Luka 2

1092 Words

Bintang, Bawa aku pulang. *** Ifa bangun, menatap pada plafon putih di kamar mereka. Jika ia mimpi, maka itu mimpi paling buruk. Jika itu nyata, maka itu kenyataan yang menyedihkan. Ifa menurunkan kaki, dan suara-suara tangis samar terdengar. Ya Tuhan! Itu bukan mimpi, pikirnya melaju panik kembali. Ifa menangis. Tak berapa lama muncul Bintang dengan kemeja putihnya dari pintu. “Ini bukan mimpi?” tanya Ifa. “Bukan.” Ifa terisak karena sesak. Air matanya bagai hujan mengguyur bumi. “Uma positif. Sebagian besar kita yang di rumah ini juga. Kita di larang keluar sama sekali.” Ifa menutup wajahnya. Ia tak peduli harus terkurung di sini, tapi mengapa tak ada teman bicara yang bisa memahaminya tersisa di dunia. Bintang duduk di sisi Ifa. “Khumaira menangis juga.” Ifa menggeleng. Ia r

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD