September 2012.
Ayah,
Aku mencintaimu, kecuali saat kau menikahi Nyonya Naraya. Saat itu aku benci dirimu. Apa artinya aku membenci diriku juga?
***
Kastil Abinaya.
Akhir pekan. Bintang menikmati membongkar kembali puzzel-puzzel lamanya. Sebenarnya semua koleksi tersebut sudah Bintang hafal letak dan susunannya. Ia hanya ingin sebuah kegiatan. Kadang ia melakukannya hanya ketika malas memikirkan hal lain. Senin sampai Sabtu sudah cukup bagi Bintang untuk aktivitas bermakna.
“Bintang!”
“Iya, Uma.”
Suara pintu kamar terkuak. Angin membawa aroma parfum ibunya memasuki kamar Bintang. “Kau kedatangan tamu.”
Bintang hampir tidak pernah punya tamu. Kehidupannya sebagai keturunan Abinaya tidak diketahui banyak orang, terutama oleh guru-guru yang mengajar di sekolah bersamanya. “Siapa?”
Nyonya Rani tersenyum, “Calon mertuamu.”
“Aku tidak ingin bertemu gadis itu, Uma,” tolak Bintang sopan tanpa bergerak dari tempatnya.
Nyonya Rani melepas gagang pintu dan melipat tangan di d**a. “Dia tidak di sini. Yang datang hanya ibunya.”
Bintang segera bangkit mengabaikan potongan puzzelnya yang belum selesai.
Nyonya Rani tersenyum simpul. “Kau sudah mengumpulkan energimu.”
Mengumpulkan energi? Bintang heran dengan kalimat ibunya. “Aku tidak melakukan apa-apa.”
“Kau melakukannya,” bantah Nyonya Rani sok tahu. “Sudahlah. Ayo, turun.”
Bintang menutup pintu kamar lalu membiarkan ibunya meletakkan tangan di sikunya. Bintang menemui ibu gadis itu hanya demi memperlihatkan sopan santun juga menjaga nama baik ibunya. Tidak lebih dari hal itu. Pernikahan sama sekali bukan hal menarik untuk dipikirkan.
“Ini putraku,” kata Nyonya Rani mengenalkan.
Bintang berjabat tangan sesaat dengan wanita paruh baya, tamu ibunya. “Saya Bintang Abimayu. Senang berkenalan dengan Anda.”
“Oh, Tuhan. Kau sangat cocok dengan putriku. Sayang sekali dia tidak bisa datang. Jadi, aku hanya bisa menyampaikan salamnya untukmu.”
Bintang tak punya balasan untuk dikatakan, ia hanya mengangguk dan tersenyum. Bintang sendiri sangat menolak untuk bertemu gadis itu. Itu cara terbaik yang ia bisa agar tidak mengkhianati keinginan dan semua usaha ibunya.
“Apa saja yang kau harapkan dari seorang gadis, putriku pasti memilikinya. Dia sangat cantik, dia juga penurut. Hidupmu akan tenang bersamanya.”
“Pasti sangat menyenangkan bisa hidup dengan tenang,” balas Bintang ramah. Sebenarnya menikah akan menghancurkan ketenangan hidup Bintang, tetapi ia sudah lelah mengecewakan usaha keluarga Abinaya untuk membuatnya terikat pernikahan dan menghasilkan keturunan.
“Ibumu sudah setuju kalau perjodohan kalian akan diteruskan. Aku juga memastikan kalau putriku menyetujui hal ini.”
“Kalau begitu silakan dilanjutkan,” ucap Bintang ingin melarikan diri kembali kepada puzzelnya.
Nyonya Rani menarik lengannya. “Kau tetap di sini.”
“Bintang akan menyetujui apa pun pilihan kalian, Uma.”
“Bagaimana dengan maskawinnya?” tanya Nyonya Naraya bersemangat.
“Untuk yang satu itu, saya akan menyediakannya,” jawab Bintang tenang.
“Putri keduaku mendapatkan lebih dari 80 juta hanya untuk maskawinnya saja. Padahal suaminya sekedar pengusaha telur.”
Bintang menemukan kesan angkuh dari wanita itu. Dia mirip sebagian gadis kelas atas yang pernah dikenalkan ibunya. “Saya akan memberikan lebih baik daripada itu. Anda tidak perlu khawatir.”
Nyonya Naraya tersenyum sambil melibas udara dengan tangannya. Gerakannya sungguh feminin. “Tentu saja aku tidak mengkhawatirkannya. Aku hanya penasaran saja.”
“Silakan nikmati waktu kalian.” Bintang berpaling. Ia punya kecenderungan untuk kesal atas sikap tak tahu malu wanita itu.
Bintang kembali ke kamarnya. Ia bersyukur gadis itu tak datang, karena jika Bintang melihatnya, sekilas saja melihatnya, tentu pernikahan mereka tidak akan pernah terlaksana. Entah bagaimana ibunya bisa memutuskan bahwa putri dari wanita tersebut akan menjadi orang yang Bintang butuhkan dalam ikatan pernikahan. Demi Tuhan, yang Bintang inginkan adalah wanita yang kepalanya bukan berisi permata semata. Ia suka gadis yang punya pesona dalam karakternya. Seperti Hanifa. Segala hal yang gadis itu tunjukkan adalah betapa dia berkelas diantara para gadis biasanya.
Bintang mengambil satu keping potongan puzzel. Ia memutar-mutar benda itu dengan telunjuk dan ibu jarinya. Hidupnya akan sempurna bersama Hanifa. Tetapi gadis itu tidak akan pernah ada dan tidak akan pernah ditemukan penggantinya. Masalah ini tidak akan pernah terpecahkan selagi hatinya tak bisa ikhlas melepaskan. Bintang tahu, Bintang mau melepaskan Hanifa. Hanya saja, ia tidak bisa melakukannya.
Bintang menghirup udara. Ia melepaskan belenggu keresahan dengan mengeluarkan satu puzzel lainnya. Puzzel dengan isi 1000 keping. Bintang perlu hal lain untuk dipikirkan, bukan Hanifa, bukan gadis baru yang jadi pilihan ibunya pula. Setengah jam. Bintang sudah tenang. Puzzelnya sudah terpasang seperenam bagian. Kemudian ketukan pintu terdengar. Bintang menatap selembar kayu itu, menunggu suara orang yang mengganggu kegiatannya.
“Bintang!”
Bintang menghela napas mengenali suara ibunya. Nada ragu yang beliau pakai menandakan kalau Nyonya Rani sangat paham Bintang menyimpan kekesalan untuk tamunya. Bintang beranjak membukakan pintu yang sama sekali tidak ia kunci. “Ada apa, Uma?”
“Nyonya Naraya akan pamit.”
“Baiklah,” ucap Bintang yang berarti syukurlah dalam hatinya.
“Dia ingin berpamitan denganmu,” kata ibunya. Bintang ingin menolak. Namun Nyonya Rani menyerahkan sebuah kotak kepada Bintang. “Temuilah, sebentar saja.”
Bintang membuka kotak tersebut. Isinya pasti berharga puluhan juta jika dinominalkan. “Uma, ini berlebihan.”
“Aku tahu. Aku tahu. Tapi aku sangat menginginkan putrinya.”
Bintang tak mengerti sama sekali. Ia coba memahami, tapi ia tetap tak menemukan kesan positif tentang Nyonya Naraya itu, yang mungkin disukai ibunya. “Gadis itu berbeda dengan ibunya?”
“Ya. Dia sangat berbeda dengan ibunya.”
“Baiklah. Asal dia tidak sama dengan ibunya.”
***
Menjelang siang Nyonya Naraya datang menjemput Ifa. Ifa sebagai anak penurut tak bisa tinggal meskipun Alan dan Edwina menarik-narik rok gaunnya agar jangan pergi.
“Besok kita akan ke rumah Bibi,” bujuk Aya melepaskan kedua anaknya dari Ifa. “Ibu janji, besok kita akan ke sana.”
Alan yang pertama melepas gaun Ifa. “Hati-hati di jalan, Bibi Ifa. Besok kami akan menemuimu lagi.”
Ifa tak membalasnya. Ia cukup berterima kasih atas kehangatan saudarinya untuk mendengarkan sedikit sekali kalimat Ifa. Setidaknya Ifa sudah berusaha menemukan solusi permasalahan yang dibuat ibunya.
Ifa masuk limosin lalu melambaikan tangan kepada Aya dan anak-anaknya. Di sisi Ifa, Nyonya Naraya melakukan hal yang sama dengan senyum manis bak ratu Inggris. Beliau pasti mendengar kabar baik untuk dirinya sendiri. “Bagaimana kunjunganmu, Ibu?”
“Oh, dia pria sempurna. Ibunya sama sekali tidak melebih-lebihkan penilaian. Aku sendiri sulit menolak kalau pria sejati itu melamarku. Padahal kau tahu aku sudah berikrar selamanya hanya bersuamikan ayahmu.”
Kalau begitu Ibu saja yang menikah dengannya. Ifa menyayangkan dirinya sendiri. Andai mengucapkan kalimat semudah pikiran itu terlintas.
Nyonya Naraya mengeluarkan sebuah kotak hitam dari tasnya. Ekspresinya luar biasa bersinar saat membuka kotak berisikan permata tersebut. “Dugaanku tepat. Lihatlah cantiknya koleksi ini.”
Ifa tidak tertarik. Ia malah membuang wajah kesalnya ke jendela. Ifa bukan ingin perhiasan. Ifa juga tak butuh seorang suami. Ifa hanya meminta dirinya sendiri. Bagaimana Ifa menjelaskan ini. Ia ingin dirinya sendiri. Bukankah hal itu sama sekali tidak sulit untuk dipenuhi. Nyonya Naraya hanya perlu melepas tangannya dari hidup Ifa, itu saja.
“Ifa, ini diberikan untukmu. Kau boleh menghadiahkannya untuk orang yang kau sayangi. Ibu misalnya. Aku akan menerimanya. Baiklah, aku saja yang menerima penghargaan ini. Kau baik sekali.”
Ifa mengabaikan apa pun tingkah dan kalimat tak wajar ibunya. Ifa tak bisa ditolong. Nyonya Naraya lebih menyukai perusahaan perhiasan keluarga itu daripada putrinya sendiri.
“Bintang menitipkan salam untukmu. Dia tidak bisa bertemu langsung denganmu tetapi dia berjanji akan memperlakukanmu dengan baik. Begitu katanya.”
Ifa tidak yakin itu kalimat asli dari Bintang atau karangan Nyonya Naraya. Itu sama sekali tak berhasil menghiburnya. Ifa tidak bisa mempercayai janji dari pria yang tidak bisa menemuinya.
“Kami mengatur pernikahan kalian. Sebelum harinya tiba, kau silakan nikmati pondokmu sepuasnya.”
Ifa selama ini sudah menikmati pondok itu sepuasnya, justru Nyonya Naraya yang membuat Ifa akan menjauhkan diri dari tempat indah itu.
“Dan aku tekankan satu hal. Pernikahan kalian pekan depan. Jadi waktumu lebih singkat daripada yang kau bayangkan.”
Masih tanya besar dalam kepala Ifa, tentang status dirinya sendiri. Mungkin Ifa bukan darah daging Nyonya Naraya. Dalam banyak kesempatan Ifa sering menelaah ibunya secara fisik dan cukup banyak kemiripannya. Namun tak satu pun dari sifat dan sikap yang diturunkan Nyonya Naraya kepada Ifa. Ia bersyukur sebenarnya tak menjadi jiplakan dari ibunya yang mengerikan.
“Kau mendengarku, Ifa?” tanya Nyonya Naraya dingin.
“Iya, Ibu.”
“Bagus!”
Ifa punya sesuatu untuk dilakukan. Ia tidak akan tinggal diam begitu saja melepas status perawan tua-nya yang berharga.