Telepon dari Pandhu

1610 Words
Myana tersenyum senang, hari ini dirinya melakukan pemotretan dengan brand yang sudah menjadi impiannya sejak dulu. Gadis itu tersenyum senang, karena adanya kasus Fedora dirinya semakin banyak tawaran untuk kerja. Lumayanlah, tidak ada yang sia-sia. Gadis itu menghembuskan napasnya kasar, membaca informasi yang baru masuk di grup w******p miliknya yang berisi ajakan untuk makan malam sebagai perayaan kesuksesan butik Fenola. Makan malam yang akan dihadiri oleh sahabatnya yang lain. Gadis itu menghembuskan napasnya, memanggil asistennya untuk merapikan rambutnya dan bersiap lagi untuk pemotretan. Seperti halnya Myana, Adera juga menghela napasnya melihat ajakan makan malam yang ada di grupnya. Gadis itu menggelengkan kepalanya, apalagi lingkaran pertemanannya juga tidak jauh-jauh dari Wilson. Semoga saja tidak ada Wilson nanti malam, itu yang ada dipikiran Adera. Adera menghela napasnya, gadis itu segera berjalan ke dapur membuat makan malam untuk dirinya. Gini-gini aja hidup gue, Elis juga belum ada kabar, batin gadis itu seraya menggelengkan kepalanya. Adera bersenandung kecil, gadis itu makan malam setelah semuanya siap. Beginilah kehidupan Adera sehari-hari, gadis itu memang tidak memiliki asisten rumah tangga. Hanya ada beberapa pegawai yang datang setiap harinya untuk membersihkan rumahnya. Adera makan dengan nikmatnya, gadis itu menikmati kesendiriannya. Setelah makan Adera segera mengambil ponselnya, ternyata ada panggilan tak terjawab dari Fenola. Adera menghela napasnya lalu balik menelpon pria itu. “Iya, aku pasti datang. Ini juga belum larut kok,” Adera menganggukkan kepalanya. Gadis itu segera mengiyakan apa yang dikatakan oleh Fenola. Setelah itu Adera masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap. Adera kembali menggerutu, gadis itu baru saja memakai foundation di wajahnya dan Fenola sudah kembali meneleponnya? Dengan kasar gadis itu lalu menekan bintang hijau di ponselnya dan meletakkan ponselnya di telinganya. “Iya Fen, aku lagi siap-siap kamu jangan ....,” tiba-tiba saja suara di seberang sana menyahuti ucapannya, memotong pembicaraan Adera. “Sepertinya kamu salah orang Savannah.” Adera menelan ludah, buru-buru gadis itu membalikkan ponselnya. Ini nomor baru, dasar bodoh, kenapa tadi tidak diperhatikan baik-baik rutuknya. Adera menepuk dahinya, untuk kelalaiannya kali ini. Gadis itu menggigit bibirnya, hanya satu orang yang memanggilnya Savannah. Tapi tunggu dulu? Dari mana pria itu mendapatkan nomor Adera dan untuk alasan apa pria itu meneleponnya secara langsung? Kan kalau masalah kerja SMA mereka pria itu bisa melalui Marcel. “Eh, tidak pak. Aku hanya sedang kesal sama seseorang, hehehehe.” Adera tertawa garing, gadis itu menatap layar ponselnya dengan penasaran. Apa yang akan dikatakan oleh pria ini, gadis itu menggigit bibirnya matanya menatap bayangannya yang ada di depan cermin. Adera mengernyitkan alisnya, kok dia langsung diam juga. Hening. Pandhu tidak bersuara lagi. “Pak, ada yang bisa aku bantu?” Adera bersuara dengan hati-hati. Gadis itu tersenyum kecil dengan sebutan pak yang baru saja meluncur dari bibirnya. Adera sebenarnya juga bingung, kalau memanggil nama pria itu tanpa embel-embel pak, apalagi sekarang dirinya sedang menjalin kerja sama dengan pria itu. “Jangan terlalu formal Savannah, dan aku pikir aku juga tidak setua itu. Aku hanya lebih dewasa,” Adera terbahak-bahak, ternyata Pandhu masih sepeti biasa. Gadis itu menunggu apa yang akan dikatakan pria itu selanjutnya. “Jadi, aku hanya akan mengingatkanmu. Lusa kita akan ada pemotretan, siapkan dirimu Adera. Aku tidak ingin ada keterlambatan lagi!” Adera mengerutkan aslinya, gadis itu mengepalkan tangannya. Orang ini ngeselin banget sih, gadis itu menjauhkan ponsel itu dari kupingnya. Kalau diikutkan hati mau saja Adera memutuskan sambungan telepon dadi pria itu. Dia pikir aku sengaja apa terlambat, pakai cara diingatkan segala. “Iya, aku juga sudah tahu. Aku sibuk banget kalau kamu cuma mau mengingatkan aku, agar aku tidak terlambat. Aku memang tidak pernah terlambat Pandhu, itu hanya kebetulan.” Pandhu di seberang sana tertawa senang, pria itu sudah membayangkan tatapan tajam dari kedua bola mata gadis itu. Apalagi suara gadis itu terdengar menahan geram. “Aku hanya mengingatkan Savannah,” Suara pria itu terdengar sensual di telinganya. Adera sampai merinding sampai mendengar Pandhu menyebut namanya seperti itu. Astaga? Apa yang dipikirkan pria itu dengan menyebut namanya seperti itu? “Kenapa kau menyebut namaku seperti itu? Dasar otak m***m!” Adera mendengar Pandhu terbahak-bahak. Wania itu benar-benar kesal, ingin sekali ditekannya buntang merah yang ada di layar gawainya itu. “Siapa yang m***m, Savannah? Aku ... atau kau?” Pandhu memberi jeda sedikit, Adera tidak menyahut walau sebenarnya sudah mulai kesal. Gadis itu menantikan kalimat selanjutnya dari pria itu. “Dimana letak kemesumanku sampai kau mengatakan aku m***m?” Adera terdiam mendengar pertanyaan pria otu. Gadis itu menggigit bibirnya dan kembali mengingat-ingat, apa aku saja yang terlalu berpikir jauh? Wanita itu menggelengkan kepalanya, dirinya tidak salah dengar. Sepertinya pria ini mempermainkan dirinya, Pandhu terdengar tertawa. “Terserah, aku banyak pekerjaan! Jangan menggangguku, aku ....” Pandhu langsung menyahuti gadis itu ketika merasakan Adera sepertinya sudah terbakar emosi dan sambungan telepon miliknya akan diputuskan. “Tapi kau meladeniku, Savannah. Jadi aku pikir, aku tidak mengganggu.” Adera yang kesal segera melemparkan ponselnya. Pria itu benar-benar keterlaluan. Kau yang meladeniku, aku pikir aku tidak mengganggu. Adera mengulang kata-kata pria itu dengan bibir yang dibengkokkan. Prang!! Ponsel yang tidak berdosa itu melayang, sebelum Akhirnya terbentur mencium lantai. PANDHUUUUU!!!!!!! Adera meneriakkan nama pria itu untuk melampiaskan kekesalannya. Setelah cukup puas gadis itu menoleh ke lantai. Matanya terbelalak melihat ponselnya yang sudah terbaring tak berdaya di atas lantai. Astaga, pria itu benar-benar merusak semuanya malam ini. Pandhu dikamarnya tertawa terbahak-bahak melihat sambung teleponnya yang sudah terputus, entah kenapa dirinya sangat terhibur malam ini dengan aksi gadis itu. Tadi Pandhu hanya berniat untuk menggoda gadis itu, tidak ada niat yang lain. Tapi ternyata akhirnya semenarik ini. Pandhu juga tidak mengerti apa yang ada di pikirannya sampai berani menelepon gadis itu di malam seperti ini. Mungkin ini disebabkan Pandhu yang sering memikirkan Adera akhir-akhir ini, gadis itu sepeti memiliki mantra yang membuat dirinya selalu ada dalam ingatan Pandhu. Pandhu menggelengkan kepalanya, lo bukan ABG lagi Pandhu. Lo sudah semangat dewasa untuk bertingkah seperti ini. Pria itu meremas rambutnya dan keluar dari kamarnya untuk turun makan malam, mungkin ini sudah agak telat sih. Oma dan juga Arianna yang berada di meja makan menatap aneh pada pria itu. Wajah Pandhu terlihat sumringah dan berseri-seri dibandingkan dengan hari-hari bisanya. Apa yang membuat pria ini terlihat bahagia? Arianna berbisik dalam hatinya. Oma balas tersenyum pada pria itu dan menepuk kursi disampingnya mengisyaratkan Pandhu untuk ikut duduk disampingnya. Pandhu segera duduk dan mengambil makan untuk dirinya, pria itu menggelengkan kepala ketika Arianna dan oma ingin mengambilkan makan untuk dirinya. Ketiganya makan dalam diam, tidak ada tanya jawab di meja makan. Arianna pun tidak berani untuk bertanya lebih jauh, karena di rumah ini makan adalah hal yang sakral sehingga tidak ada yang bersuara saat makan. Setelah selesai makan, oma segera bertanya pada Pandhu. Arianna tidak segera ke kamarnya, gadis itu ikut mendengar pembicaraan oma. “Jadi hal baik apa sampai engkau tersenyum selebar itu Pandhu?” Pandhu mengambil tisu mengelap bibirnya dan segera menatap oma. Pria itu menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak ada apa-apa oma, hanya saja aku rasa hidupku menjadi lebih baik akhir-akhir ini.” Rianti tersenyum, laku menatap cucunya itu dengan alis yang terangkat. Arianna menajamkan pendengarannya, apakah itu artinya Pandhu memenangkan tender lagi atau ada hal yang lain? “Apa karena gadis itu?” Arianna melotot, gadis itu? Siapa gadis yang dimaksud oleh oma? Pandhu tidak pernah terlihat membawa seorang gadis pun. Arianna menatap Pandhu yang terlihat mengulum senyum. Pria itu menatap Oma dengan alis yang terangkat, bibirnya menarik senyum tipis. “Menurut oma? Lagi pula itu hanya rekan kerja oma. Aku tidak tertarik untuk yang lebih jauh,” Pandhu mengatakannya dengan santai, membuat oma tertawa kecil. Arianna tersenyum lega mendengarnya, bagaimana pun sifat yang dimiliki oleh Pandhu membuatnya jatuh cinta dan wanita itu tidak ingin, Pandhu memiliki kekasih. Itu sangat tidak menguntungkan, Arianna tertarik dengan sifat kebapakan yang dimiliki oleh pria itu. “Hahahahaha, kamu bisa saja membohongi orang lain Pandhu. Tapi diri kamu? Oma pikir kamu tahu jawabannya.” Wanita tua itu langsung minum sambil memerhatikan Pandhu yang terdiam. Pria itu menghembuskan napasnya kasar dan mengusap wajahnya. “Oma, mengikuti semua apa yang menjadi perkembangan kamu loh. Oma jadi ingin kenal dengan gadis itu, siapa namanya? Adera? Mirip dengan Adelia, wajahnya juga sekilas mirip tapi kalau diperhatikan dengan teliti, wajah mereka berbeda. Gadis itu tidak memiliki lesung pipi.” Pandhu terdiam, pria itu menjadi pucat. Rianti sadar, dirinya telah menyinggung hal yang paling sensitif. Wanita tua itu lalu berdehem pelan. “Oma tidak bermaksud, maafkan oma.” Rianti bersuara dengan hati-hati menatap Pandhu. Pandhu menganggukkan kepalanya. Pria itu tidak mengatakan apa-apa lagi. Arianna hanya memerhatikan saja Oma dan Pandhu bergantian, wanita itu jadi penasaran. Seperti apa gadis yang bernama Adera itu? Meligat Pandhu yang terdiam, Arianna punya satu kesimpulan. Pandhu belum melupakan masa lalunya. Tidak ini terjerat dalam situasi yang canggung, Arianna segera pamitan untuk beristirahat lebih dulu. Sampai di kamarnya wanita itu segera mengetikan nama Adera di ponselnya. Banyak sekali gambar yang keluar, wanita itu sampai pusing untuk menebak Adera mana yang tadi di perbincangkan oleh oma dan Pandhu? Arianna melemparkan ponselnya, masih ada besok untuk mencari tahu lebih jauh lagi Arianna ucapnya untuk menyemangati dirinya sendiri. Pandhu yang terdiam lama, segera menoleh pada Oma. Pria itu pamitan untuk kembali ke kamarnya. Rianti menahan kepergian cucunya itu, wanita itu menatap tepat dimata Pandhu. “Jangan bohongi hatimu Pandhu, kamu juga berhak untuk mencoba lagi. Oma tetap akan merestui siapa pun yang nanti kamu pilih.” Pria itu tertegun, dan menganggukkan kepalanya pelan. Pandhu melangkah mendekati oma dan mengecup ubun-ubun wanita tua itu. Rianti menepuk pundak cucunya itu, semoga semuanya berjalan lancar. “Tapi, oma tahu kan foto-foto itu?” Rianti menganggukkan kepalanya, wanita itu tersenyum tulus. Wanita itu mengambil tangan Pandhu dan menggenggamnya. “Kamu tahu ‘kan? Bagaimana dinamika dalam bisnis. Itu belum tentu benar, dan kalaupun itu benar atau jebakan. Oma tidak pernah mempermasalahkan hal itu, kamu nanti yang akan membimbing dia. Semua orang punya kesempatan selama mereka mau berubah.” Pandhu menganggukkan kepalanya, dan kembali mendaratkan ciumannya dipipi wanita kesayangannya ini. “Tapi, aku juga tidak bisa janji untuk melangkah ke arah yang lebih jauh oma.” Rianti mengangguk, wanita itu juga paham. Bukan hal yang mudah, tapi tidak ada salahnya berharap dan berdoa untuk cucu kesayangannya ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD