Si Pemaksa, Nyonya Naraya

1808 Words
Ayah, Kalau kau bisa memilihkan seorang pria untukku. Seperti apa pria itu? *** Setiap orang punya cara memulihkan diri masing-masing. Nyonya Naraya memulihkan dirinya dengan memandangi semua koleksi perhiasan yang dia miliki atau pergi membeli perhiasan baru. Aya, kakak perempuan pertama Ifa, akan memulihkan diri dengan mengisi mulutnya dengan makanan. Ayu, kakak perempuannya yang lain akan berbicara berjam-jam lamanya. “Katakan pendapatmu?” Ifa mengedikkan bahu untuk menjawab pertanyaan Nyonya Rani. Ia tak kenal Bintang sehingga bisa menebak apa yang pria itu pilih untuk memulihkan diri, tetapi ia teringat seseorang yang sering berbaring di atas rumput pekarangan rumah mereka. “Ayahku akan mandi untuk memulihkan dirinya.” Nyonya Rani tampak takjub oleh kalimat Ifa, matanya berubah lebih cerah. “Aku ingat Ayahmu. Dia bertubuh gempal, pastinya dia mudah berkeringat. Dia pasti sangat menyukai mandi.” “Dia mandi lima kali sehari.” Ifa sebaliknya, ia tak teramat suka mandi. Ifa hanya mandi sekali sehari, kadang kalau ia benar-benar merasa tak ingin membasahi dirinya, Ifa akan menunda mandi sampai dua hari untuk satu kali mandi. Ifa tak bisa menunda mandi sampai tiga hari, karena Nyonya Naraya tidak akan membiarkan Ifa melakukannya. “Aku tidak mengetahui jawabannya. Sebagai ibunya, aku tak tahu apa yang Bintang lakukan untuk memulihkan dirinya,” renung Nyonya Rani dalam. “Aku bertemu ibumu kemarin. Kami berbincang lama dan ibumu mengeluhkan putri bungsunya. Aku sangat penasaran dengan dirimu, dan kau menjawab rasa penasaranku cukup baik. Aku tahu rasanya menjadi berbeda. Dan, aku memang sedang mencari seseorang yang berbeda untuk putraku. Dia setuju dengan siapa pun aku menikahkannya. Aku selalu mendorongnya untuk menemui gadis-gadis itu lalu Bintang selalu menemukan celah untuk menolak mereka.” Pertemukan aku dengannya! Mata Ifa melebar ingin mengucapkan kalimat itu. Namun suaranya tak keluar karena serangan panik. Ia benci saat-saat seperti ini. “P-Pper...” “Aku akan menghargai keinginanmu. Aku akan coba mempertemukan kalian lebih dulu,” ucap Nyonya Rani lembut, menenangkan. “Dia akan menemukan celah dirimu. Dia mungkin akan memberimu penolakan juga. Kuharap dia tidak ingin menemuimu.” Ifa berharap pria bernama Bintang itu akan menemuinya. Mereka harus bertemu. Bintang harus tahu kalau Ifa tidak cocok dengannya. “Hanya ini yang kau inginkan?” tanya Nyonya Rani menelusuri jarinya ke tepian meja. “Ya.” Ifa hanya ingin pondoknya. Jika memang ia harus menikah dengan Bintang, Ifa perlu memiliki pondok berisi energi yang bisa memulihkan dirinya setiap hari. Nyonya Rani bangkit dari kursi. “Baiklah. Kita perlu kembali ke meja ruang tamu ibumu. Dia mungkin akan segera mendatangi rumahku.” “Bolehkah saya datang bersama Ibu?” tanya Ifa keluar dengan harapan penuh. “Silakan.” Ifa tersenyum lebar. Tidak akan menjadi lebih lama untuk percakapan ini. Ifa bertemu dengan Bintang, maka semuanya selesai dan kehidupan normal kembali. “Ini senyum pertamamu selama kita berkenalan. Kuyakin semua orang menyukaimu ketika kau tersenyum,” komentar Nyonya Rani lembut. Ifa tak terlalu yakin. Ia jarang bisa tersenyum. Wajahnya seolah sudah diciptakan memang untuk tampak selalu meratapi nasib. “Aya, Ayu...” Nyonya Rani menoleh kepada Ifa, “Harusnya kau Ayi. Tidak mungkin dinamai aye, atau ayo.” Itu benar. Ayahnya mengatakan Ifa harusnya dinamai Ayi. Karena nama itu lebih menyamai nama kedua saudarinya. Namun, ketika lahir Ifa menyentuh hati ayahnya dengan lembut, katanya Ifa lebih cocok untuk Ifa. Jadilah ia dinamai Latifa Bakrie. *** Kastil Abinaya. Nyonya Rani menunggu di depan pintu utama rumah mereka, menunggu putranya pulang bekerja. Ia tak sabar ingin menceritakan pertemuannya pagi ini dengan Latifa Bakrie. Gadis itu akan sangat cocok jadi menantunya. Dia akan mengalihkan semua perhatian Bintang kepada dirinya. Ifa, namanya sama dengan masa lalu Bintang, tetapi Ifa Latifa akan jadi masa depan untuk putranya. Gadis pendiam itu akan membuat Bintang penasaran. Wajahnya yang cantik, sikapnya yang anggun, dan ketidak-tertarikannya akan pernikahan. Semua itu haruslah menjadi umpan terbaik untuk mendapatkan hati Bintang. “Apa yang kaulakukan di sini?” Nyonya Rani berbalik. Suaminya tampak berkernyit kening. “Aku menemukan gadis yang cocok untuk Bintang.” “Benarkah?” “Ya. Ya. Aku yakin.” “Kau sudah seyakin ini puluhan kali,” komentar Tuan Abim apa adanya. “Aku tahu, tapi kali ini berbeda,” kata Nyonya Rani memandang suaminya sebentar. “Apa yang berbeda?” “Pertama, Bintang. Dia menyetujui calon pilihanku. Kedua, gadis itu. Dia sangat menarik.” “Menarik?” Nyonya Rani mengangguk. “Menarik.” “Apa maksudnya?” Nyonya Rani tampaknya tidak menemukan kalimat yang tepat untuk menjelaskan seperti apa Latifa Bakrie. “Dia menarik. Intinya dia berbeda dengan gadis pilihanmu sebelumnya.” “Kau hanya akan membuat gadis itu kecewa. Bintang masih mencintai Hanifa. Kau tidak bisa memaksanya menikah dengan gadis sembarangan. Itu akan membuat mereka tidak bahagia,” kata Tuan Abim menyarankan istrinya. “Dia bukan gadis sembarangan. Dia gadis yang menarik.” Alis Tuan Abim berkernyit, “Kau mengenalnya?” “Dia putri Tuan Bakrie.” “Dia putri Nyonya Naraya?!” tanya Tuan Abim memastikan. “Ya Tuhan. Itu... menarik yang kau maksud?” Nyonya Rani menatap tak suka pada suaminya, “Aku tahu maksudmu, tapi bukan menarik yang seperti itu maksudku.” Tuan Abim berkecak pinggang. “Dia anak dari wanita yang paling suka membicarakan harta. Dan, putra kita adalah pria yang paling tidak menyukai membicarakan harta. Bagaimana mereka akan hidup nantinya?” “Percayalah padaku. Aku ingin Bintang bahagia.” Tuan Abim mendesah, “Baiklah.” Kemudian beliau mengangguk dalam. “Aku akan mempercayai instingmu sebagai ibunya.” Keheningan sesaat menyela percakapan mereka. Keduanya hanya memandangi pagar rumah yang jauhnya dua ratus meter dari tempat mereka berdiri, menunggu putra mereka muncul dari sana. Nyonya Rani tiba-tiba menoleh kepada suaminya lagi, “Kau biasanya akan pergi memancing untuk mengisi energimu. Apa yang Bintang lakukan untuk mengisi energinya?” “Mengisi energi? Entahlah.” “Aku meragukan instingku sebagai ibunya saat tidak menemukan jawaban dari pertanyaan ini.” Tuan Abim jadi tertarik. “Mengapa kau tiba-tiba memikirkan topik mengisi energi ini?” “Gadis itu, dia memintaku mendirikan pondok energi kalau mereka akan menikah. Dia suka menyendiri.” Tuan Abim mencerna informasi yang istrinya katakan. “Bintang suka gadis yang ceria. Hanifa sedang tertawa saat mereka pertama kali berjumpa. Gadis yang suka menyendiri sama sekali tidak cocok dengan kata ceria dan Bintang.” “Aku tidak setuju denganmu. Kalau Bintang menikah dengan gadis yang ceria, dia hanya akan terus membandingkannya dengan Hanifa.” “Dan, kalau dia menikah dengan gadis yang penyendiri?” pancing Tuan Abim sama sekali tak memahami jalan pikiran Nyonya Rani. Nyonya Rani tiba-tiba menjentikkan jarinya kemudian tersenyum. “Aku tahu! Aku tahu apa yang Bintang lakukan untuk mengisi energinya.” “Apa?” “Menyusun puzzel!” serunya sambil memukul pelan sang suami. “Aku benar. Anak itu dulu senang memainkannya. Bintang suka memecahkan masalah.” “Kecuali masalah hatinya,” tambah Tuan Abim muram. “Tidak akan lama lagi.” Nyonya Rani bersandar kepada suaminya. “Kita akan memberinya puzzel baru.” *** Rumah Bakrie. Pagi-pagi sekali Ifa bangun dan bersiap. Setelah sarapan ia lalu berganti gaun dan mengenakan jilbabnya. Ifa kadang merasa hidupnya bukanlah dunia yang sama dengan masa modern ini. Ifa merasa Nyonya Naraya itu jelmaan aristokrat zaman kerajaan Victoria di Eropa sana. Beliau mengharuskan putri-putrinya untuk setiap hari mengenakan gaun. Bukan gaun kekinian yang biasa. Melainkan gaun penuh renda, gelembung, ikat dan banyak hal seperti pakaian zaman itu. Dalam rumah-pun Nyonya Naraya bersikap tegas kepada anak-anak untuk selalu menampilkan kesan bangsawan yang tak cocok pada zamannya. Aya, Ayu dan Ifa sudah terbiasa dengan gaun-gaun yang lebar bagian bawahnya dan memakai petticoat. Mereka seperti putri-putri dari kerajaan antah berantah. Kalau ada yang berkunjung, orang mungkin berpikir ada pesta yang akan segera diselenggarakan dalam rumah mereka. Ifa menuju kamar ibunya. Ia mengetuk pintu tanpa jawaban, sampai seorang pelayan datang untuk membersihkan ruangannya. “Nyonya Naraya sudah turun, beliau meminta saya membersihkan kamarnya.” Ifa tak mengatakan apa pun, ia langsung berjalan menuruni tangga dan mencari keberadaan Nyonya Naraya. “Kenapa kau mengenakan jilbab di rumah?” Ifa mendekati ibunya yang duduk di sofa. “Aku akan ikut denganmu.” “Aku pergi sendiri.” Tapi aku lebih baik pergi bersamamu. Ifa membuka mulutnya, Nyonya Naraya mendelik, Ifa menutup mulutnya. Tidak mengatakan apa-apa. “Kau akan ikut, tetapi hanya sampai rumah Aya.” Aku ingin bertemu Bintang! Aku ingin kami tidak menikah! Tapi tak ada satu pun kalimat yang keluar dari bibirnya yang merapat. Ifa tak terbiasa membantah. Ifa tak suka melakukannya karena itu akan berujung perdebatan. Berdebat dengan Nyonya Naraya tidak akan dimenangkan Ifa, selamanya. Ifa berbalik badan menuju tangga. Ia akan ke kamarnya dan berganti gaun lebih pendek lalu mengurung diri di Pondok Energi. Kecewa termasuk salah satu penguras energi Ifa yang paling besar. “Tetap di sini, Ifa. Mesin mobil sedang dipanaskan.” Ifa berpikir ia akan menaiki anak-anak tangga lalu bertindak seolah ibunya tak lebih dari jam gantung yang mengganggu. Namun, ia sepenuhnya bukan pembangkang. Ifa penurut. Maka ia-pun berbalik badan dan dengan langkah dibuat biasa duduk di sisi ibunya. “Aku belum pernah bertemu dengan Bintang sebelumnya, tapi seingatku ayahnya lebih tampan daripada ayahmu. Harusnya pria itu akan terlihat menawan. Ayahmu berubah gempal sejak kelahiran Aya. Mungkin Tuan Abim juga berubah gempal dan beruban. Nyonya Rani juga menutupi ubannya dengan jilbab.” Nyonya Naraya menepuk-nepuk pelan sanggulnya yang terselip warna putih uban diantara sebagian besar helai cokelat kemerahan. “Apa yang ingin kau tanyakan padanya? Biar Ibu sampaikan.” Ifa tak ingin menanyakan apa pun kepada Bintang. Ia hanya ingin menyatakan satu kalimat : Kita tidak bisa menikah. “Nyonya Rani mungkin akan memberi kotak berisi satu set permata. Menurutmu dia akan memilih rantai emas kuning atau putih? Permata kuning akan benar-benar cantik dengan kulitmu, tetapi rantainya putih saja kurasa.” Ifa merasa harusnya Nyonya Naraya lebih memikirkan hal lain. Apakah pria putra Nyonya Rani itu akan cocok dengan Ifa. Apakah akan baik-baik saja Ifa menikah dengan keluarga terpandang seperti mereka. Ifa pantas dengan semua kemewahan, yang tak pernah pantas baginya adalah keramaian. Ifa kadang merasa sesak di d**a saat dirinya berada dalam kerumunan. Dari kesan yang ditimbulkan Nyonya Rani dan Nyonya Naraya, kehidupan kelas atas akan menyiksa Ifa sepenuhnya. Ia tak pandai bersosialisasi. Ifa akan menjatuhkan martabat keluarga mereka jika dibiarkan terlihat. “Nyonya, mobilnya sudah siap.” Nyonya Naraya tersenyum. Bukan seperti kebiasaannya merendahkan diri dengan berwajah manis kepada pelayan. Bukan, bukan itu. Beliau sedang dalam suasana hati terbaik, itu saja sebabnya. Barangkali Nyonya Naraya tak sadar kalau dirinya sedang tersenyum. Ifa ikut bangkit dan berjalan di belakang ibunya. “Hari ini akhir pekan. Erlan mungkin sedang di rumah. Kau bisa bermain dengan Edwina dan Alan, mereka menyukaimu.” Nyonya Naraya meletakkan tangannya di atas tangan yang lain, duduk dengan teramat anggun dalam limosin mereka. “Kate mungkin akan menyukaimu juga nanti. Anak-anak, keponakanmu semuanya menyukaimu. Hanya pria yang tidak menyukaimu. Setidaknya, Nyonya Rani menyukaimu. Disukai olehnya lebih baik daripada seratus pria yang menyukaimu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD