Birthday Alex

1515 Words
Malamnya Adera sudah bersiap-siap untuk ke klub,  sepupu Fedora yang akan mengadakan perayaan ulang tahun. Kalau bukan karena Fedora yang sudah mengancamnya dan juga mewanti-wanti jika dirinya tidak datang maka Fedora akan memutus persahabatan mereka. Adera tahu itu hanya candaan, ayolah mereka sudah mmengenal selama bertahun-tahun. Jadi sangat tidak mungkin untuk memutuskan persahabatan mmerek hanya karena hal ini. Adera mengecek penampilannya, terakhir gadis itu menyemprotkan parfum di tubuhnya. Sempurna! Bisiknya dalam hati. Gadis itu segera menelpon Fedora. “Aku sudah siap-siap nih. Kamu gimana?” Adera mengehala napasnya mendengar jawaban dari Fedora. Dasar tidak setia kawan bisiknya, Fedora sudah berada di klub. Adera mematikan sambungan telepon miliknya, dan segera meraih kunci mobilnya. Pandhu yang kini sudah rapi dengan setelan jasnya menghampiri Oma yang masih terduduk di ruang tamu. Pandhu menggelengkan kepalanya, apa lagi yang dipikirkan oleh wanita itu menjelang malam sepeti ini. Pandhu segera mendekat dan mendaratkan kecupan di pipi oma yang kini tersenyum manis pada dirinya. “Oma, jangan banyak pikiran. Sekarang sudah malam, mari Pandhu antar ke kamar.” Wanita itu tersenyum lagi lalu menggelengkan kepalanya. Wanita itu menghebuskan napasnya kasar dan menatap Pandhu dengan hati-hati. Pandhu mengerutkan alisnya, apa yang mengganggu pikiran oma? “Tadi Yudha ke sini, nitip pesan untuk meminta kamu menikah. Dia ingin dapat cucu lagi katanya.” Pandhu tersenyum sinis. Cihhhhh, dasar tua bangka tidak tahu malu. Oma mengelus lengannya, lalu kembali melanjutkan. “Tapi oma, juga tidak mengiyakan. Oma tidak ingin memaksa kamu walau oma sangat ingin kamu menikah. Lagi pula kalau kamu kelamaan sendiri jangan sampai kamu di jodohkan oleh Brenda dengan anak-anak temannya.” Pandhu menggaruk kepalanya dan menggeleng pelan. Kenapa sekarang semua orang ribet dengan pernikahannya? Pandhu mengecup punggung tangan wanita itu. “Nggak usah dipikirkan oma, lagi pula papa kan cuma tahunya minta ini itu saja. Bagaimana Axel hari ini?” Oma tersenyum kecil, wanita itu memandang Pandhu dengan raut yang berbinar-binar. “Dia sangat manis hari ini, dia memberikan aku coklat miliknya karena aku sudah membuatkan cupcake kesukaannya.” Pandhu tertawa, tapi kemudian terhenti saat melanjutkan ucapannya. “Tapi ada satu lagi yang menarik, bukan tentang Axel tapi tentang papa Axel. Katanya dia dekat dengan seorang gadis saat ini, kenapa tidak di kenalkan sama oma?” Pandhu menelan ludahnya, pria itu lalu tersenyum memberikan kecuaona dan pamitan untuk pergi meninggalkan oma yang menatap kepergiannya dengan mata yang berkaca-kaca. Siapapun gadis itu, aku harap dia juga dapat mengisi sisi kosong yang ada di hatimu batinnya. Bukan rahasia lagi, kalau Anjani memiliki mata-mata untuk memata-matai Pandhu. Sekarang wanita tua itu mengelap sudut matanya dan tersenyum penuh harapan. Semoga nanti rasa takutmu akan pudar dengan sendirinya Pandhu doanya sambil menatap foto Pandhu yang di pajang di dinding. Adera merasa lega, ditempat seperti ini memang agak privat walaupun mungkin orang-orang pasti tetap akan sadar kalau itu dirinya. Karena malam ini Adera tidak menggunakan apa-apa itu k menyembunyikan wajahnya. Gadis itu segera melambaikan tangannya pada Fedora, yang terlihat bersama Myana dan juga Febria. Adera menatap tajam cewek-cewek yang memandanginya atas bawah lalu saling melirik dan berbisik. Adera tidak berpikir buruk tapi nyatanya para cewek itu bahkan sengaja menaikkan volume mereka mengatainya. Iri bilang bos, bisik Adera dalam hatinya.l Adera segera membalikkan badannya terus berjalan menghampiri para sahabatnya. Fedora tersenyum manis pada gadis itu, Adera membalikkan badannya entah kenapa gadis itu merasa jika ada yang memerhatikannya. Tapi karena suasana yang riuh, Adera tidak dapat melihat siapa yang memerhatikan dirinya.  “Loh seperti orang yangp punya banyak karya aja, banyak banget yang mandangin lo.” Adera mengerutkan alisnya dengan komentar yang keluar dari bibir Myana. Apa yang dimaksud dengan gadis itu? Adera menarik senyuman kecilnya yang terlihat sinis. “ Maksud lo apa?” Myana tertawa kecil, gadis itu lalu berdehem sebentar. Fedora sudah mulai mengelus punggung gadis itu. “Nggak ada maksud apa-apa kok. Aku hanya baru lihat saja Aaron merhatiin lo seperti tadi, sebelum ada kasus itu kan biasa saja.” Adera mengepalkan tangannya, untung sahabat gue bisik gadis itu. Gadis itu masih menyimpan kemarahan untuk orang-orang yang tadi membisik-bisikkan dan bahkan dengan sengaja menyinggung dirinya. Adera meraih minuman yang ada di atas meja, entah minuman siapa dan menegaknya dengan sekali tegukan. “Myana, lo Nggak usah deh ngomong kayak tadi lagi, kita kesini mau senang-senang bukan mau ribut.” Febria menatap Myana yang kemudian menganggukkan kepalanya. Ada apa sih dengan gadis ini, komentarnya pedas banget mala mini bisik Adera. Tidak mau ambil pusing Adera segera menyibukkan dirinya dengan ponselnya, hanya mengotak-atik untuk menyibukkan dirinya. Setelah itu mereka semua bersama-sama pergi memberikan ucapan selamat pada Alex yang sedang ulang tahun. Adera tidak menghiraukan orang-orang yang ada di sekitarnya. Gadis itu benar-benar fokus dengan apa yang ada di depannya. Pandhu yang juga datang di acara ulang tahun Alex hanya duduk dan menikmati minumannya. Pria itu sengaja menjauhkan diri dari teman-temannya. Karena Pandhu tidak ingin diganggu oleh para wanita yang tidak jelas asal usulnya yang akan menggodanya. Pandhu agak terkejut menyadari Adera juga datang di tempat ini. Tapi itu hal yang wajar sih apalagi wanita itu masih muda dan pasti punya banyak teman untuk bersosialisasi. Pria itu hanya memerhatikan saja apa yang dilakukan oleh gadis itu. Kalau tidak salah tadi juga Pandhu berpapasan dengan mantan gadis itu, itu artinya Wilson juga hadir di tempat ini. Pria itu hanya menggelengkan kepalanya dan kembali menikmati minumannya, SMAN k memerhatikan Alex yang dikelilingi oleh para gadis-gadis. Mungkin teman-temannya atau mungkin kekasihnya, Pandhu tidak peduli pada hal itu. CUP! Riuh tepuk tangan dan suitan dari para undangan yang hadir memenuhi ruangan, tapi hal itu tidak membuat Pandhu terhalang untuk menatap Adera yang baru saja dicium di depan sana. KRAKKKKK! Pandhu meremas kuat gelas minuman yang berada dalam genggamannya sampai hancur di tangannya. Pria itu tidak lagi merasakan rasa perih yang ada di menjalar ditangannya, Pandhu menggigit bibirnya, tiba-tiba saja pria itu merasakan adanya dorongan dalam dirinya untuk berdiri dan menghajar Alex yang dengan tiba-tiba mengecup pipi Adera dan disoraki oleh orang-orang yang juga hadir disana. Pandhu menghela napas, dirinya bukan lagi anak yang baru pertama kalinya jatuh cinta tapi kenapa sampai seperti ini rasanya? Pandhu memilih diam dan hanya menatap pergerakan Adera yang sepertinya salah tingkah karena perlakukan Alex dari jarak jauh. Dasar bodoh batinnya, apa bedanya Alex dengan Wilson? Apakah keluarga mereka akan mau menerima Adera dengan berita yang simpang siur itu? Pandhu hanya tersenyum sinis dan makin semangat menuangkan minuman ke dalam gelasnya yang baru. Adera melotot kaget menyadari ada Wilson yang ada di tempat ini. Adera menatap Alex dengan tajam, apa yang sudah dilakukan pria ini, apa lagi tujuannya? Mau mempermalukan dirinya? Adera khawatir akan menilai dan tanya macam-macam karena perlakuan Wilson barusan. Alex tertawa kecil menyadari perubahan di wajah Adera setelah melihat ada Wilson juga di ruangan ini. “Santai saja Dera, aku dengar kau sudah jomblo jadi tidak akan ada yang marah kan kalau aku melakukan hal ini?” Adera menarik napas dan menatap bola mata pria itu dengan tajam. “Kau pikir apa yang sedang kau lakukan? Kita mebjadi perhatian orang-orang, Alex!” Adera bersuara pelan tapi tegas di dekat pria itu. Alex hanya menyunggingkan senyum tengilnya dan menatap lucu ke arah Adera. “Kau khawatir menjadi perhatian orang-orang atau khawatir menjadi perhatian dari Wilson? Dia sudah tidak peduli lagi, Dera.” Adera menelan ludahnya dan mengeraskan rahangnya. Gadis itu tidak ingin kalah dari Alex, benar apa yang dikatakan pria itu kalau Wilson tidak peduli lagi pada dirinya. Adera memerhatikan sekelilingnya, orang-orang mulai asyik dengan alunan music dan juga minum yang ada di genggaman mereka. Jadi tidak ada yang mencuri dengar pembicaraan mereka. “Itu cuma hal kecil Dera, aku memang seperti itu pada teman-teman wanitaku.” Adera tidak ingin berdebat lagi dengan Alex segera berjalan cepat meninggalkan pria itu. Setelah jauh dari alex, Adera menghela napasnya dan menghampiri Fedora yang asyik berbincang dan juga minum bersama seorang cowok. Adera tidak peduli pada hal itu, segera menarik gadis itu untuk menjauh. Fedora mengikuti Adera dengan terseok-seok. “Lo kenapa sih Der, Alex memang seperti itu orangnya. Jadi aku tidak bisa juga untuk mengatur dirinya,” Adera menghembuskan napas kasar mendengar pembelaan dari Fedora. Adera segera berbisik pelan. “Bukan itu masalahnya, kenapa lo juga harus cerita kalau gue itu jomblo sama pria itu. Itu kan menurunkan harga diri gue dan ... pokoknya gue kesal banget deh malam ini sama Alex.” Fedora hanya tertawa kecil lalu ikut berbisik pada Adera. “Lo harus tahu, dia itu sudah demam sama lo sejak lo belum kenal Wilson, sejak di masih culun.” Adera menelan ludahnya dengan susah payah, itu bukan hal yang menguntungkan dan enak dipandang buruk didengar disaat seperti sekarang. “Ya sudah kalau seperti itu aku pulang dulu.” Adera melangkah untuk meninggalkan Fedora. Langkahnya tertahan, Fedora kini menahan pergelangan tangannya. “Jangan dong, kamu temani aku dulu. Myana udah pulang sejak tadi dan Febria juga sudah pamit untuk pulang.” Adera terdiam, gadis itu lalu menganggukkan kepalanya. “Tapi harus jauh-jauh ya dari Alex.” Fedora langsung menganggukkan kepalanya setuju. “Oke, siap ratu.” Seperti inilah kalau Adera tidak menikmati pestanya. Maka gadis itu yang akhirnya akan duduk menunggu teman-temannya melepaskan lelahnya dan kemudian ikut pulang bersama mereka. Adera mengerutkan dahinya sambil melirik jam yang ada di tangannya. Ini sudah jam berapa sih? Kenapa Fedora belum kembali? Apalagi sejak tadi Adera didekati oleh Vicky Aldebaran. Yang merupakan pengusaha tambang yang juga terkenal dengan banyaknya simpanan yang dimilikinya. Adera yang kurang nyaman dan mulai gelisah, segera berpamitan untuk ke toilet. Bahkan, pria itu masih sempat-sempatnya menawarkan diri untuk mengantar Adera yang sudah pasti Adera tolak dengan tegas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD