Bintang, Aku pamit, jika itu bisa membahagiakanmu. *** Bintang menjauh. Pria itu duduk di tempat tidur meraup wajahnya. Ifa masih di tempatnya berdiri, baru sadar dengan situasi yang berbeda jauh dari selama ini. Kamarnya berantakan sekali. Aroma usang seolah menyapa indra penciuman Ifa. Kapan terakhir kamar ini dibersihkan secara menyeluruh? “Aku tak tahu, Ifa. Bagaimana caranya untuk kembali mempercayaimu.” Ifa mendekatinya, duduk di sisinya. “Siapa pria itu, Ifa?!” tanya Bintang lagi. Ia hampir kesal bertanya hal yang sama puluhan kali. Namun, Ifa selalu memberinya jawaban tak sesuai harapan. “Dia penggemar karya Lady Leony seperti saya. Saya tidak mengenalnya lebih dari itu. Saya hanya bertemu dengannya sekali di toko buku, itu saja.” “Kau sudah menjelaskan ini selama ... em

