Suara denting sendok dan cangkir yang dihasilkan dari gerakan Bintang mengaduk teh nyaring terdengar di ruangan besar yang lenggang. Hanya mereka berdua di sana. Bintang kemudian menyendok sedikit teh lalu mencicipinya. Ifa memperhatikan dengan perut bergejolak seolah seseorang sedang meninjunya. Sepasang bibir Bintang yang akhir-akhir ini sering Ifa perhatikan selalu dihiasi senyuman hangat tampaknya penyebab reaksi di perut Ifa. “Aku rasa sudah pas rasanya. Mau coba?” tawar Bintang menyendok cairan merah kecokelatan tersebut dan menyodorkan ke bibir Ifa. Ifa awalnya tak ingin, tetapi karena Bintang terus memandanginya dengan mata berkedip menunggu, maka Ifa pun mencicipi teh yang disodorkan. “Kurang manis?” Ifa mengecap dengan lidahnya. “Terlalu manis.” “Aku pikir juga seperti itu.

