Menjelang Pemotretan

1550 Words
Keheningan mengelilingi keduanya, hanya bunyi jangkrik dan embusan angin yang terdengar. Adera masih terdiam, tidak peduli pada Pandhu. Begitu pula dengan Pandhu, pria itu hanya fokus memerhatikan Adera tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirnya. Benar juga quotes yang pernah dibacanya, kita tidak pernah benar-benar melupakan mantan. Adera menggelengkan kepalanya, lagi pula kok rumit banget seperti ini ya? Setelah merasa cukup dengan keterdiamannya, Adera menghela napas gadis itu laku bangkit dari duduknya. Adera berjalan meninggalkan Pandhu. Pandhu tidak membiarkan gadis itu berjalan, ditahannya tangan Adera. “Kenapa tidak berbagi? Bukankah dengan bercerita kita akan merasa lebih baik?” Adera menggelengkan kepalanya, tanpa menoleh pada Pandhu gadis itu langsung menjawab. “Gue nggak mau tergantung lagi, menceritakan banyak hal pada orang yang mungkin nanti akan melupakan gue, atau pergi dari hidup gue.” Decit Adera yang sudah membalikkan badannya menatap Pandhu. Pandhu tertegun beberapa saat, lalu pelan-pelan melepaskan tangannya. Pria itu terdiam, menatap bola mata yang berkaca-kaca di depannya. Pandhu menaikkan tangannya, tapi diturunkannya kembali. Ingin dibawanya gadis itu ke dalam pelukannya, tapi di urungkan. Bukan saat yang tepat bisik hatinya. Lagi pula lo belum jadi siapa-siapa untuk dia. “Oh, dan satu lagi. Lo jangan pernah mengikuti gue lagi. Gue paling benci sama orang yang mengikuti gue.” Adera bersuara dengan tegas lalu membalikkan badannya dengan cepat berjalan sedikit lebih cepat meninggalkan Pandhu yang mengerutkan alisnya. “Tunggu Savannah!” teriak Pandhu melihat Adera yang kini berjalan semakin jauh. Pria itu berjalan menyusul gadis itu, agar apa yang dikatakannya bisa di dengar oleh gadis itu. Adera mengepalkan tangannya, dan menghentikan langkahnya. Apa yang akan dikatakan oleh pria ini? “Aku tidak pernah mengikuti kamu! Jangan salah sangka Adera, aku memang ke taman ini setiap malam. Jangan berpikiran macam-macam!” Adera terdiam mendengar pengakuan dari pria itu. Gadis itu menganggukkan kepalanya dan segera berjalan tanpa menoleh pada pria itu sedikitpun. Pandhu mengepalkan tangannya, kenapa semakin rumit seperti ini. Bahkan gadis itu tidak lagi menoleh pada dirinya. Adera yang menuju parkiran terngiang-ngiang dengan kata-kata Pandhu beberapa menit yang lalu tadi. Aku terlalu berlebihan dalam berpikir. Tapi untuk apa pria itu ke taman itu setiap malam? Adera menggelengkan kepalanya, bukan urusan gue. Dikapalkannya kalimat itu berkali-kali, seperti sebuah mantra. Intinya Adera, sebenarnya masih tidak ingin dekat lebih dekat lagi dengan Pandhu. Apa yang akan dikatakan oleh Wilson. Wilson yang sampai di rumahnya sudah di tunggu oleh ibunya. Pria itu menampakkan wajah datarnya melewati ibunya yang kini menatapnya penuh intimidasi pada dirinya. Apa yang ingin ibu lakukan lagi sekarang? Wanita itu menarik senyum sinis. “Berapa kali ibu bilang, lupakan wanita itu? Hal memalukan apalagi yang kamu lakukan di acara Fenola malam ini?” Wilson terdiam beberapa saat, pria itu tidak menghiraukan wanita yang melahirkannya itu. Tidak ingin suasana menjadi keruh, Wilson segera masuk ke dalam kamarnya. Meninggalkan ibunya yang kini sudah mengeluarkan kata-kata pedas untuk dirinya. Sampai di rumahnya Adera Tidak segera tidur, wanita itu hanya termenung di atas ranjangnya dan berakhir melangkah ke balkon. Menikmati pemandangan malam hari yang sangat menenangkan untuk dirinya. Gadis itu hanya menghembuskan napasnya, hidupnya berubah seperti rollercoaster, tidak pernah terbayang akan seperti ini pada akhirnya. Pernikahan impian yang batal, proyek banyak yang dibatalkan juga. Gadis itu hanya tersenyum tipis, lalu mengesat sudut matanya yang berair. Paginya Adera bangun kesiangan, gadis itu begitu tergesa-gesa. Apalagi hari ini dirinya ada pemotretan bersama dengan Pandhu. Adera segera ke kamar mandi untuk mandi dengan cepat dan segera berpakaian seadanya. Gadis itu mengerutkan alisnya, mendengar bel rumahnya berbunyi. Adera dengan handuk yang masih , membungkus kepalanya segera berlari membukakan pintu. Gadis itu bernapas lega, melihat Elis yang sudah berdiri di hadapannya. “Cepatan masuk, beres-beres semua yang akan kita bawa. Hari ini aku ada pemotretan!” Elis menganggukkan kepalanya wanita itu tidak sempat lagi untuk berbasa-basi, Adera terlihat sangat terburu-buru sekali. Elis sudah sangat tahu dengan sifat gadis itu yang agak panikan kalau akan terlambat, Elis hanya menghembuskan napas. Barang-barang Adera ternyata tidak serapi biasanya. Lagi pula selama ini, dia yang selalu menyiapkan keperluan gadis itu. “Cepatan Lis, gila kau terlambat. Aku sudah diperingatkan agar tidak terlambat oleh rekan kerja aku.” Elis mengangguk, setelah cukup dengan barang-barang Adera. Gadis itu segera membantu Adera untuk mengeringkan rambutnya. “Kalau tahu mau buru-buru, kenapa pakai acara keramas segala?” Adera hanya tertawa dengan polosnya. Gadis itu menatap dirinya yang ada di cermin, terlihat jika Elis menggelengkan kepalanya berkali-kali. “Biar terlihat fresh saja sih.” Elis menganggukkan kepalanya. 2nua itu sebenarnya ingin bertanya lebih jauh lagi melihat mata yang agak membengkak milik Adera. Tapi diurungkan, bukan waktu yang tepat. Lagi pula biasanya juga Adera akan cerita dengan sendirinya. “Maaf Der, untuk beberapa hal gue tidak ada di samping lo.” Adera menggelengkan kepalanya dan tersenyum pada gadis itu. “Aku paham kok, lagi pula semua ya sudah beres.” Adera nyengir, Elis hanya tersenyum kecil. Tapi tidak seberes itu yang tergambar di mata lo, Der. Adera segera bergegas, gadis itu melirik lagi jam yang ada di tangannya. Sisa setengah jam lagi, untuk lokasinya agak dekat dengan rumah gue bisiknya dalam hati. “Yuk jalan, ngapain Lo bengong?” Elis segera tersadar dari lamunannya. Gadis itu tersenyum kecil dan segera berjalan menyusul Adera. Tidak lupa di angkatnya tas Adera yang berisi keperluan gadis itu. Sampai di dalam mobil tidak ada pembicaraan lagi diantara keduanya. Pandhu dan Radit juga dalam perjalanan, menuju lokasi yang akan dilakukan pemotretan. Radit melirik pandu yang terlihat berseri walaupun mungkin tidak di sadari oleh pria itu. Sepertinya ini pengaruh dari calon adik ipar bisik hatinya. “Wih, semangat banget lo. Nggak sabar ya kau ketemu Adera?” Pandhu mengerutkan keningnya, lalu menatap Radit dengan pandangan datar. Pria itu kalau menggelengkan kepalanya. “Nggak juga, aku lagi tidak ingin membahas gadis itu.” Pandhu sedang tidak ingin membahas Adera pagi ini. Kejadian semalam sedikit menyebalkan untuk dirinya. “Lo lagi ada masalah sama dia. Atau masih merasa bersalah pada Adelia?” Pandhu tertegun, pria itu hanya menatap lurus kearah jalanan tidak menjawab pertanyaan dari Radit. Radit menghela napasnya, lah menatap sahabatnya yang masih terdiam ini. “Gue nggak tahu sih, bagaimana rumitnya perjalanan cinta lo. Tapi gue pikir gak ada salahnya lo mengikuti apa yang menjadi suara hati lo.” Pandhu menggelengkan kepalanya. “Nggak semudah itu.” Satu kalimat yang membuat Radit memilih diam, dan hanya berharap dalam hati Pandhu akan berubah pikiran. Sampai di tempat pemotretan, Pandhu segera keluar diikuti oleh Radit. Adera juga baru keluar dari mobilnya, seperti tidak terjadi apa-apa atau tidak saling mengenal gadis itu hanya melewati Pandhu tanpa menegur pria itu. Melihat Adera yang menjauh di hadapan mereka Radit, menepuk bahu Pandhu. “Lagi ada masalah sama dia?” Pandhu mengangkat bahunya, pria itu lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan Radit yang masih terbengong. Ada apa? Hanya itu yang ada dalam benak Radit. Elis yang berjalan di belakang Adera, segera mempercepat langkahnya agar berjalan sejajar dengan gadis itu. Kalau tidak salah ingat yang tadi bertemu dengan mereka di basemen itu pemilik perusahaan yang terkenal, sayangnya Elis lupa apa nama perusahaan dari pria itu. “Mbak, kok tadi tidak di sapa pak Pandhu? Dia itu pemilik perusahaan periklanan juga punya bisnis-bisnis lainnya juga. Myana pernah cerita loh tentang pria itu.” Adera melirik datar pada Elis yang masih berbicara, gadis itu segera membuka pintu dan masuk ke ruang ganti. Dirinya perlu di make up dulu, sebelum dilakukan pemotretan. “Nggak papa, lagi malas saja. Aku bisa terlambat kalau harus menyapa dua terlebih dahulu.” Elis hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawaban dari bosnya ini. Gadis itu segera membantu para tim untuk menyiapkan semua keperluan Adera. Dua jam kemudian, Adera keluar dari ruang gantinya. Wanita itu menahan napasnya. Pandhu sudah duduk dan sudah diarahkan bagaimana pose untuk pria itu Adera menghela napasnya, terpesona pada tubuh pria itu. Tubuh terlihat yang sangat terjaga untuk umur pria matang. Adera seketika menjadi gugup, pikirannya mulai tidak fokus. Bagaimana rasanya menyentuh kotak-kotak yang ada di perut pria itu. Gadis itu menelan ludahnya. “Mbak … mbak … mbak!” Elis melangkah dan menepuk pundak gadis itu, entah apa yang dipikirkan oleh Adera. Yang pasti gadis itu menjadi pusat perhatian dari beberapa orang di ruangan ini. “Eh? I … iya.?” Adera mengedipkan matanya dasar otak gesrek, kutuknya dalam hati Adera melirik pada orang-orang yang ada di ruangan ini. Mata gadis itu terbelalak menyadari Pandhu juga menoleh pada dirinya. Bahkan pria itu mengedipkan matanya dengan terang-terangan dan bibirnya tercetak seringai kecil. Adera mengangkat kepalanya dan kembali tersenyum mengabaikan para kru dan tim yang menyembunyikan senyum melihat tingkah bodohnya. Adera sengaja tidak memedulikan mereka agar tidak menambah ras malu yang berkecambah dalam dirinya. “Lagi ada masalah mbak? Mikirin apa sih?” Adera hanya menggelengkan kepala pelan pada Elis. Adera bersyukur Elis tidak menyadari kebodohannya beberapa saat yang lalu. “Gak papa sayang, terima kasih.” Setelah mengucapkan itu Adera segera meninggalkan Elis untuk menghampiri fotografer dan tim yang mengatur pemotretan hari ini. Adera menghela napasnya kasar melihat gaun dan beberapa barang yang menghiasi ruangan ini. Apa mereka akan melakukan pemotretan bersama dengan Pandhu? Pandhu mengulum senyumnya melihat Adera yang tadi terpana melihat tubuhnya. Pria itu menyeringai penuh kemenangan, mengingat bahkan saat di basemen tadi gadis itu bahkan tidak menegur dirinya dan semalam meninggalkan dirinya begitu saja di taman. Melihat mata lapar dan juga ekspresi dari gadis itu membuat Pandhu juga memikirkan hal yang lain. Pria itu tidak banyak bicara, Pandhu hanya diam menunggu Adera selesai menggunakan pakaian yang akan dipakai untuk pemotretan. Pandhu menunggu kedatangan gadis itu sambil memainkan ponselnya. Adera yang masih berganti pakaian, berusaha agar terlihat senetral mungkin. Efek dari kenakalan matanya tadi, sekarang jantungnya berdebar sangat kencang. Apalagi kalau nanti pemotretan berdua dengan pria itu? Adera menelan ludahnya kelu, mungkin tidak akan semulus yang dibayangkannya. Adera memejamkan matanya, menjernihkan pikirannya. Fokus Adera, fokus! Bisiknya pada dirinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD