Ada hubungan apa?

1557 Words
Adera masih diam ditempatnya, Pandhu sudah tidak terlihat sama sekali. Wanita itu menghela napasnya dan menggelengkan kepalanya, jangan terlalu dipikirkan Adera bisik hatinya. Marvel yang sudah kembali memerhatikan Adera yang kepergian Pandhu dengan saksama. “Ckckckckkckckckck. Iya sih, pak Pandhu itu tampan. Tapi gue gak menyangka lo akan melihat kepergiannya seperti itu, Adera.” Adera langsung menoleh pada Marvel yang kini sudah berada di sampingnya. Adera menggaruk kepalanya, sepertinya ada yang salah dengan dirinya. Apa tadi kata Marvel? Lo melihat kepergiannya seperti itu? Apa yang salah dengan kelakuannya tadi? “Apa masalahnya, aku juga melihatnya seperti biasa kok?” Adera mengangkat alisnya menatap Marcel. Marcel memasukkan tangannya ke dalam kantong celananya dan mengeringkan badannya menatap tepat pada mata Adera. “Bukan masalah Adera, tapi sepertinya kau langsung tertarik pada pria itu. Atau mungkin ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?” Marcel menaik turunkan alisnya, Adera menatap pria itu datar dan menggelengkan kepalanya. Tidak penting juga untuk diceritakan ke Marcel 'kan? “Tidak ada apa-apa, dan berhentilah menatapku penuh kecurigaan sepeti itu.” Adera menyipitkan matanya dan segera berjalan untuk menjauhi pria itu. Marcel dan kekepoannya bukan hal yang baik untuk terus didekati, karena pria itu baru akan berhenti kalau sudah mendapatkan jawaban yang sesuai dengan apa yang diinginkannya. “Kamu bohong, buktinya tadi dia tidak marah padamu.” Marcel bersuara dengan intonasi yang agak tinggi, dan sedikit mencuri perhatian orang-orang. Adera berhenti, lalu menggerutu dengan kesal. Wanita itu kembali ke belakang dan menarik Marcel dengan kasar dan pergi dari tempat itu. Adera tidak ingin menjadi bahan pembicaraan orang gara-gara kata-kata yang keluar dari mulut pria ini, cowok kok lemes banget Adera membatin dengan gemas. “Der, Der, apa-apaan lo main tarik-tarik sepeti ini? Tangan gue, woi.” Marcel merasakan tangannya agak perih dan Adera menariknya dengan kasar. Adera segera melepaskan tangannya yang menarik pria itu dan mendorong Marcel sehingga agak terpojok ke tembok. “Lo itu, kepo boleh tapi jangan teriak-teriak. Lo pikir nggak ada apa yang dengar? Lo jangan menambah-nambah gosip lagi deh!” Adera menatap Marcel yang masih mengelus punggungnya, gila juga wanita ini dorongannya kuat juga. Pria itu bukannya merasa bersalah tapi malah kembali menatap Adera dengan mengedipkan matanya. “Berarti benar kan, ada sesuatu?” Marcel menaikkan alisnya dan menatap Adera sambil tersenyum jail. Adera mengela napasnya, ini kalau dibiarkan pasti tidak akan pernah ada selesainya. Wanita itu menatap tajam Marcel. Alih-alih menjawab semua pertanyaan pria itu Adera memilih hal lain. “Auah, bye.” Adera segera berbalik meninggalkan Marcel. Wanita itu tidak peduli lagi pada kata-kata yang dilontarkan oleh pria itu. Bisa gila gue, lagian ngapain juga aku harus cerita ke dia tentang Pandhu Nggak penting banget, ujarnya dalam hati. Marcel menggelengkan kepalanya, pasti ada apa-apa nih dan ini akan sangat menguntungkan untuk mereka, pria itu tersenyum licik. Siangnya pandu kedatangan Axel di tempatnya. Jadi ceritanya bocah itu sangat kangen kepada dirinya sehingga meminta pada pak Mon agar diantarkan untuk datang ke kantornya. Pandhu segera mengecup pipi anak itu, walaupun berakhir dengan Axel yang menggelengkan kepalanya dan menghapus bekas ciuman di pipinya. “Papa jangan cium-cium, Axel itu sudah gede tahu.” Pandhu hanya tertawa, pria itu kalau menggelitik Axel. Keduanya tertawa bersamaan. “Kamu sudah tidak usil lagi kan, sama teman-teman kamu?” Axel menggelengkan kepalanya, anak itu tersenyum dan menatap pria itu tajam. “Papa tidak lupa kan sama janji papa? Kita akan jalan-jalan seharian besok.” Pandhu mengerutkan alisnya, jalan-jalan seharian? “Memang papa pernah bilang ya?” Axel mengangguk antusias. Anak itu naik ke pangkuan Pandhu. “Karena aku tidak jail dan nakal lagi, papa yang bilang aku dapat hadiah kalau tidak nakal.” Pandhu menggaruk kepalanya dan mengangguk. Mungkin dia yang benar-benar terlupa akan apa yang diucapkannya kemarin. Di lain tempat Adera sudah duduk di butik Fenola, katanya ada yang ingin gadis itu bicarakan pada dirinya. Adera menunggu Fenola yang belum datang menemuinya dengan memainkan ponselnya. Adera menimbang-nimbang untuk membaca pemberitaan tentang dirinya. Kira-kira berita seperti apa yang ada untuk dirinya. Fenola yang masuk ke dalam ruangan tempat Adera menunggu menggelengkan kepalanya, gadis itu berdecak dan menggelengkan kepalanya. Adera belum menyadari kedatangannya. “Nggak perlu dibaca yang seperti itu, buang waktu dan tenaga.” Adera menoleh dan mengelus dadanya. Wanita itu memejamkan mata sejenak lalu kembali menghadap pada Fenola. “Lo itu apaan, tiba-tiba muncul kayak gitu. Aku tadi cuma kepo apa lagi pemberitaan tentang aku, ternyata rame juga ya.” Fenola menatap gadis itu sewot. “Iyalah, rame. Apalagi ibu Wilson juga terang-terangan tentang pernikahan kalian dibatalkan.” Adera menghela napasnya, gadis itu menyimpan ponselnya dan menoleh ke arah Fenola. Dirinya penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh gadis itu. “Baiklah, itu dilupakan gak usah dibahas aku penasaran saja sama apa yang ingin kamu katakan pada aku. Aku masih ada kerjaan loh setelah ini.” Fenola menghembuskan napasnya, dan menatap Adera. Gadis itu lalu mengeluarkan ponselnya. Memperlihatkan Myana yang menjadi brand ambassador dari sebuah brand. Adera mengerutkan alisnya. “Kenapa dengan itu?” Fenola menepuk bahu gadis itu. Lalu menatap hati-hati pada Adera. Fenola menelan ludahnya berkali-kali sambil menata apa yang akan diucapkannya. “Ya maksudku, masa kamu tidak paham. Aku melihat Myana sangat diuntungkan dengan kasus ini, terus kamu tidak ingat kata-kata dia di ulang tahun Alex? Aneh banget tahu, nggak?” Adera mengerutkan alisnya. Gadis itu menatap Fenola yang terlihat sangat gemas menatapnya. “Terus apa kaitannya?” Fenola menoyor kepala gadis itu. Adera menatap Fenola sewot, lagian ngapain sih berbelit-belit banget, kenapa nggak langsung bilang saja apa masalahnya. “Masa kamu tidak curiga, bisa jadi dia yang menyebabkan semua ini. Lagi ....” belum selesai melanjutkan kalimatnya gadis itu langsung merasakan bantalan sofa yang mengenai tepat di wajahnya. “Kamu jangan menuduh Myana yang aneh-aneh deh, lagian kalau Maslah brand itu mungkin itu sudah rejeki dia. Nggak baik kita menuduh aneh-aneh pada sahabat kita sendiri.” Fenola memutar bola matanya, lagi pula dia hanya berpikir secara realistis dan juga sikap Myana sangat aneh pada Adera akhir-akhir ini. “Iya maksud aku, kamu bisa melihat juga realistisnya.” Adera menggelengkan kepala mendengar pembelaan dari Fenola. “Nggak mungkin, kita kenal dia sudah lama banget tahu.” Adera menggelengkan kepalanya. Fenola mengangguk iya juga sih, mungkin gue saja yang terlalu cas. Akhirnya berpikirnya yang macam-macam. “Iya sih, Cuma ... tapi ya sudalah. Terus lo gak cari tahu lagi kasus ini?” Adera menggelengkan kepalanya. “Sudah cuma nggak ada hasil, tapi yang jelas ini tuh rapi banget perencanaannya. Apalagi om-om yang ada difoto itu juga orang terpandang. Mungkin ada yang memang niat untuk menjatuhkan dia, gue gak tahu juga sih.” Fenola mengangguk, wanita itu segera bangun dan berdiri untuk mengambil minuman ringan yang ada di lemari pendinginnya. “Ini minum dulu,” Adera segera mengambil minuman yang disodorkan oleh Fenola. Fenola kembali duduk dan menatap gadis itu tertarik. “Oh iya terus gimana dengan Wilson? Malam itu dia juga hadir kok di acara Alex.” Adera mengangguk, gadis itu menghela napasnya dan menarik senyum. “Sumpah, gue dendam banget sama apa yang dikatakan Wilson. Dia bilang dia menyesal dan aku akan buat dia benar-benar menyesal.” Fenola melotot, gadis itu bahkan sampai tersedak. Fenola melihat dengan jelas raut serius di wajah Adera. “Lo benaran? Gimana caranya? Lagian mungkin Wilson Cuma emosi sesaat.” Adera mencibir Fenola. Gadis itu menggelengkan kepalanya, bibirnya komat Kamit. “Mungkin sih, aku tertarik untuk mencari tahu lebih jauh lagi siapa yang memainkan ini semua. Kalau nanti sudah ketahuan, aku tidak akan menerima Wilson apapun alasannya.” Fenola menggelengkan kepalanya. Tidak mengerti dengan Adera. “Tadi katanya gak ada hasil,” Adera menghela napasnya, dan menatap Fenola tajam. “Itukan dulu, siapa tahu nanti ada hasilnya. Walaupun sebenarnya sih gak ada ruginya sama gue kasus ini. Selain sakit hati dan beberapa kontrak yang dibatalkan.” Fenola mengangguk, gadis itu lalu menghadap dengan serius berhadapan dengan Adera. “Der, lo ada hubungan apa dengan Pandhu Bagaskoro? Dia bukan orang ketiga diantara kalian kan!” Adera melemparkan kembali bantalan sofa yang ada di pangkuannya. Idih, memang dipikir dia cewek apaan sih. “Nggak ada hubungan apapun, lo pikir gue cewek apaan sampai ada orang ketiga segala.” Adera menjawab dengan sewot membuat Fenola tertawa terbahak-bahak. “Santai saja kali jawabnya, aku juga tanya santai kok. Tapi kok lo biasa saja, nggak ada tanda-tanda susah move on.” Adera terdiam, masa harus ditunjukkan? Lagi pula selama ini dirinya merasa sudah cukup merasa sedih. Gadis itu tersenyum pada Fenola. “Nggak perlu juga gue perlihatkan kali. Bahas yang lain saja deh,” Fenola tersenyum misterius. Gadis itu menatap Adera yang mengangkat alisnya. “Lalu bagaimana dengan Pandhu? Lo tidak pernah cerita kalau dekat dengan pria itu.” Adera mengangkat bahunya, gadis itu lalu kembali meneguk minuman miliknya. “Nggak gimana-gimana, cuma kenal karena ... aku ada kerja sama dengan dia.” Adera menghembuskan napasnya lega. Untung tidak keceplosan semuanya. Akan tambah panjang masalahnya kalau dia mengatakan mengenal Pandhu dari klub malam. Fenola menatanya curiga, Adera memasang wajah polosnya. “Kok gue tidak yakin?” Adera mengangkat bahu dengan acuh, tidak ingin menjawab lebih jauh. “Terserah loh deh, tapi memang begitu keadaannya.” Fenola masih menatap Adera yang terlihat kini menyibukkan diri dengan ponselnya. “Tali kok gue merasa ada yang aneh dengan kalian berdua, mungkin ada sesuatu yang khusus.” Adera menyimpan ponselnya dan menatap gadis itu. Sepetinya kalau tidak dijawab Fenola tidak akan berhenti. “Benaran gak ada apa-apa, lo kenapa sih?” Fenola tersenyum, gadis itu menatap Adera dengan mata yang berbinar sepertinya gadis itu tertarik dengan kalimat yang barusan keluar dari bibir Adera. “Yakin? Gue takut ini bakalan heboh lagi. Kalau lo mau tahu, semalam Pandhu mengikuti lo.” What? Adera mengangkat alisnya dan menatap tajam Fenola. “Jadi, sebenarnya lo sengaja ninggalin aku malam itu?” Fenola tertawa kecil, laku menggaruk tengkuknya. Adera sudah menatap dirinya tajam. “Nggaklah, cuma kebetulan lihat aja. Hehehehe.” Setelah itu Fenola kembali merasakan lemparan bantal didahinya. “Lo itu benar-benar, sih ah.” Setelah itu Fenola merasakan banyak timpakan bantal yang mengenai dirinya. Adera sepertinya sangat marah. Siapa yang tidak marah sih, Lo disuruh menunggu dan diganggu oleh biaya dia ternyata masih mengawasinya Lo. Untung jadi sahabat, batin Adera.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD