Curhatan Ifa

1506 Words
September 2012 Ayah, Aku tidak mau punya Ibu seperti Nyonya Naraya! *** Itu bukan salahku. Ifa ingin sekali memberitahu ibunya bahwa bukan salah Ifa kalau semua pria itu tak ingin menikah dengannya. Sama seperti jawaban untuk Nyonya Rani kemarin. Tetapi Ifa tidak berani mengatakannya kepada Nyonya Naraya. "Aku akan menamai anakmu Lucy atau Edmund. Entah mengapa, kupikir kau harusnya menikah dengan seorang bernama Edmund." Ifa mendengarkan ibunya. Jika ia menikah, harusnya Ifa tidak pernah melakukannya. Tidak sama sekali. Harusnya Ifa dibiarkan sendirian. Itu yang terbaik. Tidak akan ada Lucy ataupun Edmund. Hanya Ifa. Nyonya Naraya tak seharusnya mendikte menantunya, apalagi untuk nama-nama anak mereka. Ayah dan ibu mereka yang lebih berhak melakukannya, bukan nenek mereka. Kate adalah nama putri kecil Ayu dan Bayu yang dipilihkan Nyonya Naraya. Usianya baru satu tahun. Kehadirannya cukup lama dinantikan, setelah lima tahun pernikahan. Ifa meremas jemarinya saat jalanan makin pendek menuju rumah Aya. Ia harus mengatakan sesuatu. Ia harus menemui Bintang. Ifa akan mengatakannya. Ia akan memberitahu ibunya. "Ibu..." Nyonya Naraya langsung menghadapkan wajahnya, "Kupikir kau memanggilku." Ifa mengangguk. Ini saatnya. "Aku ingin ikut. Izinkan aku ikut, Ibu." "Kau tidak akan bertemu dengan pria itu," tolak Nyonya Naraya singkat. "Ibu, kumohon. Aku harus bertemu dengannya." "Kenapa?" Karena kami tidak akan menikah kalau dia tahu seperti apa diriku, jawab Ifah menunduk dari tatapan Ibunya. "Karena aku ingin tahu seperti apa dia," jawabnya lemah terdengar. "Aku akan mencari tahu itu untukmu. Kemarin kau sudah bertemu ibunya, Nyonya Rani. Seorang ibu lebih mengenal anaknya daripada siapa pun." Kecuali Ibuku, pikir Ifa masam. Nyonya Naraya hanya kenal apa yang disukainya dan memaksakan apa pun itu sebagai sesuatu yang juga akan disukai semua putrinya. Ifa hidup dengan doktrin ini sudah dua puluh enam tahun, lebih lama dari kedua kakaknya yang beruntung menikah pada usia mereka 22 tahun. Artinya Ifa empat tahun lebih banyak memenuhi eksperimen ibunya. "Aku tahu pria seperti apa yang cocok untukmu. Dia bukanlah anak pasangan Nyonya Rani dan Tuan Abim, tetapi kau harus dicocokkan dengannya. Hidupmu akan terjamin sempurna bersamanya. Sayang sekali pria itu usianya seumuran denganmu. Padahal dia mungkin lebih cocok dengan Aya atau Ayu. Harusnya pasangan bahagia seperti mereka tak hanya punya satu putra. Aku yakin harta mereka dihamburkan semalaman belum akan berkurang banyak. Tujuh generasi akan berjaya dalam silsilah keluarga itu. Kudengar pria itu menolak semua pilihan ibunya, yang semuanya pasti lebih memesona daripada dirimu." Dirimu, kata Nyonya Naraya dengan tatapan sinisnya melewati mata hingga dagu Ifa. Jelas sekali itu bentuk penghinaan secara verbal yang berhasil ditunjukkan dengan sempurna. Ifa tak ingat apakah Aya atau Ayu pernah mendapatkan perlakuan serupa. Namun Ifa sering mengalaminya dan ia sudah amat terbiasa dengan itu sampai-sampai tak merasakan apa-apa. Mobil memasuki gerbang rumah Aya dan berhenti tepat di jalan masuknya. Ifa tentu harus turun, hanya saja ia ingin memperjuangkan kesendiriannya sekali lagi. "Ibu...!" "Turun!" Nyonya Naraya memotong ucapan Ifa. "Kau bahkan tidak akan bisa bertemu dengannya sampai kalian sudah sah menikah." Finis. Ifa tidak akan hidup lebih lama lagi dalam kehidupannya. Ifa menatap naas pada limosin yang menghilang dari gerbang rumah Aya. Ia lalu mendengar kedatangan langkah dari belakang telinganya. Ifa berbalik, ia disambut senyum hangat Alan. Ifa ingin disambut seperti itu oleh pria yang akan menjadi suaminya. Suami? Ya Tuhan, Ifa baru pertama kalinya memikirkan kata ganti itu. Ia baru saja memikirkan tentang satu aspek yang ia inginkan dari seseorang pria. Ifa ingin pria yang memiliki senyuman hangat. Itu dia. Itu yang harusnya dikatakan kepada Nyonya Rani kemarin. "Bibi, ada apa denganmu?" tanya Alan heran. Ifa bingung. "Ada apa denganku?" "Kau tampak mematung. Seperti batu," jawab Alan sambil menunjuk sebongkah batu besar di ujung taman yang dijadikan sebagai pot bunga trompet kuning. "Bunga Nenek." Oh, tidak. Bunga itu seperti jelmaan Nyonya Naraya. Dia ada dimana-mana dalam kehidupan anaknya. Bahkan Alan tahu eratnya bunga itu dengan sang Nenek Lampir. "Bibi, Ibuku sedang bermain dengan Edwina. Jadi aku yang menyambutmu." Ifa mengangguk. Ia lebih suka penyambutan Alan daripada pria yang jadi suami kakaknya. Erlan beberapa kali bertemu dengannya, tapi Ifa sama sekali belum pernah bertukar kata lebih jauh selain sapaan sopan. Pria itu tampak gempal, tepatnya dia punya postur mirip ayah mereka saat terakhir sebelum beliau meninggal. Aya menerimanya dengan selera makan mereka yang mirip. Alan menarik tangan Ifa. "Bibi, bisakah aku menikahimu? Kurasa Bibi perlu pria yang ceria dan sangat cerdas. Tentu saja dia harus baik, sangat sabar. Aku pasti cocok sekali menjadi pria seperti itu." Ifa tersenyum. Ia tidak pernah punya gambaran seperti apa pria yang cocok untuknya. Ifa hanya tahu ia cocok dengan dirinya sendiri. "Pemandangan yang indah," komentar sebuah suara terdengar. Ifa menengadah, dan di balkon atas Aya melambaikan tangan dengan senyum riang. "Masuklah." Alan membalas lambaian tangan ibunya lalu menarik Ifa masuk. "Apa Nenek akan membiarkanmu menginap di sini?" "Tidak." "Kenapa Bibi tidak diizinkan menginap di sini?" Ifa menarik rok gaunnya sambil menaiki tangga. Jelas Nyonya Naraya tidak mengizinkan Ifa menginap di rumah Aya. Menurutnya itu tidak pantas kecuali ketika Erlan dinas keluar kota. Alan mengayunkan tautan jemari mereka. "Bibi juga tidak tahu alasannya?" "Aku mungkin mengganggu kalian. Kurasa." "Itu tidak benar!" Ifa melintasi ruangan hingga sampai di balkon tempat Aya membersamai Edwina. Gadis kecil itu sedang tersenyum. Rumah ini bergaya minimalis tapi sangat nyaman. Menurut Ifa, andai balkon ini menghadap danau atau hutan tentu sama saja dengan pondok energinya. Hanya saja, balkon ini menghadap jalan yang pastinya akan menarik perhatian orang dari jalanan sana. "Ibu bercerita, kemarin kau kedatangan tamu. Sorenya Ibu menghubungiku dan Ayu, menceritakan bahwa kau mungkin akan menikah dalam waktu dekat." Ifa tak bisa menyembunyikan resahnya. Ia tidak terlalu suka perubahan. Ifa lebih senang sesuatu tetap pada tempatnya. Ifa suka pohon yang tumbuh, suka buah menjadi matang. Tetapi bukan perubahan dalam hidupnya, itu yang Ifa tidak sukai. "Menikah tidak seburuk yang kau pikirkan. Sungguh, aku mengatakannya karena aku telah melaluinya. Kau mungkin akan menyukai pernikahan." Mungkin Ifa tidak akan pernah menyukainya, seperti selama ini. Aya dan Ayu senang bermain boneka dan boneka-boneka itu punya pasangan, boneka-boneka mereka menikah dan punya anak. Mereka sudah memainkan peran itu senang hati sejak kecil. Ifa tidak. Ifa senang memandang langit, menarik bentuk mereka dan Ifa suka segala sesuatu yang bebas. "Kudengar dia kaya raya. Dari berita yang kuterima dari temanku, Bintang Abimayu itu sangat tampan, dia ramah dan aku tidak menemukan satu pun celah dirinya." "Dan dia menolak semua wanita sempurna hanya untuk bertemu dalam pernikahan dengan aku," jawab Ifa sarkas. "Itu disebut jodoh." Aya tertawa sesaat. "Kalau dia sesempurna itu, maka hanya kau yang cocok dengannya." Ifa tentu tak menemukan kesan negatif dari kalimat maupun rona wajah Aya. Dia sama sekali tidak memaksudkan ucapannya sebagai hinaan menohok seperti yang Nyonya Naraya lakukan tadi. Namun Ifa kenal dirinya sendiri. Ia luar biasa tidak cocok dengan pria sempurna, tepat seperti perkiraan ibunya. Jadi Ifa sangat tahu apa yang harus ia katakan untuk menyempurnakan kalimat Aya. "Karena aku penuh kekurangan." "Karena kau sempurna pula," ralat Aya bersemangat. "Ifa, Nyonya Naraya tidak akan mengusik hidupmu lagi setelah kalian menikah. Kau boleh menanyakan betapa melegakannya hal itu bagi aku dan Ayu. Kurasa kau lebih membutuhkan jauh dari Ibu kita daripada kami berdua." "Putra-putri kalian bahkan dinamai sesuai keinginannya. Sebenarnya tentakel Nyonya Naraya sudah merambah ke otak suami-suami kalian juga. Bahkan Alan berpikir bunga trompet kuning itu sangat menggambarkan keberadaan Neneknya di rumah ini." Ifa menggeleng pelan, "Ibu tidak akan mengusik hidupku? Kau bercanda. Dia baru saja memikirkan nama cucunya yang suatu saat nanti akan aku lahirkan. Lucy atau Edmund. Aku bahkan belum melihat pria itu." Aya tercengang. "Ini kalimat terpanjang dan paling berapi-api darimu yang kudengar sepanjang tahun ini. Lihat, Ayu benar. Kau bukan pendiam, sebenarnya. Kau hanya menutup dirimu dari orang lain dan menikmati sendiri semua hal yang kau punya." Ifa mendengus. "Ini karena aku terusik." "Kalau kau bisa merasa terusik, emosi lainnya bisa kau keluarkan juga. Kau bisa bahagia tanpa menahannya." Ifa bahagia ketika ia sendirian. Ia tak pernah menahan dirinya ketika bahagia. Hanya saja, orang-orang tidak melihatnya ketika Ifa bahagia, karena saat itu Ifa sedang sendirian. Bagaimana ia akan menjelaskan kalimat membingungkan itu dalam ucapannya yang terbatas. "Ibu, apa aku bisa menikahi Bibi?" tanya Alan kepada Aya. "Jangan. Ibu tidak mau menyia-nyiakan masa depanmu. Kau akan menemukan wanita yang sempurna nanti, dan dia bukan pendiam seperti Bibimu." "Kalau saat itu Bibi masih belum menikah, apa aku boleh..." "Alan, Bibi Ifa akan menikah segera. Nenekmu tidak akan membiarkan keinginannya tak terwujud." Ifa yakin itulah yang akan terjadi. Dan pria bernama Bintang itu mungkin akan menyesali kehidupan mereka berdua hari demi hari. "Pria yang malang." "Menikahimu bukan kemalangan, Ifa. Bersemangatlah," hibur Aya. Ifa tidak bisa lagi mengobarkan semangatnya. Setelah mendapatkan jawaban bahwa ia tidak bisa menemui Bintang sampai mereka sudah sah. Semangatnya sudah menghilang. "Aya ponselmu berdering." Suara Erlan terdengar dari punggung Ifa. Sosoknya lalu melewati Ifa dan menyerahkan benda tersebut kepada istrinya. Melihat benda itu mata Ifa berbinar-binar. Harusnya pria itu pasti memiliki ponsel juga. "Bagaimana mendapatkan nomor kontaknya?" "Jangan lakukan hal memalukan. Terima saja dia." Ifa akan berusaha sebaik-baiknya untuk tidak mempermalukan diri sendiri. Ia harus menggagalkan rencana Nyonya Naraya, itu satu-satunya cara agar keluarga mereka tidak dipermalukan oleh Ifa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD