Ayah,
Bisakah kau menolongku?
Tidak ada siapa pun yang hidup bisa menyelamatkanku dari Nyonya Naraya itu.
***
Ifa sudah berusaha menemukan nomor kontak pria itu. Bintang Abimayu. Ia sudah mencari semua akun sosial media, pencarian via Internet dan semua hal yang ia bisa untuk menemukan gambaran sosok pria itu atau nomor kontaknya. Yang Ifa temukan hanya informasi tentang Tuan Abimayu dan silsilah keluarga Abinaya. Untuk orang yang hidup di kelas atas seperti Bintang, dia memang sederhana. Dia bahkan lebih sulit ditemukan daripada jarum diantara jerami. Ifa bahkan memohon kepada kedua kakaknya agar Ifa bisa sekali saja menghubungi Bintang. Hasilnya nol besar. Kedua kakaknya kukuh bersekongkol menyetujui pernikahan Ifa terjadi. Jadi, mereka sepenuhnya memihak Nyonya Naraya. Ifa sudah berusaha pergi ke luar, tetapi Nyonya Naraya selalu ikut ke mana pun ia menaiki limosin mereka. Hari berganti menyesakkan. Ifa kehabisan cara dan kehilangan semua waktunya.
Sepekan itu Ifa banyak dikunjungi saudarinya. Tetapi Ifa lebih suka menyepi dalam pondoknya menuliskan kemalangannya dalam narasi panjang. Ifa punya bakat hidup sendirian. Itu bukan hanya keinginan, tetapi kebutuhan, melebihi apa yang ia cita-citakan. Ifa mengirim surel dari laptop yang ia beli secara sembunyi-sembunyi, sebuah karya tulis yang mengabadikan kisah tragis hidupnya. Satu hal tersisa yang Ifa inginkan hanya sebuah pondok untuk mendaur ulang energinya, hidupnya. Ifa harap Nyonya Rani akan sangat mempertimbangkan itu. Tanpa itu, Ifa rasa tidak akan bisa mempercayai siapa pun lagi.
Pagi-pagi sekali kamar Ifa diserbu oleh ibunya, dan beberapa orang yang belum pernah Ifa temui. Ifa bahkan harus dibangunkan paksa oleh Nyonya Naraya. Ketika mandi pun ia ditunggui. Selang satu menit sekali Nyonya Naraya menggedor bilik kamar mandinya selagi Ifa membersihkan diri. Hingga Ifa rasanya ingin marah dan memaki ibunya. Ifa ingat hari pernikahan kedua kakaknya yang tenang. Sementara Ifa, hari pertama pernikahannya begitu berisik.
"Ifa!" teriakan Nyonya Naraya melengking sempurna dan jauh.
Ifa lelah menjawab ibunya. Ia yakin para pelayan mendengar kegaduhan itu. Mungkin beberapa dari mereka sedang berlarian bersembunyi menyelamatkan diri kecuali kepala pelayan yang harus mengetahui apa yang sedang membuat singa betina itu murka. Sebenarnya sudah jelas, nama yang diteriakinya itu Ifa.
Ifa keluar bilik dengan jubah mandinya. Dilihatnya sang ibunda mengusir siapa pun dari kamar Ifa. Momen ini memang privasi bagi Ifa, karena ia harus berganti pakaian. Namun ibunya tampak tak akan beranjak. "Ibu, bisakah Ibu memberiku waktu memakai pakaianku?"
"Hari ini kau akan menikah. Tidak seperti kakak-kakakmu yang berminat pada pernikahan, kau sebaliknya. Kau selalu menghindari pria. Hari ini bukan hari terakhir kau sebagai putriku, tetapi setelah hari ini kau bukan lagi sepenuhnya putriku."
Ifa mendengarkan saja. Kalimat terbaik ibunya yang tidak biasa.
"Kau akan menikah. Tidak penting siapa pria itu, oh maaf, itu sangat penting. Kebetulan dia pria pewaris tunggal sebuah perusahaan perhiasan yang besar. Jadi..."
Ifa menatap ibunya. Sepertinya ada yang berbeda dari Nyonya Naraya saat ini. Bukankah beliau nampak berkeringat dingin, tangannya menarik-narik jemari, bibirnya mengatup dan terbuka tanpa kalimat. Apa yang membuat Nyonya Naraya ragu menyampaikan maksudnya, terutama di hadapan Ifa. Ini baru pertama kalinya terjadi. "Ibu, apa yang ingin Ibu katakan padaku?"
"Ini tentang pernikahan. Kau membuatku sulit sekali."
Padahal Nyonya Naraya yang membuat Ifa sulit. Ifa tidak berbuat apa pun untuk menyulitkan Nyonya Naraya. Ia selalu menuruti kemauan ibunya. Bahkan, ketika ia ingin berbuat sebaliknya, Ifa gagal melakukannya.
"Mungkin alasan utamamu tidak ingin menikah karena harus menjalani ritual penyatuan. Maksudku, malam pertama. Mungkin juga dia akan melakukannya siang hari, entahlah." Ifa melihat wajah ibunya merona malu-malu. "Dia akan menyentuhmu dengan cara yang sangat berbeda. Ya Tuhan bantu aku menjelaskannya kepada anak bo-doh ini!"
Ifa menarik garis besar penyampaian ibunya. "Ritual penyatuan?"
"Apakah kau mengerti maksudku?"
Ifa menggeleng. Ia baru sekali ini mendengar ada hal seperti ritual dalam pernikahan. Dan, seingat Ifa tidak ada hal yang seperti itu ketika kedua kakaknya menikah beberapa tahun lalu.
Nyonya Naraya mengangkat telapak tangannya yang kanan sebatas bahu, "Ini kau." Lalu Nyonya Naraya mengangkat pula telapak tangannya yang kiri juga sebatas bahu, "Ini pria itu. Paham?"
Ifa mengangguk melihat ibunya mengangkat telapak tangan seperti orang bertakbir ketika akan memulai salat. Kemudian Nyonya Naraya menyatukan kedua telapak tangannya hingga menepuk dan tidak membiarkan terlepas sampai beliau menggerakkannya bersamaan berputar dan banyak hal. "Apakah sudah mengerti?"
Ifa menggeleng, "Ibu apa maksudnya itu?"
Nyonya Naraya menekan tangan kanan ke pinggangnya, dia tampak lelah. "Setelah pria itu jadi suamimu, dia akan menyentuhmu seperti yang kutunjukkan tadi. Kau mungkin akan merasa sakit pada awalnya, tidak nyaman dan sebagainya. Tetapi itu hal yang memang dilakukan semua orang yang menikah. Itu bukan kejahatan dan itu bukan menyakiti. Begitulah proses bayi dibuat."
Ifa terbelalak. Ia mual dan menuju kamar mandi. Ia berhasil memuntahkan sebagian sarapannya. Jadi itu maksudnya?!
"Sudah kuduga reaksimu akan begini. Ibu sulit menjelaskannya padamu karena kau sama sekali tidak punya bayangan tentang pria mana pun. Dan kau juga tak punya teman berbagi. Aku sudah sering menyarankanmu untuk membaca novel-novel dewasa, dan kau menolaknya. Ini salahmu sendiri. Gadis umumnya yang cukup normal akan bersemu-semu membicarakan ini. Malam hangat yang dinantikan sepasang kekasih, bahkan oleh kedua kakakmu yang penuh khayalan itu."
"Apa yang harus Ifa lakukan, Ibu?" tanya Ifa, wajahnya memucat. Selama ini ia tidak pernah sekalipun memikirkan ke arah sana. Dan, kini, hari ini, sebentar lagi, hari pernikahannya. "Apa yang harus kulakukan, Ibu?"
Nyonya Naraya mengusap punggung Ifa yang mematung. "Dia yang akan melakukannya. Kau cukup menerima saja."
"Begitukah?" tanya Ifa menatap dalam mata ibunya.
Nyonya Naraya mengangguk yakin. "Tubuhmu akan bergerak sendiri dan akan menikmatinya. Percayalah."
Ifa pandai dalam hal menurut. Ia penurut. Jadi, harusnya itu tidak akan menyulitkan Ifa. "Baiklah."
Nyonya Naraya tercengang. Kemudian beliau berkata, "Baiklah. Bagus sekali. Sekarang ganti pakaianmu lalu kita akan ke tempat pernikahan kalian."
***
Kastil Abinaya.
Bintang seperti semua kebiasaannya setiap hari. Setelah subuh dan berzikir, Bintang sarapan. Ia menyantap makan pagi di kamarnya karena suasana rumah sangat dipenuhi orang-orang yang sibuk mempersiapkan pernikahannya. Bintang sendiri tidak merasakan hal yang terlalu menggembirakan. Ia tidak menanti-nantikan sama sekali apa yang sebentar lagi akan terjadi.
"Bintang, kau di dalam?" tanya dengan suara ibunya terdengar.
Bintang bangkit membuka pintu. "Ada apa, Uma?"
"Hari ini hari pernikahanmu. Bisa Uma minta agar kau mau berbahagia bersamanya?"
"Itu semua yang diinginkan pasangan menikah," jawabnya tenang.
"Itu benar. Benar sekali. Boleh aku masuk?"
Bintang menepi, membuka jalan untuk ibunya melenggang masuk. "Ada yang ingin Uma bicarakan denganku?"
"Ya." Nyonya Rani melihat bekas makan putranya yang belum selesai. "Aku mengganggu sarapanmu. Sebaiknya aku kembali sebentar lagi, setelah kau selesai."
Bintang mencegah ibunya keluar. "Tidak apa-apa, Uma. Kau bisa memberitahuku sekarang."
"Baiklah." Nyonya Rani tampak gelisah. "Kau sudah bertemu dengannya, calon pengantinmu?"
"Belum. "
"Sudah mencari tahu tentangnya?"
"Belum."
"Sudah melihat undangan pernikahan kalian?"
"Belum."
Nyonya Rani semakin resah. "Kau akan menikah. Sebentar lagi. Sadarkah kau apa artinya itu?"
"Tentu saja."
Nyonya Rani menarik napas. "Aku sebagai ibumu meragukan satu hal. Apa kau akan memberikan semua haknya?"
"Ya." Bintang sepenuhnya tahu apa yang akan mengikatnya dalam pernikahan. "Ibu tidak perlu mengkhawatirkannya. Aku akan lebih bertanggungjawab kepadanya daripada perusahaan Abinaya."
"Ini hanya antara kau dan aku. Jangan sampai ayahmu mengetahuinya." Nyonya Rani mendekati Bintang, berbisik. "Bolehkah aku melihat bekas malam pengantin kalian?"
Bintang terkejut, sama sekali tidak menyangka akan mendengar kalimat itu. "Uma....!"
Nyonya Rani memerah semua wajahnya. Ia mengangkat tangan dan menundukkan kepala di depan putranya. "Aku tahu ini memalukan. Tapi kau begitu putus asa menerima pernikahan ini. Aku tidak tahu isi kepalamu apa. Aku tidak tahu kau merencanakan apa. Aku hanya ingin kau menikahinya seperti pernikahan semua orang yang menikah karena saling mencintai. Aku tahu itu mustahil ada diantara kalian saat ini. Aku ingin dia melahirkan cucuku. Kau mengerti maksudku?"
"Aku sepenuhnya mengerti maksudmu, Uma."
"Maukah kau membicarakan ini dengan ayahmu?"
"Baru saja kau mengatakan agar jangan sampai ayahku tahu pembicaraan ini," Bintang mengingatkan ibunya dengan sopan dan hormat.
Nyonya Rani gugup sekali, ia juga merasa malu berkali-kali dalam percakapan ini. "Aku tahu. Maksudku, ayahmu tidak perlu tahu aku melihat seprei kalian. Sementara itu, kau perlu berbicara dengan Abah tentang hal lain. Aku hanya ingin dia tidak merasakan sakitnya sama sekali. Perlakuan dia dengan sebaik-baiknya. Gadis itu bukan wanita berpengalaman dan memahami semua ini. Maksudku, kau tidak boleh membuatnya trauma pada kali pertama kalian melakukan-nya. Dia akan menutup dirinya lebih jauh kalau kau membuatnya takut."
Bintang sendiri panas mendengar ucapan ibunya. Niatnya pasti sangat mulia. Nyonya Rani sudah menaruh rasa sayang kepada calon menantunya itu sampai memberanikan diri berhadapan dengan Bintang dalam percakapan paling memalukan untuk mereka berdua. "Kau sangat menyukai gadis ini."
"Kau juga akan segera menyukainya, jadi berterima kasih padaku karena mengatakan hal memalukan ini."
"Terima kasih, Uma."
"Aku tidak butuh ucapan terima kasihmu." Nyonya Rani mengganti napasnya ketika Bintang hendak membuka suara. "Maksudku, hiduplah berbahagia dengannya."
Bintang merasa ibunya sangat berbeda pagi ini. Kalimat dan permintaannya yang bertentangan sangat jauh dari kebiasaan Nyonya Rani. "Baiklah."
"Aku selesai mengatakannya. Aku selesai. Sungguh melegakan."
Bintang mengamati kepergian ibunya yang anggun melewati pintu. Ia tentu harus berbahagia dalam pernikahannya.
"Bintang," Nyonya Rani muncul kembali. "Aku lupa memberitahumu namanya. Kau akan menikah dengan Latifa Bakrie. Dia dipanggil Ifa."
Bintang tersentak, membisu.
"Aku tahu nama panggilan mereka sama. Aku tidak bermaksud menemukan kesamaan diantara mereka, tetapi sudah terjadi begitu saja. Kau tenang saja, mereka dua orang yang sangat berbeda. Kau tidak akan menemukan kesamaan lainnya selain nama panggilan itu."