Ketemu Mantan

1510 Words
Adera berjalan dengan tergesa-gesa menuju toilet sambil mengumpati Fedora yang entah hilang kemana. Kebiasaan buruk fedora yang ini kadang membuat Adera agak malas menunggu gadis itu, Fedora kadang lupa jika sudah menyuruh Adera untuk menunggunya dan gadis itu kadang pulang diantar oleh orang lain. Sudah sering Adera protes, tapi sesering itu juga Fedora lupa. Semoga anak itu tidak membuat ulah dengan meninggalkan dirinya yang sejak tadi menunggu gadis itu bisik Adera. Sampai di toilet Adera segera memerhatikan toilet yang agak sepi, gadis itu segera masuk ke dalam toilet dan mulai membasuh wajahnya. Karena alasan sebenarnya datang di toilet ini hanya untuk menghindari Vicky yang sejak tadi mendekatinya maka haid itu hanya membasuh wajahnya. Adera tidak ingin menjadi sasaran masalah lagi, apalagi dengan pria seperti Vicky yang senang gonta ganti wanita. Adera menepuk-nepuk wajahnya, dan sekali lagi membilas wajahnya. Gadis itu tersenyum kecil menatap wajahnya yang tidak berubah, masih terlihat cantik bisiknya hatinya. Setelah itu Adera segera keluar dari toilet, gadis itu menghembuskan napasnya kasar untuk kembali ke dalam dan akan mencari Fedora. Gadis itu berjalan lurus ke depan tanpa menoleh ke kanan kiri. Tiba-tiba saja seorang pria yang memerhatikan area sejak tadi melangkah dengan gerakan cepat dan langsung menarik pergelangan tangan gadis itu. “Akh lepaskan tangan gue, lepas Woi ....” Adera memberontak, merasakan tubuhnya di tarik oleh seseorang. Gadis itu mengerahkan semua tenaganya untuk melepaskan diri. Nyesal juga kenapa gue gak belajar bela diri sejak dulu ya, gadis itu masih terus berusaha melepaskan dirinya. Setelah agak jauh Adera merasakan tangannya dilepaskan dari cekakan. Gadis itu bernapas lega, lalu membalik badannya. Adera sudah memerah karena marah dan ingin menyumpah serapahi orang orang yang sudah menariknya seenak jidatnya tadi. “LO?” Adera terbelalak, wanita itu mengepalkan kedua tangan di samping tubuhnya. Wilson menatapnya datar dengan rahang yang mengeras, apa yang menjadi masalah pria ini tanya Adera dalam hati. Harusnya disini yang terlihat dingin itu Adera, bukan Wilson. “Lo itu apa-apaan main tarik-tarik gue seenak jidat Lo? Lo lupa lo itu sudah bukan SIAPA-SIAPA LAGI!” Adera membentak Wilson yang masih terdiam, wanita itu benar-benar marah. Apalagi ekspresi yang kini ditunjukkan Wilson ekspresi sinis dan remeh menatap dirinya semakin menambah kemarahan Adera. “Bagus ya lo sekarang, beberapa hari yang lalu datang ke diskotik bersama Pandhu Bagaskoro, malam ini di cium oleh Alex Marcellino, terus tadi semeja bareng Vicky. Murahan juga lo! Gue merasa tertipu! Ternyata seperti in kedok asli lo? Dan bodohnya gue baru tahu setelah bertahun-tahun. Ckckckckck.” Plok plok plok! Wilson menepuk tangannya bersama dengan tertawa yang dibuat-buat, ada pandangan nanar dan miris yang tergambar dari wajah pria itu. Adera mengerutkan alisnya lalu ikut tertawa terbahak-bahak. Wanita itu tersenyum sinis menatap Wilson. “Jadi begitu? Itu yang kamu lihat dari aku? Bahkan setelah bertahun-tahun pun itu yang kamu lihat? g****k!” Adera menatap pria itu dengan sangat marah. Jadi itu yang ada di mata Wilson? Adera menatap pria itu tajam, gadis itu merasa tertampar dengan kata-kata yang keluar dari mulut pria itu.  “Kenapa kamu marah, Dera? Aku yang harus marah di sini? Aku yang tertipu dengan kamu selama bertahun-tahun.” Wilson tertawa kecil dan menatap Adera dengan tajam. Sebagai orang yang pernah menjadi kekasih Adera pria itu selalu percaya pada gadis itu. Sekarang Wilson merasa menjadi pria yang sangat menyedihkan, jadi seperti ini kelakuan Adera yang sebenarnya. Adera kembali mendekati Wilson sorot mata gadis itu tak kalah tajamnya. “KAMU MERASA TERTIPU? BAGAIMANA DENGAN AKU? KAMU PIKIR AKU BAIK-BAIK SAJA DENGAN APA YANG SUDAH TERJADI? KALAU KAMU BENAR-BENAR MENGENAL AKU, KAMU TIDAK AKAN MENYIMPULKAN  SESUKA HATI KAMU.” Adera berteriak dengan kencang di depan Wilson. Matanya menatap pria itu tajam, walau sebenarnya di dalam d**a Adera sudah sangat sesak karena menahan tangis yang ingin kuar dari kedua matanya. Gak boleh, gue gak boleh menangis di depan laki-laki b******k ini. Gue gak boleh terlihat menyedihkan di hadapannya sugesti Adera pada dirinya sendiri. “Hahahahaha, kenapa Dera itulah kebenarannya. KAMU JUGA TIDAK PERLU MENAHAN TANGISANMU, INI TIDAK AKAN BERARTI APA-APA LAGI UNTUKKU. AKU JUGA SEBENARNYA CUMA BERTERIMA KASIH KARENA AKU TIDAK JADI MENIKAH DENGAN KAMU. Kamu pikir sendiri, AKAN JADI SEPERTI APA ANAK YANG LAHIR DARI KAMU? Dengan ibu yang seperti kamu?” Adera bagai tersiram air panas, wanita itu segera berjalan mendekati Wilson. Gadis itu mengangkat tangannya.  PLAK!  Wilson tersenyum sinis sambil mengelap sudut bibirnya. Pria itu menatap Adera yang terlihat penuh amarah. “Kamu ingat baik-baik, KAMU AKAN MENJILAT KEMBALI SEMUA LUDAH YANG KAMU TUMPAHKAN HARI INI WILSON. Ingat baik-baik! PERGI KAMU! PERGI !!!” Adera berteriak sambil berkaca-kaca. Akan diingat baik-baik apa yang telah Wilson ucapkan. Aku akan membuatmu menyesal Wilson! Janji Adera dalam hatinya. Setelah mendapatkan tamparan di wajahnya, Wilson berteriak penuh kekesalan dan pergi meninggalkan Adera sendirian disitu. Melihat Wilson yang semakin menjauh, Adera tiba-tiba ambruk dilantai gadis itu, menangis. Kata-kata yang terlontar dari bibir Wilson tadi seperti belati yang mengoyak-ngoyak hatinya. Adera merasakan kesakitan juga keperihan. Memang salahnya kalau malam setelah pembatalan pernikahannya dirinya bertemu Pandhu? Memang salahnya kalau Alex tiba-tiba mencium pipinya terus memang salahnya juga kalau Vicky mendekatinya? Adera menggelengkan dan langsung memukuli dirinya, kenapa harus kata-kata itu yang keluar dari mulut pria yang pernah dicintainya itu? Adera menangis sekencang-kencangnya. Pandhu yang dari tadi mengikuti pergerakan Adera diam-diam ikut berjalan ke toilet dengan jarak yang sangat aman sehingga tidak disadari oleh Adera. Pria itu mengutuk dirinya yang tidak bisa mengontrol dirinya, Pandhu tahu ini sangat kekanak-kanakan untuk pria yang seusianya. Tapi dorongan hatinya yang lebih kuat mengabaikan itu semua. Pandhu hampir saja berlari untuk menyelamatkan Adera jika saja dirinya tidak menyadari yang menarik gadis itu adalah mantan kekasih gadis itu. Wilson Diningrat. Pandhu akhirnya hanya mengawasi dari jauh tapi masih cukup untuk mendengar apa yang mereka bicarakan. Pandhu terdiam, menyaksikan pertengkaran yang terjadi pada Adera dan Wilson. Pria itu tidak ingin ikut campur, Pandhu pun kaget dengan kata-kata yang keluar dari bibir Wilson. Sebagai seorang pria dirinya paham, ternyata pria itu masih mencintai Adera, bisiknya. Setelah lama menyaksikan adu mulut antara Wilson dan Adera selesai sampai Adera menangis dengan kencangnya setelah kepergian Wilson. Pandhu akhirnya memutuskan untuk menghampiri gadis yang kini menangis sambil memukuli dirinya, dasar bodoh bisik Pandhu. Tapi kau juga bodoh bisik hatinya, untuk apa mengikuti gadis itu? Pandhu mengeraskan rahangnya dan tetap berjalan mendekati Adera. Pria itu mengabaikan suara-suara yang ada dalam pikirannya. Pria itu langsung berdehem keras di samping Adera. Sayangnya gadis itu masih tidak menghiraukan dirinya. Pandhu akhirnya terdiam, lalu mengeluarkan suaranya. “Beruntung banget gue malam ini, jadi ini salah satu sisi Adera Savannah yang selalu ditutupi?” Pandhu masih tidak di gubris sedikitpun oleh gadis itu, pria itu menggelengkan kepalanya dan mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya.  “Ini, hapus air mata bodohmu itu,” Ada mendongak dan meraih sapu tangan itu ketika menyadari Pandhu yang menyodorkan untuk dirinya gadis itu segera menatap pria itu dengan tatapan yang sendu. Adera menghela napas dan mengesat kasar air matanya. “Ngapain kamu ada disini?” Pandhu tersenyum miring, bukannya berterima kasih malah itu yang ditanyakan oleh gadis ini. Pandhu segera tersenyum dan menatap gadis itu dengan malas. “Ini tempat umum, Savannah. Harusnya aku yang bertanya apa yang kamu lakukan, di tempat ini? dengan menangis seperti orang gila?” Adera yang sesenggukan menatap Pandhu dengan geram, gadis itu langsung terbayang oleh kata-kata yang tadi dilontarkan oleh Wilson. Adera kembali menangis lagi, Pandhu langsung menepuk jidatnya. Ada apa lagi dengan wanita ini? “Hiks hiks hiks, Wilson ngatain aku. Dia bilang aku gak pantas jadi ibu, hiks hiks hiks. Ini juga gara-gara kamu, Alex dan juga Vicky. Aku yang dianggap murahan sama Wilson hiks hiks hiks.” Pandhu mengangguk-angguk dan membicarakan saja dulu wanita itu sesenggukan. Mungkin dia butuh waktu untuk merasa lebih baik. Setengah jam menunggu dengan diam, Pandhu sudah tidak tahan lagi. Pria itu segera membawa gadis itu dalam pelukannya. “Ssssttt, udah dong. Maafin aku kalau ini juga gara-gara aku, tapi kalau kamu menangis terus itu hanya akan membuat kamu capek. Lagi pula Wilson bukan siapa-siapa kamu lagi ‘kan?” Adera hanya menganggukkan kepalanya. Jlepp! Gadis itu menelan ludahnya dengan pahit mendengar kalimat terakhir dari bibir Pandhu. Gue bukan siapa-siapanya lagi, gadis itu tersenyum miris. Pandhu terdiam, tidak ada respon dari gadis itu kecuali suara sesenggukannya yang tidak sekeras tadi. “Aku antar pulang ya?” Pandhu mengatakan itu sambil melirik jam yang ada di tangannya. Adera mengangguk saja, gadis itu sepetinya sudah kehabisan tenaga karena menangis tadi. Pandhu segera menuntun Adera untuk keluar dari toilet dan langsung menuju parkiran. Adera segera menelpon Fedora, yang tidak diangkat oleh gadis itu. Adera sehat mengecek pesannya, gadis itu menatap datar pesan dari fedora jika gadis itu sudah pulang duluan dari satu jam yang lalu.  Sepanjang jalan pulang keduanya saling diam, tidak ada yang bersuara sama sekali. Pandhu juga tidak banyak bicara malam ini. Adera melirik pria di sampingnya yang fokus menyetir. Adera mengerutkan alisnya. “Kamu juga habis bertengkar ya dengan pasangan kamu?” Adera bertanya dengan suara yang parau. Gadis ini mungkin sudah merasa agak baikkan bisik Pandu dalam hati. Pandhu juga mengerutkan dahinya? Bertengkar dengan pasangannya?  “Tidak, aku tidak punya pasangan.” Adera ber- oh ria lalu, menatap Pandhu lagi dengan matanya yang bengkak. “Tapi tangan kamu sepertinya luka. Aku pikir ....” Gadis itu lalu tersenyum manis dan menatap jalanan di depannya. Pandhu menatap tangannya, pria itu merutuk dalam hati karena lalai menyembunyikan lukanya.  “Ahahahah, ini hanya kecelakaan kecil. Iya hanya kecelakaan kecil.” Pandhu tertawa canggung, karena tidak mungkin untuk menjelaskan alasan sebetulnya kenapa tangannya sampai seperti ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD