Ketemu Lagi

1529 Words
Adera yang masih kesal dengan Pandhu kehilangan selera untuk dandan agar terlihat lebih dan dewasa. Gadis itu hanya mengoleskan make up tipis di wajahnya, hanya agar tidak terlihat begitu pucat. Setelah lengkap dengan pakaiannya, Adera segera melangkah meninggalkan rumahnya menuju hotel yang sudah di tentukan oleh Fenola. Adera yang menyetir juga berkali-kali menggelengkan kepalanya, dan menghembuskan napasnya. Semoga Wilson tidak ada di tempat itu hanya itu harapannya. Walau pun itu kemungkinannya sangat kecil mengingat lingkup pertemanan mereka yang sama. Teman-teman Wilson adalah teman Adera juga, begitu pun sebaliknya. Di hotel Adera segera mencari para sahabatnya. Gadis itu tersenyum pada beberapa kenalannya, Fenola kedatangan banyak tamu malam ini. Sepertinya ini bukan makan-makan biasa. Adera sedikit tegang ketika hampir semua pasang mata yang ada di ruangan itu menoleh ke arahnya. Adera menaikkan alisnya, sambil menaikkan gelasnya ke bibirnya menikmati minuman yang ada di genggamannya. Gadis itu juga ikut mengarahkan pandangannya pada objek yang menjadi perhatian orang-orang saat ini. “Uhuk ... uhuk ....” Adera terbatuk-batuk, yang terlihat adalah Wilson yang berjalan masuk bersama Katrine. Pantas saja tadi orang-orang pada menoleh ke aku terlebih dahulu. Adera segera mengalihkan pandangannya dengan anggun, takut juga ada yang melihat atau mungkin memotret ketika dirinya memerhatikan Wilson dan juga Katrine. Takutnya nanti akan menjadi berita yang semakin dibesar-besarkan. Adera menjauh dari kerumun dan menghampiri sahabatnya, Fenola. Gadis itu masih sibuk menerima ucapan selamat dari teman-temannya. “Lo katanya tadi cuma makan malam biasa? Kenapa malah jadi seperti ini?” Fenola menoleh pada Adera yang kini bermuka masam. Fenola tertawa kecil menanggapinya, gadis itu tersenyum misterius pada gadis itu. “Ini bagian dari suprise, hehehehe. Biar pada kumpul semua, lama juga kita tidak kumpul seperti ini.” Adera yang mendengar pembelaan dari gadis itu, mengerucutkan bibirnya. Fenola malah tersenyum penuh kebanggaan. “Ini sekalian dengan syukuran pembukaan butik gue yang baru. Santai saja, kok.“ Fenola tersenyum manis. Adera menganggukkan kepalanya, tapi gadis itu kembali menatap Fenola penuh dengan protes. Bibirnya bahkan berkomat-kamit kemudian terdiam beberapa saat. “Tapi lo juga harus ngundang Wilson? Masih malas aku mau ligat mukanya.” Adera menatap Fenola yang kini terlihat bingung, gadis itu malah mengerutkan alisnya. Fenola langsung mengarahkan pandangannya ke beberapa titik di ruangan ini, mencari keberadaan Wilson. “Gak tahu aku, kan yang mengundang itu sekretaris aku. Atau mungkin dia datang bersama dengan Katrine. Soalnya Katrine itu rekan bisnis aku, jadi aku undang.” Alis Adera berkerut, sepertinya telinganya tidak asing dengan nama Katrine. Adera mengalihkan tatapannya, takut kedapatan oleh mantan karena sedang memerhatikan mereka. Adera tiba-tiba saja tersenyum cerah, gadis itu mengangkat alisnya. Apakah katrine ornag yang sama dengan yang pernah dekat dengan Wilson dulunya? Adera menggelengkan kepalanya, bukan urusan aku lagi busiknya dalam hati. Tidak ingin berlama-lama, adera segera mengalihkan pandangannya dan memjtujdkan untuk bergabung bersama Myana dan lainnya. Wilson yang diam-diam juga memerhatikan Adera, tersenyum sinis menyadari keberadaan gadis itu. Kalau Adera bisa dengan secepatnya melupakan dirinya dan berganti pria sesuka hatinya mka dirinya juga bisa melakukan hal itu, Wilson segera mendekati Katrine dan memeluk pinggang gadis itu. Pria itu sengaja merapatkan tubuhnya pada Katrine. Wilson berbicara sebentar pada Katrine, lalu berjalan bersama wanita itu menghampiri Adera dan Wilson akan memperkenalkan Adera pada Katrine. Adera mulai tidak nyaman menyadari Wilson yang semakin dekat ke meja mereka. Gadis itu menelan ludahnya susah payah, dan menghembuskan napasnya berkali kali agar tidak terpancing kemarahan. Tuhan, bantu aku berhadapan dengan Wilson lagi, harapnya dalam hati. “Hai, boleh gak gue gabung disini?” Wilson yang sudah ada di depan meja Adera dan para sahabat Adera tersenyum hangat pada mereka. Para sahabat Adera segera menatap gadis itu, Fenola, Eliza dan Myana menatap pria itu dan Katrine bergantian. Kemudian merek juga langsung menoleh pada Adera, yang nasih terdiam. Pelan-pelan Adera menganggukkan kepalanya pada Wilson. Para suabatnya saling bertatapan, lalu melirik lagi pada adera. Adera menarik senyumnyautnuk menyakinkan sahabatnya.  “Silahkan mumpung masih cukup tempat duduknya.” Wilson segera duduk di depan Adera dan diikuti oleh Katrine. Adera mengepalkan tangannya dan menarik napas. Lalu gadis itu mengangkat kepalanya, menatap pria di depannya dengan datar. Adera tidak ingin terlihat menghundar di hadapan pria ini. Adera terdenyim sisnis, ketika mengingat kembali janjinya untuk membuat pria ini menyesal. “Jadi gimana pekerjaan lo, Dera?” Adra terdiam, panggilan dari pria itu masih sama walau nadanya tidak lagi selembut dulu bahkan terdengar dingin dan menusuk di telinganya. Adera memerhatikan para sahabatnya yang juga menatapnya. Adera mengerutkan alisnya, kenapa pertanyaan itu yang keluar dari bibir pria itu. Mau memperlihatkan jika Adera agak sepi jobnya akhir-akhir ini? Atau meau membandingkan dirinya dengan si perancang busana, Katrine ini? “Alhamdulillah, baik banget kok.” Adera menjawab dengan acuh dan sesekali mengaduk-aduk minumannya. Merasakan suasana yang kurang enak, Myana dan Eliza segera pamitan.Hanya Fedora yan yangg menemaninya walau tidak bisa membantu. “Syukurlah, tapi kalau dipikir-pikir setelah foto-foto itu kamu juga makin banjir tawaran kerja ya. Apa ini memang yang lo lakukan agar punya banyak pekerjaan? Lo yunggal bilang Adera, apa yang tidak gue berikan untuk lo?” suara Wilson terdengar tajam, putus asa dan juga penuh penghakiman. Adera merasa tertohok dan tidak menyangka jika kata-kata itu yang keluar dari bibir pria ini. Ternyata belum cukup, pria ini masih menyimpan kata-kaya yang menyakitkan utnuk dirinya. Wilson menyeringai, pria itu merasa puas melihat Adera yang terdiam. Pria itu masih menyimpan banyak rasa sakit di dalam hati ya untuk gadis ini. Katerina dan Fedora hanya menjadi penonton tanpa ikut camour sedikitpun. “Kalau lo cuma mau ngomong yang basa basi tidak jelas, dana menyakitkan sepeti ini. Mending lo cabut. Gue gak seperti yang Lo katakan!” Adera mengucapkannya dengan tajam, gadis itu langsung berdiri dan kembali melanjutkan ucapannya. “Lo bukan siapa-siapa yang mau komentarin hidup gue, apapun yang aku jalanai itu pilihan gue. Lo cukup diam dann jangan pernah cari tahu lagi tentang gue!” Wilson ikut berdiri dan mendekatkan wajahnya balas menatap tajam wanita itu. “Gue gak pernah cari tahu, tapi informasi murahan itu yang datang mencari gue? Siapapun yang ngirimin, gue itu bersyukur!” Adera tertawa sinis, wanita itu langsung bertepuk tangan. Matanya memandang remeh Wilson, Bahakan gadis itu sampai tertawa terbahak-bahak. Siapapun pasti tahu, jika itu tawa yang dibuat-buat. “Terus, lo mau apa lagi? Lo dan keluaraga lo itu benar-benar, kemarin ibu kamau ya g datang marah-marah dan suruh aku jauhi kamu. Tapi nyatanya kamu terus yang datang, untuk mendekati aku.” Setelah mengucapkan semua itu, gadis itu segera berjalan dengan angkuh meninggalkan pria itu. Fenola yang ada di situ segera mengambilkan tas dan juga ponsel Adera. Fenola menyusul mengejar adaera yang sudah beberapa meter di depannya. Katrina yang sedari tadi terdiam, melirik Wilson dan tersenyum kecut. Wanita itu menatap pria ia yang kini terlihat kacau. Tarnyata kamu masih menyimpan cinta di balik kemarahanmu, Wilson. Katerine berjalan mendekati pria itu , dan duduk di depannya. “Lo hanya akan semakin membuat dirimu dan Adera juga terluka.” Gadis itu mengucapkannya dengan pelan, katerina menuangkan minuman dan menyesapnya. Menggelengkan kepalanya beberpaa kali ketika adegan Wilson dan Adera tadi terulang lagi dalam ingatannya. Cinta dan kemarahan memang dua hal yang sekatnya sangat tipis. Wilson masih terdiam, wajah pria itu memerah karena marah. Wilson tidak suka dengan kata-kata yang keluar dari bibir Adera. Seakan-akan apa yang dikatakannya itu tidak benar, pria itu meremas kepalanya. Demi tuhan, kenapa susah sekali utnuk tidak mengusik gadis itu. Fenola ngos-ngosan mengejar Adera yang berjalan dengan cepat, gadis itu segera berlari ke parkiran. Fenola merutuki hdia itu, itasih marah tapi jangan biar dirinya juga diabaikan dong. Fenola langsung mengetuk-ngetuk kaca mobil gadis itu. Mata adra memerah, Fenola tersenyum canggung. “Ini tas dan ponsel Lo. Maaf ya,” Adera menganggukkan kepalanya. Bukan salah Fenola juga, apa yang dikatakan Wilson itu memang urusan Wilson. “Gak papa,” Adera bersuara dengan parau. Gadis itu segera mengambil tas dan ponselya. Gadis itu tidak menatap wajah Fenola. Fenola memutar dan ikut masuk ke dalam mobil, Tidka enak hati melihat Adera yang terlihat tidak baik-vaik saja sekarang. “Lo kembali ke dalam, acaranya masih lama. Gak papa kok, gue pulang sendirian juga.” Adera mengesat air matanya dan tersenyum pada Fenola. “Be … be … benara?” Adera menganggukkan kepalanya, gadis itu tersenyum kecil. Fenola memeluk gadis itu dan segera turun dari mobil Adera. Melihat Fenoam yang mulai menghilang dari area parkiran gadis itu segera menyetir utnuk oulang ke rumahnya.  Alih-alih pulang kerumahnya, Adera malah berputar-putar sepanjang jaln. Gadis itu belum sia utnuk pulang ke rumahnya, dasar air mata bodoh rutuknya. Harusnya tidak ada lagi air mata untuk pria itu. Adera mengehela napasnya, gadis itu memutuskan utnuk berhenti di taman yang mulai sepi. Adera turun dan melebarkan kedua tangannya, gadis itu menikmati embusan angin malam yang mengenai wajahnya. Adera memejamkan matanya, menarik napasnya panjang membuang semua beban yang menghimpit dadanya. “Sendirian?” Adera membuka matanya, gadis itu sudah sangat familiar dengan suara ini. Suara siapa lagi kalau bukan yang membuatnya kesal sore tadi. Gadis itu memilih menjauh dan tidak menjawab pertanyaan Pandhu. Pandhu hanya menggelengkan kepalanya, pria itu itu ikut memejamkan matanya menikmati angin yang membelai wajahnya.  Pandhu yang sudah membuka matanya akhirnya berjalan menghampiri gadis itu, yang kini sudah duduk di bangku taman. Adera menghela napasnya, tidak menggubris Pandhu sama sekali. Lagi pula kenapa pria ini bisa ada di tempat ini setiap dirinya kesini? “Ini pertemuan kita yang kedua kalinya kan di taman ini?” Pandhu menatap lurus ke depan, tidak melirik sedikitpun pada gadis itu. Adra mengiyakan saja seperlunya. Gadis itu masih memperbaiki moodnya yang tadi hancur karena bertemu Wilson. Apa yang tidak kuberikan Adera? Kalimat itu masih terngiang-ngiang di telinganya. Adera memejamkan matanya sejenak, mengabaikan oandhu yang kini beralih memerhatikan dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD