandanannya hari ini yang super berbeda. Gadis itu menggunakan topi kacamata dan baju kedodoran sepeti membungkus dirinya batin Marcel. “Akhirnya sampai juga lo, terus ngapin sih lo dandan sperti itu? Orang yang sudah mengenal lo juga tetap akan ngeh kalau itu lo.” Adera mengerucutkn bibirnya mendengar perkataan yang keluar dari bibir pria itu. Gadis itu mencopot maskernya dan juga topi beserta kaca mata yang tadi menutupi wajahnya. “Gue takut di bully, apalagi memang alasannya?” Adera menghebuskan napasnya dan menarik kursi yang berhadapan dengan Marcel. Marcel berdiri dari tempat duduknya, pria itu menatap ke arah jendela. Terdiam sejenak kalau berbalik menatap Adera. “Tentang bully, ini kan maslahnya sudah satu minggu yang lalu juga. Gue pikir lo tidak akan se shock waktu pertama kali mendengar berita ini. Jadi gue mau tanya, apa yang sebenarnya telah terjadi?” Adera menelan ludahnya, mungkin Marcel tidak bertanya selama ini hanya memberikan ruang untuk dirinya sendiri. Adera menggigit bibirnya, gadis itu terdiam sejenak. Tidak mungkin untuk mengatakan itu bukan dirinya sedangkan Marcel sangat mengenalinya. Gadis itu menggaruk tengkuknya beberapa kali, dan Marcel hanya memerhatikan sambil mengangkat alisnya menantikan penjelasan dari bibir gadis itu. “Itu benar gue,” Marcel melotot pria itu langsung menggenggam tangannya, Adera menelan ludahnya dan segera menyambung kalimatnya. Agar Marcel tidak salah paham “Tapi gue gak tahu bagaimana itu bisa terjadi, aku hanya ingat terbangun tanpa menggunakan atasan dan tiba-tiba saja viral beberapa minggu kemudian, itu doang kok. Sumpah.” Adera sampai mengangkat dua jarinya agar Marcel yakin. Tidak ada raut apapun yang tergambar dari wajah pria itu. Marcel menghela napasnya, menganggukkan kepalanya dan menyipitkan matanya pada Adera. “Kalau benar seperti itu kenapa lo takut Adera? Ketakutan hanya untuk mereka yang melakukan kesalahan. Jadi harusnya lo gak perlu berkabung atau bersedih berhari-hari. Harusnya lo buktikan jika itu tidak benar.” Marcel mengucapkannya dengan intonasi yang sedikit naik. Adera menatap tajam pria itu, gadis itu tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Marcel. “Lo itu benar-benar tidak mengerti, lo enak ngomongnya kayak gitu. Pokoknya aku tidak mau bahas masalah ini karena aku datang ke sini bukan untuk membahas masalah ini.” Adera memejamkan matanya, tidak ingin mengeluarkan air matanya. Gadis itu tidak ingin membahas masalah ini lagi, baginya itu sudah terjadi tidak perlu dibahas lagi. Adera bukannya tidak berusaha untuk mencari tahu hal ini. Gadis itu juga sudah mencoba bertanya di pihak hotel, tapi tidak ada jawaban yang memuaskan. Adera tidak ingin bermain tebak-tebakan yang tidak memberikan jawaban memuaskan dan memiliki titik terang. Jadi biarkan saja, cepat atau lamabt pasti akan ketahuan itu yang dipercaya oleh dirinya. Mungkin kalau sudah siap Adera akan mencari tahu lebih lanjut lagi. “Sorry, Der. Tapi aku cuma tidak suka saja cara lo yang mematikan semua alat komunikasi lo. Padahal gue juga lagi di luar negeri dan gue gak mungkin untuk datang samperin lo ke rumah lo.” Adera menganggukkan kepalanya, Marcel meremas rambutnya dan kembali ke tempat duduknya. Adera tidak tahu saja begitu khawatirnya dirinya pada gadis itu dan dirinya tidak bisa melakukan apa-apa. “Okay, langsung bahas saja ada apa gue dipanggil kesini. Kalau masalah kontrak yang di batalkan itu sudah pasti, dan gue juga tidak masalah. Karena gue tidak punya bukti valid juga untuk membuktikan kalau gue tidak salah atau gue di jebak.” Adera menatap Marcel yang malah tersenyum. Pria itu menyesap minumannya dan mengeluarkan mapnya laku menatap gadis itu. Adera menaikkan alisnya, gadis itu menyipitkan matanya. Nusantara Group? Sepertinya tidak asing, tapi dimana dia pernah tahu tentang Nusantara grup? “Ini apaan?” Adera menatap tajam Marcel yang masih tersenyum. Pria itu menatap Adera dengan senyuman manisnya. Sepertinya Marcel sangat bahagia sekarang bisik Adera dalam hati. “Itu tawaran kontrak untuk kerja sama dengan sebuah brand. Kamu diminta untuk jadi modelnya, dan aku setuju jadi kamu tinggal tanda tangannya saja. Lagi pula gede loh bayarannya.” Adera memejamkan matanya, gadis itu tidak peduli pada angka yang ditawarkan. Tapi masalahnya sekarang dirinya tidak tahu dengan siapa akan bekerja sama. Biasanya Adera yang bertemu langsung dengan pihak yang mengajaknya untuk kerja sama sebelum menandatangani kontrak. “Lo gak tanya gue dulu, main iyain aja? Aku tuh sebenarnya belum berani sih untuk kembali jadi model apapun dalam waktu dekat ini. Lo tahu sendiri kan kalau gue masih sering dihujat.” Marcel menggelengkan kepalanya. Menurutnya ini kesempatan emas untuk Adera. Sepertinya Adera butuh disadarkan dulu nih. “Adera Savannah, model paling ketceh paling cantik. Lo kenapa sih? Kalau itu jebakan bukan karena lo sengaja, di cuekin saja. Lagian makin banyak yang hujat pasti makin banyak yang kepo dengan lo dan tidak menutup kemungkinan lo akan dapatkan pekerjaan yang lebih banyak lagi. Wake up, sayang!” Adera terdiam beberapa saat. Lalu kembali mendongak dan menatap Marcel yang tersenyum penuh kemenangan. “Tapi gue gak kenal yang punya brand itu.” Marcel menatap lucu pada Adera. Namanya uang asal uangnya jelas kenal gak kenal gak papa. Gadis itu tersenyum lemas. “Pokoknya ini aman, dan orangnya gue sudah kenal. Pasti gak menyesal deh kalau lo kenal dia. Tampan banget, untung-untung bisa ketemu dia. Biasanya orangnya super sibuk sih. pokoknya ini tajir melintir, Wilson mah lewat.” Adera terdiam, semoga dirinya bisa melakukan semuanya dengan profesional. Gadis itu menggelengkan kepalanya mendengar Marcel yang memuji-muji pria itu. “Gue khawatir tahu, selama ini lo gak kabarin gue.” Adera mengangguk saja, dirunya juga sudah tahu apa yang sebenarnya dikhawatirkan oleh Marcel. Apalagi kalau bukan duit. “Lo khawatir sama duit kali,” Marcel menimpuk Adera dengan tisu yang ada di mejanya. “Iya sih, tapi gue benar-benar khawatir lo bunuh diri atau apa gitu.” Adera mencibir, mau sih bunuh diri cuma gadis itu juga tidak yakin dengan bunuh diri semuanya benar-benar selesai. “Terus gimana, Wilson?” Adera menatap malas pada Marcel, ini sih kebiasaan pria ini menanyakan banyak hal-hal pribadinya yang kadang membuat Adera merasa risih untuk menjawab karena pada akhirnya kadang jadi ledekan untuk dirinya. “Dia baik-baik saja. Ada apa memang?” Adera menatap Marcel yang menggaruk tengkuknya dan tersenyum tidak enakkan. “Gak ada sih, cuma kemarin tidak sengaja aku nonton ada wartawan yang minta tanggapan dari ibu Wilson mengenai foto-foto itu. Dan katanya pernikahan kalian dibatalkan,” Adera menganggukkan kepalanya. Kalau sudah tahu jawabannya kenapa nanya lagi? Adera menatap tajam Marcel yang tersenyum tidak enakkan. “Kalau Li sudah tahu jawabannya tidak udah ditanyakan lagi. Tidak penting juga kan untuk dibahas, lo menambah gue sedih saja. Awas kalau lo menjawab pertanyaan dari media tentang hal ini.” Marcel mengangguk-angguk paham. Pria itu lalu berdiri dari tempat duduknya berjalan keluar dari ruangan. “Tunggu yah, aku ambil makan dulu untuk kamu.” Adera mengangguk, gadis itu beralih menatap berkas dihapuskannya Adera membaca sekilas lalu menandatangani berkas itu. Semoga apa yang dikatakan Marcel bisa membuatnya kuat untuk membuktikan jika dirinya tidak seperti apa yang orang-orang katakan. Siangnya Pandhu sedang sibuk bersama berkas-berkas yang ada di hadapannya. Tidak ada yang bisa menghentikan Pandhu jika sedang bekerja, begitu pula dengan sekretarisnya. Chintia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Pandhu yang sangat sibuk, wanita itu lalu melirik pada Radit yang ingin bertemu dengan Pandhu. “Silahkan masuk saja Pak, pak Pandhu masih bekerja sekarang. Mungkin kehadiran Anda akan membuat dirinya berselera untuk makan siang.” Radit tertawa mendengar penuturan sekretaris dari sahabatnya ini. Pandhu memang terkenal sangat gila kerja sejak kepergian Adelia. Mungkin itu cara pria itu melarikan diri dari rasa setres dan kehilangan yang dimilikinya. “Teruma kasih Chintia, semoga benar seperti itu. Tolong antarkan kami makan siang di ruangannya.” Wanita itu menaikkan jempolnya, Radit segera melenggang pergi menuju ruangan Pandhu. Sebenarnya dia tidak berniat untuk menghampiri Pandhu saat makan siang, tapi pagi tadi pria itu kembali memintanya untuk menemuinya secara langsung jika ada kabar dari Marcel. “Sibuk banget lo, ini sudah waktunya untuk makan siang.” Pandhu mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Radit. Pria itu langsung turun dari kursi kerjanya dan berjalan menuju tempat duduk Radit. “Thanks lo udah mau datang, ada informasi apa dari marcel?” Radit tertawa kecil, lalu melonggarkan dasinya. “Kepo banget, menurut lo informasi apa sampai gue datang ke sini?” Pandhu mengangkat bahunya. Pria itu menunggu Radit untuk melanjutkan kalimatnya. “Nggak asyik sih lo, Adera sudah menandatangani perjanjian itu.” Pandhu mengangguk, itu sudah sesuai dengan dugaannya. Radit menghebuskan napasnya dan balik menatap pria itu. “Terus untuk model prianya siapa lagi ya g harus gue hanya bungi?” Pandhu mengelus dagunya, dan sedetik kemudian tersenyum cerah. Radit mengerutkan alisnya, menanti perintah dari Pandhu. “Aku saja!” Gubrak! Radit seperti jatuh dari atas tempat duduknya. Pria itu menatap horor pada Pandhu, matanya bergerak dari atas ke bawah memindai Pandhu. “Kenapa lo melihat gue sepeti itu?” Pandhu menatap biasa pada Radit yang bahkan terlihat pucat. “Lo … lo serius? Lo mau jadi modelnya? Lo sudah 40 tahun bukan anak ABG kalau Lo lupa.” Pandhu tertawa kencang. Apa yang menjadi masalah? Dia masih memiliki tubuh yang oke dan wajahnya juga terbilang sangat tampan. “Serius, aku juga masih oke kan. Bahkan kalau tidak pemilih aku pasti bisa menjadi Playboy berkat wajah dan tubuh sexyku.” Radit menepuk jidatnya lalu mengusap wajahnya, ternyata sahabatnya ini sangat narsis juga menilai dirinya. “Iya tapi kan masih ada orang lain lagi, lo aneh banget deh. Lo benaran jatuh cinta sama gadis itu sampai harus menjadi modelnya? Mau pendekatan pada gadis itu?” Pandhu tertegun langsung menggelengkan kepalanya. Pria itu lalu mengusap dagunya. Jatuh cinta? Pandhu tidak begitu yakin, dirinya cuma tertarik dan ingin menolong gadis itu. Lagi pula cinta itu menyesakkan. “Aku tidak yakin sih, lagi pula aku hanya ingin memberikan yang kesan lain untuk produk ini. Aku kan belum pernah menjadi model dimana pun, jadi aku pikir tidak ada salhanya.” Setelah berkata seperti itu pria itu mengalihkan pembicaraannya pada hal lain. Hanya Radit yang masih terbengong-bengong otaknya tidak bisa memproses apa yang ada di pikiran Pandhu. Yang pasti hanyalah keputusan pria itu tidak bisa diganggu gugat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD