Meeting

1685 Words
Arggggggh! Wilson menggeram marah, pria itu berkali-kali meninju tembok yang ada di depannya. Pria itu meremas rambutnya dan kembali lagi meninju tembok di depannya berulang-ulang, pertama dia marah pada dirinya sendiri yang sudah membuat Adera terluka, dan yang kedua pria itu sangat marah karena ternyata Adera benar-benar dekat dengan Pandhu. Wilson melihat dengan jelas bagaimana pria itu menghampiri Adera, menenangkan gadis itu dan juga mengantar gadis itu pulang. “Arghhh, SIALAN KAU ADERA. Benar-benar SIALAN!” Wilson berteriak sekuat tenaganya, pria itu benar-benar sangat marah pada gadis itu. Adera benar-benar keterlaluan, apa gadis itu benar-benar bermain di belakangnya? Tapi Pandhu bukan tipe orang yang gampang dekat dengan wanita. Lalu tadi Wilson melihat mereka begitu dekat, apa mereka sudah saling mengenal sejak lama? Wilson kembali berteriak seperti orang yang kesetanan melampiaskan kemarahannya. Myana hanya menggelengkan kepalanya, dirinya tidak habis pikir dengan tindakan Wilson yang seperti orang bodoh, hanya gara-gara Adera. Untuk apa sih pria itu memukul tembok? Bukannya pertunangan mereka juga sudah putus? Myana hanya menggelengkan kepalanya dan melenggang pergi dari situ. Ini sesuatu yang menarik tapi bukan untuk sekarang, gadis itu tersenyum cerah. Sampai di depan rumahnya Adera segera turun dari mobil Pandhu setelah mengucapkan terima kasih, tanpa ada adegan-adegan mendebarkan seperti biasanya. Keduanya sepertinya masih sibuk dengan pikiran masing-masing, Pandhu hanya memerhatikan saja sampai Adera benar-benar menghilang dan langsung menyetir meninggalkan rumah gadis itu. Pagi ini Wilson sarapan dengan lesu. Tidak seperti biasanya, pria itu tidak banyak bicara. Meta, memerhatikan dengan saksama anaknya itu. Apalagi yang terjadi pada anak ini? Wanita itu memerhatikan Wilson dari atas ke bawah, matanya menyipit pada perban yang melilit kedua tangan pria itu. Meta mencebik, lalu mengambil tisu dan mengelap bibirnya. Wanita itu menarik napas dan langsung menatap tajam Wilson. “Jadi, ada apa lagi yang terjadi semalam sampai tangan kamu diperban seperti itu?” Wilson mengangkat bahu dan melanjutkan sarapannya dengan acuh. Meta menatap Wilson yang terlihat sangat cuek, ini pasti ada kaitannya lagi dengan Adera. Dasar perempuan tidak punya malu, Meta mengepalkan kedua tangannya. “Kamu bisa tidak menjawab pertanyaan mama. Tapi bukan berarti mama tidak tahu apapun tentang apa yang telah terjadi sama kamu. Karena Adera lagi ‘kan? Apa yang kamu harapkan dari wanita seperti itu?” Meta tersenyum sinis, Wilson melepaskan garpu dan sendoknya dengan kasar. Ibunya sudah merusak mood-nya lagi ini, lebih tidak malah karena pria itu badmood sejak semalam. Bunyi sendok dan garpu yang bergesekan dengan piring memenuhi ruangan itu. Meta menggebrak meja makan, Wilson menatap tajam pada ibunya. “Kalau mama sudah tahu, mama tidak perlu bertanya? Kurang apalagi aku mam, aku sudah batalkan pernikahan aku, sudah meneruti semua yang mama inginkan. Jadi mama tidak perlu kirim mata-mata untuk aku. Untuk masalah Adera, itu urusan aku pribadi, mama jangan lagi ikut campur!” Wilson juga berucap tak kalah tajamnya, pria itu sudah sangat muak diurusi terus oleh ibunya. Meta melotot, dan menaikkan alisnya. “Kamu benar-benar kurang ajar, sama mama. Kamu pikir kalau pernikahan kamu tidak batal, apa yang akan dikatakan oleh papa kamu? Kamu pikir mama akan terima kalau dia menghina mama lagi? Iya?” Mera berteriak menumpahkan kekesalannya, Wilson mengepalkan tangannya. Pria itu juga muak dengan alasan ibunya. Muak dengan kedua ornang tuanya lebih tepatnya. “Terserah mama, tapi untuk masalah aku dengan Adera atau dengan siapapun, aku minta mama jangan ikut campur lagi.” Wilson segera pergi dan meninggalkan meja makan, pria itu keluar dari rumahnya. Meta mengepalkan tangannya, racun apalagi yang diberikan Adera pada anaknya? Wanita itu memang awalnya sangat baik tapi akhirnya mengubah anaknya menjadi kurang ajar seperti sekarang ini. Benar-benar tidak bisa dibiarkan. “Surti!!!!!!” Meta berteriak sangat nyaring, Surti yang sedang beres-beres di dapur segera berlari mendekati majikannya itu. “Iya, nyonya.” Wanita itu menatap takut-takut pada Meta yang terlihat bengis. Memang nyonyanya sering marah-marah akhir-akhir ini. Jadi Surti sudah sering menjadi pelampiasan kemarahan dari majikannya ini. “Bereskan, semua sarapan ini!” Surti mengangguk pelan. Meta menatap datar pada ART-nya ini. Ini cuma ngangguk-ngangguk kenapa sih?  “Dengar, tidak?” Surti terperanjat, wanita itu langsung gelagapan. Surti menelan ludahnya dan menatap takut-takut pada majikannya. “Iya... Iya nyonya. Dengar kok,” wanita itu dengan tergopoh-gopoh segera merapikan peralatan makan yang agak berantakan itu. Meta segera meninggalkan rumahnya, ada satu hal yang harus diurusnya sekarang. Pokoknya harus selesai sekarang. Adera sudah bersiap-siap untuk ke kantornya, karena ada jadwal meeting untuk pagi ini. Lagi pula tadi Marcel sudah meneleponnya dan mengingatkannya untuk datang, katanya ini sangat penting. Alis gadis itu terangkat mendengarkan bunyi bel yang berulang kali di depan rumahnya. Siapa yang datang ke rumahnya? Marcel tidak mungkin datang untuk menjemputnya, Elis pun tidak mungkin karena tadi gadis itu mengabarinya dan mengatakan tidak bisa datang hari ini karena sakit. Gadis itu segera ke depan dan membukakan pintu, melihat siapa yang datang. Adera mematung. “Dasar perempuan tidak tahu malu, kamu apakan Wilson? Gara-gara kamu Wilson sampai marah-marah pagi tadi.” Adera memejamkan matanya menatap meta yang sepertinya sangat emosi pagi ini. Adera menghela napasnya. “Maaf Tante, tapi saya tidak tahu menahu tentang Wilson. Kami juga tidak berhubungan baik setelah pernikahan yang batal.” Meta mencibir, dasar wanita pembohong. Meta menatap gadis itu dari atas sampai bawah.  “Alah-alah, pokoknya aku tidak mau dengar alasan apapun dari mulut kamu, satu hal yang harus kamu ingat, kami tidak pantas untuk Wilson. Wanita yang ajak gonta-ganti laki-laki di hidupnya. Di foto itu kamu bareng dengan pria lain, terus sekarang dengan pria tua itu? Bujang lapuk itu? Siapa namanya Pandhu ‘kan? Ckckckckck, seleramu sangat rendah sekali Adera.” Adera menelan ludahnya, entah dimana lagi salahnya. Padahal menurut Adera masalah Wilson bukan masalahnya lagi, jadi tidak perlu Meta datang seperti hari ini hanya untuk membicarakan hal itu. Hal yang tidak penting menurutnya. Lagi pula masalah Pandhu, itu bukan urusan meta sama sekali. “Kalau tante hanya mau datang bicara yang tidak berbobot, silahkan tante pergi dari sini.” Adera tahu ini sangat kurang ajar, tapi ini sengaja diucapkannya agar dirinya tidak lagi dipojokkan oleh wanita ini. “Kamu juga kurang ajar banget, ya. Untung gagal jadi menantu saya, ternyata kamu seperti ini aslinya. Asal kamu tahu Adera aku juga tidak sudi datang di sini kalau bukan gara-gara Wilson.” Setelah mengatakan itu semua Meta segera pergi dan meninggalkan Adera yang mengepalkan tangannya. Wanita itu berjalan keluar dengan amarah yang menggebu-gebu, dasar wanita tidak tahu malu kamu Adera. Adera menghela napas melihat kepergian ibu Wilson. Sepertinya foto itu benar-benar merusak hidup gue, gue harus cari tahu. Tapi gak bisa sembarangan, harus ketemu sama orang yang tepat untuk menyelidikinya. Adera segera ke dapurnya mencari minum air untuk menormalkan mood-nya yang sangat kacau gara-gara kedatangan ibu Wilson tadi. Marcel sudah sangat cemas, apalagi Pandhu Bagaskoro sudah menunggu setengah jam yang lalu. Marcel sangat geram, apalagi yang dilakukan oleh Adera? kenapa wanita itu berulah sih? Pandhu sangat tidak suka buang-buang waktu, Marcel duduk seperti cacing kepanasan. Pria itu berkali-kali memencet-mencet ponselnya membuat panggilan untuk Adera. Sesekali Pandhu menoleh ke arahnya dan pria itu akan tersenyum canggung. Adera benar-benar hari ini, Marcel menggeram dalam hatinya. Marcel sedikit tenang melihat Pandhu sibuk dengan ponselnya, Marcel berdoa agar Pandhu masih betah untuk menunggu wanita itu. Adera menghembuskan napasnya kesal, hari ini benar-benar sangat berantakan. Wanita itu tidak habis pikir, Elis sedang sakit perut. Mobilnya berulah di tengah jalan, ditambah ponselnya juga mati. Adera segera mencari ojek untuk segera ke kantornya. Marcel pasti sudah sangat kesal saat ini. Apalagi kalau klien itu membatalkan kerja sama diantara mereka. Adera bernapas lega setelah sampai di depan kantornya. Wanita itu tidak peduli pada keringat yang merembes di seluruh tubuhnya. Pasti sudah ada amarah yang menantinya, Marcel pasti sudah sangat uring-uringan dan Adera sangat yakin hal itu. Wanita itu segera memberanikan dirinya untuk menemui pria i Dengan tergesa-gesa, Adera segera menuju ruangan khusus yang biasa digunakan untuk meeting. Wanita itu segera mengetuk pintu dan langsung masuk. Adera menelan ludahnya menatap wajah Marcel yang sudah penuh dengan amarah. My God, habis aku. Adera membatin. Wanita itu juga melirik ke sisi lain ketika merasakan ada tatapan lain yang menghujaninya. What OMG? Kenapa Pandhu yang ada di tempat ini? Adera tersenyum canggung pada pria itu. Sayangnya Pandhu hanya menatapnya datar. Adera melirik Marcel dan berbicara dengan isyarat, kamu tidak bilang kalau dia kliennya. Marcel tidak menggubris nya, Adera sangat tidak enak apalagi dirinya telat hampir satu jam, wanita itu segera duduk dan menundukkan kapanya. Marcel sudah menunggu dengan harap cemas apa yang akan di katakan oleh Pandhu. Semoga pria itu tidak membatalkan projek mereka kali ini. Marcel menganga, pria itu malah tidak menyinggung keterlambatan Adera sedikitpun, malah Pandhu langsung memulai meeting seperti tidak terjadi apa-apa. Marcel bersyukur dan terheran-heran dengan Pandhu yang seperti itu. “Tolong tinggalkan kamu berdua!” Itu kalimat terakhir yang keluar dari bibir Pandhu, setelah meeting mereka selesai. Adera melotot dan menatap Marcel meminta pertolongan. Walaupun sudah sangat kenal dengan Pandhu bukan berarti gadis itu betah untuk ditinggalkan berdua dengan pria itu. Apalagi, tadi Adera datang sangat terlambat. Marcel menggelengkan kepala pelan, dengan gerakan bibirnya pria itu menyuruh Adera untuk menyelesaikan masalahnya. Mungkin Pandhu butuh penjelasan tentang keterlambatan yang dilakukan oleh Adera itu yang ada di Marcel. Adera kembali menundukkan kepalanya, Pandhu pasti menilainya tidak profesional. Dan gadis itu sudah menanti apa yang akan dikatakan oleh pria itu. Mereka hanya berdua sekarang, “Angkat kepalamu Adera. Jelaskan apa yang terjadi sampai kamu terlambat seperti tadi dan itu untuk yang terakhir kalinya, aku tidak suka orang yang terlambat.” Pandhu bersuara dengan serius, membuat gadis itu menatap pria itu tajam. Adera tidak suka nada nada suara pria itu, seakan-akan Adera sengaja dengan keterlambatannya. Gadis itu menatap Pandhu, “Aku lagi ada masalah tadi , jadi sedikit terlambat.” Adera bersuara pelan walau tatapannya pada pria itu masih tajam. Pandhu mengangguk, pria itu lalu menatap Adera lekat-lekat. “Lain kali siapkan baju cadangan, dalaman kamu tercetak jelas karena keringat kamu,” pria itu mendekatkan dirinya pada Adera dan merapikan rambut yang berantakan milik gadis itu. Adera pasti sangat tergesa-gesa. Adera hanya diam, membiarkan saja apa yang dilakukan Pandhu. Setelah itu pria itu melirik jam yang ada di tangannya, Pandhu menjauhkan dirinya dan segera bersiap. Dirinya ada meeting selanjutnya lagi. Pria itu langsung berdiri dan pamit pada Adera. Sebelum benar-benar pergi, pria itu menyempatkan diri mengecup kening Adera. Adera mematung. “Jangan kecewakan aku dengan proyek ini Savannah. Mulai hari ini, kalau ada masalahmu segera hubungi aku.” Pria itu bersuara lirih tapi sangat menggelitik dalam pendengaran Adera. Wanita itu menelan ludahnya susah, menatap punggung Pandhu yang mulai menjauh. Adera meraba keningnya dan menatap bajunya, wanita mengerutkan alisnya. Pria ini, kenapa seperti sebuah teka teki?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD