Ayah, Aku tidak akan hidup lama dalam keluarga ini. *** Ifa menutup mulutnya saat menyadari sorot tajam dari Bintang Abimayu. Ia segera mengambil potongan puzzel demi mengalihkan perhatian dari tatapan mata Bintang. Bintang mengambil puzzel dari tangan Ifa lagi, "Kau bisa membuat patung bereaksi dengan senyum semanis itu." "Maafkan saya," sesal Ifa menunduk. "Ifa...!" "Ya?" "Kau belum mengantuk?" Ifa melihat jam sekilas. "Hampir jam sembilan. Saya kira Anda akan membantu menyusun ini sebelum tidur." Bintang rasa ia lebih baik melakukan hal baru yang lebih menyenangkan daripada menyusun puzzel. "Aku rasa senyummu telah membangkitkan sesuatu." "Sesuatu?" tanya Ifa mengedarkan pandangan. "Saya tidak melihat ada patung." "Kenapa kau memikirkan patung?" tanya Bintang heran. "Anda

